Jatuh Cinta Dengan Badboy

Jatuh Cinta Dengan Badboy
Bab 32 - Menduga-duga


__ADS_3

...༻✿༺...


Ramanda mematung di tempat. Perasaan rindu, marah, dan senang, bercampur aduk dalam dirinya. Dia menatap Morgan dalam keadaan mata yang berkaca-kaca.


Morgan yang belum sadar mengenai keberadaan Ramanda, lebih fokus mengobrol bersama Fajira dan Ibnu. Ia kena pukulan dari dua temannya tersebut. Morgan terkekeh sampai memperlihatkan gigi-giginya yang rapi dan bersih.


'Lo kayaknya bisa hidup bahagia tanpa gue,' batin Ramanda. Air matanya menetes. Dia tidak bisa menahan rasa sesak di hati. Entah kenapa Ramanda merasa sakit hati menyaksikan Morgan bisa tersenyum bahagia seperti itu.


Ramanda mengangkat satu tangan ke udara sambil menundukkan kepala. Ia berucap, "Izin ke toilet, Kak!"


Kini seluruh pasang mata tertuju ke arah Ramanda. Cewek itu tidak hirau dan hanya melingus begitu saja menuju toilet. Bahkan sebelum mendengar persetujuan dari seniornya.


Morgan termangu ketika melihat salah satu mahasiswa koas junior yang baru minta izin ke toilet itu. Tanpa sadar kakinya melangkah untuk mengikuti.

__ADS_1


"Eh, Gan! Lo mau kemana?" timpal Fajira.


"Bentar." Morgan menjawab singkat. Dia segera berlari mengejar Ramanda. Mengabaikan dua temannya yang mencoba menghentikan. Sekarang semua orang merasa heran dengan sikapnya.


Jantung Morgan berdegub kencang. Dia yakin cewek yang tadi pergi ke toilet adalah Ramanda. Morgan berharap tidak salah orang. Ia memutuskan menunggu di depan toilet wanita.


Usai menunggu beberapa saat, Ramanda akhirnya keluar. Wajahnya tampak sembab. Dia terkejut melihat Morgan sudah ada di depannya.


Hening menyelimuti suasana. Karena terlalu bahagia, Morgan tidak tahu harus berkata apa. Hanya dengan melihat sosok Ramanda, hatinya sudah melambung tinggi.


Sementara Ramanda, dia berusaha keras untuk tidak menatap Morgan. Dirinya heran kenapa cowok itu terlihat begitu terharu.


"Ngapain ke sini?" tukas Ramanda ketus. Dahinya berkerut dalam.

__ADS_1


"Ra, gue akan jelasin. Lo harus--"


"Nggak ada yang perlu dijelasin! Semuanya udah jelas kok!" potong Ramanda tegas. Tanpa mendengarkan penjelasan Morgan terlebih dahulu. Dia melangkah laju meninggalkan cowok itu.


Ramanda terlampau sakit hati terhadap menghilangnya Morgan. Terlebih dia tadi juga melihat cowok itu tampak sangat bahagia sebelum melihat dirinya. Ramanda menyimpulkan Morgan sudah melupakan segala yang sudah terjadi. Terutama mengenai hubungan mereka dahulu.


Dari belakang, Morgan mematung. Dia menatap nanar Ramanda yang kian menjauh. Sungguh, Morgan tidak tahu harus mulai dari mana untuk menjelaskan. Perjuangan dan ceritanya tanpa Ramanda memerlukan penjelasan panjang. Dia butuh perhatian Ramanda lebih banyak. Namun cewek tersebut sepertinya sedang sangat marah. Menatap Morgan saja tidak mau.


Morgan menghela nafas panjang. Lalu segera bergabung dengan yang lain. Ia berusaha bersikap normal sebisa mungkin.


"Kenalin gue Morgan Alexander. Ketua koas senior kalian. Hari ini kita sebaiknya melakukan observasi ke ruangan yang ada di rumah sakit. Terakhir, barulah kita akan bertemu dengan dokter spesialis. Nama beliau adalah Ferry Adrianto." Morgan menjelaskan dengan pelan. Atensinya tidak bisa lepas dari Ramanda. Dia menyaksikan cewek tersebut fokus menulis sesuatu di buku catatan kecil. Ramanda bersikap seakan tidak mengenal Morgan.


'Kayaknya Ramanda marah karena gue pergi tanpa kabar. Gue juga nggak pernah kontak dia lagi. Tapi bukankah itu berarti dia belum bisa lupain gue? Itu berarti Ramanda masih jomblo kan?' benak Morgan menduga-duga.

__ADS_1


__ADS_2