
...༻✿༺...
Morgan memaksa Ramanda untuk ikut dengannya. Dia menyuruh cewek itu duduk ke motornya.
Kedekatan Ramanda dan Morgan menarik perhatian banyak pasang mata. Tetapi keduanya sama-sama tak peduli.
"Kita akan kemana?" tanya Ramanda.
"Lihat aja nanti," jawab Morgan. Sengaja ingin membuat Ramanda penasaran.
Saat dalam perjalanan, rombongan geng motor tiba-tiba mendekat. Mereka terlihat mengenakan seragam sekolah yang berbeda-beda. Jelas mereka berasal dari sekolah yang tidak sama. Salah satu dari mereka mengajak Morgan bicara.
"Baru lagi nih, Gan? Kemarin perasaan beda?" tegur cowok misterius itu.
"Lo sama yang lain duluan aja. Gue mau urus sesuatu," tanggap Morgan. Dia mengabaikan teguran cowok yang sepertinya adalah teman dekatnya.
Ramanda yang melihat, mengerutkan dahi. Dia segera mendekatkan mulut ke telinga Morgan. "Antar gue pulang aja kalau lo sibuk. Lo bisa ajarin gue akting nanti aja," bisiknya.
"Urus apaan? Lubang buaya?" tanggap cowok yang merupakan salah satu teman Morgan itu. Ia terkesan seperti mengejek. "Tapi cewek yang ini kayaknya beda banget sama cewek-cewek yang biasanya lo bawa. Udah bosan sama yang seksi dan bahenol?" lanjutnya.
"Diam lo, Lik!" geram Morgan. Tanpa membantah.
"Kami cuman teman kok! Jadi jangan mikir yang macam-macam!" ucap Ramanda. Dia membantah tegas.
"Oh gitu. Kenalin gue Malik!" seru Malik sembari membuka kaca helmnya.
"Ramanda." Ramanda menjawab ketus.
"Udah gue mau pergi!" Morgan melajukan motornya. Meninggalkan Malik dan kawan-kawan.
"Morgan!" Ramanda memekik karena Morgan mengendarai motor dalam kecepatan tinggi. Dia bahkan reflek memegangi pinggul cowok itu dengan erat.
Ramanda berusaha bertahan. Ia juga sesekali harus memegangi roknya yang menyingkap karena angin.
"Morgan! Lo bisa pelan-pelan nggak?!" timpal Ramanda yang terus mengingatkan.
Morgan perlahan menurunkan kecepatan motor. Dia berkata, "Sorry, gue cuman nggak mau Malik dan yang lain ngikutin."
"Dia siapa sih? Musuh atau teman?" tanya Ramanda.
__ADS_1
"Teman." Morgan menjawab singkat. Dia dan Ramanda tiba di sebuah panti asuhan.
Ramanda terheran. Dia bingung kenapa Morgan tiba-tiba mengajaknya pergi ke panti asuhan.
Ternyata semua dilakukan Morgan untuk membantu Ramanda. Dia ingin cewek itu memahami peran yang akan dimainkan nanti. Hak itu karena karakter utama perempuan dalam cerita yatim piatu.
"Harusnya kita membawa buah tangan ke sini," ujar Ramanda. Merasa tidak enak.
"Udah nggak apa-apa. Santai aja," sahut Morgan. Dia memimpin jalan lebih dulu memasuki panti asuhan. Menyapa pengurus panti dengan bersahabat.
Kala itu Ramanda mengamati Morgan dari kejauhan. Dia melihat sisi berbeda dari cowok tersebut. Morgan terlihat sangat akrab dengan anak-anak panti.
"Morgan memang sudah sering ke sini. Makanya dia sangat dekat dengan anak-anak," celetuk Bu Ratni. Dia merupakan pengurus panti
"Benarkah?" Ramanda merasa tak percaya. Bagaimana bisa cowok berandal seperti Morgan sering mendatangi panti asuhan?
"Iya. Dia juga sering membelikan makanan untuk semua anak-anak," jawab Bu Ratni. Membuat Ramanda tak bisa berkata-kata lagi. Dia sekarang mengetahui sisi lain dari seorang Morgan.
Morgan dan Ramanda menghabiskan waktu cukup lama di panti asuhan. Keduanya bermain bersama anak-anak di sana. Mereka pulang saat sore sudah menjelang malam.
"Lo ternyata nggak nakal-nakal amat ya," celetuk Ramanda. Dia dan Morgan sedang menaiki motor. Dalam perjalanan menuju pulang.
"Kenapa? Lo terpesona karena gue akrab sama anak-anak?" terka Morgan seraya melirik kaca spion. Di sana dia dapat melihat dengan jelas wajah cantik Ramanda.
Tanpa diduga. Morgan mendadak menepikan motor. Dia berhenti di bawah pohon berukuran sedang.
"Kenapa?" Ramanda otomatis heran. Dia terpaksa turun dari motor. Lalu di ikuti oleh Morgan setelahnya. Cowok itu segera melepas helm.
Morgan memasang raut wajah serius. "Gue udah sering lihat lo pas masa orientasi berlangsung," ujarnya.
Ramanda mengerutkan dahi. Dia merasa tidak asing dengan kalimat yang diucapkan Morgan. Jelas kalimat itu berasal dari naskah yang dikirim oleh Bu Naomi.
"Sekarang?" Ramanda memastikan. Dia tidak menyangka Morgan akan seserius itu dengan dunia akting.
"Mending nanti aja deh, Gan. Ini di pinggir jalan lagi. Gue malu," ungkap Ramanda.
"Pantas akting lo dibilang buruk, ternyata alasannya karena malu?" tanggap Morgan.
Ramanda mendengus kasar. Dia tidak menampik ucapan Morgan.
__ADS_1
"Ayo kita pulang aja." Ramanda memaksa. Namun Morgan sigap memegangi tangannya.
"Coba sedikit saja. Gue pengen lihat," pinta Morgan.
Ramanda terdiam sejenak. Dia berpikir cukup lama. Sampai akhirnya melakukan yang di inginkan Morgan. Ramanda segera memasang ekspresi datar. Mencoba masuk ke dalam suasana.
"Gu-gue juga lihat lo pas masa orientasi. Semua cewek pada ngomongin lo," sahut Ramanda tergagap. Dia terkesan masih tidak yakin.
"Sebenarnya peran ini sangat cocok dengan lo, Ra. Karena sesuai sama sikap lo yang terkesan lugu dan baik. Cuman lo masih merasa takut dan malu. Lo harus bisa atasin perasaan itu terlebih dahulu," saran Morgan.
"Lo benar. Gue akan mencoba berlatih pas di rumah. Thanks buat masukannya," kata Ramanda. Dia dan Morgan segera pulang.
Karena bantuan Morgan, akting Ramanda menjadi lebih baik. Dia juga seringkali berlatih sambil belajar. Ramanda jadi melupakan segala bentuk ketidakpedulian kedua orang tuanya karena sibuk sendiri.
Tibalah hari penentuan untuk memilih pemeran utama. Semua orang di tes aktingnya satu per satu. Termasuk Ramanda. Cewek itu sangat berbeda dari sebelumnya. Jauh lebih baik dan sangat mendalami. Bu Naomi bahkan sampai terkagum.
"Lo terlihat bagus banget hari ini. Gue yakin lo bakalan terpilih jadi pemeran utama," ujar Rizal. Dia mencoba mendekati Ramanda. Rizal juga berharap bisa menjadi lawan main Ramanda.
"Makasih. Kita tunggu aja hasilnya," jawab Ramanda.
Usai semua orang melakukan sejenis audisi. Bu Naomi dan dua orang yang menilai segera berdiskusi.
Bu Naomi menjadi orang yang mengumumkan. Dia memberitahukan bahwa Morgan dan Ramanda akan menjadi pemeran utama untuk pertunjukkan nanti. Usaha Ramanda yang berlatih di setiap waktu tidak sia-sia. Dia sangat senang. Terlebih Ramanda terpilih bersama Morgan. Tanpa disadari, ia mulai merasa nyaman dengan kehadiran Morgan. Begitu pun sebaliknya.
Hubungan Ramanda dan Morgan semakin akrab. Keduanya menjadi sahabat yang tak terpisahkan.
Di suatu malam. Kebetulan Ramanda tengah sendirian di rumah. Ayah dan ibunya pergi mendatangi acara pernikahan.
Seperti biasa, Ramanda disuruh belajar karena sebentar lagi akan mengikuti olimpiade sains minggu depan. Tetapi anehnya kali ini dia merasa sangat bosan. Ramanda merasa sudah mempelajari semuanya. Dia sekarang ingin bersenang-senang.
Terlintas nama Morgan dalam benak. Dia segera mengirim pesan kepada cowok itu. Kemudian menanyakan keberadaannya.
'Gue ada di klub malam. Ayo ke sini! Gue yakin lo nggak pernah ke tempat begituan kan? Gue tunggu ya. Gue akan kirim lokasinya.' Begitulah bunyi pesan balasan Morgan.
Ramanda mengerucutkan bibir. Dia ragu untuk mendatangi Morgan atau tidak. Namun di sisi lain, Ramanda tidak punya teman lain selain cowok itu. Lagi pula rasa bosannya sudah tak tertahan.
"Lagian Morgan udah kayak sahabat. Gue juga tahu dia nggak senakal itu," gumam Ramanda. Dia memutuskan untuk menyusul Morgan.
Di sisi lain, tepatnya di klub malam. Morgan memang ada di sana. Dia terlihat sudah mabuk. Orang yang membalas pesan Ramanda tidak lain adalah Malik. Teman dekatnya Morgan.
__ADS_1
"Cewek cantik lo yang kemarin mau cari lo ke sini! Dia dalam perjalanan!" imbuh Malik.
Morgan yang setengah sadar, hanya mengangguk. Dia sepenuhnya tidak mencerna semua perkataan Malik.