Jatuh Cinta Dengan Badboy

Jatuh Cinta Dengan Badboy
Bab 12 - Akting Morgan


__ADS_3

...༻✿༺...


Morgan dihukum membersihkan lingkungan sekolah selama satu minggu. Dia juga diharuskan ikut salah satu ekstrakulikuler di sekolah.


Awalnya Morgan mencoba ikut ekskul olahraga. Namun kehadirannya ditolak karena alasan anggota yang sudah penuh. Selain itu, reputasi Morgan yang sudah dikenal sebagai tukang bolos juga menjadi pertimbangan para guru.


"Kan gue sudah bilang. Makanya pilih pas di awal-awal. Lihat sekarang? Penuh kan," ujar Dimas sambil merangkul Morgan.


"Iya, iya... lo pokoknya hebat," sahut Morgan sambil memutar bola mata malas.


"Oh iya, katanya ekskul teater adalah yang satu-satunya masih kekurangan anggota. Lo ikut itu aja, Gan." Rangga memberikan usul.


"Ah... Malas banget ikut begituan," tanggap Morgan.


"Ramanda ikut ekskul itu kan, Ga?" cetus Dimas kepada Rangga.


Kelopak mata Morgan langsung melebar. Dia baru ingat kalau Ramanda mengikuti ekstrakulikuler teater.


"Kalian benar! Ramanda ada di sana!" ucap Morgan tiba-tiba. Membuat Dimas dan Rangga mengerutkan dahi secara bersamaan.


"Lo suka ya sama Ramanda? Semangat banget pas dengar namanya," komentar Rangga seraya bertukar pandang dengan Dimas. Temannya itu lantas mengangguk. Menuntut jawaban dari Morgan.


"Gue nggak tahu. Gue suka aja sama tuh cewek. Dia seru," terang Morgan. Dia merangkul Rangga dan Dimas sekaligus. Berjalan menyusuri koridor sekolah.


"Elah! Hati-hati lo. Nanti jatuh cinta. Tamat deh ke-playboyan lo," ujar Rangga. Dia tergelak bersama Dimas.


Morgan mendengus kasar. Ia tidak berminat menanggapi perkataan Rangga. Hari itu Morgan langsung menemui Bu Naomi. Dia memutuskan ikut menjadi bagian dari anggota teater sekolah.


"Ibu yakin kamu pasti terpaksa ikut ekskul ini. Iyakan?" tebak Bu Naomi sembari menurunkan sedikit kacamatanya. Menatap tajam Morgan yang duduk tegak.


"Enggaklah, Bu! Aku kan mau mengasah keahlian. Aku ini ahli bersandiwara," sahut Morgan dengan senyuman lebar.


"Hmmm..." Bu Naomi mengamati Morgan dengan baik-baik. Dia tidak bisa menampik kalau dirinya membutuhkan anggota setampan Morgan.


"Baiklah kalau begitu. Ibu terima kamu. Dan ingat! Kalau kau berani membolos, Ibu akan langsung mengeluarkanmu. Kau tidak akan diterima di ekskul mana pun." Bu Naomi menerima Morgan.


"Iya, Bu. Pasti! Makasih..." Morgan langsung berdiri. Lalu membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan Bu Naomi. Dia juga tidak lupa mencium punggung tangan gurunya tersebut.


Morgan langsung disuruh hadir di kegiatan mingguan yang akan dilaksanakan setelah pulang sekolah nanti. Kini dia melangkah memasuki ruang kesenian. Tempatnya sendiri luas dan dipenuhi banyak peralatan musik.


Pandangan Morgan mengedar ke segala arah. Berusaha mencari-cari cewek yang menjadi salah satu alasan dia mengikuti teater.

__ADS_1


Setelah berjalan beberapa langkah, barulah Morgan menemukan Ramanda. Gadis itu tampak sibuk membuat bahan properti.


"Sibuk amat. Butuh bantuan?" tawar Morgan sembari meletakkan tasnya ke atas meja.


Ramanda tersenyum singkat. "Pekerjaan ringan begini bukan untuk cowok. Lo mending bantuin Rizal dan yang lain angkutin barang ke panggung," suruhnya.


"Emang di sini kita langsung ngadain acara teater?" tanya Morgan yang merasa heran.


"Iya, teaternya diadakan khusus buat anggota baru. Jadi kita diwajibkan untuk ikut," jawab Ramanda.


"Oh, begitu." Morgan manggut-manggut saja.


Bu Naomi baru saja datang dari toilet. Dia langsung memanggil semua orang untuk berkumpul. Sebab ada sesuatu yang ingin dirinya sampaikan.


"Hari ini kita kedatangan anggota baru. Siswa yang baru dua minggu sekolah di sini langsung dikenal sebagai tukang bolos," seru Bu Naomi. Mengumumkan perihal Morgan dengan lantang.


"Mantan tukang bolos, Bu. Sekarang aku nggak akan bolos lagi!" Morgan menyahut. Dia berhasil membuat beberapa orang tergelak.


"Terserah apa katamu, Morgan. Tapi setiap anggota baru harus menunjukkan bakat aktingnya agar bisa mendapat peran tertentu," ujar Bu Naomi. "Sekarang maju ke depan. Dan tunjukkan pada kami," perintahnya.


"Aku disuruh akting sekarang?" Morgan memastikan.


"Iya! Sekarang. Mau tahun depan?" balas Bu Naomi mendesak.


"Terserah kamu. Bebas! Mau jadi monyet juga boleh," jawab Bu Naomi yang disambut dengan gelak tawa oleh para murid.


Morgan segera berjalan ke depan. Semua orang lantas menghening.


Jujur saja, para perempuan senang dengan kehadiran Morgan sebagai anggota baru. Mereka juga tidak sabar untuk melihat aksi cowok berparas tampan tersebut.


Hanya Ramanda yang terkesan biasa saja. Morgan sudah menjadi orang yang ditemuinya dalam keseharian.


Saat berdiri di depan semua orang, Morgan memasang raut wajah datar. Ekspresi yang sama sekali tidak bisa dibaca.


Ketika Morgan menatap salah satu orang yang sedang menonton, barulah ekspresinya berubah. Morgan memasang tatapan berisi dan tajam.


Perlahan Morgan menggerakkan kakinya. Melangkah gagah ke arah orang yang sejak tadi ditatapnya. Orang itu tidak lain adalah Ramanda.


Morgan berhenti tepat di hadapan Ramanda. Kini matanya memancarkan tatapan lekat.


"Gue mau bilang sesuatu sama lo..." ucap Morgan.

__ADS_1


"Apa?" tanggap Ramanda yang terkesan biasa saja. Karena dia tahu Morgan hanya berakting. Lagi pula dirinya sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadap cowok itu.


"Gue..." Morgan berucap sambil mengaitkan anak rambut Ramanda ke telinga.


'Haish! Ini cowok bisa-bisanya ngambil kesempatan dalam kesempitan,' komentar Ramanda dalam hati.


Semua orang yang melihat jadi terbawa perasaan. Bahkan Bu Naomi sendiri. Dia pikir akting Morgan sangat meyakinkan.


"Gue selama ini suka sama lo. Bagi gue, lo itu bidadari tak bersayap yang datang menemui gue karena takdir dari Tuhan," ungkap Morgan. Membuat Ramanda langsung mundur satu langkah. Bukannya tertarik, dia justru jijik dengan kalimat yang dikatakan Morgan.


Tanggapan Ramanda berbanding terbalik dengan para cewek di sekitar. Mereka malah bertepuk tangan dan berteriak histeris. Apalagi saat Morgan semakin mendekatkan wajah kepada Ramanda.


Apa yang dilakukan Morgan, membuat Ramanda harus mundur satu langkah lagi. Matanya membulat sempurna. Bagaimana tidak? Bibir Morgan nyaris menyentuh mulutnya. Dengan beraninya cowok itu melakukan hal tersebut di hadapan guru dan orang banyak.


"Oke, Morgan. Kau bisa berhenti," ujar Bu Naomi. Tetapi Morgan tidak langsung menurut.


"Morgan! Lo gila?" tegur Ramanda seraya terus menghindar. Namun Morgan sigap memegangi tangan cewek itu.


"Gue tahu lo juga punya perasaan yang sama!" Morgan masih melanjutkan aktingnya. Dia memiringkan kepala dan bergerak cepat untuk mencium Ramanda.


"Cukuuuup!!" Bu Naomi reflek berteriak.


"Aaaarkkhhh!!!" beberapa orang juga memekik bersamaan. Takut Morgan akan benar-benar mencium Ramanda.


Sedangkan Ramanda, hanya bisa menutup rapat matanya. Dia bingung menghadapi cowok gila seperti Morgan.


Melihat respon semua orang, Morgan tersenyum puas. Dia segera merangkul Ramanda.


"Gimana? Hebatkan akting gue?" bisik Morgan ke telinga Ramanda.


"Sinting lo!" balas Ramanda. Dia menginjak salah satu kaki Morgan. "Kalau mau akting bareng harusnya bilang-bilang dulu," omelnya.


Morgan mengaduh kesakitan. Dia reflek memgangi kakinya yang kena injakan Ramanda. Membiarkan cewek itu beranjak darinya.


Meskipun dapat omelan dari Ramanda, Morgan dapat pujian dari semua orang. Terutama Bu Naomi.


"Ibu nggak nyangka kamu bisa sehebat itu. Langsung bikin semua orang baper loh," komentar Bu Naomi terkagum. "Ibu pikir mau cium beneran," tambahnya sambul mengelus dada.


"Makasih, Bu..." sahut Morgan dengan perasaan bangga.


Ramanda mendengar segala pujian yang didapatkan Morgan. Dia tentu merasa iri. Mengingat bakat aktingnya sangat buruk. Saking buruknya Ramanda bahkan hanya diberi peran sebagai pohon oleh Bu Naomi. Padahal gadis itu memiliki wajah sangat cantik.

__ADS_1


"Ah, padahal kayaknya Morgan cuman pakai ilmu playboy-nya," remeh Ramanda.


__ADS_2