
...༻✿༺...
Ramanda ikut Zafran menaiki mobil. Ia juga tidak lupa memberi kabar kepada Raffi dan Elsa kalau dirinya sudah sampai di London.
Kini Ramanda duduk di sebelah Zafran yang sedang menyetir. Keduanya dalam perjalanan menuju gedung apartemen. Kebetulan Ramanda akan tinggal satu gedung dengan Zafran.
"Lo sekarang ada dekat sama cewek baru nggak?" tanya Ramanda. Memulai pembicaraan.
"Nggak tahu. Gue nggak sempat buat melakukan hal begituan. Gue terlalu sibuk sama kuliah dan les. Padat banget sumpah. Mana bokap gue suruh gue kerja sambilan lagi." Zafran malah menggerutu.
"Berarti lo belum bisa move on dari Lika?" tebak Ramanda.
Zafran terdiam seribu bahasa. Dia tidak bisa membantah ucapan Ramanda.
"Lo harusnya kasih kesempatan cewek lain buat mendekat. Gimana mau move on kalau hidup lo begini-begini aja," komentar Ramanda meremehkan.
"Hei! Lo datang ke sini juga mau move on dari mantan lo yang namanya Morgan itu kan?! Awas lo kalau nggak bisa! Cium pantat gue!" balas Zafran yang tersungut. Ia menepuk pantatnya sekitar dua kali.
"Idih! Malah ngomel. Gue kan cuman kasih tahu," tanggap Ramanda.
"Move on itu nggak segampang membalikkan telapak tangan," gumam Zafran. Bicara tanpa menatap lawan bicara. Dia fokus melihat ke arah depan.
Ramanda terdiam. Tak lama kemudian, dia dan Zafran tiba di tempat tujuan. Zafran segera berjalan lebih dulu dan mengantar Ramanda.
Unit apartemen Ramanda berada satu helat dari unit apartemen Zafran. Jadi kalau ada apa-apa, Ramanda hanya perlu berjalan beberapa langkah.
"Lo kalau butuh apa-apa tinggal panggil aja. Gue lagi ada sesuatu yang harus di urus," ujar Zafran. Sebelum beranjak pergi.
Ramanda mengagguk dan membiarkan Zafran menghilang ditelan oleh pintu. Dia lantas beristirahat dengan cara merebahkan diri ke tempat tidur. Ramanda memainkan ponsel.
Pikiran tentang Morgan kembali menghantui. Ramanda mencoba menghubungi cowok tersebut. Itu merupakan tindakan yang kesekian kalinya dia lakukan.
Nihil, nomor telepon Morgan tetap tidak aktif. Kini Ramanda hanya bisa menghela nafas panjang.
__ADS_1
'Morgan kemana ya?' batin Ramanda. Rasa rindu begitu membunuhnya. Dia lagi-lagi tidak bisa membendung air mata. Ramanda merasa sakit hati. Tidak ada hal yang paling menyakitkan dalam cinta selain hubungan menggantung.
Bagi Ramanda, lebih baik Morgan bicara kepadanya baik-baik. Walau itu merupakan perihal berakhirnya hubungan.
Hari pertama di London, Ramanda memilih beristirahat. Keesokan harinya, barulah dia mengurus segala perihal sekolah. Ramanda bersekolah di tempat yang sama dengan Zafran. Seragam SMA di London tentu sangat berbeda dengan di Indonesia.
Hari-hari di sekolah Ramanda berjalan dengan baik. Namun keadaan tetap sama bagi cewek itu. Dia tidak mempunyai teman. Hanya Zafran yang sesekali menemani. Keberadaan Ramanda sebagai orang asing seolah tidak terlihat. Ia tidak populer tetapi juga tidak menjadi orang yang tertindas.
Sekarang Ramanda dan Zafran sedang makan siang bersama di kantin. Mereka saling memperlihatkan hasil nilai pelajaran yang didapatkan hari itu.
Pupil mata Ramanda membesar tatkala menyaksikan nilai Zafran. Cowok itu mendapatkan nilai A. Padahal setahunya Zafran tidak ahli dalam pembelajaran akademik.
"Lo kayaknya memilih belajar sebagai pelarian lo dari Lika," imbuh Ramanda seraya mengembalikan lembaran nilai Zafran.
"Ya, tapi mempannya cuman sesaat," sahut Zafran dengan raut wajah sendu.
"Lo pasti kangen banget sama Lika ya?" tanya Ramanda.
"Lo ngapain tanya begituan?!" tanggap Zafran. Dia yakin Ramanda juga tahu apa yang dirinya rasakan.
"Thanks." Zafran menjawab singkat. Bahkan tidak ada senyuman yang terukir diwajahnya. Reputasi Zafran memang tidak pernah menghilang sebagai cowok dingin. Dia hanya menghangat kepada cewek yang disukainya serta sahabat dekat seperti Ramanda.
Emilia dan teman-temannya malah kegirangan melihat reaksi Zafran. Sikap Zafran yang tak acuh justru membuat mereka semakin suka.
"Lo kayaknya tetap jadi murid populer di sini," komentar Ramanda.
"Lo juga. Cowok-cowok di sini udah pada ngomongin lo tuh," tanggap Zafran yang dilanjutkan dengan menyesap capouccino hangat.
Ramanda memutar bola mata jengah. "Awas aja kalau lo sebarin nomor gue!" ancamnya sambil mengarahkan jari telunjuk ke wajah Zafran.
"Nggak mungkin gue ngelakuin itu," respon Zafran sembari menyilangkan tangan di dada.
Bel pertanda masuk kelas berbunyi. Ramanda dan Zafran segera berpisah untuk masuk ke kelas.
__ADS_1
Sekian jam terlewat. Tibalah saatnya Ramanda pulang. Ia berjalan dengan tenang sembari memegangi tali tas ranselnya.
...***...
Dua minggu berlalu. Ramanda semakin bosan dengan keseharian yang begitu-begitu saja. Dia lebih suka menghabiskan waktu memandangi nomor telepon Morgan di layar ponsel.
Bel pintu terdengar. Ramanda segera membuka pintu. Dia yakin orang yang datang pasti Zafran.
"Ra, makan di luar yuk! Kebetulan semua teman gue pada pergi ke pesta. Gue nggak tertarik sama begituan," ajak Zafran. Dia tampak rapi dengan kemeja dan celana jeans. Dilengkapi topi yang menutupi puncak kepalanya.
"Ya udah. Gue ganti baju dulu," sahut Ramanda.
Setelah siap, Ramanda dan Zafran mendatangi sebuah restoran. Keduanya makan bersama. Kali ini mereka memilih jalan kaki saja.
"Lo pernah cobain minum alkohol?" tanya Ramanda.
"Pernah. Gue pertama kali cobain pas sama Lika," jawab Zafran. Dia segera menenggak wine yang ada dalam gelas.
"Sama, gue juga pertama kali cobain pas sama Morgan." Ramanda ikut menenggak wine. Atensinya tertuju ke arah tempat karoke yang ada di sebelah restoran. Ramanda lantas mengajak Zafran untuk pergi ke sana.
Ramanda menarik tangan Zafran sampai masuk ke tempat karoke. Sebelum itu, Zafran menahan pergerakan Ramanda. Dia ingin memesan sesuatu sebentar.
"Lo masuk aja duluan dan pilih lagunya!" saran Zafran.
Ramanda mengangguk. Dia segera masuk ke ruangan karoke. Di sana cewek itu memilih sebuah lagu. Lalu menyanyikannya.
Selang sekian menit, Zafran datang. Dia membawa banyak sekali kaleng bir. Hal itu membuat Ramanda harus berhenti menyanyi sejenak.
"Sejak kapan lo jadi suka minum?!" timpal Ramanda.
"Sejak tinggal di sini. Tapi cuman kadang-kadang kok. Apalagi pas gue lagi bosan sekaligus kangen berat sama Lika," terang Zafran. Dia meminum sekaleng bir pembeliannya. Menghabiskan bir itu dalam beberapa teguk.
Ramanda yang melihat merasa tertarik. Ia segera mengambil satu kaleng bir dan meminumnya. Ramanda dan Zafran berakhir duduk dan menikmati bir terlebih dahulu.
__ADS_1
Lama-kelamaan rasa mabuk menyelimuti. Akan tetapi Ramanda dan Zafran malah memutuskan menyanyi bersama. Mereka yang sudah sempoyongan bernyanyi tidak karuan. Sesekali keduanya juga tertawa tidak karuan. Sambil saling berangkulan erat.