
...༻✿༺...
Ramanda disuruh melakukan tes dengan tespek. Kedua orang tuanya ingin memastikan kehamilannya.
Raffi dan Elsa langsung berdiri ketika melihat Ramanda keluar dari kamar mandi. Lalu menyerahkan tespek yang sudah dipakai kepada mereka.
Pupil mata Raffi membesar saat menyaksikan hanya ada satu garis di tespek. Raffi dan Elsa merasa lega. Meskipun begitu, mereka juga harus memikirkan hubungan Ramanda dan Morgan.
"Ikut aku! Ada yang ingin Papah bicarakan. Ini mengenai Morgan!" ujar Raffi yang berjalan lebih dulu ke teras belakang. Ramanda lantas mengikuti. Mereka duduk bersama di sana.
"Pah, aku minta maaf sekali lagi... Tapi aku harap Papah nggak jauhin aku sama Morgan. Dia butuh aku, Pah..." ungkap Ramanda.
"Butuh kamu? Kenapa? " timpal Raffi.
"Orang tuanya Morgan akan bercerai. Jadi Morgan merasa sendirian dan sedih banget sekarang."
"Papah tahu. Michael sendiri yang memberitahu rencana perceraian itu kepadaku."
"Aku yakin Papah mengerti apa yang sedang Morgan rasakan sekarang..." lirih Ramanda. Berharap Raffi tidak menjauhkannya dari Morgan.
"Aku memang mengerti. Tapi selagi kau tidak hamil, aku minta jangan melakukannya lagi. Berjanjilah demi Morgan dan masa depanmu," ucap Raffi.
"Beneran, Pah?" Kelopak mata Ramanda melebar. Dia merasa senang mendengar ada tanda lampu hijau dari sang ayah.
"Morgan bilang dia juga ingin jadi dokter. Papah mau kalian berdua mewujudkan mimpi itu bersama." Raffi berkata tulus. Dia segera mendapatkan pelukan dari Ramanda. Anak perempuannya tersebut merasa sangat lega.
"Aku janji, Pah. Aku sama Morgan nggak akan melakukannya lagi sebelum menikah," ujar Ramanda yang merasa terenyuh.
__ADS_1
Bertepatan dengan itu, Morgan baru saja tiba di kamar VVIP. Di sana ada Malik dan kawan-kawan yang sedang melakukan pesta narkoba. Ada berbagai jenis obat-obatan terlarang yang terlihat. Mereka di sana juga hanya mengenakan penerang dari lilin.
"Hai, Gan. Ayo... Silahkan pilih barang yang lo mau. Hari ini semuanya gratis..." tawar Malik dengan mata yang memerah. Dia juga tampak sempoyongan tidak karuan.
Morgan duduk menghempas ke sofa. Kemudian mengambil salah satu obat yang ada. Dia memperhatikan obat tersebut sebelum membawanya masuk ke dalam mulut.
"Ayo cepat minum aja. Kenapa lo ragu begitu?" tegur Malik sembari merangkul Morgan.
"Gue ragu karena ingat dengan seseorang," kata Morgan dengan tatapan kosong. Dipikirannya hanya ada nama Ramanda. Cewek itu sekali lagi berhasil membuatnya harus berpikir sebelum meminum obat-obatan. Sebab sudah hampir dua minggu Morgan menjalani harinya tanpa mengkonsumsi benda terlarang tersebut.
"Pasti Ramanda bukan? Dia memang tipe cewek baik-baik. Tapi karena sudah mencampakkan lo, sekarang lo bisa melakukan apapun," ujar Malik seraya menepuk pundak Morgan dua kali.
"Bukan dia yang mencampakkan gue. Tapi keadaan," jawab Morgan sambil mendengus kasar.
"Apapun yang terjadi, lo tahu kalau semua obat yang ada di sini bisa merubah keadaan," tanggap Malik.
Morgan terdiam seribu bahasa. Dia jadi terpikir mengenai mimpinya bersama Ramanda. Dirinya baru sadar bahwa keputusan untuk datang menemui Malik adalah sebuah kesalahan. Alhasil Morgan bangkit dari tempat duduk. Kemudian berjalan menuju pintu keluar.
Jantung Morgan berdegub kencang. Kini masalah benar-benar runyam. Dia takut keterlibatannya terhadap narkoba dan polisi dapat membuat Raffi semakin membencinya.
"Pak! Aku tidak ikut mengkonsumsi obat-obatan! Aku hanya kebetulan datang ke sini! Kumohon jangan tangkap aku!" mohon Morgan histeris. Terutama ketika polisi mulai memborgol kedua tangannya.
"Semua orang yang ada di kamar ini akan diperiksa. Kalian harus menjalani beberapa prosedur!" sahut Pak Polisi. Dia segera membawa Morgan dan yang lain ke kantor.
Morgan menjalani interogasi. Ia berkata sejujur mungkin kepada polisi. Walaupun begitu, Morgan tetap dianjurkan untuk melakukan tes urin.
...***...
__ADS_1
Satu malam terlewat. Ramanda disuruh pergi ke sekolah seperti biasa. Saat memasuki lingkungan sekolah, dia langsung menjadi pusat perhatian.
Dahi Ramanda berkerut. Dia heran dengan semua tatapan yang orang berikan kepadanya.
'Semua orang kenapa? Mereka nggak mungkin tahu masalah gue sama Morgan kemarin kan?' batin Ramanda yang tak tahu apa-apa. Dia mencoba mengabaikan semua tatapan orang-orang. Hingga saat masuk ke kelas, Ramanda mendapat kabar kalau Morgan ditangkap polisi. Parahnya dia baru mengetahui kabar itu dibanding yang lain.
"Nggak mungkin! Lo pasti bohong kan?" Ramanda menampik keras.
"Itu benar, Ra. Gue punya kenalan yang juga ditangkap polisi. Dia kebetulan melihat Morgan ada di sana," ungkap Dimas.
Mata Ramanda bergetar. Dia yang tadinya hendak duduk ke bangku, malah berlari keluar kelas. Tidak ada yang ingin dilakukan Ramanda selain menemui Morgan ke kantor polisi.
Ramanda di antar oleh sopirnya sendiri. Dia melangkah dengan cepat. Setelah mendapat izin untuk membesuk, Ramanda dapat menemui Morgan.
"Ramanda! Lo ngapain ke sini?!" tukas Morgan tak percaya. Dia masih mengenakan pakaian biasa. Karena belum ditetapkan sebagai tersangka.
"Bukannya gue yang harus tanya begitu?! Lo kenapa, Gan?! Lo nggak tahu gimana perjuangan gue buat meyakinkan bokap biar mau terima lo! Kalau bokap gue tahu lo terlibat narkoba, dia pasti akan berubah pikiran!" omel Ramanda.
"Lo harus percaya sama gue! Saat datang ke hotel kemarin gue itu cuman duduk di sana! Sedikit pun nggak ada obat-obatan yang menyentuh lidah gue! Lo tahu alasannya kenapa? Itu karena lo, Ra! Gue selalu ingat nama lo ketika melihat obat-obatan itu!" sahut Morgan. Keningnya mengernyit samar.
Mendengar ucapan Morgan, air mata Ramanda berjatuhan. Dia tidak tahu harus bagaimana. Dengan segala masalah yang menimpa cowok itu, semuanya terasa semakin sulit. Ramanda berfirasat kalau kedua orang tuanya tidak akan menyukai Morgan lagi.
"Ra... Gue emang cowok yang nggak benar. Kalau lo mulai merasa nggak yakin, gue rela biarin lo pergi. Tapi... Jika lo masih percaya, gue akan lakukan apapun agar kita bisa bersama. Apapun pilihan lo, gue akan terima," ujar Morgan bersungguh-sungguh. Sama seperti Ramanda, air matanya juga terlihat bercucuran.
Bukannya menjawab, tangisan Ramanda justru kian menjadi-jadi. Dia sampai menutupi wajah dengan dua tangan. Pilihan yang diberikan Morgan terasa sangat sulit baginya. Dan hal yang paling di inginkan Ramanda hanyalah tetap bersama Morgan.
"Ra... Plis jangan nangis... Lo bikin gue merasa semakin bersalah. Kalau keberadaan gue bikin lo nangis, mungkin sebaiknya lo jauhin gue mulai--"
__ADS_1
"Enggak! Gue akan pilih tetap bersama lo! Gue akan percaya sama lo!" potong Ramanda dengan nada tegas. Dia dan Morgan segera saling berpelukan.
"Makasih, Ra..." ungkap Morgan sembari mengeratkan pelukan.