
...༻✿༺...
Ramanda menghabiskan waktu cukup lama di rumah Morgan. Dia mendapatkan sambutan hangat dari Gina. Ibunya Morgan itu tentu senang dengan kehadiran Ramanda.
"Tante mau ikut ketemu sama orang tuaku nggak ke rumah? Pasti sudah lama nggak ketemu kan?" ajak Ramanda penuh harap.
Gina membisu dalam sesaat. Dia terlihat berpikir sambil melihat keadaan kakinya. Jujur saja, Gina selalu tidak percaya diri saat jalan-jalan keluar. Dia benci tatapan aneh dan kasihan yang diberikan orang-orang.
Morgan yang lebih tahu bagaimana ibunya, perlahan mendekat. Dia berusaha memberikan motivasi.
"Mamah mau dukung hubunganku sama Ramanda kan? Kalau begitu Mamah harus temanin aku ketemu sama kedua orang tuanya Ramanda. Bisa aja sekalian lamaran kan?" ujar Morgan pelan. Membuat Gina mengembangkan senyum. Dia pun setuju untuk ikut. Mereka segera bersiap untuk pergi.
Ketika sudah sampai di rumah Ramanda, Morgan membantu Gina turun terlebih dahulu. Begitu pun Ramanda.
"Aku sudah lupa kapan terakhir kali berkunjung ke sini," komentar Gina kala melihat rumah mewah Ramanda.
"Mulai sekarang, aku pastikan Tante akan lebih sering ada di sini. Tinggal di sini juga nggak apa-apa kok," tanggap Ramanda. Dia menyamakan jalannya dengan pergerakan kursi roda. Sedangkan Morgan sendiri, menjadi orang yang mendorong kursi roda Gina. Mereka melangkah memasuki rumah.
Di ruang tamu ada Elsa yang tengah sibuk bermain dengan Rendra. Matanya membulat ketika menyaksikan kedatangan Morgan dan Gina. Bukan itu saja yang membuatnya sangat terkejut. Tetapi juga keadaan Gina.
"Gina? Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa..." Elsa kehabisan kata-kata. Ia menatap penuh empati dan segera menghampiri Gina.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja," ucap Gina seraya tersenyum. Dia mendapat pelukan hangat dari Elsa. Keduanya melanjutkan pembicaraan dengan saling menanyakan kabar.
Bersamaan dengan itu, Raffi turun dari tangga. Atensinya tentu langsung tertuju kepada Morgan dan Gina. Dia sangat syok menyaksikan keadaan ibunya Morgan. Tanpa pikir panjang, Raffi bergabung dengan yang lain.
Morgan dan Ramanda membiarkan orang tua mereka saling bicara. Keduanya sama-sama membisu sambil sesekali melirik. Mereka duduk bersebelahan di sofa.
Perlahan Morgan menggenggam jari-jemari Ramanda. Menyebabkan cewek itu sontak menatap ke arahnya.
"Gue akan bicara sama bokap lo sekarang," kata Morgan dengan nada pelan.
"Maksud lo? Kenapa nggak tunggu dulu..." Ramanda tidak bisa melanjutkan ucapannya saat Morgan tiba-tiba berdiri. Semua pasang mata otomatis tertuju kepada cowok itu. Termasuk Raffi.
"Om Raffi. Aku mau bicara serius sama Om!" seru Morgan. Berdiri tegak sembari memasang ekspresi pecaya diri.
Kini Morgan dan Raffi duduk saling berhadapan. Hening menyelimuti suasana dalam sesaat.
"Kau terlambat! Ramanda akan segera menikah," celetuk Raffi. Memulai pembicaraan lebih dulu.
Mata Morgan terbelalak. Kepercayaan dirinya runtuh dalam sekejap. Entah kenapa dia mempercayai pernyataan Raffi begitu saja.
"Tapi, Om... Kata Ramanda dia..." Morgan bingung harus berkata apa.
__ADS_1
"Memangnya kau tidak tanya dulu sama Ramanda, apakah dia punya pacar atau enggak?" ucap Raffi.
Jantung Morgan berdegub kencang. Dia dibuat gelisah. Sebab dirinya hanya menanyakan perihal kedekatan Ramanda dengan Zafran. Tetapi tidak dengan lelaki lain.
"Aku hanya menanyakan hubungannya dengan Zafran. Kata Ramanda mereka hanya berteman," imbuh Morgan meragu.
"Iya, Zafran dan Ramanda memang hanya teman. Tapi jelas kalau dia bukanlah satu-satunya lelaki yang dekat dengan Ramanda." Raffi membalas begitu serius. Membuat Morgan harus telan ludah sendiri.
Morgan terdiam cukup lama. Meskipun begitu, dia mencoba tetap optimis. Lagi pula bukankah yang terpenting Ramanda belum menikah? Hal itu jelas menandakan bahwa Morgan masih mempunyai peluang.
"Aku sudah berhasil lepas dari obat-obatan, Om. Aku juga sebentar lagi akan menjadi dokter spesialis. Aku tidak datang satu tahun lalu karena saat itu aku masih belum berhasil seperti sekarang. Tapi mumpung Ramanda belum dinikahkan, aku berharap bisa dapat kesempatan lagi," ungkap Morgan panjang lebar.
Raffi tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Ramanda tetap akan kunikahkan!" tegasnya sambil memperbaiki kacamata. Lalu duduk dengan tegak menghadap Morgan.
Raut wajah Morgan semakin pucat. Dia merasa harapannya sudah sirna. Kepala Morgan tertunduk ke bawah.
Raffi yang menyaksikan, lagi-lagi tersenyum. Dia berucap, "Ramanda akan kunikahkan denganmu!"
"Hah?" Morgan langsung mengangkat kepalanya. Dia pikir dirinya salah dengar.
..._____...
__ADS_1
Catatan Author :
Guys, beberapa bab lagi kemungkinan novel ini akan tamat. Semoga betah terus ya. 😁