
...༻✿༺...
Sekarang Ramanda tinggal sendiri di salah satu unit apartemen di London. Tempat yang cukup jauh dari gedung apartemen Zafran.
Hari demi hari dilalui Ramanda dengan rasa jenuh. Meskipun begitu, dia selalu mengutamakan pendidikan. Sehingga dirinya lulus kuliah dengan predikat cumlaude.
Jika Ramanda lulus sarjana, maka dua tahun sudah berlalu. Hingga tibalah hari Ramanda akan menjalani masa koas di sebuah rumah sakit. Koas sendiri merupakan sejenis praktek yang harus dilakukan dokter agar bisa menjadi spesialis.
Ramanda yang sudah bosan tinggal di luar negeri, memilih kembali ke Indonesia. Dia memutuskan akan menjalani koas di Unversitas Wijaya Dirgantara saja. Universitas itu kebetulan adalah pendidikan baru yang khusus membuka ilmu tentang medis. Dari mulai kedokteran, perawat, dan farmasi.
Usai mendaftarkan diri, Ramanda harus memeriksa pengumuman yang ada di web universitas. Dia ingin mengetahui di rumah sakit mana dirinya akan menjalani koas.
Setelah mengetahui dimana akan melakukan koas, Ramanda segera mempersiapkan diri. Ia kebetulan memilih spesialis penyakit dalam. Sebab begitulah niat yang Ramanda susun semenjak SMA. Sebenarnya itu adalah kesepakatan yang dibuatnya dengan Morgan saat masih pacaran. Ramanda tetap memilih jurusan spesialis penyakit dalam karena masih ada sepercik harapan di hatinya.
'Sudah empat tahun kita nggak ketemu. Tapi kenapa gue masih berharap?' batin Ramanda sembari berjalan pelan memasuki rumah sakit. Kebetulan saat itu dia harus menemui mahasiswa koas senior terlebih dahulu. Tepatnya sebelum benar-benar bertemu dengan dokter spesialis atau profesional.
Ramanda berkumpul dengan ke-empat temannya yang seangkatan. Dia saling berkenalan dan menyapa. Kali ini Ramanda bertekad untuk membuka diri. Ia ingin mempunyai teman lagi.
"Hei! Gue dengar ada salah satu koas senior kita yang sangat pintar. Dan katanya dia juga ganteng banget!" seru Agni. Salah satu teman seangkatan Ramanda.
__ADS_1
"Yang benar? Dia pasti sangat populer di rumah sakit ini," tanggap Ramanda. Terkesan biasa saja. Dia sengaja berpura-pura antusias agar tidak dicap memiliki kepribadian membosankan.
"Ya, yang gue dengar dia disukai banyak dokter spesialis," ucap Agni.
"Bagaimana lo bisa tahu lebih dulu?" tanya Ramanda penasaran.
"Kebetulan kakak gue kerja sebagai perawat di sini. Dia tugas di lantai tiga," jawab Agni yang langsung direspon dengan anggukan oleh Ramanda.
Tak lama kemudian dua koas senior datang. Keduanya bernama Fajira dan Ibnu. Dengan setelan jas putihnya mereka tampak sangat keren.
"Apa ini sudah lengkap semua?" tanya Fajira.
"Oke, biar kami absen kalau begitu," ujar Ibnu. Dia segera mengabsen nama para koas junior satu per satu.
Setelah di absen, Ramanda dan yang lain disuruh menunggu. Mereka menunggu cukup lama. Sampai kaki mereka jadi pegal.
Menyaksikan para juniornya gelisah, Fajira menyuruh mereka duduk. Kemudian mendekatkan mulut ke telinga Ibnu. "Mana anak itu? Kenapa dia lama banget?" bisiknya.
"Gue nggak tahu. Katanya tadi mau makan dulu," sahut Ibnu.
__ADS_1
Fajira berdecak kesal. Ia segera menghubungi rekannya yang terlambat itu. Kebetulan teman yang dihubunginya tersebut bertugas bicara kepada para dokter spesialis. Terutama mengenai kedatangan para mahasiswa koas baru.
"Eh! Mentang-mentang jadi anak kesayangan ya! Lo sengaja bikin anak baru pada nunggu?! Kami udah lumutan tahu nggak!" omel Fajira yang dapat didengar semua orang. Dia langsung tersenyum kecut saat sadar menjadi pusat perhatian. Lalu memelankan nada suaranya. "Cepat sini!" desak Fajira.
"Sorry, Fa. Gue lagi ngurus pasien darurat nih. Lima menit lagi gue ke sana!" sahut suara cowok dari seberang telepon.
"Maaf ya, Adek-adekku yang ganteng dan cantik, satu kakak kalian yang sejak tadi ditungguin ternyata lagi mengurus pasien darurat," kata Fajira lembut.
Ramanda mendengus kasar. Dia merasa hari pertama koas sudah membosankan. Dirinya bahkan gagal memiliki teman dekat. Agni yang tadinya mengajak Ramanda bicara, sudah lebih dekat dengan orang lain.
"Nah! Yang ditunggu akhirnya datang!" seru Ibnu sambil berdiri. Dia dan Fajira menatap tajam temannya yang sejak tadi ditunggu.
Tap!
Tap!
Tap!
Suara derap langkah itu kian mendekat. Semua orang segera menoleh ke arahnya. Termasuk Ramanda. Pupil matanya langsung membesar tatkala menyaksikan orang tersebut adalah sosok tidak asing.
__ADS_1
"Mo-morgan?" bibir Ramanda bergetar. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Terlebih posisi Morgan adalah sebagai koas seniornya. Bagaimana bisa?