
Percayakah kalian pada cerita fantasi? Baik yang pernah kalian ketahui dari sebuah novel, film maupun dari mana saja kalian mengetahuinya?
Seperti ... Kita bisa pergi ke masa lalu ataupun ke masa yang akan datang dengan menggunakan mesin waktu? Atau kita membuka lemari dan ternyata sebenarnya lemari itu merupakan pintu menuju dunia lain?
Atau sihir? Tapi kalau sihir aku yakin pasti kalian percaya ada di dunia ini.
Dan bagaimana dengan makhluk yang tak pernah kalian bayangkan wujudnya? Ini bukan hantu melainkan makhluk lain, hingga kalian mungkin akan mengira mereka itu berasal dari planet luar. Tentu itu tak akan masuk akal lagi bukan? Dan tentu semua itu akan susah untuk dipercaya....
Kali ini aku akan bercerita bagaimana aku menghadapi semuanya ... Ke masa depan dan ke masa lalu. Mengunjungi seluruh dunia bahkan dunia yang tersembunyi itu. Berseteru dengan hidup dan matiku selama menempuhnya ....
------------------------------
Ini semua berawal dari ucapanku yang sangat tidak ku duga, karena bisa membawaku ke tempat yang tak pernah ku ketahui sebelumnya.
New York, tepatnya di Albany. Aku saat ini sedang bersandar di dinding depan toko buku Qibo. Nama yang unik bukan. Jangan salah, walaupun namanya seperti itu toko buku ini yang paling terlengkap di kota ini. Pasti akan selalu ada buku keluaran baru di toko ini.
Buku genre fantasi saat ini sedang berada di tanganku. Sedikit lagi, aku akan selesai membacanya. Pasti akan bersambung. Karena, belum ada versi terakhirnya di toko ini. Bukan di toko ini saja, bahkan di negara ini pasti juga belum ada buku terakhirnya karena buku yang ku baca saat ini adalah buku keluaran baru.
"Bersambung ... Benarkah semua itu? Kendaraan yang bisa membawa kita kemana saja? Hei, ayolah! Aku tahu itu semua hanyalah fiksi belaka," ujarku baru saja menutup buku itu dan menyimpannya di dalam saku mantelku. Aku pun beranjak dari sandaranku dan bergegas untuk pulang ke rumahku.
Sekarang aku melihat ada seorang kakek-kakek yang sedang duduk bersila di bawah. Dia sedang menatap sesuatu yang ada digenggamannya. Entahlah apa itu, aku tidak dapat melihatnya. Tapi sepertinya dia berbicara sendiri.
Sejak kapan Kakek itu ada di sana ya? Perasaanku dari tadi tidak ada orang yang melewati trotoar ini. Batinku berkata. Baru saja tiga langkah aku melewatinya, dia mulai berbicara dan sepertinya panggilan itu tertuju untukku.
"Hei anak muda!" ucapnya sekali lagi. Membuat aku akhirnya melihat kembali ke arah kakek itu. "Apakah kakek baru saja memanggilku?" Tanyaku karena hanya ada aku dan dia saja di trotoar ini.
"Benar," balasnya mulai menarik tubuhnya untuk berdiri dan berjalan mendekati diriku.
"Ada apa Kek? Ada yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
"Uhuk–Uhuk ... Sebelum itu," kakek itu mengulurkan tangannya ke arahku tanda ingin berkenalan.
"Oh iya. Namaku Avleinsist Forqueto. Kakek bisa memanggilku Avlein," ujarku membalas uluran tangannya. Kakek itu tersenyum kepadaku dan kemudian dia berkata, "Aku menyukai namamu anak muda. Joba. Panggillah aku dengan sebutan itu," balasnya melepaskan genggaman tangannya dan menunjukkan sesuatu dari tangan satunya lagi.
Sepertinya itu adalah benda yang sedari tadi dilihat olehnya. Mendadak tanggannya tersebut bergerak mengenakan benda itu di leherku.
"Dia ingin bersamamu. Dan dia juga menginginkan kamu tidak memberikan dia kepada orang lain," jelas kakek itu.
"Apa ini kek?" Tanyaku sembari melihat lebih lagi benda yang baru saja diberikannya itu.
"Ini adalah petunjuk arahmu," balasnya.
"Petunjuk arahku?"
"Benar ... sekarang pulanglah. Jagalah dia dengan baik. Jangan pernah memberikan dia pada siapa pun," jelas kakek itu sekali lagi.
Aku pun hanya menganggukkan kepalaku dan membalikkan tubuh hendak berniat berjalan pulang. Tetapi aku ingat aku belum mengucapkan terimakasih ataupun kata perpisahan, jadi aku kembali melihat ke arah kakek itu. Tetapi Kakek itu sudah tidak ada lagi. Ini benar-benar mengejutkanku.
Hingga sekiranya depupan jantungku berdetak normal aku pun menyimpulkan untuk bergegas pulang.
Avleinsist Forqueto. Itulah nama lengkapku. Entahlah apa artinya, aku tidak pernah menanyakannya pada kedua orangtuaku. Karena aku dari kecil tidak mengetahui siapa kedua orangtuaku.
Sejak bayi, aku sudah berada di panti asuhan. Dan nama itu sudah ada di keranjangku. Ketika aku berumur delapan tahun, aku diambil oleh sepasang suami istri yang sangat kaya raya.
Sampai sekarang aku masih dianggap anak oleh mereka. Tapi sejak aku selesai sekolah, aku mengatakan kepada mereka, aku ingin melanjutkan hidupku dengan jalanku sendiri. Oleh karena itu saat ini aku berada di sini. Sedangkan kedua orangtua angkatku berada di Indonesia. Tepatnya di Bali.
Walaupun sangat jauh dari mereka, mereka tidak pernah absen untuk mengabariku. Dan aku juga harus seperti itu. Malah aku dianjurkan oleh mereka untuk mengirimi foto kegiatanku di sini.
Sekarang aku berumur 20 tahun. Aku tidak melanjutkan ke jenjang kuliah, karena aku tidak ingin belajar. Aku hanya ingin hidup bebas. Tapi jangan salah. Aku mempunyai pekerjaan.
__ADS_1
Aku seorang penulis. Sudah ada beberapa ceritaku yang dicetak dalam bentuk buku. Bukuku sendiri merupakan buku non-fiksi. Di mana salah satunya menceritakan tentang kehidupanku yang sedikit sulit saat aku menuju umur delapan tahun.
Aku juga terkadang menerima pekerjaan yang lain. Seperti editor, animator, dan aku juga terlatih memperbaiki elektronik. Jadi, tidak masalah kan, aku berhenti dan memulai hidup dengan jalanku sendiri.
Tetapi aku tidak akan lupa dengan kalimat hidupku. Jangan pernah berhenti mempelajari sesuatu. Dan seperti inilah cara belajarku sekarang, belajar mempertahankan hidup di alam bebas.
Aku akhirnya tiba di rumahku. Tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu kecil. Dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur, ruang tamu, dan satu perpustakaan.
Kalian tahu, ruang perpustakaan lah yang paling besar dari semuanya. Karena aku juga suka mengoleksi buku. Sekarang aku sedang menuju ke ruangan itu. Selesai membeli buku, pasti aku langsung datang ke ruangan ini. untuk menambah daftar koleksiku.
"Sudah selesai. Dan ini ... " Aku mengeluarkan benda pemberian kakek tadi dari kurungan mantelku. "Kenapa dia memberikan ini?" Lanjutku pergi duduk di kursi kerjaku.
"Seperti arloji tua. Ada panahnya tetapi anehnya tidak ada angka. Benda ini bukanlah jam. Ada gambar yang aneh di dalamnya. Dan uniknya rigi yang mengatur pergerakan jarum terlihat. Apa ini arloji kuno? Apa sebenarnya nama benda ini," ujarku semakin dipenuhi dengan pertanyaan.
Segera melepaskannya dari leherku dan meletakkannya di atas meja. Aku pun bangkit dari dudukku untuk membuka mantel yang ku kenakan. Kemudian membentangkannya di atas kursi. Menyimpulkan segera pergi meninggalkan ruangan ini berniat membersihkan diriku. Tetapi ...
"Namaku Joba," ujar seseorang dari arah belakangku. Sontak aku langsung memutar kuat tubuhku ke arah suara itu.
"Siapa di sana?!" teriakku.
"Di sini!" Aku pun kembali ke mejaku semula. Karena suara tersebut jelas berasal dari arah meja itu. Mencoba mencari di bawah meja tetapi tidak ku temukan seorang pun.
"Hei keluarlah kau penyusup sialan!" bentakku mulai mengambil satu benda yang berada di dekatku—sebuah payung, untuk berjaga-jaga.
"Aku di sini, di atas meja!" jawabnya dan ya aku langsung melihat ke arah benda yang diberikan kakek tadi. Suaranya benar-benar berasal dari benda itu. Segera aku menggenggam benda tersebut.
"Benarkah kau yang berbicara?" tanyaku mulai panik dengan apa yang terjadi.
"Benar, aku!" balasnya lagi dan ya suaranya benar berasal dari benda itu. Dan aku malah ....
__ADS_1
"Aaaaaaaa!!"