JOBA

JOBA
[19] Kelanjutan Peristiwa


__ADS_3

Aku masih berdiam diri setelah mendengar cerita yang keluar dari mulut Yua, hanya bisa melihat dia yang baru saja kembali duduk di sebelahku meletakkan sebuah kartu hijau–di atas meja. Aku hanya berusaha mencerna semua cerita yang ia sampaikan.


Jelas sekali Avlein yang ada di dalam cerita sangat luar biasa. Bagaimana bisa dia bergerak gesit seperti itu, melempar musuh hingga 10 meter jauhnya, bahkan seharusnya dia telah mati karena jantungnya sudah diambil.


Tetapi yang sungguh tak bisa kupercaya, dia menghidupkan Yua? Haha, ini pasti bercanda, agar aku tertarik dengan semua ini. Tentu aku tak sehebat dia yang bisa membaca pikiran orang lain, bahkan juga melihat masa depan orang itu sama seperti Joba.


Aku bergemetar mengangkat kedua tanganku, kulihat telapak tangan dengan saksama. Benarkah aku mempunyai kekuatan? Bahkan tak pernah sedikitpun aku melihat cahaya yang keluar dari tubuh ini.


Tiba-tiba saja Yua menggenggam telapak tangan kananku, itu membuat tatapan mataku beralih padanya. Saat itu pula gemetarku berhenti, keraguan hati perlahan mulai menghilang.


Tatapan Yua itu jelas tidak membohongiku. Ditambah Joba yang hanya berdiam diri di sebelahku, itu tandanya semua ini benar telah terjadi. Tetapi kepercayaan diri masihlah lemah, karena aku belum mendapatkan bukti pada diriku secara nyata.


"Seperti yang paduka Avlein katakan, kau sangatlah berbeda dengannya. Kau ingat kan, yang dia katakan bahwa dia tidaklah yang terkuat?"


"Apakah kau mau mengatakan, akulah yang terkuat itu?"


Dia menganggukkan kepalanya pelan, kemudian berdeham dan meletakkan kartu hijau itu di atas telapak tanganku.


"Aku melihat aura yang terpancar lebih kuat dari tubuhmu. Sepertinya hanya kau saja yang tidak menyadarinya sendiri. Maka dari itu kau meyakinkan bahwa kau hanyalah manusia biasa."


"Tapi ...."


Perkataanku kembali terhenti akibat kartu yang Yua letakkan itu baru saja mengeluarkan cahaya hijau muda. Dan saat itu pula aku melemparkan kartu tersebut karena dia bergerak dengan sendirinya.


"Wow, ini sungguh menakjubkan... kamu hebat Avlein!" celetuk Vlivy membuat aku menatap ke arahnya. Aku yakin yang dimaksudkannya adalah cahaya hijau tadi.

__ADS_1


"Tidak! Itu pasti cahaya dari kartu tersebut!" balasku secepatnya menyela kenyataan yang baru saja kulihat.


"Ya, anggap saja seperti itu. Mengapa kau tidak melihatnya kembali? Apa kau takut karena gerakannya tadi? sahut Yua kembali mengambil kartu itu dan mengarahkannya padaku.


Aku bukannya takut dengan hal itu, hanya saja aku terkejut, karena gerakan kartu itu yang seperti ingin mengeluarkan sesuatu....


Segera aku mengambil kartu hijau tersebut, ku lihat kartu itu tidak lagi sebuah kartu polos berwarna hijau, melainkan sebuah kata sudah berdiri di sana, yaitu Lionera.


Berarti gerakan tadi hanya karena dia mengeluarkan huruf-huruf?


"Tidak, itu karena kaum Lionera yang tak hentinya memberontak paksa pintu gerbangnya." jawab Joba di sebelahku. Membuat alisku melejit menatap ke arahnya.


"Bukan berarti juga, dunia itu berada di dalam kartu tersebut, melainkan hanya gerbangnya saja yang terkurung di kartu tersebut." tambah Joba juga menjawab pertanyaan yang ingin kupikirkan.


"Kau tidak penasaran dengan ceritaku selanjutnya tentang kartu itu?" sambung Yua kini pandanganku kembali padanya. "Tenang, aku akan menceritakannya secara singkat."


"Sesuai dengan yang paduka Avlein beritahukan, kakek Berlig akan datang padaku untuk meminta bantuan. Benar itu semua terjadi, karena ternyata dia sudah susah payah mencari keberadaanku. Dia akhirnya menemukanku akibat dari kehancuran yang terjadi pada dunia Greyaq ini.


Ketika dia mendengarkan ceritaku, dia menolongku untuk menyembunyikan Greyaq menggunakan dan kemudian dia menceritakan apa yang terjadi padanya. Karena dia telah melarikan diri dari kaum Lionera yang sudah amburadul.


Dia sebenarnya hanya meminta bantuan untuk menyelamatkan hidup keluarganya. Tetapi Karena perintah paduka Avlein, aku akan menutup Lionera dengan kartu yang sudah diberikannya.


Ketika aku menghampiri gerbang itu, sebenarnya aku tidak tahu cara kerjanya seperti apa. Tetapi kartu tersebut melayang dengan sendirinya dan gerbang itupun tertelan masuk ke dalamnya, dan sejenak memperlihatkan tulisan Lionera di atasnya hingga akhirnya tulisan itu menghilang.


Sebenarnya tak sempat aku melihat ke dalam dunia itu, karena dari luar saja aura hitam sudah mengamuk menyambut kedatanganku, sehingga aku mengurungkan niat untuk mengunjunginya.

__ADS_1


Dan saat itu kaum Lionera juga sudah ada yang mengganggu kehidupan manusia, ya, itulah mungkin gunanya aku datang ke tempat itu, untuk membersihkan mereka yang berkeliaran itu.


Dan saat itu pul kartu itu terkadang bergerak sendiri seperti yang kau rasakan tadi. Dan sejujurnya pula selama ini tak pernah sekalipun kartu itu mengeluarkan sebuah cahaya. Begitu juga kata Lionera yang masih tertulis di sana. Aku hanya melihat tulisan itu sekilas." Yua akhirnya menghentikan ceritanya.


"Jadi intinya, kau ingin mengatakan bahwa cahaya tersebut karena aku yang memegangnya?"


"Coba saja kau juga memegang kartu ini!" celetuk Joba memberikan kartu yang sempat digunakannya di dunia Emard.


Segera aku mengambilnya, melihat teliti kartu polos yang hanya berwarnakan emas. Tak lama setelah itu, lagi dan lagi kartu tersebut memancarkan cahaya, kini bekilauan kuning. Setelah cahaya itu memudar, sebuah kata kembali tercetak di sana.


"Avlein?!" ucapku dengan nada yang tinggi, bahkan rasanya aku tak bisa mengerjapkan kedua mataku. Apakah kartu emas ini milikku sendiri?


"Ya, itu memang kartumu! Aku akan mengembalikannya padamu. Tapi sebelum itu, aku akan membuktikan sesuatu...." balas Joba kembali dia mengambil kartu itu.


Perlahan tulisan di sana memudar menjadi kartu polos yang hanya berwana emas seperti semula, dan tak ada sedikitpun cahaya yang keluar ketika Joba menyentuhnya.


Hal itu pula berhasil membuat aku bisa mengerjapkan kembali kedua mataku. Yang masih tak menyangka, benarkah ini semua karena aku yang menyentuhnya? Apa Avlein kah yang membuatnya atau sejenisnya?


"Dan mengapa tulisan Lionera masih tertulis di sana?" Aku akhirnya mengucapkan sesuatu.


"Karena itu sudah berada di tanganmu! Begitu pula tugas Yua terselesaikan. Dan seperti yang Avlein katakan, selanjutnya itu tergantung keputusanmu." balas Joba kembali membuat aku terdiam beberapa saat.


Tetapi aku menyimpulkan sesuatu, "Aku lelah...."


Mendengar itu pula tawa Yua pecah, dan menyerukan kepada kami semua lebih baik ceritanya disudahi saja dan ada baiknya juga beristirahat terlebih dulu.

__ADS_1


Agar menenangkan pikiranku untuk membuat keputusan selanjutnya.


*


__ADS_2