JOBA

JOBA
[12] Tujuan


__ADS_3

Setelah semua kebimbangan yang kulalui, aku pun memutuskan untuk mengubah tujuan hidupku. Yaitu mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi padaku. Siapa sebenarnya Avlein, siapa sebenarnya diriku? Apa selama ini aku belum mengetahui diriku yang sesungguhnya? Maka dari itu sekarang aku berada di sini ....


Connecticut – Hartford.


Akhirnya kami tiba di tempat ini. Di mana ketika aku membuka buku tua itu, buku tersebut bukan lagi memperlihatkan sebuah tulisan, melainkan sebuah gambar yang berbentuk seperti rumah dan mengenakan plakat nama–Entic. Dan aku yakin bahwa rumah tersebut adalah tempat menjual sesuatu.


Tapi aku juga merasakan ada yang aneh pada kota ini. Itu semua sejak kami sampai di tempat ini. Karena semua yang tampak di sini sangat berbeda dengan suasana saat terakhir kali aku mengunjunginya.


Yang waktu itu banyak orang-orang berjalan kaki di trotoar sibuk melakukan aktivitas mereka masing-masing. Tetapi sekarang tidak ada satu pun hingga para penjual di pinggiran jalan.


Toko-toko juga seharusnya bercahaya memperlihatkan produk yang mereka jual, ketika langit-langit terang berganti dengan senja seperti saat ini. Tetapi bahkan lampu jalanan pun tidak seluruhnya yang menyala untuk memberi penerangan pada arah kami.


Juga biasanya banyak mobil yang berlalu lalang, tidak hanya terparkir di pinggir jalan berdiam diri. Dan bahkan seharusnya bisa mengantarkan kami langsung ke tempat yang kami tuju.


Tetapi kali ini tidak ada satu pun yang dapat kami kendarai. Pantas saja orang yang menuju kota ini bisa dihitung dengan jari.


Yang jelas kota ini terlihat seperti kota tak yang berpenghuni lagi.


"Jadi Joba, ada apa sebenarnya ini?" mulaiku memecah keheningan dalam langkah kami.


"Oh, mereka belakangan ini lebih sering mengurung diri di dalam bangunan."


"Apa ada yang mengganggu mereka?" sahut Vlivy yang berjalan di sebelahku mencoba menyetarakan langkah kaki kami.


"Ya ... Seperti itulah. Mereka diganggu oleh makhluk yang tak kasat mata dan bahkan ada beberapa manusia yang dinyatakan telah menghilang."


"Jadi apa sekarang kita akan baik-baik saja?" tanya Vlivy lagi sepertinya dia mulai mengkhawatirkan sesuatu.


"Tenang ... Semua aman selagi ada aku!" balas Joba dengan nada suaranya yang terdengar seperti membanggakan sesuatu.


"Dan akan lebih hebat lagi jika kau bisa membantu kami agar lebih cepat tiba di tempat itu!"


Tiba-tiba saja pintu mobil yang tak begitu jauh berada di depan kami terbuka. Dan aku mengira akan ada seseorang yang keluar dari mobil tersebut. Tetapi ketika kami mendekati mobil itu, tidak ada siapa pun di dalamnya. Aku yakin ini semua perbuatannya Joba.


"Tunggu apa lagi? Bukannya kau ingin cepat tiba di sana?" jelas Joba ketika kami hanya terpaku menatap mobil kepunyaan orang lain itu.


"Ya benar, ini adalah tindakan kriminal tapi aku pastikan tidak akan ada yang menuntut nantinya."


Akhirnya kami memasuki mobil tersebut. Benar kami tidak memiliki kuncinya, tetapi mobil ini tetap menyala dengan sendirinya. Siapa lagi kalau bukan karena Joba dan aku yakin masih banyak lagi kemampuan yang belum diperlihatkannya.


Kami pun segera menuju ke tempat itu, menjadikan mobil ini sebagai kendaraan gratis kami. Setidaknya kami tidak berjalan kaki menempuh lokasi yang berjarak kurang lebih lima kilo meter di depan sana.


Ketika kami tiba di tempat tersebut, sama halnya pada sebelumnya, tidak ada seorang pun yang berkeliaran di kota ini. Padahal sekarang masih belum masuk waktu larut malam.


Ya, walau tadi sempat terlihat beberapa orang yang berlari ke tempat yang dia tuju, tetapi aku merasakan mereka itu sedang menghindari sesuatu. Karena gerak-geriknya yang melihat sekeliling dengan waspada.

__ADS_1


Tempat yang kami tuju ini tampak seperti rumah tetapi hanya berukuran kecil dan menjulang ke atas. Diapit oleh sebuah bangunan yang lebih tinggi lagi di sisi kanan dan kirinya.


Juga terlihat seperti bangunan lainnya, tak ada sedikitpun cahaya yang memperlihatkan isi bangunan, yang jendelanya sendiri bagai ditutupi oleh sesuatu. Membuat tempat itu seolah-olah tidak dihuni oleh seorang pun.


Kami mendekati pintu gandeng yang berwarna cokelat tua dan sedikit ukiran dedaunan pada bagian tepinya. Segera kami mengetuk pintu itu beberapa kali, tatapi tidak mendapatkan sambutan dari dalam.


Membuat aku mendorong pelan pintu tersebut dan beruntung sekali tidak terkunci.


Ketika memasuki rumah itu ternyata tempat ini adalah sebuah kafe. Bukanlah rumah yang tidak berpenghuni seperti perkiraan awalku. Beberapa orang juga sedang menikmati minuman mereka diberbagai sudut.


Tak lupa kami juga disambut dengan hangat saat kami membuka pintu tadi. Ini semua sungguh aneh. Semua orang yang berada di ruangan ini terlihat sangat normal. Tidak ada rasa takut sedikitpun, seperti reaksi orang yang berjalan di luar.


"Ya ... Seperti itulah Avlein. Makhluk itu tidak akan bisa mengganggu di dalam bangunan. Dan ya dia tertarik dengan cahaya." jelas Joba ketika kami sudah mendaratkan tubuh kami disalah satu meja kafe.


Tak lupa kami juga memesan sesuatu untuk mengisi perut kami untuk sementara. Dan kini jelas sudah mengapa semua bangunan tidak memiliki pencahayaan saat malam hari. Setidaknya menghindari 'makhluk' itu, saat mereka ingin keluar dari bangunan tersebut.


Aku pun segera membuka buku tua yang sedari awal sudah ku pegang. Membuka halaman terakhir di mana buku itu hanya memperlihatkan lembaran kosong.


Lagi dan lagi, bukan sebuah tulisan untuk melanjutkan cerita yang terbentuk di sana. Kini buku tersebut kembali memperlihatkan sebuah gambar—terlihat seperti pintu.


"Oh, gambar itu! Aku pernah melihatnya!" celetuk sang pelayan kafe yang baru saja datang dengan dua gelas di atas nampan yang kini berada di tangannya.


Mendengar itupun aku langsung menarik salah satu kursi yang berada di sebelahku, memberi tanda padanya untuk duduk di sana. Dia yang mengerti melihat itu segera menuruti seruanku.


Jelasnya memperagakan tangannya yang menunjukkan ukuran barang tersebut sekiranya sepanjang 15 centimeter.


"Dia tidak pernah menjual barang tersebut. Dia hanya memajangnya di lemari yang berada di belakang kasirnya." ucapnya lagi kini berhenti menatap ke arahku.


"Dan aku sejak awal penasaran dengan kalian berdua. Kalian sepertinya datang ke sini mengendarai sesuatu. Dan juga tampaknya kalian tidak tahu apa yang sedang terjadi di kota ini?"


"Ya, yang kau katakan semuanya benar." balasku secepatnya agar dia tidak mencurigai kami.


Kemudian dia pergi memegang dagunya dengan tangan kanan, sementara tangan kiri menopang tangan tersebut. Seketika wajahnya mengernyit seperti sedang berpikir dengan amat keras.


Lalu menyampaikan hasil pemikirannya, "Aku hanya bingung kalian masuk ke sini dengan begitu santainya. sedangkan yang lain pasti dengan napas yang tak beraturan ...."


Dia melihat dengan tatapan menyelidik ke arah kami secara bergantian.


"Kalian menggunakan mobil ke tempat ini dan itu membuat aku yakin kalian dari tempat yang cukup jauh. Yang jadi pertanyaanku, kenapa kalian bisa baik-baik saja?!"


"Mungkin karena kami tidak tahu apa yang sedang terjadi." sahut Vlivy membuat tatapan pelayan itu berhenti ke arahnya.


"Biasanya yang berkeliaran menggunakan kendaraan juga dalam bahaya. Mereka berteriak minta pertolongan ketika kendaraan tersebut melayang dengan sendirinya. Kami tidak bisa membantu apa-apa, karena kami tidak melihat apapun dan yang membantu itu pasti akan kena getahnya juga."


"Jadi, sebenarnya apa yang sedang terjadi?"

__ADS_1


Pelayan itu sedikit membenarkan posisi duduknya lalu mulai menceritakan keadaan kota ini.


"Kami tidak tahu ada makhluk apa sebenarnya yang mengganggu itu. Ini semua sudah terjadi hampir dua tahun lamanya. Ada yang bisa melihat dan dia mengatakan, makhluk tersebut hanya berukuran kecil dan suka mengganggu orang lain, tapi dia tidak akan bisa masuk ke dalam ruangan.


Maka dari itu kami tidak pernah berkeliaran lagi di luar rumah. Awalnya semua ini hanya gangguan biasa saja, tetapi semakin ke sini semua semakin parah. Karena kita bisa saja tidak kembali pulang ke rumah akibat di bawa entah ke mana oleh makhluk tersebut.


Kami tidak tahu cara menghadapi semua ini dan seperti yang kalian lihat, lebih baik melakukan semua ini. Dan karena sudah lama menghadapi ini pula kami pun jadi terbiasa dengan apa yang terjadi."


Akhirnya dia berhenti menjelaskan dan kembali menatap ke arahku, membuat aku menaikkan kedua alisku, karena ekspresi dia seperti mengharapkan sesuatu.


"Maka dari itu aku sangat mencurigai kalian, mengapa kalian bisa selamat? Apa ada penangkalnya? Tidak mungkin kalian berkendara tanpa cahaya, kan!"


Oke, sekarang dia sudah mulai curiga. Entah mengapa aku malah terdiam karena tidak tahu harus berkomentar apa. Tidak mungkin aku berkomentar, 'Karena aku mempunyai ini!" menunjukkan Joba padanya dan memberitahukan kalau ini adalah jimat andalanku. Dia pasti akan menganggap aku ini gila.


"Dan aku yakin kau tidak akan memberitahukannya padaku. Maka dari itu kau akan membutuhkan ini ...." lanjutnya lagi mendadak tangannya bergerak pergi merogoh ke dalam saku celananya.


Lalu meletakkan dua botol kecil berisikan air berwarna hijau tua. Aku dan Vlivy saling bertukar pandang. Aku yakin dia juga bingung sepertiku.


"Dan Joba ... Sampaikan salamku pada kakek tua sialan itu!" lanjutnya membuat kami secara bersamaan menatap ke arahnya.


"Haha ... Hei ayolah, akui saja dia itu memang kakekmu yang keras kepala. Maka dari itu kami pun tak akan serepot ini berpindah tempat."


"Cih ... lebih baik kalian cepat pergi dari sini!"


Kami pun pergi meninggalkan kafe, tidak lupa membawa botol kecil yang diberikan pelayan tadi. Seperti yang dia katakan, kami akan membutuhkan minuman tersebut karena itu adalah ramuan untuk melewati pintu yang kami lihat pada buku tua itu.


Di mana sepanjang perjalanan, Joba menceritakan siapa sebenarnya pelayan tadi.


Evelion. Pria dengan paras mukanya yang tampak seperti orang Korea, juga memiliki kulit pucat seperti Joba. Serta rambut pirangnya yang berpotongan Slicked Back itu, dia terlihat seperti manusia biasa dan tinggi badan yang sama denganku.


Ternyata dia adalah pemilik kafe tersebut. Tetapi karena rompi yang dikenakannya itu, ia selalu dikira sebagai seorang pelayan di sana.


Tidak sama seperti Joba, dia hanyalah makhluk yang mampu membuat beberapa ramuan. Tetapi bukan berarti juga dia bisa membuat ramuan yang dapat membasmi makhluk tersebut. Karena tentu dia sudah mencoba membuatnya, tetapi tidak pernah membuahkan hasil.


Mereka sudah saling mengenal satu sama lain sejak 100 tahun yang lalu. Di mana Evel mendatangi Joba dan Avlein memohon untuk menjadikannya sebagai murid.


Awalnya dia ditolak karena tentu mereka berdua tidak akan mempunyai waktu untuk hal-hal yang seperti itu, tetapi karena keteguhan dan kerajinannya ,akhinya Evel mampu meningkatkan kekuatannya dalam membuat beberapa ramuan. Salah satunya ramuan yang sudah diberikannya kepada kami, yaitu memperkecil tubuh.


Dan mengapa dia tidak menanyakan lebih lagi padaku, karena dia melihat buku tersebut dan juga Joba sudah berpesan padanya bahwa dia kelak akan berkunjung bersama Avlein yang berbeda.


Akhirnya kami tiba di taman Beta dengan sebuah rumah–yang dari kejauhan terlihat seperti pondok, berada di tengah taman. Karena beberapa cahaya menyinari tempat itu.


Membuat aku mempertanyakan satu hal, mengapa dia memperlihatkan cahaya rumahnya ....


*

__ADS_1


__ADS_2