
***
Lari! Kami harus lari!
Joba memerintahkan kami semua untuk berpencar. Bagaimana bisa? Padahal aku ini hanyalah manusia yang lemah. Tapi mungkin cahaya biru yang melingkar di tubuhku ini bisa melindungi ku. Tak tahu ini kekuatannya siapa, aku hanya berharap tidak akan terluka nantinya.
Joba, Bogi dan Bogu, mereka sudah pergi meninggalkan kami memasuki hutan tersebut. Itu membuat suara gemerisik semakin riuh lagi. Avlein... Ayo kita lari dari tempat ini. Kita tak boleh diam saja!
Ada hawa panas yang kurasakan dari arah belakang. Saat itu pula aku langsung melangkahkan kakiku untuk berlari. Aku benar-benar akan meminta maaf nanti pada Avlein, karena meninggalkan dirinya tanpa mengucapkan apapun. Aku hanya berharap dia baik-baik saja.
Ketika aku memasuki hutan, ternyata dedaunannya memiliki duri yang cukup panjang. Menggores pelindung ini setelahnya. Terlihat pula percikan api dari balik warna biru itu. Bagaimana ini?! Jika pelindung ini hilang, aku pasti akan terluka! Belum pasti juga duri itu beracun atau bahkan dapat membunuhku!
Gemerisik tadi pun masih mengikutiku dari belakang. Tapi sepertinya jarak mereka semakin dekat denganku karena aku yang lemah saat berlari. Terkadang suara itu pun juga berpindah dari sisi kanan ke sisi kiri. Aku berhenti, aku akan tertangkap!
GRRRR
Ha?!!
Aku menghentikan langkahku untuk melihat ke belakang. Suara itu jelas berasal dari tempat kami berdiri tadi. Avlein! Apa kamu baik-baik saja? Kamu harus bisa menyelamatkan diri!
Srak! Srak! Srak!
Aku kembali tersadar bahwa aku juga harus melarikan diri. Tapi aku melupakan apa yang dikatakan oleh Joba. Tak boleh berhenti. Sekarang apa yang akan terjadi padaku? Aku menyapukan pandangan ke sumber suara. Siap menantikan kedatangan musuh.
Kiri !
Suara itu sangat dekat dari sebelah kiriku. Ketika aku mengambil ancang-ancang untuk melawan, tubuhku di dorong kuat ke depan. Saat itu pula pelindungku hilang. Aku masuk ke dalam dekapannya.
"Aah! Lepaskan aku!" Aku memberontak dalam pelukannya yang erat itu.
"Tenang Vlivy!"
"Jo-Joba?!!" Dia melompat di antara satu dahan pohon ke dahan pohon lainnya. Bogi dan Bogu ternyata juga mengikuti dari belakang. Apa sebenarnya yang terjadi? Bukannya kita harus berpencar?
"Kita akan menyusul Avlein!"
Ya, kita harus segera ke sana untuk menyelamat kannya. Tapi suara yang menyeramkan tadi dari arah belakang kita! Bukan ke sini Joba... Tak mungkin kau tak mengetahui itu.
Dia tetap melompat di antara pepohonan melaju ke depan. Suara gemerisik tadi pun juga sudah menghilang. Sepertinya gemerisik tadi hanya mereka yang mengikuti dari belakang. Mungkin–
BOOMM!
__ADS_1
Suara ledakan dari arah timur kami.
"Joba, di sana! Avlein pasti di sana!"
"Ya aku tahu... Tapi kita harus mengarah ke sini!"
Apa sebenarnya tujuan Joba? Saat setelah itu aku baru tersadar bahwasanya Bogi dan Bogu sudah tidak mengikuti kami lagi dari belakang.
"Mereka melakukan tugas mereka! Pergi ke sisi timur...." Joba membalas apa yang ingin kupertanyakan pula padanya.
Dan untunglah... Mungkin mereka yang akan menolong Avlein. Lantas perasaanku lega setelahnya, mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sebenarnya aku tak dapat melihat dengan jelas pepohonan di sekitarku, karena kecepatan Joba saat berpindah.
Jadi hanya terlihat bayang-bayang saja. Tapi ntah mengapa aku tak takut sedikitpun. Padahal kami berada di pohon yang bahkan lebih tinggi berkali lipat dari Joba. Apa Joba menggunakan kekuatannya padaku? Entahlah ... tak seharusnya aku memikirkan ini sekarang. Karena Avlein dalam bahaya.
BOOMM!
Ledakan! Sebuah ledakan yang cukup besar terjadi di hadapan kami. Apakah itu Avlein? Bukannya seharusnya dia di sisi timur...
"Joba apa yang terjadi di depan sana?"
Tunggu! Aku melihat seseorang di dalam kobaran api. Dan makhluk besar yang baru saja melompat di belakangnya? Apa yang terjadi? Apa kami kedatangan musuh? Aku tak bisa melihat dengan jelas.
Jangan! Jangan berbalik! Aku mohon... kau harus lari! Aku akhirnya berteriak. Tetapi suaraku tak dapat didengarkan. Mulai memberontak pula aku setelah itu, meminta pada Joba untuk segera menolong Avlein. Tapi dia hanya menyerukan padaku untuk tetap tenang dan lihat saja apa yang akan terjadi. Avlein akan baik-baik saja.
Tanpa sadar air pun sudah tak sanggup lagi menampung di ujung kelopak mataku. Membuat pandanganku semakin kabur. Sudah ku seka berkali-kali, tapi tetap saja air ini tak ada lelahnya.
Hanya bisa melihat ekspresinya itu yang aku mengerti pula bagaimana perasaannya saat ini. Takut. Dia pasti ketakutan dengan Monster yang lebih besar darinya, yang kini berada tepat di hadapannya. Rasanya ingin segera aku menggantikan posisinya di sana, tapi Joba tak mengizinkanku untuk bergerak.
Kini ku lihat Avlein mulai melangkahkan kakinya ke belakang. Bersamaan dengan itu pula kuku Monster itu kembali bergerak untuk menyerang.
"Jangan! Tolong jangan lakukan itu! Joba kita harus menghentikannya!"
Monster itu mengarahkan kukunya ke punggung Avlein dan menancapkannya ketika Avlein mulai berlari. Tidak lupa raungan yang kudengarkan sebelumnya juga memenuhi suasana di sekitar kami.
"Tidaaaaak!"
Air mataku lebih mengalir sederas yang dia bisa. Suaraku menjerit sekuat dari yang biasanya.
Kulihat satu kuku monster itu berhasil menembus dada Avlein. Penuh dengan darah. Diangkatnya tubuh Avlein ke atas, saat itu pula Avlein mengeluarkan batuk darah. Aku menangis tak karuan hingga tak dapat melihat dengan jelas tragedi yang sedang terjadi.
Bahkan dada ini sesak untuk menarik napas. Mengingat kembali seharusnya aku tidak meninggalkannya sendirian. Seharusnya tadi aku tetap bersama dirinya, maka aku dapat menggantikannya di sana.
__ADS_1
Berusaha ku seka air mata ini. Setidaknya aku bisa menolong dirinya. Tapi tetap saja aku tak bisa bergerak untuk pergi ke sana, karena Joba masih saja menahan tubuhku dalam dekapannya. Hanya bisa melihat Bogi dan Bogu yang datang dari arah belakang monster itu. Sementara Joba juga melompat dari depan untuk menarik tubuh Avlein.
Joba ada dua?
Tak terlalu kupikirkan itu saat ini. Yang jelas Avlein harus diselamatkan. Aku pun tersenyum bahagia melihat tubuhnya yang sudah diangkat oleh Joba. Masuk ke dalam dekapannya dan mengarah ke tempatku berada.
Sementara Bogi dan Bogu, mereka menebaskan pedang mereka ke arah Monster itu dengan kekejaman yang tak tertahankan lagi. Yang terbaring pula monster itu setelahnya.
Aku mengerti perasaan mereka. Jika aku di sana dan tanpa memiliki pisau sekalipun, aku akan berusaha membunuh monster itu karena sudah melukai Avlein. Tapi apalah dayaku yang lemah ini, yang hanya bisa melihat mereka bertempur melawan monster-monster yang mulai berdatangan.
Tapi tak terlalu ku pedulikan tentang itu, karena aku harus menyelamatkan Avlein.
Joba mengangkat tubuhnya ke hadapanku. Dengan banyak darah yang mengalir dari dada dan punggungnya. Sepertinya tubuh itu telah bolong, bahkan bisa ku lihat organ dalamnya. Dengan tangisku yang semakin jadi pula setelah itu. Joba pun segera membawa kami ke tempat selanjutnya.
"Diamlah Vlivy... Avlein akan baik-baik saja!"
Aku tak bisa berkata-kata lagi. Ingin rasanya aku menyentuh wajahnya itu untuk menyadarkan dirinya. Tapi Joba menjaga jarak di antara kami berdua. Jika dia baik-baik saja, mengapa pula aku tak diizinkan untuk membangunkannya?
"Dia bisa menyembuhkan dirinya sendiri, jadi tenanglah!"
Tangisku berhenti sejenak yang kemudian berganti menjadi isakan. Maka dari itu Joba mengatakan dia akan baik-baik saja? Tapi bahkan dia tetap memejamkan sepasang mata biru itu. Bagaimana bisa dia masih terlelap jika ia dapat menyembuhkan diri?
Hingga akhirnya kami tiba di sebuah goa. Dengan dua orang berada di pojokan goa. Salah satunya terkejut dengan kedatangan kami. Segera dia bersujud di bawah memberikan hormat.
Saat itu pula beberapa tumpukan daun dan kayu berterbangan dari luar dengan sendirinya. Menyusun satu per satu menjadi sebuah tempat tidur. Segera Joba membaringkan Avlein di atasnya. Melepaskan pakaian atas Avlein setelah itu. Masih kulihat darahnya tak lelah mengalir sesuka hati. Padahal itu akan membahayakan Avlein jika dia kehabisan banyak darah.
Tapi keajaiban terjadi. Darah-darah yang mengalir itu tiba-tiba saja terserap kembali ke dalam tubuh Avlein. Sementara yang bertumpahan di tanah, terserap ke dalam dan menghilang. Begitu juga darah yang mengotori jubah maupun pakaian Avlein, bahkan tak tertinggal lagi noda di sana. Menyisakan pakaian yang bolong setelahnya.
Dan yang paling mustahil pun ku saksikan. Tubuhnya yang bolong itu kembali bersatu. Dengan perlahan menyusun organ-organ, otot serta daging menutupi diri sendiri—menjadi ke bentuk semula. Kulit Avlein pun tampak baik-baik saja. Bekas luka gores yang memenuhi lengannya pun menghilang. Bahkan bisa ku lihat lagi kotak-kotak yang menghiasi perutnya itu. Sempurna.
"Sudah ku katakan padamu, dia akan baik-baik saja!"
"Tapi dia belum sadarkan diri!"
Kulihat pula Bogi dan Bogu yang berada di sebelah Joba masih terpaku. Melihat kejadian yang tak terbayangkan oleh mereka. Sama halnya denganku. Tidak mengira kejadian yang tak masuk akal ini.
Lantas kami masih terisak pula menunggu Avlein yang tak kunjung sadarkan diri. Menyerukan namanya berulang kali, mungkin saja kami berhasil membangunkannya.
"Tenanglah, percaya lah padaku...." Joba masih mencoba menenangkan kami.
*
__ADS_1