JOBA

JOBA
[14] Dunia Baru (2)


__ADS_3

Akhirnya saat pintu yang tergambar di buku tua Avlein berada di hadapanku. Ternyata pintu ini adalah pintu menuju dunia Greyaq. Tidak banyak yang diberitahukan lagi padaku, karena di dalam dunia itu aku akan segera mengetahuinya.


Aku pun segera menggerakkan ganggang pintu bermaksud untuk mendorongnya.


Tetapi bukannya pintu itu bergeser, melainkan akar-akar yang menjadi motif ukiran dari pintu bergerak menarik diri ke tepian sisi. Membuat pintu yang tadinya berlatar hijau berubah menjadi kabut putih.


Kami segera berpamitan kepada kakek Berlig untuk pergi ke tempat selanjutnya, tidak lupa juga mengucapkan terimakasih kepadanya.


Sementara Joba hanya perlu melayangkan diri dengan sendirinya. Karena tidak mungkin aku repot-repot mengangkat dirinya membebani diriku sendiri.


Ketika melewati pintu tersebut, dengan sangat cepat otot-otot dan tulangku terasa ditarik ke luar–membentuk tubuhku ke ukuran semula. Sepertinya efek ramuan tersebut hanya sebatas untuk melewati pintu itu.


"Ya benar, seperti itulah Avlein ...." sahut Joba yang melayang di sebelahku.


Kemudian di tempat ini masihlah dipenuhi oleh kabut, menyebabkan pandangan kita tidak terlalu jauh menembus ke depan sana.


Sama halnya saat aku berada di dunia Emard, kita melihat sekeliling semuanya hanyalah berwarna putih.


Tiba-tiba saja dari arah depan, kanan dan kiri kami samar-samar terlihat bayangan hitam–lebih tepatnya dua kanan, dua kiri dan satu dari depan.


Bayangan itu pun semakin terlihat jelas, sepertinya itu adalah makhluk dunia ini yang akan menyambut kedatangan kami.


Setibanya bayangan hitam tadi di hadapan kami, ternyata mereka memiliki tinggi yang sama dengan kakek Berlig. Dengan mengenakan banner berwarna oranye di punggung mereka–yang membuat dari kejauhan mereka terlihat tinggi.


"Lihatlah Avlein ... Bukankah mereka semua imut? Wajah mereka seperti BJDs ...."


BJDs? Sebenarnya aku tidak tahu apa itu, tetapi aku pernah melihat boneka yang menyerupai wajah mereka– disalah satu toko kota Albany.


Mungkin itulah sebutannya 'BJDs' atau apapun itu, yang jelas mereka itu seperti benda mati yang hidup. Bukankah seharusnya itu hal yang menyeramkan? Sangat jauh berbeda dengan kata imut tadi.


Tapi aku tahu mengapa para wanita mengatakan itu, mungkin bagi mereka itu adalah hal yang menggemaskan. Memiliki mata besar serta mulut yang kecil, dengan rambut yang beraneka ragam bentuk dan warnanya.


Padahal sebenarnya mereka tidak mengekspresikan apapun dari wajah mereka itu, karena parasnya yang tampak kaku.


Hanya saja tampilan mereka sedikit unik, mengenakan pakaian seperti para prajurit. Dengan warna hijau daun tua dan sebuah tameng perak berada di tangan kiri mereka.


Menimbulkan sebuah pertanyaan dibenakku, benar kan, mereka datang untuk menyambut kami?


"Hallo ... Permisi, aku mau bertanya ...." ucapku kepada prajurit yang datang dari depan, karena dialah yang terlihat seperti pemimpin dari kelompok. Tetapi sepertinya dia tidak mengerti dengan apa yang kami katakan.


Ketika aku melangkah untuk lebih mendekati mereka, tiba-tiba saja kelima prajurit itu menarik banner yang sedari tadi berada di punggung mereka.


Mengarahkannya padaku dengan ujung banner yang ternyata bisa mengeluarkan sebuah tombak. Bahkan banner oranye-nya pun sudah berganti dengan pisau-pisau yang tajam, ketika mereka menariknya tadi.

__ADS_1


Dan tentu itu semua membuat aku tidak berani menggerakkan tubuhku.


"Siapa kalian?!" ucap prajurit yang berdiri di depanku. Suaranya cukup jantan untuk sejenis boneka.


"Avlein, aku tidak mengerti apa yang diucapkan olehnya ...." sahut Vlivy membuat senjata-senjata itu lebih mendekati wajahku.


Ternyata benar mereka menggunakan bahasa yang berbeda. Dan aku juga tidak tahu mengapa Vlivy tidak mengerti sedangkan aku bisa mengerti bahasa itu.


Bukannya seharusnya bisa mengerti karena sudah bersama Joba?


"Kami datang ke sini tidak bermaksud jahat ...." jelasku menggunakan bahasa mereka, tetapi tetap saja senjata itu semakin mendekatiku.


Kemudian satu tangan besar muncul di depan wajahku, menarik tombak-tombak itu ke dalam satu genggamannya. Mendorong ke belakang, lalu tombak dan pisau-pisau tadi kembali masuk ke dalam–menjadi banner oranye semula.


Samar-Samar tubuh Joba yang mengenakan jubah putih mulai muncul di hadapanku. Membuat kelima prajurit itu tertegun, membuang senjata mereka dan langsung bersujud di bawah.


"Maafkan kami Paduka! Kami tidak tahu Anda akan datang sekarang!"


Joba yang mendengar itu, segera menyapu tangannya di depan. Membuat kelima prajurit yang tadinya bersujud di bawah, sekarang terangkat dan berdiri tegak lurus dengan tameng sudah kembali di tangan kiri dan banner di punggung mereka.


"Tak masalah, aku hanya ingin melihat penjagaan kalian ...." balas Joba pergi berdiri ke samping kananku.


"Maafkan kami Paduka Avlein! Kami rela mati menerima hukuman dari Paduka!" serentak kelima prajurit itu, kembali mereka sedikit membungkukkan badan memberi hormat kepadaku.


"Maafkan kami Paduka Ratu!" serentak mereka lagi. Dan aku hanya menaikkan alisku mendengar kata 'Ratu' tersebut.


"Ya, aku memaafkan kalian. Dan tolong jangan memanggilku Paduka dan dia bukanlah Ratu!" jelasku sedikit masih kesal mengingat sepertinya mereka menganggap aku ini adalah raja mereka dan Vlivy sebagai ratunya.


"Tidak Paduka! Kami tidak akan memanggilmu dengan sebutan nama! Lebih baik kami mati saja Paduka!" balas salah satu prajurit yang seperti pemimpin tadi, menarik kembali banner yang di punggungnya dan mengarahkan ke hadapanku– agar aku mengambil senjata tersebut.


"Baiklah-baiklah, terserah kalian saja. Simpan kembali senjata itu dan bisakah kalian menyambutku dengan lebih layak lagi?"


Kemudian dia menganggukkan kepala dengan tegas sembari membalik tubuh ke belakang. Menghentakkan banner oranye tadi di bawah, membuatnya lebih lebar dari ukuran semula.


Lalu mengangkat ke depan dan menyapu dari sisi kanan ke sisi kiri. Saat itu juga keluar hembusan angin yang sangat kuat dan menghilangkan semua kabut putih di sekitar kami.


Ternyata dari awal kami sudah berditi di atas sebuah kaca bening. Di mana, jauh di bawah kaca tersebut adalah kumpulan rumah-rumah yang beraneka ragam bentuk atapnya.


Dan tepat di hadapan kami sebuah pintu besar yang bermotif sama dengan banner oranye yang mereka bawa.


Di tambah, tempat ini bukanla malam hari lagi, melainkan langit biru dan awan putih bersatu membentang luas di atas kami.


Segera kelima prajurit itu berbaris dan membungkuk mengayunkan tangan mereka, mengarahkan ke pintu besar tersebut– mempersilahkan kami untuk jalan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Sebelum kita pergi, ada baiknya kalian harus terlihat sama sepertiku." celetuk Joba.


Kembali dia menjentikkan jemarinya di udara, saat itu juga kami berdua langsung mengenakan jubah putih yang sama dengannya.


"Dan ... Apa itu kamu Joba?" tanya Vlivy terpukau melihat ke arah Joba yang jauh lebih tinggi lagi darinya. Matanya bahkan berbinar-binar, seperti dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Oh Vlivy, jangan menatapku seperti itu ... Ada yang cemburu di belakang sana!" balas Joba sedikit menggidikkan bahunya ke arahku.


Aku hanya berdengus kesal melempar pandanganku dan kemudian pergi mendekati pintu terlebih dulu. Sementara Joba kembali gelak tawanya pecah, sungguh tawa yang menyebalkan didengar oleh telinga.


Kami pun pergi memasuki pintu tersebut. Anehnya pintu itu sama halnya seperti lift yang ada di dunia manusia. Bahkan juga berbunyi 'ting' saat pintu itu terbuka, dan saat itu pula rumah penduduk memenuhi pemandangan kami.


"Selamat datang di dunia Greyaq Paduka!" seru pemimpin prajurit yang bernama Xena. Mereka kembali berbaris di depan kami tidak lupa membungkuk dan mengayunkan tangan memberi jalan.


Xena adalah pemimpin dari penjaga gerbang Greyaq. Mereka mengarahkan senjata kepadaku karena untuk berjaga-jaga jikalau aku memiliki kekuatan tertentu. Sebab manusia jarang masuk ke dunia ini, dan yang terakhir datang ke sini adalah manusia yang bertujuan jahat. Bahkan dunia ini sebelumnya sempat hancur karena orang itu.


Saat pintu itu terbuka, kami ternyata sudah berada di bagian tengah kota, dengan satu bangunan yang lebih tinggi lagi jauh berada di depan sana. Tampak seperti sebuah kerajaan dan kelihatannya Xena dan prajurit lain mengarahkan kami ke tempat itu.


Begitu pula rumah di dunia Greyaq ini, yang beraneka ragam bentuk dan ukurannya. Sekiranya rumah di sini tampak seperti rumah kakek Berlig, dan bahkan ada yang lebih kecil lagi. Aku yakin sekali, aku tidak akan bisa memasukinya.


Di pinggiran jalan juga banyak kaum Greyaq yang sibuk melakukan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang menyirami tanaman di depan rumahnya, ada yang sedang berjualan, dan bahkan segerombolan yang aku tak tahu pasti mereka sedang melakukan apa.


Tetapi tidak lupa mereka membungkuk dalam, memberi hormat dan menyerukan namaku dan Joba ketika kami melewati mereka semua.


Sama seperti kelima prajurit penjaga gerbang, kaum ini berparas muka seperti 'BJDs' tadi. Aku mengira mereka akan terlihat seperti kakek Berlig yang wajahnya menyerupai manusia, tetapi tampaknya mereka adalah kaum yang berbeda.


Hingga akhirnya kami tiba di bangunan yang paling tertinggi itu–seperti perkiraanku yaitu kerajaan Greyaq, di mana ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di istana yang sesungguhnya.


Ketika kami sampai, Xena dan prajurit lain segera membawa kami ke ruangan lainnya. Di mana sekarang, pintu yang menjulang cukup tinggi sekitaran lima meter ke atas, akhirnya terbuka ketika Xena melaporkan, 'Paduka yang ditunggu sudah datang!'.


Terlihatlah sebuah ruangan yang sangat megah dengan berhiaskan lampu-lampu bercahaya cokelat pada sudut-sudut ruangan. Dan satu lampu kristal yang berukuran besar berada di tengah ruangan melebihi cahaya terang dari yang lainnya.


Karpet merah juga menjulur panjang melewati kursi-kursi yang tersusun rapi di sisi kanan dan kiri.


Menggiring pemandangan kami lurus ke depan sana di mana sebuah kursi spesial terdiam elok untuk sang raja.


Tepatnya kini seseorang yang mendudukinya juga sudah menatap ke arah kami dengan sebuah senyumannya.


Dia beranjak dari singgasana, menghampiri kami yang juga mulai mendekatinya. Ketika sepasang mata kuning itu akhirnya berhasil bertatapan lurus denganku, dia membungkukkan badannya dan memberi hormat.


"Selamat datang Paduka Raja!"


*

__ADS_1


•BJDs : Ball-Jointed-Dolls


__ADS_2