JOBA

JOBA
[25] Tujuan Kedua


__ADS_3

Redic selaku pemimpin dari kaum Voq akhirnya kembali ke dunia Greyaq diikut sertakan dengan para pengikutnya. Mereka menghadap ke raja Yua untuk memohon maaf dan akan menerima apapun bentuk hukumannya.


Dan hukuman itu sendiri akan mereka laksanakan setelah mereka memperbaiki semua kerusakan yang mereka lakukan di dunia manusia.


Raja Yua pun juga sudah berbincang kepada anak bungsunya itu. Sebenarnya bukan dia yang kurang perhatian pada Redic, melainkan Redic yang selalu menemuinya disaat raja Yua sedang sibuk melakukan aktivitas yang penting.


Bahkan Yua selalu memerintahkan kepada para pengawas yang lain serta kakak-kakaknya untuk selalu melindungi anak terakhirnya itu. Walau dia tahu sebenarnya Redic sudah menguasai kekuatan yang cukup untuk melindungi diri sendiri.


Dan tentu dia juga mengatakan alasan mengapa dia tidak menanggapi kerusuhan yang dibuat oleh anaknya itu. Karena aku dan Joba yang akan datang mengunjungi dunia ini.


Kini akhirnya aku berpamitan kepada seluruh kaum Greyaq untuk meninggalkan dunia mereka. Tidak lupa juga berterimakasih telah mlayani aku, Joba dan Vlivy dengan sepenuh hati.


Selanjutnya aku akan menuju ke dunia Lionera yang berada sangat jauh dari lokasi kami saat ini, yaitu di Payakumbuh, Sumatera Barat. Di mana aku kembali ke tanah kelahiran ku.


Tak lupa aku menanyakan lagi apakah Joba tak bisa langsung mengantarkan kami ke tempat tersebut. Kali ini dia memberikan alasan yang sebenarnya. Karena aku yang belum ahli menggunakan kekuatanku, maka dari itu dia tak dapat menggunakan kekuatannya terhadapku.


"Joba ... ada apa sebenarnya dengan tanganku? Bahkan aku tak merasakan aku menyerap kekuatan mereka ataupun menyakiti mereka ...." mulaiku di tengah perjalanan kami.


"Itu karena kau saja yang belum bisa mengendali-kannya. Tubuhmu menyerang serangan dari lawan secara spontan, makanya kau tak bisa merasakan-nya. Begitu juga dengan peliharaan barumu itu ... Apa kau sudah memberi dia nama?" balas Joba diakhiri dengan seringainya.


Aku yang mendengar perkataannya itu hanya bisa memiringkan kepala, "Maksudmu monster berapi itu? Dia peliharaan ku? Apa dia bisa keluar lagi?"


"Tentu ... dia itu kan, kekuatanmu, kau yang men-ciptakannya. Bukan musuh seperti di mimpi buruk yang kau alami itu."


Dia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan kembali.


"Kau tetap tak akan menang melawan Derk Erker dikondisimu yang sekarang! Walau kau berniat untuk menyentuh tubuhnya, itu tak akan mempan!"


Dia menjawab pertanyaan yang hendak kubicara-kan pula. Padahal aku sudah mengira aku akan bisa mengalahkannya dengan menyentuh saja.


"Dan sebenarnya ke mana tujuan utama kita?"


"Vyuwrsa. Untuk mengetahui semua yang ingin kau ketahui!"


"Jadi ternyata benar kalian berdua bertemu seperti itu? Bukan hanya cerita yang dibuat-buat?"

__ADS_1


Joba tidak menjawabnya membuat aku menyim-pulkan bahwa itu semua benar telah terjadi. Dan kembali berpikir apakah sebenarnya dunia Vyuwrsa itu? Apakah banyak makhluk yang aneh lagi?


"Kenapa kita tak langsung saja menuju ke tempat itu?"


"Tidak, tidak bisa ... kau tak dapat mengendalikan kekuatanmu, maka dari itu kita harus mengikuti petunjuk dari Avlein, hal itu juga akan membuat Derk selalu berada di belakang kita. Tetapi jika kau mengubah tujuan langsung ke sana, maka kita akan disambut olehnya, karena tujuan utamanya juga menuju tempat itu!


Dan sebenarnya juga kita mudah saja menuju Vyuwrsa ... tapi hanya kau yang tak dapat melihat gerbang tersebut!"


"Jadi maksudmu sebenarnya gerbang itu ada di mana saja? Atau karena aku yang belum memiliki kekuatan berpindah tempat?"


"Pertanyaan pertamamu yang benar. Gerbang itu berada di mana saja, tetapi kepercayaan mu saja yang menyebabkan kau tak bisa mengendalikan kekuatanmu!"


Aku tercekat, apa kali ini aku masih gagal melawan keraguanku? Padahal aku sudah percaya dengan semua ini. Mengapa diriku sendiri tak menyadarinya?


"Karena kau belum mengenal dirimu sendiri!"


"Jadi tujuan semua ini juga benar untuk mencari jati diriku dengan mengikuti jejak Avlein, karena aku akan mengetahui masa lalu dia dari petunjuk yang ditinggalkannya?"


Joba kembali hanya berdiam diri.


Dia tetap tidak menjawab pertanyaanku. Kembali menimbulkan pertanyaan di benakku, apa ini juga sebagai latihan? Atau ada benda yang lainnya yang harus kuambil? Dan sepertinya aku harus memperbaiki dunia Lionera?


"Dan ... benar ternyata yang kualami itu bukanlah mimpi buruk seperti yang kau katakan itu, bukan?! Apakah hal tersebut masa depan yang bisa ku bayangkan?"


"Hmm, mungkin sejenis itu. Tapi di sana kau melihat mereka semua sebagai musuh dan aku yang terlihat sangat lemah. Tapi kenyataannya bahwa kau menciptakan makhluk baru dan aku tidak ikut bersamamu.


Jadi, hal itu belum mencapai masa depan yang sesungguhnya. Karena sebenarnya jika kejadian itu sama maka hal tersebutlah yang dinamakan bisa melihat masa depan."


Semua ini mulai berubah sejak Joba hadir dalam hidupku, hingga akhirnya aku mendapatkan firasat yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Ataukah aku saja yang baru menyadarinya sekarang?


Mengapa aku tak dapat mengingat lebih rinci kejadian yang kualami sebelumnya? Dan benarkah aku harus selalu bersama dia?


Aku menatap gadis yang sedang terlelap di sebelahku. Bahkan dia tak sadarkan diri selama kami berbincang.


"Kau tenang saja Avlein, dia tak akan menjadi beban mu selama yang kau bayangkan. Kau hanya perlu bersabar dan mengikuti semua ini. Dan ... hmm bagaimana dengan kondisi tubuhmu? Apa masih ada yang sakit?"

__ADS_1


"Oh, bagaimana bisa aku melupakan hal yang penting?! Tubuhku hanya pegal-pegal sedikit. Dan ...." Aku menyentuh leher yang sebelumnya tertusuk pisau. Tak kurasakan adany goresan atau apapun itu.


"Kulitmu tidak terluka, hanya kau saja yang merasakan pisau itu menembus kulitmu! Hoho ... aku yakin sekali kau pasti sangat penasaran dengan hal itu!"


Aku hanya menggerutu dalam hati mendengar jawabannya itu. Benar aku penasaran dengan apa yang akan terjadi. Apakah yang tergores itu akan kembali seperti semula? Aku ingin mengtahuinya.


Tapi, aku tak berani untuk melukai diriku sendiri, bahkan menusuknya dengan jarum sekalipun. Bukannya aku takut, aku hanya sayang dengan tubuhku sendiri, jadi untuk apa aku melukainya, kan?


------------------------------


Hingga akhirnya aku tiba di tempat tujuanku selanjutnya.


Payakumbuh–Sumatera Barat.


Di mana buku Avlein kembali menuliskan sesuatu di lembarannya. Memberikan arahan baru yaitu sebuah tempat yang bernama Ngalau Indah—lokasi para pariwisatawan.


Joba mengatakan akan ada yang menyambut kedatangan kami di kota ini. Sekaranglah aku dan Vlivy sedang menunggu orang itu di salah satu meja rumah makan yang tak jauh dari halte bus.


Gadis itu mengatakan ini semua hal yang sungguh luar biasa, bahkan dia tak pernah pergi jauh keluar dari negara asing itu. Apalagi mencoba makanan yang tak pernah dia bayangkan rasanya bisa seenak ini—rendang— ditambah berada di tempat asal makanan tersebut, tentu rasanya akan lebih nikmat lagi.


Dan dia sebenarnya juga tak mengerti dengan bahasa yang digunakan orang-orang di kota ini—bahasa minang—yang mana bahasa Indonesia saja dia juga tidak pernah mendengarkannya.


Maka dari itu Joba dengan segera mengajukan diri untuk menjelaskan apa yang dikatakan oleh penduduk di tempat ini, karena tentu saja aku tak akan rela menghabiskan waktuku mengartikan semua yang diucapkan orang lain pada gadis itu.


Itu semua juga akan membuat aku akan lebih lama lagi berbicara dengan dirinya, dan aku tidak menyukai hal tersebut.


"Permisi ... Iko Uda Avlein?" celetuk seseorang.


(permisi ... ini mas Avlein?)


*


Jaga kesehatan ya teman-temanku semuaa ✊🤗🤗


salam hangat_ Hka_

__ADS_1


__ADS_2