
Aku membuka mata setengah, pandanganku masih kabur. Kulihat beberapa bayangan tengah berada di hadapanku. Tak dapat kudengarkan lagi suara dari telinga ini. Apa aku sudah mati? Tubuhku bahkan juga tak merasakan apapun. Atau aku tidak berada dalam raga lagi?
Avlein...
Samar aku kembali dapat mendengarkan sebuah panggilan. Joba! Itu suara Joba, kan?! Apa aku masih bisa berhalusinasi? Ketika aku membuka mata lebar, saat itulah akhirnya pandanganku sempurna. Aku melihat dengan jelas siapa saja yang berada di hadapanku.
Benar...
Dia Joba, yang lagi-lagi menggoncang kuat tubuhku ini untuk menyadarkan ku. Sementara di sebelahnya Bogi dan Bogu yang menangis tak karuan. Seraya menyerukan namaku. Kini aku sudah mendengar semuanya. Suara gadis itu sekalipun. Dia juga sesenggukan memanggil namaku. Selagi Joba menenangkan mereka semua, dengan mengatakan aku baik-baik saja.
"Apa! Apa yang terjadi?!" aku berteriak seraya meraba dadaku yang sempat tertancap kuku monster. Secara spontan pula aku dapat menggerakkan seluruh tubuh.
Bersih, tidak ada apa-apa. Bolong maupun bekas luka dari tusukan tersebut. Hilang. Bahkan tak ada bercak ataupun bau darah sekalipun. Aku melihat tubuhku masih mulus seperti sediakala. Tidak ada rasa sakit lagi. Benar yang dikatakan oleh Joba bahwa aku baik-baik saja.
Tapi itu semua bukanlah mimpi, aku merasakan semuanya hingga rasa sakit itu. Yang sangat menyakitkan. Masih bisa kubayangkan semua rasa itu. Aku berusaha berlari mempertahankan hidupku, ketakutan, dan akhirnya tak sadarkan diri lagi.
Karena tak sanggup bernapas menahan semua sakit di sekujur tubuh. Saat kuku itu menembus tubuhku sekalipun, aku dapat mengingatnya. Itu semua sangat nyata. Joba benar-benar kejam, membiarkan aku mengalami siksaan tersebut.
Aku melempar tatapan bengis ke arahnya. Malah dia mengembalikan senyuman lebarnya kepadaku. Ketika yang lain mulai terisak menyadari aku telah siuman.
"Kau jahat!"
"Ya, terserah kau mau marah padaku... Tapi sebelum itu biarkan aku mengucapkan selamat kepadamu! Karena kau telah berhasil menyembuhkan dirimu sendiri ...." Dia masih tersenyum sembari menepuk pundakku pelan.
Aku hanya terdiam setelah itu. Amarahku pun mereda mendapatinya.
Sepertinya sejak Joba menghilang tadi, semua ini disengaja olehnya. Agar aku bisa mengalami semua itu? Tapi tolonglah, itu semua sangat menyakitkan. Bagaimana dengan yang lain? Apa mereka merasakan hal yang sama denganku? Jika tidak, berarti benar Joba tak ada rasa kasihan lagi terhadapku.
"Untuk apa aku mengasihanimu jika kau bisa menyembuhkan diri sendiri? Kau tahu sendiri semua itu akan sia-sia saja, kan... Tapi tenang saja, mereka mengalami hal yang sama kok. Bedanya cuma aku segera menyembunyikan mereka dan membiarkan semua makhluk itu mengejar dirimu."
"Apa?!! Itu sama saja kau telah membunuhku!"
Joba menggeleng pelan, "Nyatanya kau masih di sini bersama kami...."
Aku tertegun. Melihat dia yang mulai beranjak dari tempatku berbaring. Sempat melemparkan senyuman lagi sebelum akhirnya melangkah keluar meninggalkan ruangan. Tidak ku hentikan dirinya, karena semua perkataannya itu benar telah terjadi.
__ADS_1
Kemudian aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tempat ini adalah sebuah goa kecil dengan dinding-dindingnya terbentuk dari tanah. Ranjang tempat tidurku juga dari kumpulan dedaunan dan kayu. Dengan seseorang yang juga terbaring di ujung kiri. Aku menoleh ke arah Bogi dan Bogu setelahnya.
"Mana pakaianku?"
Mereka segera memberikan baju atasanku. Kemudian beranjak mendekati wanita yang terbaring itu setelah mengenakannya.
"Apa dia masih hidup?"
Aku tidak melihat lagi dirinya menghelakan napas. Tubuhnya pun terdiam kaku di balik selimut. Wanita berkulit pucat pasi dengan rambut panjang berwarna putih. Parasnya tergolong umur pertengahan kepala 3.
"Kami tidak tahu Avlein! Joba yang membawa kita semua ke tempat ini." jelas Bogi. Membuat aku menatap lorong di mana Joba pergi meninggalkan ruangan.
Segera aku beranjak hendak menyusul keberadaan Joba. Tetapi, wanita yang ku kira mati tadi tiba-tiba saja menggenggam pergelanganku. Menghentikan langkah kaki dan ku tatap dia yang sudah membuka kedua mata. Berusaha mengucapkan sesuatu.
"Tolong hamba paduka ...." dia merintih kesakitan. Terbatuk-batuk ingin berucap lagi. Tapi aku segera menyanggahnya. Melarang dia untuk berbicara, karena untuk bernapas saja dia sudah sangat kesulitan. Kondisinya saat ini benar-benar sekarat.
***
Mereka melangkah pelan, mengikuti ke mana para penjaga membawa mereka. Istana kerajaan. Kaum Lionera juga melambai-lambai di pinggiran jalan. Ada yang menebarkan berbagai jenis bunga memberikan rasa hormat. Beberapa nyanyian juga mengiringi sorakan merek.
Sangat meriah.
"Jadi, ada perlu apa Yang Mulia Raja bersedia singgah di gubukku ini? Apa Yang Mulia ingin memberitahukan kematianku? Atau Yang Mulia kah yang akan mengambil nyawaku?" ucap sang ratu meremehkan kedatangan Avlein dan Joba.
Bahkan dia masih memunggungi mereka berdua karena tidak tertarik lagi dengan apa yang terjadi di dunia ini. Hanya menantikan kematiannya saja.
Suasana di kamar itu hening untuk sejenak, sebelum akhirnya Avlein membalas pertanyaannya tadi.
"Kau tahu sendiri kan, kalau kau hanya mempunyai perasaan sepihak antara kau dan Yua!"
Sang ratu tercekat sembari memutar tubuh untuk menatap ke arah Avlein. Mengapa di saat dia ingin melupakan semua yang sudah terjadi, sang maha benar malah memperjelas kepahitan dari kenyataan yang dia alami.
"Karena aku tahu sampai detik ini kau tak pernah memaafkan dirinya. Kau selalu menganggap kau telah diracuni olehnya. Aku hanya kesal melihat kau yang dengan mudahnya termakan perkataan laki-laki sialan itu!"
Tanpa berpaling dari tatapan sang ratu, Avlein melanjutkan perkataannya, "Padahal kau sempat berpikir, Yua tak akan pernah rela melakukan semua itu padamu. Karena sesungguhnya itu adalah kenyataannya...."
__ADS_1
Mendengar penjelasan tersebut sang ratu tak dapat lagi bertahan dari pendiriannya. Kakinya yang sedari tadi menumpu tubuh untuk berdiri bergetar kuat. Sebelum akhirnya dia bersimpuh diam di bawah.
Pandangannya pun kini mulai menerawang. Mengingat kembali kejadian di mana dia mencaci maki Yua untuk keluar dari dunia ini. Menyebarkan kebencian kepada seluruh kaum yang serentak pula mengucilkan dirinya. Bahkan dia bersumpah akan mengutuk Yua jika ia berani muncul di hadapannya.
Sekarang apa yang harus diperbuatnya? Dia sesenggukan, air matanya mengalir deras. Hatinya berkecamuk, meratapi semua yang telah terjadi. Penyesalan itu memang selalu datang terlambat. Jika dia datang lebih awal, maka keberuntungan lah namanya.
"Kalau kau ingin meminta maaf padanya, kau bisa melakukannya segera. Karena benar yang kau tanyakan tadi, bahwa aku akan memberitahukan kapan kematianku. Kau jangan khawatir dengan jawaban Yua, dia tak akan pernah membalas kebaikanmu dengan kebencian!"
Seketika tangisnya berhenti. Ternyata dia masih diberikan harapan. "Jadi, apa yang harus kulakukan selanjutnya Yang Mulia Avlein?" dia menyeka sisa air mata.
"Setelah kau meminta maaf padanya, laki-laki itu akan meracunimu dengan ramuan buatannya. Karena dia yang sedari dulu ingin mengambil alih dunia ini."
"Berarti aku tinggal menolah apapun darinya!"
"Tidak, bagaimanapun juga yang kau lakukan, kau akan tetap menerima racun itu!"
"Dan saat itulah aku mati?"
Avlein melangkah mendekati sang ratu. Kemudian mengambil telapak tangannya dan menariknya tubuhnya untuk berdiri. Setelah itu tangan mereka mengeluarkan cahaya. Kembali Avlein menggunakan kekuatannya.
"Aku hanya bisa memberikan ini padamu! Agar racun itu tidak merenggut nyawamu."
Kembali sang ratu menangis tersedu. Bisa-bisanya raja Avlein masih menolong dirinya yang sudah melayani raja dengan tidak sopan. Seharusnya dia tak berhak menerima semua perlakuan ini.
"Tetapi kau tak akan mempunyai kekuatan lagi, untuk menghadapi yang lebih kuat darimu. Karena kau akan melemah akibat racun itu. Dan saat itu juga dunia ini akan hancur. Dengan pemimpin baru, tak ada lagi yang menganggap kehadiranmu yang tinggal menunggu ajal...."
Sang ratu mengangguk, mengerti dengan semua masalah yang akan ditimpanya. Ini adalah sebuah hukuman baginya, tak masalah mati sekalipun.Dia tetap akan rela. Tapi mengetahui dunia ini akan hancur, dia sedikit khawatir. Bagaimana jika para kaum memulai peperangan dengan dunia lain?
"Tenang ... Yua akan membantu menutup dunia ini, dan kau tinggal menunggu kedatangan mereka. Tetapi jika mereka memilih jalan hingga ke tempat ini. Maka kau akan terbebas dari racun itu. Lain halnya jika mereka memilih jalan yang lain...."
"Dan siapakah mereka itu?"
"Penerus ku Avlein dan tentu juga bersama Joba. Mereka akan menemuimu dan hanya dialah yang bisa mengambil racun tersebut!"
***
__ADS_1
"Jadi, dia membutuhkan pertolonganmu Avlein...." Joba mengakhiri ceritanya. Sementara yang lain, Bogi, Bogu dan gadis itu menatap lekat ke arahku. Menunggu tanggapanku selanjutnya. Yang aku hanya bisa terdiam, masih mencerna semua kesimpulan dari cerita Joba. Aku bisa menyembuhkan orang lain?
*