JOBA

JOBA
[20] Alam Bawah Sadar?


__ADS_3

Aku terus berlari, mengejar yang tak pasti. Di ruangan yang gelap gulita ini, aku mencoba untuk menyentuh apapun yang ku bisa. Tetapi hanyalah kehampaan yang kudapati.


Aku juga memukul diriku sendiri, mencoba untuk membangunkan ku dari alam bawah sadar, mengira ini semua hanya sebuah mimpi. Tetapi sebanyak apapun telah mencoba, aku tak mendapatkan cahaya sedikitpun.


Joba ... Di mana kau berada disaat aku membutuhkanmu? Aku terus memikirkan hal itu dalam benakku. Berharap dia muncul di hadapanku dan menjelaskan apa sebenarnya yang sedang terjadi saat ini.


Tiba-tiba saja samar terdengar suara gaduh dari arah belakangku, membuat aku menoleh ke sumber suara. Kulihat sebuah cahaya biru kecil berpindah kanan dan kiri, mulai membesar pula ukurannya.


Disusul dengan suara gaduh tadi berubah menjadi derapan kaki. Seperti sesuatu sedang menghampiriku–dalam jumlah yang banyak.


Kemudian cahaya biru itu juga bertambah jumlahnya, memperlihatkan sosok yang membawa cahaya tersebut–penduduk Greyaq–berjubah hitam dan wajahnya memaparkan kemarahan. Membuat aku mempertimbangkan kembali untuk menyapa mereka.


Derapan kaki itu semakin mendekatiku, tidak mengeluarkan seruan apapun dari mulut mereka–yang baru saja berhasil melewati ku tanpa menyadari keberadaanku di sini.


Lantas bukan itu yang ku permasalahkan. Melainkan sebuah kandang besi yang mereka bawa di barisan paling belakang, dengan seseorang di dalam kandang itu yang tak punya harapan hidup lagi.


"Joba!" aku menyerukan namanya. Tetapi dia hanya pasrah di dalam kandang tersebut menundukkan kepala dengan tatapan kosongnya.


Aku pun segera mengikuti ke mana mereka pergi. Sesekali juga mencoba kembali memanggil Joba, tetapi sama saja, dia tidak mendengarkan ku. Bahkan kaum itu pun juga tidak memedulikan suaraku yang bergema pula dalam ruangan ini.


Telah lama aku mengikuti mereka dari belakang, akhirnya mereka menghentikan derapan kaki. Dan justru itu semua membuat aku bergidik, karena saat mereka menghentikan langkah tadi, seketika mereka semua berbalik menatap ke arahku–dengan sorotan mata merah.


Aku yang akhirnya tak berkutik di tempatku berdiri.


Mencoba untuk melontarkan satu huruf saja, tetapi suaraku tercekat untuk berbicara. Suhu di sekitaran ku juga mulai memanas, rasanya sesak pula saat menarik napas. Jelas sekali kaum itu memperlihatkan kebenciannya padaku, bahkan mungkin akan membunuhku jika aku melakukan gerakan.


"Kau akan mati!" seru mereka semua menunjuk ke arahku.


"Iya, dia tidak ada gunanya...." lirih Joba bisa-bisanya dia berkata seperti itu dan tidak memedulikan kondisiku yang saat ini juga mengkhawatirkan dirinya.


Lalu mendadak dari arah belakangku semakin terasa panas, seperti api yang sedang membara berkobar-kobar siap menghanguskan tubuhku. Membuat aku memberanikan diri untuk berbalik melihat ada apa gerangan.


Satu makhluk yang sangat tinggi–empat meter di atasku–tubuhnya dilapisi kulit dari batu serta retakan api. Wajahnya hanya terdapat satu mata oranye membara api pula, dan mulut yang memperlihatkan gigi-gigi tajam.

__ADS_1


Jelas kali ini aku melihat monster sesungguhnya, yang tangannya sendiri terdapat cakaran panjang siap menerkam tubuhku.


Aku terduduk di bawah. Kakiku tak mampu lagi menumpu tubuh yang sudah bergemetar kuat. Detak jantungku sakit karena melaju terlalu cepat. Kini, bukan sesak lagi yang kurasakan, aku bahkan melupakan bagaimana caranya untuk bernapas.


Dan mengapa pula saat ini aku tidak pingsan melihat kejadian yang mengerikan ini, melebihi perasaan saat aku mengetahui Joba bisa berbicara dan melayang. Bahkan sepertinya kini aku sudah mati di tempat sebelum cakaran itu berhasil menerkamku.


Kemudian monster itu tertawa parau, bergema memenuhi ruangan. Dia mengenyampingkan cakarannya seraya berkata, "Kau benar lemah! Dan itu pantas mati!"


Setelah itu aku sedikit mendengar derapan kaki para kaum Greyaq yang berada di belakangku, sepertinya mereka mulai melangkah pergi meninggalkanku. Tak bisa seutuhnya aku melihat apa yang terjadi, karena untuk berkedip saja rasanya aku tak mampu lagi.


Joba ... Bagaimana bisa kau membiarkanku seperti ini? Mana kekuatanmu yang luar biasa itu? Bahkan kau hanya terdiam di dalam kandang itu menjadi tawanan mereka ....


"Avlein kau lemah ...."


Kemudian terdengar samar suara Joba membalas perkataan hatiku, bergema memenuhi ruangan.


"Avlein kau penakut!"


Disambung dengan gemaan monster yang masih tertawa di hadapanku.


Disusul pula suara kaum Greyaq tadi yang melontarkan amarah mereka dari perkataannya itu.


"Avlein ...."


Suara mereka pun semuanya bersatu dalam ruangan ini, memenuhi pikiranku, menyerukan dengan amarah. Aku hanya bisa menundukkan kepala, mencengkeram rambutku dengan kedua tangan. Berteriak sekuat yang ku bisa untuk melawan suara mereka.


"Avlein ....


Avlein ....


Avlein!" sontak aku membuka paksa kedua mataku. Akibat seseorang mengoncangkan tubuhku dengan kuat.


Membuat aku menyapukan pandanganku, tersadar aku sudah berada di kamar kerajaan Greyaq.

__ADS_1


Ku dapati juga sekujur tubuhku telah dibasahi oleh air keringat, dengan Joba di sebelahku yang masih menggoncang tubuhku seraya menyerukan namaku. Aku menatap kedua mata kuning itu dengan lekat, kecemasan jelas sudah terlukis di wajahnya.


"Sadarlah Avlein! Kau hanya bermimpi buruk!"


Kini akhirnya aku dapat mendengar suaranya dengan jelas. Dengan itu pula, secara spontan aku langsung memeluknya sekuat tenaga.


"Benar aku ini penakut! Aku lemah! Tapi aku tak mau mati seperti itu! Kau ke mana? Meninggalkan aku seperti itu ...." Suaraku parau.


Butiran air mata juga tak malu lagi menitikkan dirinya di ujung bola mataku. Aku menenggelamkan wajahku dalam dekapannya, mulai terisak pula menghilangkan rasa takut ini.


Tidak peduli lagi dengan sifatku yang sungguh memalukan ini, karena kejadian itu pertama kalinya kurasakan secara nyata. Bahkan tidak sedikitpun seperti mimpi yang dikatakannya tadi.


"Kau hanya kalah dari kecemasan mu, maka dari itu kau menciptakan cerita sendiri dalam pikiranmu! Tenanglah ... Kau tak akan mati ... Karena aku akan selalu bersamamu." Balas Joba kini telapak tangannya mulai memukul pelan punggungku.


Setelah cukup lama kami dalam pelukan tersebut–dan aku sadar ini sangatlah aneh–akhirnya perasaanku tenang juga, menarik tubuhku untuk menjauhinya.


Joba pun segera pergi meninggalkan diriku, tidak lupa juga berpesan, bahwa sedari tadi yang lain sudah menunggu kehadiranku di ruang makan.


Ketika punggung yang lebar itu menghilang dari balik pintu, aku menatap kedua telapak tanganku dengan saksama. Memikirkan kembali mimpi yang kualami dan juga perkataan Joba, yang mengatakan bahwa kejadian tersebut hanya ciptaan pikiranku sendiri?


Tetapi aku tidak mempercayainya. Aku berfirasat apa yang kulihat itu benar adanya, bahkan hawa panas itupun masih bisa kurasakan saat ini.


Dan bagaimana bisa aku tak berkutik seperti itu, sangatlah berbeda jauh dari Avlein yang diceritakan oleh Yua.


Tak bisa kubayangkan jika saja sebuah pisau dilemparkan ke arahku, aku yakin sekali aku sudah melarikan diri untuk mencari perlindungan.


Kemudian terlintas dipikiranku, apa aku harus membuktikan kembali secara nyata?


Aku pun menyapukan pandangan ku, melihat-lihat apa yang bisa kulakukan dengan benda yang ada di ruangan ini.


Sebuah meja kecil dengan satu vas bunga di atasnya, kini berdiri di sebelah pintu kamar. Segera aku mengarahkan tangan kananku ke sana, memikirkan aku bisa mengangkat benda tersebut. Tetapi sia-sia saja, bahkan helaian bunga itu tak bergerak sedikitpun.


Kini aku memutuskan untuk melakukannya secara dekat. Mengambil sebuah apel yang berada di atas meja sebelah tempat tidurku. Memfokuskan pikiranku memandang apel tersebut, membayangkan dia melayang dengan sendirinya. Tetapi tetap sama saja, tak ada keajaiban yang terjadi.

__ADS_1


Aku menghelakan napas paksa, lebih baik menyusul mereka yang sudah menantikan diriku. Aku pun memutuskan untuk bersiap-siap terlebih dahulu dan segera pergi ke ruang makan.


*


__ADS_2