JOBA

JOBA
[08] Suatu Kenyataan


__ADS_3

Gadis yang bernama Vlivy itu akhirnya kembali menemui ku dengan satu benda yang dianjurkan Joba segera mendapatkannya. Buku tua yang sebelumnya juga dijelaskan oleh pria paruh baya sejarawan yang merupakan Ayahnya Vlivy.


Buku yang mana sesungguhnya punya keunikan tersendiri. Dengan dibaluti kulit berwarna cokelat tua dan bahkan bahannya pun tidak tahu berasal dari mana. Karena itu bukanlah jenis kertas lagi.


Tidak hanya bahan dari buku saja yang unik, sampai tulisan yang berada di atas lembaran itu pun juga sangat unik hingga kita tidak dapat mengerti bagaimana cara membacanya dan dari mana asal tulisan itu.


Aku yang kemarin kembali meragukan pemikiran ku tentang keputusan bulatku, akhirnya dibawa ke dunia yang bahkan tak pernah terpikirkan sedikit pun olehku.


Dunia Emard. Ternyata adalah dunia ilmu pengetahuan yang berada di balik sebuah mimpi. Maka dari itu Joba mengatakan aku sudah pernah mengunjungi tempat tersebut.


Dunia ini dijaga oleh seorang moyang bernama Arlmento. Dia adalah salah satu sahabat lama Joba. Dia mengatakan bahwa dia sudah lama tidak pernah mengunjungi tempat itu karena sibuk menunggu kedatanganku.


Dan bukan hanya sembarangan orang saja yang dapat memasuki dunia ini. Maka dari itu Joba memperlihatkan kartu tanda pengenalnya. Karena sebelumnya pernah ada makhluk yang menyalah gunakan ilmu pengetahuan yang didapatnya. Semenjak kejadian itu pun, untuk memasuki dunia Emard diperketat lagi.


Di sanalah aku juga mempelajari beberapa bahasa. Bahasa yang dunianya akan segera kudatangi. Tidak perlu aku banyak bertanya tentang dunia seperti apakah itu, karena Joba mengatakan aku benar akan segera ke tempat tersebut.


Juga seperti yang sempat ku pikirkan di dunia Emard, salah satu bahasa yang ku pelajari itu pernah ku lihat sebelumnya. Dan benar. Salah satu bahasa tersebut sama dengan yang tercetak di buku tua itu. Buku yang ternyata berjudul namaku sendiri.


Avleinsist Forqueto.


Aku masih terdiam menatap sampul buku tua yang kini berada di atas meja, akhirnya disadarkan oleh tangan seorang gadis yang baru saja memegang pundakku pelan. Ternyata dia sudah memanggilku beberapa kali.


"Tuan kenapa? ... Oh maksudku Avlein tidak apa-apa? Aku cemas melihat kamu yang hanya berdiam diri seperti patung." ucapnya kini pergi duduk di hadapanku. Melihat bergantian antara aku dan buku tua itu.


"Kau juga pasti tak akan menyangka semua ini, buku ini berjudul namaku sendiri!" balasku sembari menepuk sampul bukunya. Membuat dia terdiam menatap ke arah buku tersebut.


"Jadi, kamu sudah mengerti tulisan itu? Bukannya kemarin kamu mengatakan tidak mengerti sama sekali?"


Aku mengangguk yakin menjawab perkataannya. "Benar! Tapi aku mendapatkan suatu keajaiban dan sekarang aku bisa membacanya."


Jelasku lagi kini membuat dia kembali melihat ke arahku dengan sedikit memiringkan kepalanya. Aku yakin sekali dia tidak percaya dengan apa yang baru saja ku katakan.


"Lihat, ini bacanya A-V-L-E-I-N-S-I-S-T F-O-R-Q-U-E-T-O!" lanjutku lagi menunjuk satu persatu huruf yang tercetak di atas buku. Gadis itu pun menganggukkan kepala sepertinya mulai mempercayai yang kukatakan.


Aku pun mulai membuka halaman pertamanya. Aku harus segera mengetahui apa sebenarnya isi buku ini.


"Di sini tertulis arti namaku yang sebenarnya adalah semuanya bisa ku buka dan ku tutup."

__ADS_1


"Apa maksudnya?"


"Entahlah, hanya itu penjelasan di sini. Sepertinya orang ini memiliki nama yang sama sepertiku." ucapku seraya membuka lembaran berikutnya. Dan segera menerjemahkan tulisan yang ada di sana.


"Aku mengetahui semua itu saat aku tiba-tiba saja berada di Vyuwrsa. Aku bisa sampai di sini berkat pendampingku yang tidak sengaja ku temukan. Dia selalu bersamaku, apapun yang terjadi.


Joba. Dialah merupakan kunci penting untuk bisa melewati gerbang yang dijaga oleh makhluk dunia itu. Dan ya di sini nama panjang Joba adalah Jiaroquen Bexiellopa. Ini juga terdapat gambar yang kemarin Ayahmu perlihatkan kepada kita."


"Oh benar juga. Dan mengapa Ayahku kesulitan mencarinya, padahal berada di awal halaman?"


Mendengar apa yang di katakan Vlivy aku pun segera membuka halaman yang sekiranya kemarin sempat ku lihat.


Tetapi aku baru sadar buku itu tidak mempunyai halaman. Dan yang makin membuatku tidak percaya, yakni halaman yang ku jumpai saat ini–hanyalah lembaran kosong. Bukan hanya itu halaman sebaliknya pun juga lembaran kosong.


"Mustahil!" mendadak Vlivy berteriak membuat aku sadar dari ketidak percayaan ini dan segera melihat ke arahnya. "Aku bersumpah Tuan! Buku itu benar-benar buku yang Ayahku perlihatkan kepada kita!"


Suaranya bergetar, sepertinya dia takut aku akan memarahinya lagi karena mengira buku ini adalah buku yang berbeda dengan buku sebelumnya.


"Tuan aku benar-benar minta maaf!" ucapnya kini sudah mengatupkan kedua tangan di depan wajahnya.


"Kalau kau tetap memanggilku Tuan, aku sungguh akan marah padamu!"


"Kau! Aku tidak akan mempan dengan kekuatanmu itu! Dan lagian kau tidak salah, tak ada gunanya kau membuang air mata itu secara cuma-cuma!" balasku tegas membuat dia menyeka air yang sempat terukir di ujung matanya.


"Aku hanya berpikir, bagaimana kalau kau saja yang mencari halaman tersebut."


Dia menganggukan kepalanya paham dan segera mencari halaman yang sekiranya kami lihat kemarin. Beberapa saat kemudian raut wajahnya pun berubah. Begitu juga aku yang juga melihat buku tersebut. Aku sungguh tidak menyangka apa yang kupikirkan benar.


"Ini benar-benar mustahil! Ini kan sama dengan apa yang Ayahku perlihatkan kemarin!"


"Nah, sekarang coba kamu lepas tanganmu dari buku dan biar aku yang memegangnya."


Tiba-tiba saja tulisan-tulisan maupun gambar yang tercetak di atas lembar buku itu perlahan memudar, menghilangkan satu persatu huruf yang tertulis di sana dan seketika halaman itu menjadi lembaran kosong. Begitu juga dengan halaman yang berada di sebaliknya.


"Apa ini buku sihir?!"


"Aku juga tidak tahu!"

__ADS_1


"Buku ini berjudul namamu. Berarti Tuan penyihir?!"


"Hei! Kau tahu sendiri kan, aku saja baru mendapatkan ini darimu! Dan juga aku tadi mengatakan, sepertinya dia memiliki nama yang sama denganku!" balasku membentaknya karena aku tidak suka mendengar kepolosan yang seenaknya saja terlontar dari mulutnya itu. Dan kembali dia meminta maaf kepadaku.


"Lebih baik kita melanjutkan bacaannya." lanjutku lagi tidak mau menanggapi terlalu lama sifat polosnya itu.


Aku pun segera membuka halaman yang terakhir kali kami lihat dan segera menerjemahkannya.


Dia Joba. Aku yang tak sengaja menemukannya di kota ini, New York, kota Albany. Aku juga tidak tahu ini semua adalah takdir ataupun tidak, tetapi waktu itu aku menemukannya saat aku juga kehilangan arloji kesayanganku.


Pada saat itu tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras, sontak aku langsung mempercepat langkahku untuk menemukan tempat berteduh. Tetapi arloji yang ku kenakan entah mengapa tersangkut dan putus jatuh bergelinding memasuki semak belukar.


Aku yang begitu sayang dengan arloji tersebut, tidak memedulikan lagi hujan yang lebat dan mulai mencari dalam semak.


Berjam-jam seluruh tubuhku sudah dibasahi oleh hujan, pada akhirnya aku tidak berhasil menemukan arloji itu. Aku pasrah dan dengan terpaksa harus merelakannya hilang.


Seketika aku hendak melangkah, sebuah benda bergelinding ke kakiku. Dialah Joba. Yang waktu itu dia ku temukan dalam keadaan mati. Dan penuh dengan goresan tampak seperti sudah sangat tua.


Karena itu sedikit terlihat seperti arloji, aku pun memutuskan untuk membawanya pulang bersamaku. Mulai membersihkannya, kemudian meperlihatkan sebuah benda yang sangat unik dan menarik perhatianku. Aku pun segera memperbaikinya.


Hari demi hari berlalu, menunggu apa yang akan terjadi pada benda itu. Minggu ke Minggu, hingga bulan menuju tahun lamanya. Akhirnya aku mendengar detakan jarumnya.


Hidup.


Dia hidup.


Dan saat itu juga dia mengeluarkan kata-kata terimakasih kepadaku. Sangat berterimakasih. Ya, itulah awal permulaan aku bertemu Joba. Takdir? Aku tidak tahu ....


*


note author:


Hallo teman-teman... terimakasih yang sudah bersedia membaca cerita yang udah kuusahakan yang terbaik ini.


aku selalu membutuhkan kritik dan saran dalam bentuk apa pun itu untuk kemajuanku dalam penulisan cerita selanjutnya.


jadi jangan sungkan ya keluarin semua unek-unek teman semua hehe..

__ADS_1


terimakasih..


salam hangat, Hka


__ADS_2