
note: tinggi Joba saat ini 293 cm.
-----
Dunia Greyaq berbeda dengan dunia manusia, di mana di dunia itu tidak akan pernah langit-langit nya berubah menjadi gelap atau malam hari. Di sana hanyalah sebatas senja saja.
Dan di dunia manusia tidak ada satu pun kaum Greyaq yang bisa memasuki bangunan, karena mereka yang tak pernah mengerti bagaimana cara memasukinya.
Dan ketika aku menuju dunia luar, benar aku kembali melewati gerbang besar itu. Tetapi saat gerbang itu terbuka, aku tidak lagi berada di tempat pertama kali aku datang. Melainkan di sebuah ruangan yang berwarna jingga, dengan sebuah Blackhole pelangi tepat di tengahnya. Dan sepertinya itulah gerbang Greyaq yang diceritakan Yua padaku.
Begitu pula wujud blackhole itu saat kami tiba di dunia manusia–yang terlihat lebih indah lagi. Dan saat melewatinya ternyata aku bukanlah lagi berada di taman Beta, melainkan di padang rumput yang membentang luas—berlokasikan di ujung kota Hartford.
Setiba di dunia manusia, langit-langitnya sesuai dengan waktu yang tercantum pada arlojiku yakni pagi hari. Berbeda dengan dunia Greyaq yang tadinya berwarna oranye.
Sesungguhnya aku tak tahu pasti bagaimana waktu berjalan, karena saat di dunia Greyaq rasanya aku sudah cukup lama di sana, tetapi arloji ku masih berdetak dengan normalnya, menunjuk kan bahwa aku baru berada di dunia itu kurang lebih dua hari. Tidak seperti harapanku di mana jarum jam itu akan berhenti atau melambat gerakannya.
Dan tak lupa juga aku sudah menjelaskan apa yang sedang terjadi kepada Bogi dan Bogu yang kini berada di sebelah kanan dan kiriku—untuk melindungi jika ada musuh yang menyerang.
Ternyata mereka bisa menggunakan wujud asli mereka di dunia manusia. Tak seperti perkiraanku yang waktu itu, aku pikir mereka hanya bisa menggunakan wujud mereka di dunia lain seperti Emard.
Ketika aku memberitahukan bahwa aku membutuhkan kekuatan, mereka dengan senang hati menawarkan diri untuk menjadi penjagaku. Ya, sebenarnya aku tak tahu pasti kekuatan apa yang mereka miliki, tetapi karena hanya mereka yang bisa kubawa, apa boleh buat, aku tak bisa menolaknya. Aku berharap kami bisa kembali dengan selamat.
Tidak lupa pula mereka sudah menutupi wajah mereka dengan jubah berwarna hitam. Untuk berjaga-jaga jika saja ada satu manusia yang berpapasan dengan kami.
Tapi ... Yang jadi permasalahannya sekarang ....
"Apa kita harus berjalan kaki menuju kota, yang sangat jauh itu? Bahkan tak ada makhluk lain, selain kita bertiga di sini!" gerutuku melihat bagian kota yang berjarak sekitar 2 sampai tiga kilometer di depan kami.
"Dan sebenarnya ke mana kita harus mencari kaum itu? Kukira kita akan kembali ke tempat kakek Berlig, jadi aku bisa menanyakan informasi lebih kepadanya. Tapi, kalau seperti ini—
Aku menghentikan perkataanku karena Bogi baru saja memeluk lengan kananku. Segera aku melihat ke arahnya.
"Tenang Avlein, ini gunanya kami ada di sini bersamamu. Serahkan semuanya pada kami!" ucapnya tersenyum.
Disusul pula Bogu juga melakukan hal yang sama memeluk lengan kiriku. Sepertinya mereka ingin melakukan sesuatu.
Dan ya, tubuhku terangkat kuat ke atas. Mereka mengangkat badanku untuk melompat tinggi. Tak dapat ku ketahui ketinggiannya berapa, sepertinya aku melambung melebihi tinggi badan Joba.
Membuat jarak kami pada kota itu semakin dekat, karena gerakan mereka yang sangat cepat. Sepertinya aku sudah salah menilai mereka, bahkan mereka lebih hebat dariku bisa melakukan semua ini.
Hingga akhirnya kami tiba di kota. Aku semakin tak berkutik mendapati rumah-rumah seperti yang ada di dunia Greyaq ternyata berada di jalanan, bahkan ada yang berada di dinding-dinding bangunan kota.
Lantas membuatku berpikir, apa orang lain melihat ini semua? Ini sangat berbeda saat aku bersama Joba kemarin. Kota ini ternyata lebih mengerikan lagi.
"Dari belakang!" seruku membuat Bogi dan Bogu langsung menjaga punggungku. Bersamaan dengan itu pula, lima makhluk melompat dari atas dengan samurai dilayangkan ke arahku.
Tetapi aku melihat sebuah cahaya biru sudah melingkar melindungiku, membuat suara lentingan bergema akibat samurai itu beradu kuat dengan sebuah tameng.
"I-itu samurai! Samuraii?!!" aku bergeming melihat samurai tajam yang mengkilap pula.
Kemudian Bogi dan Bogu segera melejit ke sisi kanan dan kiri untuk mengambil senjata musuh. Bahkan mereka bergerak seperti bayangan karena kecepatan mereka.
__ADS_1
Bogi, Bogu, itu samurai! Samurai! bukan mainaan. Aku panik dalam hati. Melihat mereka berdua yang dengan santainya menarik samurai tersebut.
Menyebabkan kelima makhluk itu melompat ke belakang dan kebingungan–mengapa senjata mereka bisa berpindah ke tangan Bogi dan Bogu yang kini sudah kembali berdiri di posisi awal.
"Cih, siapa kalian?!" ucap salah satu dari mereka.
"Aku Bogi, dia adikku Bogu, dan yang ini Bos kami! Perkenalkan ...." balas Bogi sepolos mungkin. Bahkan dia pergi berjalan mendekati salah musuh untuk mengulurkan tangannya, dengan tubuh yang masih berada dalam pelindung.
Tetapi makhluk tersebut menepis uluran tangan Bogi dan langsung mengangkat kedua tangannya ke atas secara perlahan.
"Ba-bagaimana tetap tidak mempan terhadap mereka?!" sahut makhluk yang lainnya.
"Sebenarnya ini bukanlah sembarangan perisai! Tapi ... sepertinya serangan kalian tetap tak akan mempan kepada kami. Silahkan coba saja!" balas Bogi kemudian pelindung biru tersebut hilang.
Sementara tangan makhluk itu masih bergerak-gerak layaknya ingin mengangkat kami atau mungkin mengeluarkan sihir atau semacamnya.
Mereka makhluk seperti kaum Greyaq yakni kaum Voq, di mana tampilannya sangat berbeda dengan kaum Orgy yang penuh dengan warna. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, dengan samurai di punggungnya. Badannya memiliki beberapa rajah (tato) hitam hingga wajah dan bagian kelopak mata bawah mereka, serta rambut yang seluruhnya berwarna hitam.
Setidaknya mereka terlihat seperti mimpi yang sudah kualami tersebut, hanya saja di sana mereka mengenakan jubah hitam.
Juga memaparkan kebengisan yang ingin membunuh musuh di hadapannya.
"Lihat, benar kan?!" lanjut Bogi.
"Siapa kalian sebenarnya?!" balasnya masih tak memedulikan perkataan Bogi.
"Kami ingin menemui kalian semua, tetapi bukan untuk bertempur seperti ini!" balasku akhirnya aku bisa menenangkan kepanikan samurai tadi.
"Buktinya kami tak menyerang kalian sedikitpun!" balasku tetapi sepertinya tidak berpengaruh.
Karena kini putaran dari lari mereka yang semakin cepat menyebabkan angin hitam juga terbentuk mengitari kami bertiga.
Sampah-sampah, pasir-pasir, dan tentu yang tergeletak dipinggiran jalan juga ikut berputar dalam pusaran tersebut. Dan entah mengapa, aku tidak terbawa oleh pusaran angin ini, karena mobil yang ada di pinggir jalan juga ikut berterbangan.
Hanya rambut dan bajuku saja yang berkibasan. Padahal perisai biru tadi juga sudah tidak ada lagi. Bagaimana bisa ini terjadi? Sama halnya dengan Bogi dan Bogu di sampingku yang berdiri biasa saja—tanpa menyentuh tubuhku. Apa ini kekuatan ku? Atau hanya karena kami berada di tengahnya?
Dan yang paling tak ku percayai, bagaimana bisa aku dapat melihat posisi mereka yang sedari awal berlari cepat itu? Bahkan gerakan itu semakin pelan berpindahnya. Mereka tidaklah lagi berputar mengelilingi kami, melainkan zig-zag atas bawah.
"Bogi, apa kau bisa melihat mereka dalam pusaran itu?"
"Tidak Avlein, aku hanya melihat angin hitam dengan sampah-sampah!"
"Sama ... Apa kita coba melewatinya saja?" Sambung Bogu.
Bogi pun segera melompat keluar tetapi tubuhnya kembali menghantam tanah karena tak dapat menembus pusaran itu. Kemudian Bogu pun mencobanya dengan menggunakan perisai biru, tetap sama saja tak dapat melewatinya.
"Yah, apa karena angin kencang itu perisai ini tak mampu melewatinya? Padahal aku mengira kaum itu tak akan mampu melawan kekuatan kami!" gerutu Bogu.
"Dan Avlein, mengapa kau menanyakan hal itu? Apa kau bisa melihat mereka?" sahut Bogi ke arahku.
"Ya, itu salah satu mereka di sana, mereka tidak lagi memutari kita, mereka bergerak atas bawah." balasku menunjuk ke atas. Kini kulihat makhluk itu seperti berkomat-kamit mengucapkan sesuatu.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mendekati yang berbicara tadi. Jika terjadi sesuatu padaku, kalian tahu kan, apa yang harus dilakukan?" lanjutku kemudian dibalas anggukan kepala oleh Bogi dan Bogu.
Lantas aku maju melangkah mendekati pusaran angin. Menunggu posisi makhluk tersebut ke bawah agar bisa kugapai. Karena tampaknya mereka tidak mengetahui bahwa aku dapat melihat posisi mereka.
Ketika satu makhluk itu sudah menyentuhkan kakinya ke tanah, aku mendorong kuat tanganku ke dalam pusaran untuk menarik tubuhnya secara paksa keluar dari sana. Hal itu ternyata menyebabkan makhluk yang lain mengalihkan perhatiannya kepada kami berdua.
Mengakibatkan pusaran angin menjadi tak karuan, menimbulkan bunyi aneh pula yang sedikit menyakitkan telinga. Ukurannya pun mulai berubah-ubah, yang awalnya seperti angin topan, kini melebar kadang menyempit.
Lalu angin itu menghantamkan diri ke tanah membuat semburan yang lebih kuat lagi. Melemparkan benda, sampah dan yang lainnya jauh entah ke mana. Tidak lupa berhasil menghancurkan beberapa bangunan disekitaran kami.
Kini terlihat jelas semua makhluk itu tak berkutik menatap ke arahku yang sedang memeluk salah satu anggotanya—yang sedang memberontak pula dia dalam genggamanku.
"Ba-bagaimana bisa?!" salah satu dari mereka akhirnya berhasil mengeluarkan suara yang bergemetar.
Aku menyapukan pandanganku, melihat apakah ada manusia lain yang ikut serta dalam kejadian barusan. Tapi untung saja, sepertinya hanya kami yang berada di tempat ini.
Lantas dia yang masih memberontak di genggamanku, kini mulai melakukan aktivitas lain. Yakni kembali mengucapkan sesuatu yang menimbulkan asap hitam dari tangannya. Dan kali ini aku dapat merasakan serangan itu.
Panas.
Dia sepertinya ingin membakar lenganku dari asap tersebut. Membuat aku melepaskan dirinya yang kemudian melompat ikut bergabung dengan makhluk lainnya.
"Sial! Siapa sebenarnya kau?! Dari mana damainya, jika kau inging membunuhku seperti itu!" seru yang melompat tadi.
"Tidak, tidak sama sekali!" balasku seraya menggeleng kepala.
"Bagaimana tidak? Kau ingin membunuhku dalam genggaman itu! Kau menyerang saraf dalam tubuhku!"
Aku mengernyitkan dahiku mendengar penjelasanya itu. Padahal yang kulakukan hanyalah menggenggam tubuhnya, tak ada sedikitpun tujuan lain.
Dan dia mengatakan aku ingin membunuhnya? Aku hanya ingin menarik tubuhnya untuk berbicara, 'Tolong hentikan semua ini!', hanya itu tidak hal lain. Aku pun menatap kedua telapak tanganku, apa aku telah melakukan sesuatu?
Bersamaan dengan itu pula, terdengar suara seperti angin dari baling-baling benda yang berputar cepat di arah belakangku.
Membuat aku berbalik untuk melihat ada apa gerangan. Tetapi Bogi dan Bogu langsung melesat ke hadapanku untuk mengangkat tubuhku, menghindari tiga buah pisau berbentuk bintang— yang baru saja menempel di aspal—beberapa detik kemudian meledakkan dirinya.
BUUM!
Tameng biru kembali melingkar di hadapanku. Ternyata ledakan dari pisau itu cukup mengerikan, karena dia berhasil membuat lobang pada jalan tersebut.
"Woooah! Apa kita lagi shooting film?! Ini semua sungguh luar biasa!" ucapku bahagia. Tidak memedulikan bahwa aku tadi dalam bahaya.
"Avlein, kalau kau tetap di sana, aku yakin pisau itu berhasil menebas kepalamu!" sahut Bogi dengan sedikit desahan yang panjang.
Aku yang mendengar hal itu langsung menggenggam leherku dengan kedua tangan, "Benarkah?! Waah makasih kalian sudah menyelamatkan ku!"
Lalu terdengar suara tepuk tangan dari arah pisau tadi melayang, membuat kami semua menoleh ke sumber suara. Satu kelompok makhluk lagi—terdiri dari 6 orang—baru saja melompat dari atas.
Berbeda dengan makhluk pertama, kali ini mereka mengenakan jubah hitam, bahkan wajah mereka tak terlihat sedikitpun, hanya bayang hitam saja. Sepertinya mereka memiliki pangkat yang lebih tinggi dari kelompok pertama.
"Sudah cukup semua hiburan yang tak penting ini!"
__ADS_1
*