JOBA

JOBA
[02] Pertemuan


__ADS_3

Aku membuka kedua mataku secara perlahan–melihat keadaan sekelilingku. "Kamar?!" teriakku seraya menarik paksa tubuhku untuk bangkit dari tempat tidur dan segera berlari menuju ruang perpustakaan.


"Masih ada! Haah ... untunglah semua hanya mimpi. Tidak mungkin benda mati bisa berbicara." Aku menghela napas sembari tangan mengusap dada pelan. Lega rasanya ternyata itu semua hanyalah sebuah mimpi. Aku pun segera mengambil benda itu.


"Bukan mimpi!" celetuknya.


"Aaaa!" teriakku lagi melepaskan benda itu dari genggamanku, sementara tubuhku reflek mendorong kuat ke belakang dan membuat aku terjengkang ke bawah.


"Tolong jangan pingsan lagi!" Lanjutnya lagi.


"Aaa!" Aku masih berteriak melihat apa yang sedang terjadi. Aku sungguh tidak bisa mempercayai semua ini. Benda itu sekarang sedang melayang di hadapanku.


"Sesukamu sajalah. Aku tidak akan meletakkanmu kembali ke kamarmj. Karena itu bukanlah pekerjaanku."


"Aaa!"


"Tidak bosankah kau? Dari tadi hanya aaa, aaa, dan aaa. Ah tidak! Tidak hanya tadi, melainkan sejak tadi malam. Aku yang bosan mendengarkannya. Tidak bisakah kau melakukan yang lain? Misalnya bernyanyi, wooo ho hoo .... "


"Tap–tap–tap–


"Tap–tap–tap apa Avlein? Itu bukanlah sebuah lagu."


"Dari mana kau tahu namaku?!"


"Kau sendiri yang memperkenalkan namamu bukan?"


Aku pun langsung memukuli kedua pipiku dengan telapak tangan. Masih tidak bisa percaya dengan apa yang sedang terjadi. "Bangun! Bangun Avlein! Bangunlah!"


"Perlukah aku membantu sebisa ku? Kau tidak BERMIMPIII!!"


Aku tidak bisa berkomentar lagi. Karena barusan saja benda itu mengeluarkan suara yang sangat besar. Seperti ada angin kencang yang baru saja menghantam wajahku. Bahkan membuat pintu perpustakaanku terbanting tertutup.


"Apa kau sudah bangun sekarang? Atau perlukah aku membantu lagi?" lanjutnya perlahan mulai mendekatiku. Sementara aku menggelengkan kepalaku dengan cepat membalas pertanyaan itu.


"Tapi benda apa sebenarnya kau ini? Kenapa kau bisa berbicara? Dan yang paling mustahil kau bisa melayang."


"Aku petunjuk arahmu. Kau masih tidak tahu apa itu petunjuk arah?"


"Kompas?"


"Ya ya ... terserah apa katamu."


"Apa benar ini tidak mimpi?"


"Apa perlu aku membantu lagi?"


"Tidak! Tidak perlu! Tapi aku berbicara sama ..." Aku terdiam karena tidak tahu harus memanggil dia dengan sebutan apa.


"Joba."


"Oke, Joba. Kau bisa bicara dan melayang di udara. Aku masih tidak percaya ini. Semua ini sangatlah mustahil. Apa kau dimasuki suatu makhluk tak kasatmata? Atau ... Eh tunggu .... " Aku kbali menghentikan penjelasanku tentang kemustahilan ini. Karena terlintas sesuatu yang sangat penting di sini. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang.


"Joba bukannya nama kakek yang memberikanmu kepadaku?"


"Dia selalu menggunakan namaku, jika berkenalan dengan orang baru."


"Tapi kenapa setelah itu dia menghilang? Apa kau kakek itu?"


"Haha ... Kau mencoba menghiburku sekarang? Aku ini Joba."

__ADS_1


"Iya Joba atau apalah itu, kenapa semua ini terjadi padaku?"


"Jangan berikan aku pada orang lain!"


"Kenapa? Apa alasannya? Kalau kau hanya jadi pengganggu dihidupku, aku tidak akan sungkan memberikanmu pada orang lain!"


"Wow jangan begitu. Setelah ini kau pasti akan menyesali perkataanmu barusan. Pergilah ke kamarmu dan di bawah tempat tidurmu akan ada dua ekor tikus yang hendak memakan roti besar!"


Mendengar penjelasannya aku tidak berkomentar lagi dan bergegas pergi menuju kamarku. Segera membuka kain yang menutupi kolong tempat tidurku. Beberapa saat kemudian ternyata benar sekali, tiba-tiba muncul dua ekor tikus yang berniat ingin memakan sebuah roti besar. Tapi yang sangat membuatku semakin terkejut adalah ....


"Aaa! Bogi bagaimana ini? Dia akan membunuh kita! Kita tidak akan bisa makan lagi!"


"Tenang Bogu! Lebih baik kita bawa roti ini dan cepat pergi meninggalkan tempat ini!"


Segera aku menutup kembali kain yang menutupi kolong tempat tidur tersebut. Tanpa mengusir kedua tikus itu.


"Nah bagaimana Avlein? Apa kau sudah menyesali perkataanmu yang tadi?" celetuk Joba di sampingku.


"Oke oke ... Aku menyesali apa yang sudah ku katakan tadi. Tapi kenapa aku bisa mengerti apa yang mereka katakan?"


"Itu karena aku sudah bersamamu."


"Hei ayolah, dari tadi kau hanya memberikan jawaban yang tidak membuatku mengerti secara keseluruhan."


"Itu sudah jawaban yang paling benar Avlein."


"Tapi semua penjelasanmu itu tidak cukup!"


"Tenang ... Nanti kau juga akan mengerti sendiri."


"Jadi kau juga bisa tahu masa depan?" tanyaku lagi padanya. "Terserah ungkapannya apa denganmu, tapi seperti itulah aku."


Setelah semua kegiatan pagi hari selesai kulakukan, aku pergi mengambil mantelku dan pergi menuju pintu depan.


"Kau tidak mau mengajakku?" celetuk Joba di belakangku. Aku tidak kepikiran sedikitpun untuk membawanya bersamaku.


"Oh, kau mau ikut? Oke, ayo kita pergi." Balasku pergi mengambil Joba yang melayang di hadapanku dan mengalungkannya di leher.


Pagi ini aku akan pergi jalan-jalan sebentar. Hanya itu. Karena aku lupa ingin melakukan apa setelah kejadian ini.



Sekarang entah mengapa aku duduk diam di kursi taman yang berada tak jauh dari rumahku. Hal ini sudah berlalu kira-kira satu jam lamanya. Tidak tahu apa yang kulakukan. Orang yang lewat hanya satu per satu. Apa saat ini aku hanya menghabiskan waktuku dengan melamun saja?


"Tenang! Sebentar lagi bakal ada seseorang yang akan menghampirimu dengan sangat tergesa-gesa." Tiba-tiba Joba memulai pembicaraan.


"Kau juga bisa membaca pikiranku Joba?!"


"Terserah apa katamu .... "


Aku pun mendengarkannya–menunggu orang yang akan menghampiri diriku itu. Hingga sepuluh menit lamanya aku memulai pembicaraan lagi.


"Haha, kau salah Joba. Tidak ada yang datang menghampiriku!"


"Toloong! Tolong aku! Anda harus menolongku!" teriak seorang gadis yang tak begitu jauh dari tempatku duduk. Sepertinya dia meminta tolong kepadaku, karena aku melihat di sekitar tidak ada siapa pun dari arah dia meminta bantuan kecuali diriku.


Aku mulai beranjak dari dudukku tetapi dia semakin mempercepat larinya hingga berhenti di hadapanku dengan napas yang tak beraturan. Dia menggenggam lenganku dan masih meminta pertolonganku.


"Baiklah ikut aku!" Balasku tidak berpikir terlalu panjang dan segera mengarah ke rumahku. Kenapa aku langsung mengajaknya? Dan kenapa malah pergi ke rumahku? ucap batinku.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, aku menyuruhnya untuk menunggu terlebih dahulu di sana—ruang tamu. Sementara aku pergi ke dapur untuk mengambilkan segelas air minum untuknya. Karena tidak mungkin dia tidak haus setelah kelelahan seperti tadi.


"Nih ... Tenangkan dirimu dan jelaskan padaku apa yang sebenarnya sedang terjadi?"


Gadis itu meminum air yang baru saja kuberikan kepadanya. Dia meminum airnya secepat mungkin dan mulai berbicara kepadaku.


"Terimakasih sudah menyelamatkanku. Namaku Vlivy. Aku dikejar-kejar oleh dua orang laki-laki dengan badan yang sangat besar. Karena aku mempunyai ini!" Jelasnya mengeluarkan benda yang tampak sama seperti Joba— meletakkannya di atas meja.


Kembali tak pikir panjang, aku langsung mengeluarkan Joba dari balik mantelku. Melepaskannya dari leherku dan juga meletakkan di sebelah benda milik gadis ini.


"Ooh ... Ku kira sama dengan yang kumiliki, ternyata banyak yang berbeda."


"Karena itu palsu!" celetuk Joba membuat aku melihat sekilas ke arah gadis itu. Tapi dia tidak mencurigainya. Sepertinya dia tidak mendengar kan suara Joba barusan.


"Ya dia tidak akan mendengarkanku. Karena aku tidak menginginkannya."


"Iya benar, bentuk dan warnanya sama, tapi ada beberapa yang berbeda," sahut gadis itu. Membuat aku kembali fokus dengan apa yang kami temukan.


"Mungkin yang membuat benda ini orangnya berbeda. Tapi, kenapa mereka mengincar benda ini?"


"Entahlah ... Aku juga tidak tahu alasannya. Tadi pagi ayahku baru saja memberikan benda ini. Dia mengatakan aku harus lari untuk menyelamatkan benda ini. Jangan sampai orang itu mendapatkannya. Dan ternyata mereka mengetahui aku sudah melarikan diri."


"Sekarang ayahmu ada di mana?"


"Terakhir kali aku bersamanya yaitu di rumahku sendiri. Tapi sekarang aku tidak ingin kembali ke rumah itu. Apa aku boleh bersamamu?"


"Apa maksudmu? Tidak! Aku tidak ingin ada perempuan di dalam rumahku!"


"Tolonglah aku. Apa Anda menginginkan aku mati di bunuh orang jahat itu? Apa Anda tega membiarkan seorang perempuan tersiksa?"


Aku tidak membalas pertanyaannya barusan. Aku hanya bangkit dari dudukku, mengambil Joba dan pergi menuju kamarku.


"Joba apa yang harus aku lakukan?" Tanyaku melihat ke arahnya yang sudah melayang di hadapanku.


"Biarkan saja dia bersamamu."


"Tapi aku laki-laki dan dia perempuan. Apa yang akan terjadi kalau kami hanya berdua di rumah ini? Dan sepertinya dia lebih muda dariku."


"Tolong saja dia, kalau kau ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi ini."


"Kenapa aku harus menolongnya sedangkan aku bisa menanyakan hal itu kepadamu?"


"Kau sendiri kan, yang mengatakan kepadaku bahwa semua yang ku jelaskan tidak dapat kau mengerti? Dan lagian kau memang harus bersamanya."


"Tapi Joba kenapa harus seorang perempuan?"


"Yah, memang itu takdirmu. Aku tidak bisa menolak takdir yang datang pada seseorang. Karena bukan aku yang mengatur takdir."


"Oke baiklah. Aku akan melakukan apa yang kau katakan." Balasku segera kembali pergi menuju ke ruang tamu. Setiba di sana aku melihat ada senyuman kecil pada wajah gadis itu. Seperti yakin aku akan memperbolehkannya tinggal bersamaku.


"Berapa umurmu?"


"Enam belas tahun."


"Apa kau yakin ingin tinggal bersamaku?" Dia hanya menganggukkan kepalanya. "Tapi aku laki-laki dan kau perempuan–


"Aku bersedia melakukan semuanya, agar Anda mau menyelamatkanku." Potongnya Membuat aku tidak membalas perkataannya barusan. Lebih baik aku diam dari pada dia berkomentar yang lebih tidak ingin kudengar lagi.


Setelah itu, aku pun beranjak dari tempat duduk. Memerintah dia untuk menunggu dulu di sini, karena aku ingin berjalan-jalan sebentar. Sepertinya aku harus menenangkan pikiranku kembali.

__ADS_1


__ADS_2