
***
Aku selalu beranggapan bahwa aku hanyalah anak biasa saja. Normal seperti anak biasa yang lainnya. Selalu menguatkan diri berusaha beranggapan seperti itu, tetapi semua percuma saja. Karena aku tidak bisa menutupi kenyataan bahwa kehidupan yang ku alami selama ini tidaklah menyenangkan.
Aku tidak dapat bergaul dengan anak yang lainnya dengan mudah. Bukan aku yang tidak pandai dalam menyampaikan kosa kata, melainkan mereka yang selalu melarikan diri saat aku muncul di hadapan mereka— dikucilkan — hal itu lebih tepatnya. Tidak lupa mereka semua melemparkan wajah masam saat pergi menjauhi diriku dan terdengar jelas gumaman buruk itu terlontar untukku.
Tapi aku masih berterimakasih masih ada seseorang yang memberikan kasih sayangnya kepadaku. Dia sangat menyayangiku melebihi siapa pun sampai aku lebih sering dikurung di dalam rumah yang penuh dengan kumpulan buku-buku.
Dia mulai perhatiannya saat aku waktu itu pulang ke rumah dengan penuh air mata. Sejak saat itu dia memberhentikanku dari sekolah dan kami pindah dari tempat itu untuk memulai kehidupan yang baru.
Ya kehidupan baru.
Aku tidak akan pergi ke sekolah lagi, melainkan belajar pribadi di rumah sendiri. Mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar, berharap aku berhasil melakukannya. Tetapi aku akhirnya mengetahui fakta yang sesungguhnya. Bukan aku yang salah, bukan aku yang tidak pandai beradaptasi, melainkan adalah ayahku yang seorang sejarawan. Dan itu juga membuat aku mulai membenci dirinya.
"Vlivy!" teriak ayahku yang baru saja berhasil mengejutkanku dengan suara pintu yang bertubrukan paksa dengan dinding.
Sontak aku langsung terlompat dari atas tempat tidur melihat ke arahnya. Raut wajahnya kini tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Marah, khawatir, ketakutan semua beradu menjadi satu. Aku mulai panik melihat ekspresi itu.
"Ada apa Ayah?" Balasku pergi mendekatinya mulai merasakan kecemasan.
"Kau harus pergi dari rumah ini sekarang! Dan bawalah benda ini bersamamu!" ucap ayahku yang suaranya mulai terengah tampak sebuah keresahan juga mulai merasuki pikirannya.
Aku yang ikut serta dalam kepanikan itu, tidak memperdulikan apa yang sedang terjadi. Aku hanya dengan sigap langsung mengemas beberapa barangku untuk memenuhi permintaannya.
"Ayah janji akan menjelaskannya padamu. Tapi untuk sekarang kau harus membawa pergi benda itu terlebih dulu. Pergilah Nak!"
Aku sedikit mendengar penjelasan ayahku itu. Saat akhirnya pintu belakang rumahku itu tertutup rapat. Mulai melewati semak belukar menuju jalan utama— ke halaman depan.
Dan ya setibanya aku di depan, aku melihat ada sebuah mobil sedan hitam dengan dua orang berbadan besar di sekitaran mobil tersebut.
Dua orang itu dibaluti pakaian serba hitam dan sepertinya merekalah yang mengakibatkan aku harus melarikan diri secara diam-diam seperti ini. Tidak meneruskan kecurigaan ku lebih lama lagi, aku pun memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat ini.
–
Setibanya di taman aku menyimpulkan untuk beristirahat sejenak. Tidak ada salahnya aku meredakan pernapasanku karena sedari tadi aku hanya berlari sejauh yang ku bisa. Dan dalam kesempatan ini juga aku mencoba melihat lebih teliti lagi benda apa sebenarnya yang baru saja ayahku berikan.
"Sepertinya mereka menginginkan benda ini! Makanya ayah menyuruhku untuk membawanya. Tapi kenapa aku?" Aku sedikit bergumam membolak-balik benda itu dan tidak berhasil menemukan hal yang aneh dari benda ini. Hanyalah sebuah arloji biasa.
"Apa ini harganya mahal?" Terlintas sekilas dipikiranku mungkin harga jualnya sangat tinggi maka dari itu mereka ingin merebutnya dari ayah.
__ADS_1
Aku pun memutuskan untuk melanjutkan kembali pelarian ku, karena rasanya kini pernapasanku sudah kembali normal. Tetapi baru beberapa aku melangkah ....
"Hei Nak, jangan lari kau!" Seru seseorang dengan nada yang cukup berat dan keras dari arah belakangku. Aku berfirasat teriakan itu tertuju jelas untukku yang mulai melangkahkan kaki.
Sedikit aku menoleh ke sumber suara dan hal itu sangatlah mengejutkanku. Dua pria tadi mulai berlari ke arahku dengan langkah kaki mereka yang panjang.
Aku yang semakin panik langsung berlari dan menambah kecepatan lariku berharap agar lebih cepat lagi dari langkah mereka. Yang jelas rasanya kalau satu langkah saja aku kalah, mereka bisa menerkamku dari belakang.
Seseorang ....
Aku benar-benar membutuhkan seorang saja saat ini. Walau rasanya dua orang yang mengejar ku tadi sudah lebih berjarak dariku di belakang, tetapi kepanikan dan ketakutan ini masih tidak sungkan memenuhi ragaku membuat aku benar harus cepat mencari bantuan.
Samar aku melihat dari kejauhan sebuah kursi yang diduduki sesosok manusia. Kebahagiaan pun mulai ikut serta menghantam perasaanku. Segera aku mempercepat langkah kaki ini.
"Toloong! Tolong aku! Anda harus menolongku!" ucapku yang masih panik tidak memikirkan lagi suara parau yang baru saja keluar dari mulutku–yang sebenarnya tidak enak untuk di dengar. Tetapi karena aku melihat dia yang mulai beranjak pergi tanda tidak menanggapi teriakanku barusan, aku pun semakin menggunakan tenagaku yang tersisa untuk menggapai lengannya.
Dingin ....
Aku berhasil menggenggam lengannya membuat dia menatap tajam ke arahku. Tetapi aku tidak peduli jawaban apa yang akan ku terima, yang penting aku harus mendapat bantuan darinya.
"Aku benar-benar memohon kepada Anda," ucapku kini mulai tersengal mencoba mengatur pernapasanku. Sakit, juga mulai ikut serta di seluruh tubuhku.
"Baiklah ikut aku!" Balasnya tidak pikir panjang mulai melanjutkan langkahnya ke satu arah. Tidak dapat berkomentar lagi aku hanya bisa mengikuti langkah kakinya itu dari belakang.
Akhirnya aku tiba di sebuah bangunan yang tampaknya seperti rumah tempat ia tinggal. Aku mengikutinya memasuki rumah itu dan dia menyerukan padaku untuk menunggu di sebuah ruangan— yang sepertinya adalah ruang tamu. Sementara dia pergi ke ruangan lain untuk beberapa saat dan kembali dengan membawakan satu gelas air yang lumayan besar.
Menyodorkan gelas itu ke arahku. Aku yang tak sungkan langsung menerima pemberian itu dan menjadi seseorang yang tampak seperti sudah tidak merasakan yang namanya air lagi selama beberapa hari.
Air itu habis ku minum dalam beberapa kerjapan mata. Lega rasanya.
"Terimakasih sudah menyelamatkanku. Namaku Vlivy. Aku di kejar-kejar oleh dua orang laki-laki dengan badan yang sangat besar. Karena aku mempunyai ini." Jelasku mulai merogoh saku jaketku mengambil benda yang ku bawa dan segera meletakkannya di atas meja.
Dengan reaksi biasa saja dia juga mulai merogoh ke dalam mantelnya kemudian memperlihatkan sebuah arloji yang dikenakannya. Ia pun juga meletakkannya di atas meja dan membandingkan kedua benda yang warna dan ukurannya sekilas tampak sama itu.
"Ooh ... Ku kira sama dengan yang ku miliki, ternyata banyak yang berbeda." Ujarnya setelah selesai membandingkan kedua benda itu. Dia diam beberapa detik, tiba- tiba sedikit melihat ke arahku, dan kembali melihat ke arah arlojinya. Dan itu sangatlah aneh. Reaksinya terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu kepadaku.
Aku pun juga mulai menjangkau jarak yang lebih dekat untuk melihat secara rinci benda tersebut. Dan benar apa yang dikatakan pria ini.
"Iya benar, bentuk dan warnanya sama, tetapi ada beberapa yang berbeda." Sahutku kemudian membuat dia kembali melihat ke arahku dan mulai beringsut ke sandaran kursi.
"Mungkin yang membuat benda ini orangnya berbeda. Tapi, kenapa mereka mengincar benda ini?" Balasnya membuat aku semakin penasaran dengan pria ini. Karena ekspresi wajahnya yang selalu berubah setiap dia menyampaikan sesuatu.
"Entahlah, aku juga tidak tahu alasannya. Tadi pagi ayahku baru saja memberikan benda ini. Dia mengatakan aku harus lari untuk menyelamatkan benda ini. Jangan sampai orang itu mendapatkannya. Dan ternyata mereka mengetahui aku sudah melarikan diri."
__ADS_1
"Sekarang ayahmu ada di mana?"
"Terakhir kali aku bersamanya yaitu di rumahku sendiri. Tapi sekarang aku tidak ingin kembali ke rumah itu. Apa aku boleh bersamamu?" Sontak dia yang mendengar pertanyaanku itu bangkit dari sandarannya. Dan mulai membalasnya lagi dengan nada yang cukup tinggi.
"Apa maksudmu? Tidak! Aku tidak ingin ada perempuan di dalam rumahku!"
"Tolonglah aku. Apa Anda menginginkan aku mati di bunuh orang jahat itu? Apa Anda tega membiarkan seorang perempuan tersiksa?" mohonku lagi masih tidak mengenal kata nyerah walau sudah dibentak dan diberikan ekpresi marah yang baru saja pria itu tujukan padaku.
Dia tidak memberikan tanggapan dan sekarang pergi meninggalkan aku yang sedikit menyesali apa yang baru saja kukatakan.
Tetapi aku masih percaya bahwa dia adalah seorang pria yang baik.
Cukup lama menunggu, aku sangat senang akhirnya sosok itu kembali muncul di hadapanku dan kembali duduk di tempat semula. Dan dia mulai bicara lagi.
"Berapa umur mu?"
"Enam belas tahun." Aku membalas dengan semangat bergebu-gebu.
"Apa kau yakin ingin tinggal bersamaku?" Aku menganggukkan kepalaku dengan cepat tanda sangat yakin dengan apa yang sudah kupilih. "Tapi aku laki-laki dan kau perempuan–
"Aku bersedia melakukan semuanya, agar Anda mau menyelamatkanku!" Karena semangat ini aku pun tak sengaja memotong pembicaraannya. Dan itu membuatku kembali menyesalinya karena dia lagi-lagi pergi meninggalkanku.
Sepertinya aku harus merubah kebiasaanku ini. Suka memaksa dan memotong pembicaraan orang yang sudah baik kepadaku. Dan juga sepertinya perkataanku kali ini tidak benar. Aku hanya berharap dia mengambil sisi positifnya saja.
***
*
note author:
Hallo teman-teman... terimakasih yang sudah bersedia membaca cerita yang udah ku usahakan yang terbaik ini.
aku selalu membutuhkan kritik dan saran dalam bentuk apa pun itu untuk kemajuanku dalam penulisan cerita selanjutnya.
jadi jangan sungkan ya keluarin semua unek-unek teman2 hehe...
Terimakasih..
salam hangat, Hka
__ADS_1