JOBA

JOBA
[27] Kami Disambut


__ADS_3

Alas yang menjadi tempat kami berdiri menimbulkan derikan, akibat bebatuan yang mulai melekahkan diri berjatuhan ke bawah. Lalu hilang ditelan kegelapan lobang hitam.


Tentu kami yang tak bisa menebak sejauh apa lobang tersebut, hanya bisa melangkah mundur untuk menghindari retakan. Tetapi angin yang kuat mendorong tubuhku ke depan, mengakibatkan aku terjatuh ke lobang tersebut.


Aku yakin sekali ini semua ulahnya Joba sebelum ia menjelaskan kami harus memasuki lobang itu. Tapi ayolah... jangan mengejutkan seperti ini.


Tubuhku melayang terjatuh ke bawah dengan


diiringi teriakanku yang kini mulai bosan pula ku dengarkan. Sementara teriakan gadis itu juga masih terdengar di sebelahku. Yang sesekali mencoba untuk menyebut namaku. Tetapi tak bisa diucapkannya selain teriakan.


"Jadi Joba, harus sejauh apa kita menyentuh tanah?"


"Oh! Aku lupa...." balasnya.


Dan saat itu pula kakiku menghentak paksa dasar dari lobang tersebut. Tidak sakit, tetapi itu semua sangatlah mengejutkan. Di tempat yang gelap gulita ini, kami jatuh tak tahu sejauh apa. Dan tiba-tiba menyentuh dasar dengan sangat kuat, tentu aku hanya bisa membiarkan detak jantung ini melaju secepat yang ia bisa. Untuk menenangkan pernapasan yang tersengal.


Begitu juga dengan gadis di sebelahku. Dia terdiam. Jeritannya yang panjang tadi seketika menghilang. Aku yakin kali ini dia merasakan hal yang sama lagi denganku. Benar-benar syok.


Belum sempat aku mengucapkan kata-kata, kartu Lionera yang berada di saku mantelku bergetar kuat. Mengeluarkan dirinya sendiri dari dalam kantong. Yang bercahaya pula dia menerangi tempat kami berdiri. Lalu ruangan ini berpendar hijau chartreuse, mendapati sebuah ruangan kosong. Bahkan tak terlihat lagi lobang asal kami terjatuh.


Ngiiiing~~


Lantas mengeluarkan suara dengungan pula yang menusuk telinga, sebelum akhirnya kami menutup dengan kedua tangan. Terlihat serpihan mulai keluar dari kartu tersebut. Menyusun serpihan-serpihan itu menjadi sebuah blackhole hijau kekuningan.


Gerbang Lionera melayang di hadapan kami.


"Ayo, tunggu apa lagi?" suara Joba bergema. Tentu menyerukan kami untuk melewati gerbang tersebut.


Dan tak tahu mengapa, detak jantungku melaju ketika aku melangkahkan kaki. Firasatku mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk.


Kami pun segera melewati pintu gerbang.


Dalam beberapa detik, kilauan putih memenuhi pandanganku hingga hawa panas menyusuri seluruh tubuh. Sesaat setelahnya aku berada di dunia Lionera yang kelam, suram tak punya masa depan lagi. Dunia ini mengerikan.


Aku berdiri di tengah hutan yang seharusnya penuh dengan warna hijau. Tapi ini ... sepertinya tumbuhan di sini terkena racun karena seluruhnya berwarna hitam. Mengeluarkan asap pula dan bau yang tak dapat dikenali. Aku yakin tidak akan ada yang berani untuk menyentuhnya.


Begitu juga dengan jalan untuk arah kami, mengedarkan pandangan hanya pepohonan saja yang ditutupi oleh kabut hitam. Tak ada bunyi serangga, hewan melata, ataupun kicauan burung yang seharusnya menyertai hutan ini. Bahkan deru napasku dapat kudengarkan sendiri.


Senyap.


Langit-langit berwarna merah. Darah. Angin dengan enggan berhembus paksa yang sesekali membawa aroma kematian. Tak ada yang menyambut kedatangan kami.


"Tidak! Mereka sudah memperhatikan kita dari kejauhan! Kau bergerak sedikit, maka akan terjadi pertempuran!" Joba angkat bicara.

__ADS_1


Pantas saja kali ini aku tidak hanya bertiga termasuk Joba yang sudah menggunakan wujud aslinya. Bogi dan Bogu juga ikut serta di sisi kanan dan kiri kami. Dengan posisi tetap siaga.


Aku mencoba meredakan kepanikan, memainkan bola mata menjaga serangan dari berbagai arah. Tapi tak berani untuk menggerakkan tubuh. Sepertinya aku dan Joba tak akan dipatuhi di dunia ini. Apa karena tak bisa ditolong lagi? Aku tak tahu itu, yang jelas saat ini aku sangat takut. Malaikat maut yang mengawasi siap menjemput.


Mendadak terdengar suara gemerisik dari arah barat. Tak ada satupun yang menoleh untuk melihatnya. "Tetap di tempat!" Joba berucap setelah itu.


"Kita akan disambut oleh mereka ...."


Lantas sesuatu kembali melingkar mengelilingi masing-masing tubuh kami. Kali ini berwarna biru bening. Hampir transparan. Sepertinya ini perisai yang Bogi gunakan waktu itu. Lain dari sebelum-nya, warnanya lebih terang lagi.


"Tapi kita harus berpencar!


Apa?!


Kita melakukan ini untuk mengalihkan mereka yang jumlahnya cukup banyak. Karena aku tak bisa mengendalikan semuanya, maka kita harus melakukan ini. Satu hal yang harus kalian ingat... Jangan sekalinya kalian berhenti!" Joba mengakhiri perkataannya dengan melesat ke dalam hutan. Dia hilang dari balik kegelapan.


Bersamaan dengan itu pula suara gemerisik tadi semakin gaduh. Kini berasal dari berbagai arah. Membuat aku semakin gelisah sebenarnya apa yang sedang terjadi. Kudapati pula Bogi dan Bogu juga berpisah melompat memasuki hutan. Meninggalkan kami berdua yang masih terpaku.


Tapi ternyata, aku ditinggalkan sendiri. Tanpa berkata-kata dia juga berlari memasuki hutan. Dan bodohnya aku masih berdiri di sini menantikan suara itu. Aku tak dapat bergerak.


Gemerisik itu semakin dekat. Membawa hawa yang lebih panas lagi. Mengapa disaat genting seperti ini makhluk yang kuciptakan itu tak menolong? Apa yang harus kulakukan sekarang? Joba pergi ntah ke mana ....


cih sialan!


GRRR....


Raungan terdengar jelas dari arah belakang. Sepertinya dia kesal tidak berhasil menangkap tubuhku. Tapi peduli apa aku padanya, yang penting aku harus berlari sejauh yang ku bisa, seperti yang diperintahkan oleh Joba. Menelusuri dedaunan berduri, yang membuat perisaiku tergores dan akhirnya pecah. Duri itu berhasil menembus pakaianku dan menyentuh kulit.


Tapi aku tak bisa merasakan sakit lagi. Degupan panikku yang tak sungkan menguasai raga ini, menghilangkan segala rasa. Aku harus menjauhi gemerisik yang tak hentinya mengejar dari belakang. Raungan tadi juga beberapa kali terdengar. Derapan kaki yang berjumlah besar pun mengiringi. Menyebabkan suasana semakin menegangkan.


Aku berhenti, aku yakin aku akan mati ....


BOOM


Satu pohon yang cukup besar di sebelah kananku, ambruk akibat ledakan yang baru saja terjadi. Sebelum akhirnya aku mengelakkan diri pergi melompat ke atas pohon.


Apa?! Bagaimana bisa?!!


Ntah bagaimana aku dapat melompat tinggi melewati pohon yang bahkan belum menyentuh tanah. Tubuhku ringan untuk digerakkan. Berlari zig-zag mengelakkan api yang membara. Tanah bergetar ketika aku mendaratkan kaki akibat hantaman pohon tersebut di permukaan. Sebelum akhirnya aku melanjutkan berlari cepat.


Masih enggan untuk menoleh, kini aku mencoba berlari di antara pepohonan. Tapi ketika aku melompat ke atas dan berdiri di dahan pohon, aku tak dapat menjaga keseimbangan. Hampir saja aku tersungkur menyerahkan nyawaku pada mereka.


Jadi aku mengurungkan niat untuk melakukan hal tersebut. Ini bukan saatnya untuk bermain-main. Lebih baik berlari dari pada benar aku dijemput malaikat maut.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, ada bayangan hitam legam yang melesat di depanku . Berhasil menarik perhatianku untuk melihat ke mana dia berpindah.


Apa–sekarang mereka mau apa**?!


Aku berdecak kesal. Mulai mengatur pernapasan ku pula yang tersengal, karena tadi mengalihkan fokus. Sambil berlari, aku memikirkan apa yang harus dilakukan. Derapan kaki mereka masih tak kenal lelah dari arah belakang.


Depan!


Aku menghentikan langkah kaki secara paksa.


BUUM!!


Kembali meluncur di hadapanku sebongkah api, menghancurkan tanah sehingga menghalangi arah pelarian. Kutarik kuat tubuh untuk melompat ke belakang, menghindari bara api yang bersem-buran. Memperpendek jarak dengan makhluk yang mengejar.


"Cih mereka serius!"


Tanpa sadar aku masih berdiri di sana dan berputar ke belakang. Untuk melihat sejauh apa keberadaan musuh. Saat itu pula satu tangan raksasa dengan cakaran yang tajam melintas tepat di depan wajahku.


"What the—


Hampir saja cakaran itu mengenaiku. Jika aku tak mengelak beberapa senti saja, aku yakin kepalaku sudah hilang.


Saat itu sosok yang mengejar akhirnya bertatapan langsung dengan kedua mataku. Bukan manusia, bukan juga hewan. Mereka monster—setinggi Joba dan berukuran besar. Dengan gigi taring yang penuh air liur. Mata oranye. Bertanduk satu di dahi.


Aku tercekat, susah untuk bernapas. Tak dapat berkutik lagi. Apa yang harus kulakukan sekarang?


Derapan kaki yang lain pun masih menyusul. Berbagai suara yang melesat di dedaunan juga berdatangan. Kobaran api semakin menyebar, membuat hawa sekitarku semakin panas.


Sekarang akhirnya aku terkepung.


Lari! Aku harus lari!


Aku kembali menyadarkan diri. Berusaha meng-gerakkan tubuh. Membalik ke belakang sekuat tenaga melawan rasa takut. Sekiranya jemariku dapat digerakkan, saat itu pula aku mulai berlari kembali. Tapi....


JLEB!


"Aaaarggh!" aku menjerit.


Kulihat di dadaku sudah terdapat kuku tajam monster tadi. Penuh darah. Yang kemudian aku terbatuk mengeluarkan darah pula.


Sakit. Ini terlalu sakit. Udara di sekitarku mendadak hilang. Aku tak dapat menarik napas lagi. Pandanganku pun memudar. Hanya melihat bayang-bayang yang mulai menghampiri. Sebelum akhirnya aku menutup kedua mata.


*

__ADS_1


__ADS_2