
Ketika aku menutup pintu ruang makan, sesuatu baru saja melintas dengan kecepatan penuh di samping kepalaku—sebuah pisau. Dan bukan itu permasalahannya, aku baru saja memiringkan kepalaku untuk menghindari laju pisau tersebut.
Tak mengerjapkan kedua mata, aku hanya berpikir berulang kali, kenapa aku bisa langsung memiringkan kepalaku? Ketika aku berbalik tadi, aku hanya berfirasat akan ada sesuatu yang terbang mendekati mata kananku—jelas aku hanya memikirkan seekor kumbang atau sejenisnya.
Bukan pisau yang tajam seperti itu. Dan aku yakin ini semua adalah perbuatannya Joba. Segera aku menoleh ke arahnya yang duduk di sebelah kanan Yua, dia hanya menunjukkan senyuman gigi taringnya seraya melambai-lambai ke arahku.
Aku berdecak kesal, lantas juga menuju kursi sebelah kiri Yua untuk duduk di sana.
"Kau hebat Avlein!" sahut Yua. "Kau bisa menghindari lemparan Joba dengan kecepatan tenaga dalamnya!"
"Haha ... Kau pasti bercanda! Itu juga cuma kebetulan ...."
"Jelas kau sudah menyadari akan ada yang menargetkan mata kananmu!" timpal Joba. Membuat aku menatap bengis ke arahnya.
Aku hanya kesal dia selalu mempermainkan ku sesuka hatinya.
"Ayolah ... Kau sendiri kan, yang mau bukti secara nyata? Kau bahkan tak melarikan diri untuk berlindung dari pisau itu!" jelas Joba lagi.
Membuat aku sedikit berpikir, benar sih, aku akhirnya mendapatkan sedikit bukti, tapi ayolah itu saja masih belum cukup. Bisa saja benar, kejadian tadi hanyalah kebetulan atau bahkan bisa jadi juga masih ulahnya Joba.
"Coba kau serang aku lagi!" ucapku langsung mengambil posisi memperhatikan gerakannya.
Kemudian aku merasakan sesuatu, akan ada yang menyerangku dari arah Yua dan arah belakangku.
Bersamaan dengan itu pula Yua menggerakkan tangan kirinya hendak memukul pundak ku, membuat aku refleks menghindarinya dengan cara menarik paksa tubuhku ke atas untuk berdiri di sebelah kursi.
Saat itu juga aku melihat sebuah pisau sudah berada di genggaman tangannya.
"Kenapa harus menggunakan pisau?!" aku menggerutu kesal. Kembali mendaratkan tubuhku di kursi.
Dan mereka hanya tertawa menanggapi pertanyaanku barusan. Padahal aku yang terluka jika saja aku tidak berdiri.
"Tenang ... Kau ingat kan yang ku katakan, kau tak akan mati karena hal itu."
Aku teringat kembali, rasanya aku sudah lama tak mendapatkan luka pada kulitku. Jadi aku tidak tahu apa yang terjadi jika kulit ini tergores. Apa akan sama seperti Avlein?
"Oh, kau mau melukai dirimu rupanya?!" celetuk Joba. Lantas aku kembali menatap kesal ke arahnya.
Selalu saja dia membicarakan isi hatiku sesukanya. Hal itu juga membuat aku mengurungkan niatku tadi dan berpikir kembali. Bukankah ini mulai aneh? Bagaimana bisa aku punya firasat seperti itu? Bahkan ini tidak seperti diriku yang biasanya.
"Jadi kau pikir karena kejadian tadi, aku sudah mengeluarkan kekuatanku padamu?" sahut Joba menjawab pertanyaan yang hendak kupikirkan pula.
Lantas aku juga bergidik mendengar perkataannya itu, dan aku kali ini minta tolong padanya untuk mengasihani ku agar tidak menceritakan kejadian yang memalukan tersebut. Aku yakin sekali dia akan menjadikan itu sebagai hiburannya lagi.
Segera aku melirik ke depanku, karena pasti gadis itu juga sudah mulai curiga akibat perkataan Joba barusan.
"Dan kejadian apa itu Joba?"
Yap, dia akhirnya menanyakannya dan Joba akan dengan semangat memberitahukan pada semua orang beserta gelak tawa menyebalkan itu. Aku hanya bisa pasrah menunjukkan kekesalanku menunggu tanggapan darinya.
"Avlein bermimpi buruk, dan aku hanya cemas dia bahkan tak sadarkan diri cukup lama karena sudah beberapa kali ku bangunkan."
__ADS_1
Aku menghelakan napas yang cukup panjang. Oke kali ini aku sungguh berterimakasih padanya sudah menuruti keinginanku.
"Apa Avlein baik-baik saja?"
"Kau tak perlu khawatir, aku baik-baik saja."
Tapi aku kembali melanjutkan keraguanku. Kembali memikirkan semua perkataan Joba tersebut. Apakah benar ini semua karena diriku sendiri? Aku masih tidak mempercayai semua ini. Karena semua ini terjadi secara tiba-tiba dan saat Joba sudah bersamaku pula.
"Avlein ... Asal kau tahu, saat kau bimbang seperti itu, aura gelap yang bergelombang menyebar di seluruh tubuhmu." celetuk Yua memecah konsentrasiku.
Jadi aku sudah tahu sekarang, mengapa dia bisa menebak isi hatiku. Sepertinya karena aura yang dibicarakannya itu.
"Dan kau pasti juga tahu kan, mengapa aku masih bingung seperti ini. Karena aku ini berbeda jauh dari Avlein yang kau ceritakan. Bahkan saat di dunia luar pun, aku tak melihat satu pun makhluk seperti kaum Orgy!"
"Kau tidak melihat mereka karena kau bersamaku." balas Joba, "Jika kau ingin bukti lagi, silahkan kau keluar dari dunia ini untuk melihatnya sendiri."
Aku sangat tertarik mendengar penjelasannya itu, tapi tidak untuk saat ini, karena aku harus melakukan hal lain terlebih dulu, yakni melanjut kan buku Avlein.
"Maka dari itu, lebih baik selesaikan dulu apa yang ingin kau kerjakan."
------------------------------
Saat ini kami berempat berkumpul disalah satu ruangan istana—perpustakaan. Menatap dengan saksama buku tua Avlein yang sudah mengeluarkan kalimat baru. Di mana berisikan,
Temukan dia di Lionera.
"Dia, siapa? Dan berarti aku harus mengeluarkan gerbangnya dari kartu hijau itu?"
"Dan mengapa dia bisa berpindah seperti itu?"
"Aku tak tahu pasti mengenai hal tersebut, Contohnya saja dunia ini, terakhir kali kami tiba di sini sekitar 50 tahun yang lalu. Mungkin inilah yang namanya kehendak alam atau bahkan bisa saja kehendak yang mahakuasa."
"Oh lihat! Sesuatu kembali tertulis di lembaran itu!" celetuk Vlivy menunjuk buku tua Avlein. Dan benar yang dikatakannya, buku itu menimbulkan huruf-huruf baru untuk melanjutkan kalimat.
"Aku tahu kau berniat melarikan diri. Jika itu pilihanmu, maka kau akan menghadapi Erker." aku menerjemahkan tulisan tersebut.
Terlihat jelas bahwa kalimat itu sedang berbicara padaku.
"Apa Avlein berada pada buku ini?!" aku menyahut ke arah Joba.
Karena bagaimana bisa kalimat ini menegur diriku yang benar akan memutuskan untuk segera pergi dari Greyaq ini tanpa menyelesaikan perintahnya.
"Tidak. Dia bahkan tidak ada di negara ini!"
"Dan mengapa, sepertinya dia memperingati diriku?"
"Karena kau yang sudah memutuskan untuk pergi dari dunia ini, ketika kau sudah mengetahui kelanjutan cerita tersebut!" balasnya pergi berpindah duduk di sebelah kananku.
"Dan kau tahu, jika saja hanya aku yang membujuk mu, kau tetap tak akan mendengarkan ku karena kekesalan mu itu. Aku sudah melihat semuanya ...
Kita pergi dari dunia ini, tak lama setelah itu bertemu dengan Derk Erker, dan tentu dia akan menyerangmu dan diriku. Akhirnya bukan salah satu dari kita saja yang terluka, membuat takdir mu kembali berubah. Dan itu akan menjadi lebih buruk lagi."
__ADS_1
"Dan mengapa kau bisa menjelaskan sepanjang itu? Biasanya kau tidak akan mau menjelaskan selengkapnya tentang apa yang akan terjadi padaku! Apa karena untuk merubah keputusanku? Tentu itu tidak akan terjadi!"
"Aku melakukan semua itu karena seperti inilah tujuannya."
"Tapi aku yakin kau tak akan pergi menemui Erker!" timpal Yua membuat aku beralih menatap ke arahnya. Dan sesungguhnya benar yang dikatakan olehnya, karena aku ini lemah tak mungkin aku ingin menemui Erker.
"Dari apa yang Joba jelaskan, sepertinya kau memang butuh melakukan sesuatu untuk memancing kekuatanmu itu, makanya paduka Avlein dan Joba melakukan semua ini."
Ya, aku sempat berpikir, apa aku memang harus melakukan tugas yang diperintahnya untuk membuktikan sesuatu yang disembunyikan diriku? Tapi masih saja banyak hal yang membuat aku ragu dengan semua ini.
"Aku masih bingung ada apa sebenarnya semua ini? Kenapa Avlein tak menceritakan padaku secara langsung? Dan malah meninggalkan Joba bersamaku, untuk mencari takdirku? Ke mana dia pergi? Apa tujuan semua ini? Mengapa tidak dia saja yang melakukannya sendiri? Karena dia kan, lebih hebat dariku! Apa dia melarikan diri dan menyerahkan takdir kematian padaku? Dan aku yakin tidak akan ada yang menjawab semua pertanyaanku itu! Percuma saja rasanya aku menyatakan semua ini!"
Aku tersengal baru menyelesaikan perkataanku yang jelas panjang sekali. Hanya dalam satu tarikan napas, aku melontarkan semua yang sangat memenuhi pikiranku, yang jelas sudah tak tertahankan lagi.
"Maaf Avlein ... Buku itu kembali mengeluarkan tulisan!" celetuk Vlivy pelan, membuat dia menundukkan kepala takut aku akan memarahi nya karena sudah memotong disela pertanyaanku.
Segera aku melihat ke lembaran itu, kembali sebuah pernyataan dari Avlein tertulis di sana.
"Kita akan berjumpa ... Tapi ada saatnya ... Dan aku janji akan menjelaskan semua yang tak kau ketahui. Maka dari itu kau harus mengikuti jejak dariku." Aku terdiam setelah menerjemahkannya.
Kemudian Joba menyentuh pundakku seraya berkata, "Aku melakukan semua ini karena ini adalah tugasku, untuk memberikan arahan padamu, menyertaimu dan berusaha melindungi sejauh yang kubisa."
Lalu terlintas pula sesuatu di pikiranku, "Tunggu sebentar, semua ini semakin aneh. Sebenarnya berapa umur Avlein? Aku yakin kalian semua sedang mengelabuiku!"
Jelas sekali waktu itu Joba mengatakan kejadiannya di tahun 1845, dan aku juga yakin bahwasanya Avlein pada saat itu tidaklah berumur 45 tahun.
"Yang pasti dia sudah berumur lebih dari 100 tahun, haha ...." balas Yua yang tentunya tertawa itu dibuat-buat olehnya.
"Ya benar, seperti yang kau pikirkan, ini semua agar membawamu ke tempat ini. Dan kau juga kelak akan mengetahui semua ini, maka dari itu kau hanya memilih jalan yang sudah ditunjukkan ini padamu. Tentu kau juga bisa menolak semua ini. Aku pasti akan selalu mencoba melindungimu!" jelas Joba kembali membuat diriku terdiam.
Aku sudah berusaha mengikuti semua ini, tetapi entah mengapa sebagian besar perasaanku masih menolak semua kenyataan itu.
"Dan jika aku berhadapan dengan Voq, apa aku akan baik-baik saja? Bahkan aku tak bisa menebak mereka makhluk yang jahat atau sangat jahat!?" aku menyimpulkan.
"Karena Avlein mengatakan ini semua akan diselesaikan oleh dirimu sendiri, maka dari itu aku tak akan ikut campur dalam masalah ini. Kau tenang saja, kau tetap bisa menghadapi mereka semua. Kali ini kau bisa mengandalkan Bogi dan Bogu dalam percobaan pertama ini." jelas Joba.
"Tunggu! Aku membawa 2 tikus itu?"
"Oh haha ... tenang saja mereka bisa diandalkan kok!" balas Joba.
"Dan mungkin ini sedikit membantu, aku rasa mereka mengkhianatiku karena aku yang tak memenuhi permintaan mereka. Dan pada akhirnya memutuskan untuk keluar dari dunia ini." tambah Yua.
"Jika seperti itu, baiklah ... Aku akan pergi untuk mengurusnya." balasku tegas.
Sepertinya memang aku yang harus melawan keraguan dihatiku ini.
"Aku dan Vlivy akan menunggu kedatanganmu di sini, oke?" lanjut Joba membuat aku menatap ke arahnya dengan penuh pertanyaan.
Benarkah aku pergi sendirian? Bagaimana jika terjadi hal yang membahayakan diriku?
"Percayalah padaku Avlein ...."
__ADS_1
*