JOBA

JOBA
[09] Kenyataan yang Berlanjut


__ADS_3

Buku tua yang belum ku ketahui dari mana asalnya itu, kini akhirnya bisa ku pahami arti tulisannya. Walaupun sebenarnya belum mengetahui bahasa dunia apa itu sesungguhnya.


Buku yang juga ternyata adalah milik seseorang yang namanya sama denganku, mencoba memberitahukan kepada kami bagaimana dia bisa menemukan makna dari namanya sendiri dan bagaimana cara dia bisa bertemu dengan Joba.


Dan saat inilah kami masih menatap buku tua itu dengan saksama karena aku yakin sekali kami mempunyai pemikiran yang sama untuk saat ini.


"Ini pasti Diary dia!" sahut Vlivy saat aku menghentikan sejenak tulisan yang sedari tadi ku terjemahkan. Sementara aku hanya mengangguk pelan membalas sahutannya itu.


"Hmm... Dan aku tidak salah dengar kan, kalau Joba mengucapkan terimakasih? Berarti Joba bisa berbicara?" lanjutnya lagi kini menunjuk dagunya dengan jari telunjuk. Sementara kedua alisnya naik ke atas memperlihatkan bahwa dia sangat penasaran dengan hal itu.


Ketika aku hendak menjelaskan kepadanya, tiba-tiba saja Joba melesat melayang ke hadapan kami berdua.


"Ya benar! Dan aku juga bisa melayang!"


"Oh!! Demi apapun itu, hari ini bukan mimpi kan?!" teriak Vlivy kini matanya membulat dan tangannya membungkam mulut sendiri dengan kedua tangan.


Reaksinya hampir sama denganku saat pertama kali mengetahui Joba yang sebenarnya. Bedanya cuma aku sempat pingsan dan malah tiduran.


"Jadi perkenalkan, dia ini Joba yang selalu membuatku kesal dan harus ku jaga dikemudian hari," jelasku sembari mengayunkan tanganku ke arah Joba.


"Oh salam kenal Joba!" ucapnya kini dengan suara yang lebih ceria.


"Iya salam kenal juga Vlivy. Aku salut denganmu, karena kamu tidak terkejut melihatku. Berbeda dengan Avlein, dia malah sempat tidur–


"Hei Joba lebih baik kau diam!" potongku hendak mengambilnya tetapi dia menghindari tangkapan tanganku itu. Aku lupa kalau dia pasti sudah mengetahuinya. ck..


"Hehe benarkah? Tapi tentu saja seperti itu, tadi rasanya aku juga mau pingsan karena degupan jantungku secepat laju kereta. Aku benar-benar terkejut melihat benda mati bisa melayang sendiri."


Dia menghentikan penjelasannya sejenak kemudian dia bertanya kembali.


"Tapi kenapa tidak Joba saja yang menceritakan?"


Ya aku juga sudah mengira, dia pasti akan mempertanyakan hal itu. Sama seperti diriku yang ingin tahu kebenaran Joba sejak bertemu dengannya.


"Percuma, dia tidak akan menjelaskan pada kita semuanya. Itulah yang membuat aku kesal terhadapnya," jelasku mulai membuka halaman berikutnya.

__ADS_1


"Ya benar yang dikatakan Avlein, maka dari itu aku sudah membawanya ke suatu tempat untuk mempelajari bahasa buku ini."


"Dibawa ke mana?" sambung Vlivy yang malah ingin membahas lebih lanjut permasalahan yang lain.


"Nanti saja kita bahas hal itu, lebih baik kembali melanjutkan mengartikan buku ini!" sambarku membuat dia menganggukkan kepalanya setuju dengan seruanku barusan. Aku pun melanjutkan kembali.


Pada saat ini aku berusia 45 tahun. Sementara Joba, aku benar-benar takjub padanya. Bayangkanlah bagaimana bisa dia sudah berumur sekitaran 900 tahunan. Aku sungguh tak menyangka dia bisa hidup lagi ketika aku berhasil memperbaikinya. 900 tahun lalu, pasti sangat berbeda dengan barang-barang zaman sekarang ini.


"Tunggu Joba, kau pasti bisa beritahu pada kami kan, dia menulis ini pada tahun berapa?" ucapku menghentikan cerita untuk sementara.


"Hmm... Kalau tidak salah, itu sekitar tahun 1845-an."


"Oh my God. .. Itu benar sungguh luar biasa! Berarti sekarang kamu berumur...." Vlivy menghentikan ucapannya karena dia mulai menghitung tahun yang ingin diucapkannya tadi. Sementara aku mengambil kesempatan itu untuk kembali melanjutkan mengartikan buku tersebut.


Awalnya aku menanyakan hal itu, dia tidak bisa memberitahukannya. Karena dia mengatakan, dia sudah mati dalam waktu yang cukup lama.


Tapi dia bisa melihat kembali dan menghitung semua itu. Dan akhirnya dia mengetahui bahwa dia sudah mati selama kurang lebih 150 tahunan. Satu hal baru yang ku jumpai, dia pasti juga bisa pergi ke masa lalu.


Tentulah itu semakin membuat aku ingin mengatuhi lebih banyak lagi tentang dirinya, siapa dan apa sebenarnya dia. Dari mana asalnya, kenapa dia bisa berbicara, kenapa dia bisa mati dan hei ayolah 900 tahun yang lalu, kau pasti juga ingin tahu ada apa saja di masa itu.


Tapi aku tidak bisa menanyakan semua hal itu, karena Joba mengatakan aku harus meninggalkan tempat ini. Ada yang menginginkan nyawaku dengan cara paksa. Dan tentu itu menambahkan satu fakta lagi, bahwa Joba juga bisa mengetahui masa yang akan datang dan pasti aku tidak akan menolak perkataannya.


Dan ternyata aku kembali menemukan lembaran kosong. Rasanya benar ingin merobek saja lembaran-lembaran yang sudah tua ini. Bahkan lebih baik membuangnya atau membakarnya.


"Kali ini tolong jelaskan padaku sejelas-jelasnya Joba!" ucapku dengan nada yang cukup tinggi sembari menutup paksa buku tua itu. Segera melempar pandangan ke arah Joba tetapi dia tetap tidak membalas perintahku barusan. Dia hanya terdiam melayang di udara.


"Apa ini bersambung?!" ucapku lagi kini sedikit menenangkan emosiku. Dan juga menyimpulkan, mungkin aku harus memikirkan itu terlebih dahulu, baru buku tua ini mengeluarkan kelanjutannya.


"Hm... ya seperti itulah. Coba saja kau buka kembali halaman terakhir yang kau lihat tadi."


Segera aku mengikuti perkataannya. Membuka kembali ke lembaran kosong yang terakhir kali ku lihat. Dan seketika huruf bahasa itu kembali muncul satu persatu, kemudian membentuk sebuah kata.


"Hartford...? Bukankah ini di Connecticut. Apa ini artinya aku harus pergi ke sana untuk melanjutkan tulisan buku ini?"


"Yup... seperti itulah...."

__ADS_1


"Hei ayolah Joba, apa kau tak bisa langsung saja mengantarkan aku ke sana? Seperti yang kau lakukan sebelumnya, pergi ke dunia itu."


"Untuk saat ini tidak Avlein."


Aku terdiam mendengar jawabannya yang cepat itu. Aku hanya berpikir sejenak dengan apa yang baru saja dikatakannya. Mungkin untuk saat ini aku memang harus mengikuti alurnya terlebih dahulu.


Dan setelah itu aku akan mendapatkan yang ku inginkan. Bukan benda atau apa itu, tetapi aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi kepadaku. Apa tujuan semua ini, yang sudah menggagalkan tujuan hidupku menuju ketentraman dan kedamaian. Dan mengapa dari semua manusia yang ada, itu harus aku orangnya?


"Avlein?" celetuk Vlivy yang berada di hadapanku menyadarkan aku dari lamunan.


"Sepertinya kau harus mempersiapkan barang-barangmu Avlein." sambung Joba mulai bergerak melayangkan dirinya lebih tinggi menuju kamarku. Meninggalkan kami berdua di ruangan ini.


"Jadi Avlein akan pergi dan aku tinggal sendiri di sini?"


"Kau pikir, kau akan selalu ikut bersamaku?!" balasku kembali dengan nada tinggi sedikit membentaknya, membuat dia terdiam dan hanya menundukkan kepalanya.


"Aakh! Biarkan aku berpikir sejenak!" lanjutku lagi menarik paksa tubuhku ke atas karena kesal dan mulai pergi menuju ke kamarku.


Aku memang harus memikirkan ini kembali.


*


note author:


Hallo teman-teman...


Di episode yang ini aku minta maaf kalau ada yang merasa narasinya kurang panjang ya.. karena aku kebingungan buat narasi di dialog yang seperti ini.. 😣jadi aku merasa di eps ini banyak dialognya.


Dan..


Terimakasih yang sudah bersedia membaca cerita yang udah kuusahakan yang terbaik ini.


aku selalu membutuhkan kritik dan saran dalam bentuk apa pun itu untuk kemajuanku dalam penulisan cerita selanjutnya.


jadi jangan sungkan ya keluarin semua unek-unek teman semua hehe..

__ADS_1


terimakasih..


salam hangat, Hka


__ADS_2