JOBA

JOBA
[13] Ramuan


__ADS_3

Rumah itu bernama Dine.


Sama halnya dengan yang dikatakan oleh Evel, rumah tersebut menjual barang-barang antik seperti yang tampak saat ini, di sekeliling kita hanyalah barang-barang yang sangat unik. Bahkan ada beberapa yang tidak pernah kulihat sebelumnya.


Seperti sebuah patung gajah yang berada di sebelah pintu masuk–miniaturnya.


Gajah itu tidak memiliki belalai yang begitu panjang. Serupa pula gadingnya yang hanya berjarak lima centimeter dari mulutnya. Dengan ke empat kaki yang berbentuk kaki kuda, dan dua tanduk banteng di pelipisnya.


Bahkan warnanya bukan lagi abu-abu gelap pada umumnya, melainkan berwarna kuning bunga matahari. Tampak seperti, gajah tersebut benar adanya di dunia ini.


Dengan rumah yang hanya berukuran tiga kali empat meter, aku yakin sekali Joba tidak akan bisa berdiri tegak lurus dalam ruangan ini. Karena aku sendiri saja bisa menyentuh langit-langitnya– yang hanya berjarak sekitar 30 centimeter di atas kepalaku.


Begitu kami memasuki ruangan, saat itu pula terdengar suara ribut dari arah meja kasir yang langsung kita jumpai di hadapan kita, ketika membuka pintu rumah ini. Kami pun segera mendekati sumber suara.


Terdengar sangat jelas suara ribut tadi dari arah pintu kayu yang melekat pada lantai. Berukuran persegi dengan sisinya sepanjang 40 centimeter.


Kemudian pintu tersebut terbuka, tampak seorang kakek dengan rambut putih panjang yang dikuncir satu belakang dan mengenakan kaca mata bulat.


"Oh! Akhirnya kalian datang juga ...." ucapnya tersenyum lebar kepada kami. Berusaha menarik dirinya ke atas, menutup kembali pintu kayu tersebut dan menaiki tangga yang juga merupakan bagian dari meja kasir–untuk berdiri di atas meja.


Ternyata kakek itu memiliki tubuh yang kecil berbeda dengan Evelion yang sangat tinggi, karena kakek itu hanya setinggi sekitaran empat puluh lima centimeter.


Dengan menggunakan Pea Coat hijau tua dan baju dalam daster warna cokelat muda–sedikit menyeret lantai saat dia berjalan. Dia terlihat seperti goblin yang ada dalam cerita dongeng.


Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari kantong mantelnya, sebuah kotak berwarna emas kemerahan.


Meletakkannya di bawah–meja kasir itu, kemudian kotak tersebut terbuka sendiri dan perlahan berubah bentuk menjadi sebuah kursi kecil untuk diduduki oleh dirinya sendiri.


"Tunggu apa lagi? Kalian silahkan duduk juga!" ucapnya membuat alisku terangkat karena berpikir kami akan duduk di mana, karena tak ada satu pun kursi yang aku jumpai di dalam ruangan ini.


Tetapi kemudian ada suara ribut dari bawah lantai. Belum sempat aku menoleh untuk melihat, tubuhku langsung ditarik ke bawah dan terduduk di atas kursi kayu.


Ya! Kursi itulah yang menarik tubuhku barusan. Lebih tepatnya kumpulan akar pohon yang menarik, lalu menjalar berubah menjadi bagian tangan kursinya.


"Lho, kalian pasti mengira ini semua hanyalah sihir, tetapi tidak, inilah kekuatan ramuan kaum Lionera."


Kembali suara ribut berasal dari lantai. Kali ini aku bisa melihatnya secara langsung. Lantai tersebut seketika berwarna hitam, kemudian muncul akar-akar pohon tadi, menjalar membentuk sebuah meja bundar di depan kami.


Tidak lupa akar tersebut juga membentuk dua gelas yang berukuran seperti gelas seloki.


"Dan sepertinya sekarang Avlein datang tidak hanya berdua dengan Joba," lanjutnya lagi kini tatapannya berhenti ke arah Vlivy.

__ADS_1


"Ohya, perkenalkan nama saya Vlivy," balas Vlivy sedikit membungkukkan tubuhnya.


*Dan maaf, aku tidak mengenal siapa pun, padahal mereka mengetahui tentang diriku," sambungku.


Dia hanya tertawa mendengar pernyataanku barusan. Begitu juga dengan Joba yang kemudian melayangkan dirinya di hadapan kami.


"Oh Joba ... Sudah lama kita tidak berjumpa kawan!"


"Haha, seratus tahun tidaklah waktu yang lama Berlig ...."


"Jangan seperti itu, lihat reaksi mereka berdua yang mendengarnya."


Seperti yang dikatakan kakek yang bernama Berlig itu, aku sangat kesal mendengar pembicaraan tersebut. Ayolah, dari mana sejarahnya satu abad itu adalah waktu yang singkat.


"Evel menyampaikan salam rindunya padamu."


"Ah, biarkan saja anak itu. Dia tidak akan pernah mengakui keberadaanku." balasnya sedikit murung. Kemudian dia kembali melihat ke arah kami, menghilangkan perasaan murungnya.


"Jadi perkenalkan namaku Berlig Vetalion. Seperti Joba, kalian juga bisa memanggil diriku Berlig, atau ... Kakek Berlig boleh juga!"


Perkataannya berhenti dan menatap kedua mataku dengan lekat. Lalu ia melanjutkan perkataannya, "Sepertinya Avlein yang satu ini berbeda dengan yang sebelumnya ya ... Hmm."


"Ayolah Joba ... Aku yakin dia ingin menanyakan sesuatu."


Mendengar perkataannya itu, benar, ada beberapa yang ingin kupertanyakan kepadanya. Seperti mengapa rumah ini memperlihatkan cahaya dan tidak ada gangguan sedikit pun?


Apa benar semua barang yang ada di sini berasal dari tempat yang belum ku ketahui? Dan, apa itu kaum Lionera, di mana keberadaan mereka?


Tetapi benar juga yang dikatakan oleh Joba, jelas tidak ada waktu untuk menanyakan itu semua. Karena aku yang tentu sangat penasaran dengan tujuan utamaku.


"Kami sepertinya memang harus bergegas ke tujuan kami!" balasku kemudian.


Membuat ekspresi kakek itu menunjukkan rasa kekecewaan. Aku yakin dia mengharapkan hal yang lain dari mulutku.


Setelah aku berkata seperti itu, tadinya yang berbentu jam dinding berada di tengah lemari belakang kasir, kembali berubah menjadi kumpulan akar yang lebih kecil.


Pergi melepaskan diri memperlihatkan sebuah pintu yang sedari awal merupakan tujuan kami.


Akar-akar tersebut bergerak menjalar mengangkat pintu itu, meletakkannya di atas meja kasir. Dan ya, benar ukuran pintu itu hanyalah setinggi 15 centimeter.


"Baiklah kalau memang itu kehendak Avlein, saya tidak bisa apa-apa," ucapnya sembari berjalan dan berdiri di samping pintu.

__ADS_1


"Kalian bisa menuangkan ramuan yang kalian bawa, ke dalam seloki yang tersedia. Dan ya setelah itu segera meminumnya. Juga lebih baik kalian tetap duduk di sana."


Seperti perintahnya, kami pun menuangkan ramuan hijau tersebut ke dalam seloki yang berdiam diri di atas meja, beberapa saat setelah dituangkan ....


Puff!


Ramuan tersebut sedikit mengeluarkan letupan, lalu menimbulkan asap hitam dan kemudian berubah warna menjadi air bening.


Aroma Geranium juga mulai menyebar di seluruh ruangan. Harum bunga mawar, buah cokelat, pala, lemon dan jahe, berlari bersama menjadi satu di ruangan ini. Aroma yang sungguh menyegarkan indera penciuman kita.


Kami pun meminum ramuan tersebut. Rasanya tidak bisa diperjelas dengan kalimat. Manis, asam dan sedikit pahit menjadi satu, tetapi sungguh menyegarkan ketika meminumnya.


Seperti, ketika kita sedang berdahaga, ramuan yang hanya sedikit ini bisa memuaskan kehausan kita akan air minum.


Beberapa saat setelah meminum ramuan tersebut, perlahan dibagian ujung kulit tanganku, terasa seperti ditarik ke dalam oleh sesuatu.


Dan kemudian terasa jelas otot dan tulangku juga mulai bergerak, tetapi tidak terasa sakit sedikitpun.


Aku pun tak dapat berkutik ketika mendapati jemariku secara perlahan berubah menjadi kecil. Lalu bergerak kebagian tangan dan menyusul dengan bagian tubuh lainnya.


Tak lama setelah itu, semua di sekelilingku terlihat sangat besar bagaikan berada di tengah kota dengan bangun yang menjulang sangat tinggi ke atas. Bahkan sepertinya aku juga harus mendongak untuk berbicara pada kakek Berlig.


Lagi dan lagi, tangan kursi yang menjadi alas tempatku berdiri, berubah menjadi akar pohon– berukuran lebih kecil, untuk mengangkat tubuh kami mengantar ke atas meja kasir.


Dan seperti perkiraanku tadi, saat ini kakek itu terlihat seperti monster dari bawah sini–yang siap menyantap kami dalam satu genggamannya.


"Haha, Avlein ... Dia bukanlah monster seperti yang kau bayangkan. Bahkan Berlig tidak bisa lagi menggunakan kekuatannya karena umurnya itu ...."


Sontak aku langsung menutup kedua telingaku karena suara Joba yang sungguh luar biasa kuat dari bawah sini. Aku hanya berharap pendengaran ku masih baik-baik sana.


"Oh, maafkan aku. Tetapi tenang, kau tidak akan terluka ...."


Kini ruaangan pun di penuhi dengan gema gelak tawa mereka. Kakek itu pun juga ikut menertawai aku yang sedang tersiksa ini.


Ayolah, ini bukanlah sebuah candaan, aku juga yakin gadis itu juga pasti merasakan hal yang sama.


Tetapi aku semakin kesal mendapati dia yang ternyata juga ikut tertawa di sebelahku, sembari menutupi kedua telinganya.


Aku hanya bisa mengumpat kesal dalam hati.


*

__ADS_1


__ADS_2