
Aku yang masih memikirkan berulang kali permintaan gadis itu serta apa yang di katakan oleh Joba, akhirnya menyimpulkan untuk benar-benar memohon kepadanya. Kepalaku sedikit berdenyut-denyut ketika mengingat kembali fakta bahwa aku memang harus bersama gadis itu.
"Joba, tolonglah aku! Terserah kau tidak menjelaskan apa pun padaku, tapi tolong, aku tidak mau tertarik sama perempuan!" Mulaiku membuka suasana ketika aku baru saja mendaratkan tubuhku pada sebuah kursi di pojokan kafe ini.
"Tidak tertarik sama perempuan? Tetapi bukannya kau juga tidak tertarik sesama laki-laki?" Balas Joba dengan polosnya seraya mengeluarkan dirinya sendiri dari dalam mantelku dan melayangkan dirinya di depan dadaku. Membuat aku sedikit menundukkan kepala menatap ke arahnya.
"Bukan! Bukan begitu maksudku. Saat ini aku hanya tidak ingin ada yang mengganggu kehidupanku." Jelasku lagi sedikit merasakan geram pada Joba, sekiranya dia juga mengetahui keinginanku yang sebenarnya.
"Tapi kau akan lebih sibuk lagi besok, besok dan seterusnya Avlein!"
"Sibuk? Sibuk apa Joba? Oke aku tahu kau sudah mengetahui hari esok, dan aku juga tahu kau tidak akan mau memberitahukan padaku apa yang akan kutanyakan. Tapi tolonglah satu ini saja, aku mohon padamu jangan perempuan."
"Apa kurangnya dia Avlein? Dia cantik, rambutnya yang kuning itu sangat serasi dengan bola mata hijaunya dan kulit yang putih kemerahan. Dan suaranya yang imut, sangat cocok terlontar dari bibir mungilnya. Ya walau tadi kita sempat mendengar suara parau yang mengerikan itu."
"Dengar ya Joba, ini bukan masalah itu. Kalau saja aku sampai tertarik padanya, dan kau tahu kami hanya berdua di dalam rumah, aku takut akan terjadi hal yang terlewat dari batas normal. Yang paling kecil adalah ciuman. Aku tidak akan pernah melakukan itu padanya, untuk saat ini. Ya tidak akan."
"Oh Avlein, kau meragukan perkataanmu. Jujur saja kau menginginkan bibir mungil itu."
"Hei aku sedang serius Joba!"
"Aku tidak bercanda Avlein. Tapi tenang, kau itu adalah pria sejati, kau tidak akan melakukan hal di luar batas tanpa persetujuan wanita itu."
Aku menghelakan napas panjang untuk meredakan emosiku yang tadi sekilas terlontar. Mulai memijit pelan dahiku dengan kedua tangan. Aku hanya tidak dapat menerima. Rasanya kehidupan damai ini baru saja di mulai. Dan Joba muncul, aku berfirasat kedamaian ini akan menghilang. Ya sepertinya benar itu semua akan menghilang.
"Hei Avlein ... Percayalah kau tidak akan kesulitan. Kau tidak lupa kan, bahwa aku ini adalah petunjuk arahmu. Aku bisa menolongmu, menjagamu, dan melindungimu. Aku janji itu. Tapi itu semua selama aku tetap bersamu." Jelasnya lagi membuat aku sedikit lega.
Mungkin ini semua memang takdirku. Aku memang harus bisa menerimanya dan menempuh takdir itu menuju sebuah kebahagian. Dan pasti semua itu ada rintangannya, inilah salah satunya. Aku harus kuat menjalaninya, karena ini baru saja dimulai.
Dengan anggukan kepala yang sangat yakin aku mengambil secangkir kopi yang baru setengah ku minum. Sementara Joba yang sudah mengetahui rencanaku untuk bergegas pulang, segera kembali masuk ke dalam mantelku. Menenggak kopi susu itu hingga kandas, aku pun beranjak dan pergi menuju ke rumahku.
Setibanya di rumah. Dia terlalu semangat menyambutku pergi berlari kecil merebut beberapa kotak makanan yang ku bawa. Segera aku juga pergi duduk di hadapannya.
"Apa yang bisa kau lakukan untukku?" mulaiku sembari membuka pelan mantelku.
"Aku akan melayani Anda Tuan ...." putusnya kini tangannya sedikit mengepal. Sepertinya dia sadar telah mengucapkan kalimat yang salah. "Aku akan membersihkan seluruh rumah Anda dan aku juga bisa memasak!" Lanjutnya melempar pandangan dari mataku. Sepertinya benar dia sadar diri telah mengucapkan kesalahan.
"Baguslah! Aku tidak perlu lagi keluar untuk mencari makan."
"Apa Anda tidak pernah memasak Tuan?"
"Kau tak usah banyak bertanya! Dan kau cukup memanggilku Avlein," balasku sedikit meninggikan suaraku. Membuat dia hanya menganggukkan kepalanya. Lantas aku segera menyampaikan apa yang seharusnya kulakukan padanya.
"Besok kita akan pergi ke rumahmu."
"Kenapa pergi ke rumahku? Aku tidak mau! Nanti ada penjahat itu."
"Kau tidak mengkhawatirkan Ayahmu? Dan kita juga harus mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi."
Melihat anggukan kepalanya itu—tanda menyetujui perkataanku, aku pun bangkit dari dudukku dan memberikan dia beberapa lembar uang. Memerintahnya untuk membeli bahan-bahan makanan dan meninggalkannya pergi menuju kamarku.
Setibanya di kamar, Joba langsung melepaskan dirinya dari leherku tanpa seruan. Sementara aku pergi melepaskan seluruh pakaianku dan menggantinya dengan baju kaos putih dan boxer hitam. Setelah itu pergi merebahkan diri ke atas tempat tidur.
"Joba, kenapa kau datang padaku?" Mulaiku melihat Joba yang melayang ke atas pandanganku. "Aah ... apa kali ini aku tidak akan mengerti lagi dengan jawabanmu? Maka dari itu kau hanya diam saja?" Pandanganku mengikuti gerakan Joba dan talinya yang menjuntai di udara itu.
"Aku datang kepadamu karena kau adalah Avlein."
"Tuh kan, kenapa kau tetap menjawabku kalau itu juga tidak membantu menjawab dari apa yang ku pertanyaankan." Balasku sedikit kecewa pergi menenggelamkan wajah ke dalam bantal.
"Hei ayolah Avlein, maafkan aku hanya itu yang bisa kusampaikan untukmu saat ini."
__ADS_1
"Baiklah kau tahu aku punya banyak pertanyaan, mungkin kalau aku terus mengikuti alur ini kelak kau akan bisa menjelaskannya padaku."
"Bogii!! ....
Aku tersentak mendengar teriakan kecil itu, langsung menarik kuat kepalaku menjauh dari bantal. Memutar kedua bola mataku dan teringat akan dua ekor tikus yang baru saja kudengarkan perbincangan mereka pagi ini.
Aku pun bangkit dari ranjang dan segera melihat ke kolong tempat tidur. Kemudian mendapati seekor tikus yang tampak sedang sibuk mencari temannya.
"Aaa! Jangan bunuh aku!" Teriaknya mulai panik dan berlari-lari mencari suatu benda untuk menyembunyikan diri.
"Hei ayolah, ini kamarku. Kau tidak akan bisa bersembunyi dari wilayahku," ucapku sedikit terkekeh pergi menelusuri badanku untuk menggapai tempat tikus itu bersembunyi—dibalik kotak. Senang rasanya aku bisa mengerti bahasa mereka.
Mulai meraba-raba akhirnya aku berhasil menggenggam tubuh yang sedikit berlemak itu.
"Hei tenanglah, aku tidak akan membunuhmu!" seruku lagi tersenyum kepadanya. Untung saja dia tidak menunjukkan pemberontakan padaku—seperti dia juga mengerti bahasaku.
Aku pun meletakkannya di bawah. Dan aku makin bersemangat ketika mendapati dia tidak melarikan diri.
"Apa kau lapar?" Dia menggelengkan kepalanya. Oh demi kedamaianku, rasanya aku ingin memeluknya detik ini juga. Ternyata dia memang mengerti bahasaku. Tapi aku mengurungkan niatku agar tidak mengejutkannya.
Mendadak satu ekor lagi baru saja muncul dari bawah kolong pergi menggigit jari telunjukku. Bukan karena sakitnya melainkan karena terkejut aku pun langsung refleks mengisap jemariku yang sudah mengeluarkan darah.
"Jangan lukai Adikku!" serunya mengambil ancang-ancang tangan membentang di depan tikus yang sedikit berisi itu—melindunginya.
"Bogi, dia tidak melukaiku. Tetapi kamu yang melukainya."
"Biar saja! Manusia berhak mendapatkan itu! Kau lupa kalau mereka semua itu kejam? Ayo lebih baik kita pergi Bogu!" Jelasnya mulai melangkah memasuki kolong tempat tidur.
Tetapi tikus yang dilindunginya tadi tidak mendengarkan ajakan itu. Dia hanya menatap ke arahku dan lukaku secara bergantian. Dan bahkan mulai melangkahkan kakinya mendekatiku—kemudian naik ke atas pahaku.
"Apa masih sakit?"
"Tidak masalah. Aku akan mengobati ini." jelasku menunjukkan luka gigitan itu kepadanya. Dan aku mulai membuka lemari di sebelahku yang masih bisa ku gapai—mencari obat luka.
Setelah aku mendapati obat merah dan satu gulung perban, aku pun segera mengobati lukaku. Dan sungguh ini tidak tertahankan lagi aku benar ingin mengelusnya. Karena baru saja dia ikut menggulungkan perban pada lukaku.
"Hei, bolehkan aku mengelusmu?" Dia menganggukkan kepalanya membalas pertanyaanku. Dengan begitu memberikan lampu hijau kepadaku. Akhirnya dengan puas aku mengelus, meremas pelan, dan menggendong tubuhnya. Aku juga bingung kenapa aku bisa sebahagia ini.
"Bogu! Apa yang kau lakukan? Kau harus melarikan diri!" Tikus yang satu lagi masih memerintah dari bawah kolong.
"Tidak, kamu jahat padanya!"
"Baiklah aku akan meminta maaf padanya, apa setelah itu kau mau ikut denganku?"
Tikus itu hanya menganggukkan kepalanya. Melihat tanggapan itu, tikus yang bersembunyi tadi akhirnya keluar dan pergi ke hadapanku. Masih ragu-ragu mau mengucapkan apa. Dengan terbata-bata dia mulai pembicaraannya.
"Aku minta maaf dengan apa yang telah kuperbuat!" ucapnya malu-malu.
"Tidak masalah. Percayalah kalian tidak perlu takut padaku. Aku tidak akan membunuh kalian."
"Omongan manusia tidak bisa dipercaya."
"Apa yang buat kalian percaya?"
"Beri kami makan!"
Aku pun menyetujui permintaannya. Segera bangkit dari dudukku dan pergi menuju dapur—mengambil beberapa makanan ringan. Setelah itu pergi memberikan kepada kedua tikus itu. Yang langsung melahap semua makanan dengan buas.
Sepertinya mereka selalu kelaparan.
__ADS_1
Setelah makanan itu tak bersisa sedikitpun, mereka sangat berterimakasih kepadaku dan kini satu tikus mulai mendekatiku lagi—mengulurkan tangan kanannya.
"Namaku Bogi. Dan yang si gendut itu Bogu adikku." Jelasnya saat aku membalas uluran tangannya dengan jari telunjuk kananku.
"Kalian bisa memanggilku Avlein."
"Tapi kenapa kau bisa mengerti bahasa kami, dan kami juga begitu?"
"Itu karena ada aku!" Sambar Joba menghentikan ku yang hendak ingin menjelaskan. Dia kemudian melayang di depan kami bertiga.
"Wow, sekarang ada benda yang melayang!" sahut Bogu dia pergi memainkan rantai Joba yang tergurai menyentuh lantai.
"Kalian tak perlu banyak tanya masalah yang ini, karena aku juga belum mengetahui jawabannya. Yang Jelas dia bernama Joba." Sambungku yang membuat mereka serentak menganggukkan kepala mereka. "Jadi kalian tinggal di mana?"
Kembali mereka serentak mengarahkan tangannya ke bawah kolong tempat tidurku. Bukankah itu hal yang menggemaskan.
"Hei, apakah kalian mau membersihkan badan dengan mandi? Kalian nantinya boleh tidur bersamaku di atas tempat tidur."
Lagi-Lagi mereka mengangguk menyetujui perkataanku. Segera aku mengulurkan tanganku di hadapan mereka—yang langsung naik ke atas telapak tanganku. Aku pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
–
"Maaf!"
Teriak Vlivy ketika aku baru saja membuka pintu kamar mandi mengerjap pelan melihat dia yang kini sudah membelakangiku.
"Aku sudah membeli bahan makanan. Aku mencari Tuan dimana-mana, ternyata Tuan berada di kamar mandi. Maafkan aku!" Lanjutnya dengan suara yang sepertinya sedang ditutupi dengan tangannya.
Kelihatannya dia malu dengan apa yang baru saja dia lihat. Karena kini dia sedikit menundukkan kepalanya sementara kedua tangannya ditekuk ke atas.
"Ooh kalau begitu kau letakkan saja di dapur. Lalu kau harus sediakan makanku untuk besok pagi! Dan kamarmu yang ini," ucapku sembari mengetuk pintu yang berada tepat di depan kamarku. Semoga saja dia mengerti apa yang ku maksudkan.
Dan segera aku pergi masuk ke dalam kamarku, dari pada dia bertingkah lebih konyol lagi dari itu. Seperti ini pertama kalinya dia melihat pria bertelanjang dada.
"Joba, kenapa kau tidak ikut bersamaku? Jadi aku tak perlu melihat tingkah konyolnya itu." Sahutku yang baru saja meletakkan Bogi dan Bogu di atas meja dan kemudian pergi duduk ke sisi tempat tidur untuk membersihkan tubuhku yang masih melekat bintik-bintik air.
"Kau sendiri yang kelewat bahagia dan lupa padaku, meninggalkanku sendirian di sini!" Balas Joba dan itu juga membuat aku langsung melihat ke arahnya dengan mulut yang sudah ternganga lebar.
Seriously?!! ujarku dalam hati yang merasa sepertinya Joba sedang merajuk dengan apa yang baru saja terjadi.
"Dan benar itu pertama kalinya Vlivy melihat tubuh telanjang dada pria ditambah dia sudah mulai menyukaimu!"
Mataku sedikit berputar mencerna perkataannya barusan. Sepertinya ada sesuatu yang salah kudengarkan. Tetapi tidak memikirkan itu terlalu lama, aku pun bangkit dan bergerak menuju lemari mengambil pakaianku.
"Kau tak salah dengar Avlein, dia mulai menyukaimu! Dan ya, aku sangat suka melihat eksperimu itu!" lanjutnya kini dia mulai tergelak dengan apa yang baru saja dia perjelas dari kesalah dengaranku tadi. Sedangkan aku hanya bisa berdecak kesal mungkin ini bisa menghilangkan rajukannya. Dan melihat aku yang seperti itu tawanya pun semakin menjadi-jadi.
*
note author:
Hallo teman-teman... terimakasih yang sudah bersedia membaca cerita yang udah ku usahakan yang terbaik ini.
aku selalu membutuhkan kritik dan saran dalam bentuk apa pun itu untuk kemajuanku dalam penulisan cerita selanjutnya.
jadi jangan sungkan ya keluarin semua unek-unek teman2 hehe...
Terimakasih..
salam hangat, Hka
__ADS_1