
"Ah iya... ini saya...."
Seorang pria berparaskan wajah Arabian, tetapi dengan kulit pucat berbintik kemerahan. Meng-hampiri kami dan segera duduk di sebelahku.
Dengan pakaiannya yang lusuh dan berambut gimbal sebatas pundak, memperlihatkan dia yang
sepertinya jarang membersihkan diri sendiri. Serta Merta tanpa menggunakan alas di kakinya, me-lengkapi dia menjadi seorang gelandangan di kota ini Atau bahkan mungkin dianggap sebagai orang gila.
Aku hanya terpaku menatapnya yang unjuk gigi pula di sampingku. Tersenyum lebar ke arahku.
"Wah... Lah batua mah cahayo yang den caliak tadi mah! Rajo Avlein lai pai jo Rajo Joba ndak?" ucapnya sembari menepuk kuat punggungku.
(wah... betul ternyata cahaya yang saya lihat tadi! Raja Avlein pergi bersama Raja Joba kan?)
Aku yang masih bergeming tak tahu harus mengatakan apa, bukan masalah aku tak mengerti dengan apa yang dikatakan olehnya, melainkan akibat wangi yang kini memenuhi ruangan.
Bunga Wisteria.
Menyebabkan persaan tenang pula di sekitar kita. Jelas sekali aroma ini berasal dari tubuhnya. Tak ku sangka dia yang sekumal itu bisa sewangi ini.
"Indak ngarati do Aden ngecek apo? Eee... Baa ko yo? Aden indak ligaik pulo mah bahaso nan batua" kini dia memegang dagu berpikir apa yang harus dilakukannya.
(gak ngerti saya berkata apa? eee... bagaimana ini ya? saya tidak pandai pula berbahasa yang benar)
"ah tidak-tidak... aku ngerti kok apa yang kau katakan. Ini Joba bersamaku. Tapi kau ngerti kan, apa yang aku ucapkan?" balasku sembari menge-luarkan Joba yang ku kalungkan dalam mantel.
"Urang ngecek lai mah ambo ngarati. Tapi disuruah bahaso nan batua tu, indak amuah den do... nyarah...." balasnya menggeleng kepala seraya mengangkat tangannya.
(orang ngomong, iya saya mengerti. tapi disuruh berbahasa benar itu, gak mau saya... nyerah....)
"Jadi... apa kita langsung saja pergi ke tujuan? Dan dengan siapa aku berbicara ini?" balasku lagi mulai mengemaskan barang-barang di atas meja.
"Awak Pitui mah... santai se lah lu di siko Uda! Eh maksuik ambo Rajo Avlein yo... Wak nio batanyo-tanyo lu baa kaba Rajo Jo Rajo Joba. Tu sia pulo batino di sabalah Rajo ko ha?"
(saya Pitui... santai saja dulu di sini mas. eh maksud saya raja Avlein... saya mau bertanya-tanya dulu bagaimana kabar raja dan raja Joba. terus Siapa pula perempuan di sebelah raja ini?)
"nggak masalah kau memanggilku Uda saja. Dan apa salahnya kita bisa berbincang sambil menuju ke tempat itu?"
__ADS_1
Dia pun segera memenuhi permintaanku. Kami beranjak untuk meninggalkan tempat makan itu. Pergi ke tujuan dengan sebuah mobil yang dibawa oleh Pitui. Ternyata dia orang yang tergolong kaya di kota ini. Bahkan orang-orang di sekitar menyapa dirinya dengan sangat akrab.
Lagi dan lagi aku salah menilai orang. Harus ku singkirkan kebiasaan ini, melihat orang lain dari luarnya saja itu memang perilaku yang sangat buruk.
Dia membawa kami ke tempat selanjutnya yaitu Ngalau Indah yang berjarak 4 kilometer dari lokasi pertama. Kali ini tidak bisa seperti sebelumnya seenaknya mengambil kendaraan orang lain, karena ini bukan lah lagi kota yang mati. Kota ini beraktivitas sperti hari-hari biasanya. Tentram, damai, kebahagian dan kesedihan terpancar dari berbagai arah.
Tidak mengetahui apa sbenarnya yang ada dibalik alam mereka, dunia Lionera yang memberontak untuk keluar. Aku hanya berharap ketika membuka nya nanti, tidak akan membahayakan penduduk sekitar.
Pitui.
Ternyata dia bukanlah keturunan asli dari manusia seperti yang kupikirkan. padahal wujudnya seperti manusia normal bahkan wajahnya itu. Tapi dia yang mengatakan sendiri bahwa dia menyamar- kan dirinya untuk menetap di dunia manusia ini.
Dia berasal dari kaum Bhoka yang berada di dunia Glufian. Ini semua adalah masalah cintanya maka dari itu dia tidak menetap di dunianya sendiri. Bukanlah masalah dunia hancur dan aku harus mengunjungi dunia itu setelah masalah ini selesai. Jadi... aku sedikit lega dengan masalah tersebut.
Dia sudah bertemu dengan Joba sekitar 50 tahun yang lalu. Sebenarnya sebulumnya pernah terjadi tejadi konflik antara dia dengan dunia Glufian, karena dia sendiri adalah pemimpin dari kaumnya. Di sanalah Joba dan Avlein datang menenangkan perseteruan mereka. Jadi sejak saat itu Pitui merasa berhutang budi pada Avlein dan Joba. Dia bersedia membantu mereka dalam kondisi apapun.
Di sinilah kami datang dan disambut olehnya. Dia tahu kami akan tiba di sini, bukan karena pesan yang ditinggalkan Avlein, melainkan dia yng dapat meramalkan dirinya atau bahkan orang lain. Dia tahu bahwa dia akan segera bertemu dengan Joba begitu juga dengan pemiliknya yang baru yaitu aku Avlein muda.
Dan mengapa dia bisa sewangi bunga, karena dia kaum Bhoka. Berbagai jenis wangi bunga melekat pada tubuh kaum Bhoka. Bahkan bunga bangkai selakipun yang menyebabkan makhluk itu di kucil-kan dalam kelompok.
Dan tentu juga dengan pakaiannya. Dia hanya suka bergaya seperti itu agar orang mengenal dirinya sebagai penduduk biasa saja atau yang di sebutnya orang miskin. Tapi kenyataannya semua orang tahu bahwa dia adalah orang terkaya.
Dia juga mengatakan bahwa benar aku memiliki beban berat yang akan kuhadapi, tapi dia tidak dapat melihat keseluruhan apa yang akan terjadi padaku. Karena semua itu tergantung dari pilihan ku yang tidak menetap. Dan juga dia percaya aku bisa melalui semua itu.
Hingga akhirnya kami tiba di Ngalau Indah.
Seperti yang kukatakan, ini adalah tempat wisata. Tidak mungkin tak ada seorangpun yang mengun-junginya. Kecuali jika tempat ini sudah tutup.
Mengingatkanku saat dulu mengunjungi tempat ini. Di mana yang menjadi objeknya adalah sebuah goa alam. Di dalam goa yang lumayan luas ini, kita dapat melihat beraneka ragam bentuk stalagtit dan stalagmit yang indah dan tak kalah eksotisnya menghiasi dinding goa.
Kita juga dapat melihat kelelawar bergelantungan di langit-langit yang senantiasa membuat suara riuh sepanjang perjalanan kita menelusurinya.
"Dan apakah kita akan membuka gerbang Lionera di dalam goa ini?" ucapku ketika kami sudah berjalan cukup jauh menikmati pemandangan.
"Tidak Avlein, kita akan turun ke bawah!" seru Joba. Membuat aku menaikkan kedua alisku.
Aku tidak salah dengar kan, bahwa kami akan turun ke bawah? Bagaimana caranya? Apakah ada jalan rahasia?
__ADS_1
"Ambo indak ikuik yo Uda. Bukannyo apo yo, awak ko urang lamahnyo, beko mambarekkan Rajo Joba ajo Wak di sinan!"
(saya tidak ikut ya mas. Bukannya apa ya, saya ini orang lemah, nanti membebankan raja Joba saja saya di sana)
"ooh iya, baiklah. Terimakasih sudah mengantar-kan kami!"
"tu cuek lai Uda... hati- hati Uda di sinan yo. Awak tau nyo ado rajo Joba, tapi hati-hati ajo Yo... urang Sinan kareh-kareh mah!"
(satu hal lagi mas... hati-hati mas di sana ya. saya tahu ada raja Joba, tapi hati-hati saja ya... orang sana keras-keras)
"lebih baik sekarang kau pergi Pitui! Dari pada kau lebih menakut-nakuti dirinya lebih lama lagi!" Tegas Joba.
Membuat Pitui mengangguk gugup dan sedikit membungkuk berpamitan kepada kami. Dan tentu telah berhasil membuat aku lebih khawatir lagi, memikirkan apa yang dikatakan olehnya tadi. Sepertinya akan terjadi hal yang buruk.
"Jangan dipikirkan! Kau akan baik-baik saja!" balas Joba.
Saat itu pula tempat kami berdiri bergetar kuat.
"A-apa yang terjadi?!" seru Vlivy yang sudah memeluk lengan kiriku. "Oh maafkan aku! Aku sangat takut!" balasnya segera melepaskan tangannya.
Tetapi aku kembali menarik tubuhnya ke dalam dekapanku, melihat ekspresinya itu aku sangat mengerti ketakutan yang dialaminya. Dengan getaran yang sangat kuat dan kami sedang berada di dalam goa, siapa yang tidak takut? Pasti hanya memikirkan harus berpegangan terlebih dulu dan bergegas pergi dari tempat ini
Tapi tidak ada orang lain di sekitar kami, bahkan yang berteriak sekalipun. Tidak mungkin hanya kami berdua yang panik akibat getaran yang masih terjadi ini. Dan tidak ada pula perintah untuk evakuasi. Aku berpikir setelah itu, apakah ini hanya di tempat kami berdiri?
"Ya seperti itulah Avlein. Getaran ini untuk membuka jalan yang kita tuju! Dan Vlivy, kau bisa terus berpelukan dengan Avlein seperti itu! hehe"
"Cih sialan!" balasku melepaskan genggamanku. Sementara gadis itu menarik tubuhnya menjauhi ku, wajahnya pun mulai merona. Dia memilih berpegangan pada dinding goa di sebelahnya. Aku yakin dia sangat senang....
Sementara getaran kuat tersebut menimbulkan suara retakan bebatuan yakni yang menjadi alas kami berdiri. Ratakan batu tersebut mulai berja-tuhan ke bawah hilang entah ke mana.Membentuk sebuah lubang hitam. Tanpa perintah apapun dari Joba dan aku pun belum sempat mengeluarkan pertanyaanku, tubuhku terdorong kuat ke depan.
Begitu juga dengan Vlivy di sebelahku.
Kami jatuh ke dalam lobang tersebut. Tak tahu pasti ke mana dan sejauh apa. Saat ini aku hanya bisa berteriak,
"Ooaaaa!"
*
__ADS_1