JOBA

JOBA
[17] Peristiwa Kedua


__ADS_3

Joba akhirnya berhasil melumpuhkan orang yang kedua puluh. Bersisa sebelas pengganggu lagu yang kini masih belum kalah melawan pepohonan yang dihidupkan olehnya.


DUAARR!


Terjadi ledakan besar dari arah belakangnya. Barusan saja tanah juga bergetar akibat ledakan tersebut. Dia menoleh ke belakang, didapatinya pepohonan mulai bergerak seperti ombak mendekat ke arahnya.


Kemudian rumah penduduk roboh satu per satu, terbawa oleh gundukan tanah bercampur pepohonan itu–melewati tempatnya berdiri menyeret seluruh bangunan hingga rata.


Untung saja semua penduduk sudah dikumpulkan di istana. Juga memerintahkan prajurit untuk tidak ikut campur dengan pertempuran ini.


"Avlein!" Joba menyeru, mendadak dia berfirasat buruk.


"Ya , Joba?" balas Avlein kini sedang sibuk melumpuhkan pengganggu yang tersisa.


Sementara pasukan Erker yang sedari tadi masih bertarung, menghentikan gerakannya dan menatap ke arah Avlein karena terkejut sejak kapan dirinya berada di tempat ini.


"Oh, kalian tidak boleh lupa kalau di sebelah kalian ada musuh!" ucap Avlein berhasil melayangkan pukulannya ke dua orang, yang baru saja terpental cukup jauh.


"Hei kau! Kenapa malah di sini?! Ini semua adalah jatahku!" balas Joba yang baru saja melompat ke hadapan Avlein.


"Bagaimana jatahmu, yang bertarung saja para pepohonan, bukanlah dirimu!" balas Avlein kembali ia melumpuhkan seorang lagi.


"Kalian bedebah sialan! Jangan bercandaa!!" teriak salah seorang langsung menyemburkan lava yang cukup banyak dari mulutnya.


Tetapi belum sempat lava itu mendekati Avlein dan Joba, lava tersebut sudah membeku dengan sendirinya akibat hembusan dari telapak tangan Joba, yang baru saja mengeluarkan angin bercampur es.


"Lebih baik kalian segera menyusul pemimpin kalian! Dari pada aku mengirimkan Joba untuk mengurusnya!" jelas Avlein selagi dia menahan serangan yang datang dari belakangnya.


"Jelas-jelas ini semua sudah menjadi urusanku selanjutnya! Avlein sialan!" gerutu Joba karena inilah firasat buruk yang dipikirkannya sedari tadi. Pasti selalu dia yang mengurus sisa-sisa pertempuran.


"Haha, oke, selanjutnya kuserahkan padamu ya Joba!" Avlein melepaskan musuh yang sedari tadi ditahan oleh satu tangan, kemudian melambai sekali ke arah Joba lalu pergi melompat menuju bagian kerajaan.


Dia memang harus segera ke istana untuk menyelamatkan hidup sang raja. Jika dia tetap melayani Erker yang keras kepala itu, semua hanyalah menghabiskan waktunya saja.


Lebih baik dengan cara ini dia bisa pergi ke kerajaan. Sengaja menunjukkan pada Erker bahwa dia telah kalah telak, agar Erker kekurangan banyak energinya.


------------------------------


Di sudut sana, ketika cahaya ungu mulai memudar, dan debu-debu yang bertebaran juga mulaienipis, terlihat sosok yang tertawa kejam dengan kebahagian yang baru saja didapatinya.


Dia akhirnya berhasil menyingkirkan Avlein yang saat ini sudah terbaring di hadapannya–berlumuran darah serta tubuh mengeluarkan asap bekas ledakan. Tidak peduli lagi dengan rasa sakit yang mulai menyebar disekujur tubuhnya. Bahkan juga tak menyadari sedari tadi seseorang telah berdiri di hadapannya.


"Paduka!" teriak salah satu pasukannya dari belakang, menyambut tubuhnya yang mulai goyah.


Sontak karena itu juga dia baru tersadar orang yang berdiri di hadapannya ternyata adalah target berikutnya.


Kemudian dia kembali melepas tawanya, melihat Joba yang mulai melangkah mendekatinya, untuk mengambil tubuh Avlein yang hanya dibaluti kulitnya nan menghitam hangus terbakar.

__ADS_1


Joba yang hanya memperlihatkan wajah datarnya, sebenarnya sudah tidak tahan melihat sifat Erker itu. Bahkan ingin rasanya dia melemparkan satu batu saja ke wajahnya itu.


Tetapi karena dia tahu jika dia melakukan hal tersebut, bisa-bisa Erker tak sadarkan diri lagi dan malah mengundang keributan lainnya, dan tentu itu akan menyita waktunya untuk segera menyusul Avlein. Maka dari itu dia mengurungkan niatnya tadi.


Diangkatnya tubuh Avlein dengan kedua tangan, untuk mendirikan tubuhnya di hadapan Erker. Ketika tubuh yang mati itu cukup untuk berdiri lurus, perlahan tubuh tersebut berubah menjadi tanah liat berwarna cokelat muda.


Bertepatan dengan itu pula tawa Erker terhenti, juga membuat pupil matanya mengecil dan bergetar. Dia tercekat untuk mengucapkan kata-kata, benar terkejut dengan apa yang sebenarnya telah terjadi.


Ternyata semua ini hanyalah ilusi mata. Pantas saja Avlein memberikan senyuman menjijikkan itu padanya. Dia yakin saat itulah Avlein melarikan diri.


"Seperti yang Avlein katakan, lebih baik menyudahi pertempuran ini, karena kau sudah berhasil menghancurkan seluruh rumah penduduk! Dan tentu itu akan membuang waktu berharga Avlein untuk menolong mereka!" jelas Joba.


Melepaskan tangannya dari tanah liat itu yang kemudian merembah bersatu menjadi bagian dari tanah.


Erker yang masih tidak terima dengan tipu daya ini, mencoba untuk mengumpulkan sisa kekuatannya. Setidaknya untuk melempar satu tembakan saja ke arah Joba.


"Percuma! Saat ini seluruh tenagamu sudah habis. Bahkan untuk berdiri sekali pun kau tak akan bisa! Karena Avlein telah menyerapnya ketika dia memukul titik energimu yang berada di belakang."


Terlintas kembali dalam benaknya, pada saat aura panas yang menusuk itu terasa di punggungnya. Pantas saja Avlein menyerang dirinya dari belakang. Kenapa dia baru menyadari hal itu sekarang? Jikalau dia mengetahui dari awal, dia pasti tidak akan menyia-nyiakan ledakan tersebut.


"Maka dari itu, lebih baik kau kembali. Dari pada aku mengambil semua yang menjadi hak milik pasukanmu!"


Erker yang mendengar itu sedikit bergidik. Jelas sekali yang dimaksudkan oleh Joba itu yakni kekuatan para pasukannya.


Memang benar di sebenarnya tidak membutuhkan pasukan atau apapun itu, tapi jika kondisinya seperti ini, dia mungkin dalam bahaya bila tak ada yang mendampinginya. Maka dari itu, dia menyerukan kepada pasukannya untuk mundur terlebih dahulu.


"Hei Joba! Asal—


"Ya! Kita tentu akan berjumpa lagi dilain waktu! Karena kau tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkanku!" potong Joba membuat Erker hanya melempar pandangannya. Dia menggerutu kesal tidak diberikan kesempatan untuk berkata- kata.


"Hei ayolah, aku hanya kesal melihat ekspresi wajahmu itu!"


Terdengan Joba masih menjawab gerutuannya dari belakang. Erker pun mulai merutuki Joba melampiaskan kekesalannya yang memuncak.


"Paduka lihat! Joba melambai ke arah kita!" ucap pasukannya dengan girang.


"Cih, jangan membuatku lebih kesal lagi!"


Joba yang masih melambai hanya tertawa melihat kejadian itu. Ternyata seru juga rasanya mempermainkan orang yang keras kepala.


------------------------------


Seseorang baru saja menerobos paksa dari jendela, membuat suara ribut serpihan kaca yang berdenting di lantai.


Awalnya para penjaga terkejut dengan semua itu–tidak lupa juga mengarahkan senjata ke arahnya. Tetapi melihat siapa pelaku sebenarnya, mereka pun memberi izin untuk mendekati sang raja.


Avlein mengamati raja Yua dengan seksama. Dilihatnya Yua yang terdiam kaku di atas tempat tidur, hanya bisa mengeluarkan deru napas yang tak beraturan.

__ADS_1


Sungguh tidak diduga dia malah dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Bahwasanya juga Avlein yakin, Yua mengetahui siapa pelakunya, sehingga membuat dia menerima penderitaan ini, tapi bahkan untuk saat ini dia tidak sadarkan diri lagi.


Dia melangkah mendatangi raja untuk duduk di sisi ranjang, mulai menyentuh tangan kanan raja yang suhunya melibihi dingin es–menggenggam telapak tangan itu.


Seketika sebuah cahaya putih muncul di antara telapak tangan yang bersatu itu. Avlein mulai mengalirkan beberapa energi yang dimilikinya. Sambil memejamkan mata, dia hanya berharap, memohon kepada-Nya untuk memberikan kesempatan lagi pada pria ini, demi kehidupan makhluk yang waktu itu juga diselamatkan olehnya.


Sontak mata Avlein terbuka paksa, akibat sesuatu yang baru saja terlintas dipikirannya. Dia segera menoleh ke jendela tempatnya datang tadi, dilihatnya Joba yang kini menghampiri dirinya.


Begitu juga dengan para penjaga yang kecemasannya semakin menjadi–melihat ekspresi Avlein yang tertegun seperti itu. Sepertinya akan terjadi sesuatu yang buruk.


Joba menyentuh pundak Avlein seraya berkata, "Ayo kita pergi!"


Bersamaan dengan itu juga, tiba-tiba deru napas sang raja tersengal kuat, kali ini dia bahkan kesulitan untuk bernapas. Membuat semua penjaga semakin panik. Salah seorang juga mulai mendekati sang raja untuk menekan tangannya pada dada raja–bertujuan meredakan pernapasan.


Tapi apalah daya takdir yang mengatur, sang raja sudah tak menghembuskan napas lagi. Bahkan napasnya sudah berhenti sebelum penjaga itu menyentuhnya.


Sementara Avlein beranjak dari duduknya dengan lesu. Masih berusaha membungkukkan tubuhnya sedalam mungkin. Memohon maaf kepada yang lainnya.


"Maaf, raja kalian memang ditakdirkan untuk pergi!" jelas Joba mewakili Avlein yang tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.


Karena masa depan yang baru saja terlintas dipikirannya tadi, raja Yua benar sudah pergi meninggalkan dunia ini, dengan berpesan padanya, untuk menyampaikan terimakasihnya pada kaum yang selama ini masih setia menunggunya.


Joba yang sudah tahu ini akan terjadi pada Avlein, segera menggiring tubuhnya menuju pintu, meninggalkan semua penjaga yang tangisannya semakin jadi–meneriaki memanggil sang raja Yua.


"Kalau kau tak kuat menghadapi semua ini, biar aku saja yang menyelesaikan masalah selanjutnya." ucap Joba pelan ketika mereka sudah berada di lorong yang tak begitu jauh dari kamar raja Yua.


Tetapi Avlein masih tidak menjawab perkataan Joba. Dia hanya membisu.


Pikirannya kosong, pandangannya pun menerawang, hatinya berkecamuk karena dia masih gagal–menjadi Avlein yang sesungguhnya.


Joba tahu itu, karena Avlein akan selalu seperti ini ketika ia tidak berhasil menyelamatkan orang lain. Maka dari itu lebih baik dia hanya berdiam diri dan segera menyelesaikan masalah ini. Membiarkan Avlein untuk sendiri, agar menenangkan perasaannya.


Baru beberapa langkah Joba berjalan, seseorang berteriak memeluk tubuh Avlein. Membuat dia berbalik untuk melihat ada apa gerangan yang terjadi. Dilihatnya salah seorang penjaga tadi masih menangis tak karuan dalam pelukan itu.


"Terimakasih Paduka Raja! Kami sangat berterimakasih padamu!"


Mendengar itu pula pandangan Avlein kembali. Pikirannya mencoba mencerna perkataan penjaga barusan. Segera menoleh ke bawah untuk melihat penjaga itu, tampak tangisan tersebut didampingi oleh senyuman.


Seketika hatinya bedegup sangat cepat. Apa sebenarnya yang sudah terjadi? Bukannya seharusnya mereka marah pada dirinya? Batinnya bertanya-tanya.


Segera dia melempar pandangan ke arah pintu kamar tadi. Dilihatnya sang raja Yua mulai tertatih berjalan mendekatinya. Pergi menarik tubuh Avlein untuk masuk ke dalam dekapannya. Raja Yua memeluk dirinya erat seraya menangis tersedu-sedu. Tidak akan pernah bisa dia membalas kebaikan Avlein seumur hidupnya.


*


Note:


Lanjutkah ini cerita?

__ADS_1


Tapi beberapa episode berikutnya bakalan gantung lagi karena cerita lagi dalam proses. Hmm...


__ADS_2