JOBA

JOBA
[30] Penyembuhan Ratu


__ADS_3

Satu kuku monster yang cukup besar ukurannya, memiliki panjang sekitar 30 Senti dan salah satu dari keempat kuku tersebut menembus dadaku dari belakang–berlumuran darah.


Masih bisa kurasakan kuku tersebut menyentuh punggungku. Dia melewati rusuk belakangku menuju rusuk depan dan menancap tepat di dadaku. Saat itu pula aku batuk darah dan rasa sakit yang teramat terasa di jantungku. Membuat aku kesulitan menarik napas setelah itu.


Sesak. Rasa sakit juga senantiasa menyebar ke seluruh tubuh. Lantas setelahnya pandanganku memudar dan aku tak sadarkan diri lagi.


Itu yang ku ingat saat Bogi menyerahkan pakaian atas ku yang telah bolong. Begitu pula dengan mantelku yang tergantung di sebelah tempat tidur, robek melingkar sempurna. Tapi anehnya tak ada noda darah sedikitpun.


"Aku bisa menjahitkannya lagi!" celetuk Vlivy memecah lamunanku.


"Tak perlu!" Aku bangkit setelah mengenakan pakaian, kemudian pergi menghampiri wanita yang terbaring di pojokan goa.


Ketika dia menyentuhku, saat itu pula terasa menusuk di bagian kepala. Membuat aku memejamkan mata setelahnya. Sejenak suara dengungan juga memenuhi pendengaranku.


Dan aku melihat bayangan.


Melintasi serabut saraf berwarna merah dan kuning. Dengan kecepatan penuh bergerak menuju ke titik terbesar–yang berwarna hijau pekat. Ketika itu pula mataku terbuka, Joba pun datang menghampiri kami. Dia mulai menceritakan bagaimana pertemuannya dengan wanita itu, yang sebenarnya membutuhkan pertolonganku.


Tugasku selanjutnya harus mengambil racun yang ada di dalam tubuhnya.


"Warna hijau yang kau lihat tadi Avlein, itulah yang harus kau keluarkan!" Joba mengatakan kemudian.


Seperti dugaanku, aku memang harus mengambil warna hijau yang berada di bawah jantungnya itu. Tapi bagaimana bisa? Dan benarkah aku bisa menyembuhkannya? Mustahil....


"Ya, kau kan sudah tahu sendiri posisi racun itu di mana... jadi kau harus menyentuhnya agar kau tahu sendiri apa kau bisa mengobatinya atau tidak."

__ADS_1


"Da-dada?! Aku harus meletakkan tanganku di sana? Nggak! Aku nggak mau!" Aku beranjak paksa dari tempatku duduk. Melangkah menjauh dengan sedikit gerutuanmu setelahnya. Meninggalkan mereka semua yang terperangah pula melihat kepergianku.


"Mungkin itu mau Avlein, ratu ini lebih baik mati. Karena jika racun itu menyentuh jantungnya, maka di situlah ajalnya akan tiba." jelas Joba kepada ketiga orang itu. Dengan nada yang dapat kudengarkan dari jauh.


Sesaat kemudian, ada yang menarik kemeja bawahku dari belakang. Membuat aku sedikit menoleh ke arahnya, tentu dengan tatapan bengisku. Karena aku masih kesal. Ku lihat Vlivy yang menundukkan kepalanya hendak mengucapkan sesuatu.


"Tak masalah Avlein, itu semua demi kesembuhan ratu...."


"Tidak! Aku tak akan melakukannya!" bentakku menepis tangannya kemudian. Apapun alasan yang diberikan, aku tetap tak akan melakukan hal tersebut. Bagaimana bisa aku harus menyentuh bagian penting seorang wanita?!


Aku kembali melangkah menjauh. Melipat kedua tangan di depan dada. Aku pun mulai memikirkan cara lain untuk menolongnya. Tak bisa kah aku hanya menyentuh tangannya, seperti yang dilakukan Avlein itu? Dia hanya menggenggam telapak tangan mereka untuk penyembuhan tersebut. Aku berpikir dalam hati.


"Tidak Avlein! Sampai esok pun kau menyentuh tangannya, kau tetap tak akan berhasil mengambilnya." celetuk Joba di samping telingaku. Membuat aku tersentak pula di tempatku berdiri.


cih sialan! kedatangannya tak bisa kurasakan! menggerutu pula aku setelah itu.


"Bagaimana jika aku menyentuh punggung belakangnya?"


Joba terdiam sejenak, kemudian membalas perkataanku. "Sebenarnya kau sudah melakukan hal tersebut, tapi aku tak melihat kau berhasil atau tidak."


"Baiklah, mari kita coba!"


-----------------------------------


Wanita itu sudah dalam posisi telungkup di tempat tidurnya tadi, terlelap di balik selimut putih. Aku memerintahkan Joba untuk lebih baik menidurkannya. Karena dia yang masih berusaha mengucapkan kata-kata. Padahal untuk bernapas saja di tersengal-sengal.

__ADS_1


Lalu aku segera meletakkan telapak tangan kananku tepat di mana racun hijau itu berada. Saat itu pula kembali pandanganku memudar, sebelum akhirnya aku melihat bayangan serabut-serabut saraf di dalam tubuhnya. Tidak lupa sakit di kepala menyertai, tetapi tak ada lagi suara dengungan yang bergema di telingaku. Aku hanya mendengar detak jantungnya yang semakin melemah.


Sudah lama aku menyentuh punggungnya, tak ku lihat racun hijau itu bergerak dari posisinya ataupun berubah ukuran besarnya. Sepertinya aku tak berhasil melakukan penyembuhan. Sontak aku menggelengkan kepala dan pandanganku kembali seperti semula.


Membuat aku tak berkutik setelah itu.


Ternyata tanganku tengah mengeluarkan cahaya warna putih. Terang. Sangat terang. Membuat pandangan sedikit silau. Mengurungkan niatku untuk bertanya kepada Joba.


Dan tak lama setelahnya, terasa cairan yang bergerak-gerak pula dari balik telapak tanganku. Lantas aku segera mengangkatnya. Kudapati cairan hijau pekat seukuran bola tenis. Aku berhasil mengeluarkan segumpalan racun.


Sebelum itu pula cahaya putih itu meredup. Aku hanya bisa mengerjap pelan tak menyangka dengan apa yang telah terjadi.


"Selamat lagi Avlein! Ternyata kau cepat belajar!" sahut Joba yang kemudian dia mengambil racun itu. Melayangkan sendiri untuk dimasuki ke dalam sebuah toples. Lantas terbakar di dalamnya. Meninggalkan toples kosong setelah itu. Racun tersebut lenyap entah ke mana.


"Kapa aku belajarnya?! Kau hanya memberikan arahan yang tak jelas!"


"Hahah... hei santailah... sebegitu kesalkah kau padaku—


""Kau tahu sendiri kenapa aku seperti ini padamu! Jadi jangan banyak alasan!" potongku.


"Makasih Yang Mulia Avlein ...." Tiba-tiba wanita itu memeluk diriku dengan erat. Tangisannya pun mulai memenuhi ruangan.


PRANG!


Bersamaan dengan itu pula suara barang berjatuhan dari arah belakang kami. Membuat aku dan yang lainnya kecuali wanita itu menoleh ke sumber suara. Mendapati seorang lelaki muda yang terpaku di tempatnya berdiri. Dengan kedua mata bergelimangan air. Makanan dan buah-buahan juga berserakan di sekitarnya.

__ADS_1


"Ratu Amira!"


*


__ADS_2