JOBA

JOBA
[18] Peristiwa Ketiga


__ADS_3

Ketika itu juga sepasang mata kuning Joba berdelik, mendapati Yua sedang memeluk tubuh Avlein yang terlihat semakin melemas dalam dekapan itu. Bahkan tangannya enggan untuk membalas pelukan tersebut.


Dia yakin sekali saat ini perasaan Avlein bercampur aduk, seperti yang dirasakan olehnya. Bahagia, bimbang dan tentu saja bertanya-tanya mengapa semua ini bisa terjadi. Ditambah pula kejadian ini tidak dapat dilihat oleh mereka berdua dalam bayangan.


Satu hal yang disadari Joba pertama kali, bahwa takdir Avlein telah berubah.


Sementara Avlein yang lunglai dari pendiriannya, ditahan oleh pelukan Yua yang masih sesenggukan dalam tangisnya. Pertanyaan yang memenuhi pikirannya kini berhasil dikalahkan oleh perasaan bahagia.


Terlihat sebuah senyuman juga mulai terukir di wajahnya itu. Butiran air mata pun tak sungkan berkeliaran di ujung bola matanya.


Dia baru tahu, seperti inikah rasanya bahagia tanpa mengetahui semua ini akan terjadi? Tangannya perlahan bergerak membalas pelukan tersebut–menepuk lembut punggung Yua. Kehangatan dan kenyamanan ikut serta pula menghampiri dalam tangisan mereka.


Ketika tangisan itu akhirnya berhenti, Joba menghampiri dan membawa mereka kembali masuk ke kamar Yua, para penjaga juga mengikuti mereka dari belakang.


Avlein tak henti-hentinya menatap dengan seksama pergerakan tubuh Yua, yang kini kebahagiaannya semakin menggebu-gebu. Bahkan dia memperlihatkan pertujukan tari di hadapan semua orang. Membuktikan bahwa dia lebih sehat dari pada yang sebelumnya.


Tetapi ketika Yua menyadari sepasang mata hijau itu yang sudah menatapnya sedari tadi, dia segera mendekati Avlein dan menarik tubuhnya, mengajaknya untuk menari bersama.


Mereka pun tertawa melihat Avlein yang merasa kesal karena paksaan itu, tetapi tetap ikut menari bersama raja Yua. Seketika ruangan itu pun dipenuhi dengan gelak tawa mereka.


Tidak menyadari sebenarnya akan ada takdir baru yang menghampiri kehidupan mereka semua.


Setelah semua kaum Greyaq mengetahui bahwa raja Yua sudah sehat seperti sediakala, mereka langsung memberikan apapun benda berharga yang mereka miliki terhadap Avlein, tidak lupa juga memberikannya kepada Joba.


Tetapi tentu mereka berdua tidak akan menerima semua pemberian itu, kemudian mereka menyerukan kepada kaum lebih baik digunakan untuk membangun kembali dunia mereka yang telah hancur ini.


Setelah semua kebahagiaan berlalu, akhirnya kini ketiga orang itu berada di ruangan rahasia Istana, di mana hanya Yua saja yang mengetahui tempat itu. Tentulah bertujuan untuk membicarakan semua yang telah terjadi ini.


"Jadi, sepertinya sekarang tidak akan ada lagi yang menghalangi kita!" mulai Yua dia sudah merasakan sedari tadi Avlein menahan diri untuk menyampaikan pesannya.


"Kau juga tahu kan, siapa yang membuatmu menderita seperti itu?"


"Ya, dia Amora sahabat sejatiku, yang hanya ingin selalu bersamaku. Hingga dia rela memberi racun dalam minuman kami, dan terlebih dahulu meninggalkanku di dunia ini. Sementara aku masih berusaha melawan racun itu sampai ajalku tiba."


"Ya seperti itulah. Dan aku juga tidak tahu alasannya mengapa aku bisa sampai di sini. Karena sebenarnya aku tidak menyangka, ternyata aku berhasil memberikan energi kehidupan kepadamu." balas Avlein kini menatap kedua mata kuning itu dengan lekat.

__ADS_1


"Jadi, sebenarnya apa yang akan terjadi mulai sekarang?" Yua segera menanyakan inti permasalahannya.


"Aku tahu, saat kau bangun itu pula kau dapat melihat kekuatan yang ada di dalam tubuhku. Begitu juga tubuh Joba atau tubuh yang lainnya."


"Ya! Kekuatan kalian berdua tidaklah tertandingi!"


"Itu tidak benar!"


Kepala Yua sedikit miring mendengar jawaban itu. Padahal dia yakin sekali, karena aura yang terpancar dari tubuh mereka berdua sangatlah kuat.


"Jadi intinya, mulai sekarang kau bisa melihat itu semua, dan kau juga bisa menyembuhkan orang lain. Bukan karena obat yang selalu kau buat itu, melainkan dari kekuatanmu sendiri." jelas Avlein lagi tanpa berhenti menatap Yua.


"Kau juga tak bisa memenuhi keinginanmu yang berharap bisa ikut bersamaku, karena kau memang harus menjadi pemimpin di dunia Greyaq ini. Tak perlu khawatir dengan semua kehancuran ini, karena kau nantinya akan tahu sendiri cara kerja dari kekuatan baru yang kau terima itu."


Yua yang mendengar itu sebenarnya sedikit kecewa, karena tidak diizinkan untuk ikut bersama Avlein. Tetapi pasti dia akan mematuhi semua perintahnya karena semua utang budinya ini.


"Kemudian, suatu hari nanti tentu kau juga akan mempunyai musuh dari dunia luar. Terutama dari kaummu sendiri!"


"Maksudmu?!" suara Yua sedikit meninggi, karena terkejut mendengar pernyataan barusan. Tidak mungkin kaumnya melakukan hal tersebut.


"Ya benar, karena takdir yang berubah, beberapa kaummu ada yang tidak mematuhimu lagi, sehingga mereka keluar dari Greyaq ini dengan sendirinya. Oleh karena itu, kaummu menjadi dua bagian, yaitu Orgy yang setia padamu dan Voq yang akan menusukmu dari belakang."


"Akan ada dunia lain yang membutuhkan pertolonganmu, dan tentu juga benci dengan kekuatanmu. Di mana suatu hari bakal ada manusia yang juga membencimu datang ke tempat ini, dan kembali menghancurkan semua ini!"


"Dan dialah yang lebih kuat darimu?"


"Tidak! Karena kau sendiri yang akan membunuh manusia itu!" Yua tertegun mendengarnya, dan juga berfirasat kelanjutan dari penjelasan Avlein tidak akan mengenakkan hatinya.


"Ya itu benar, dia akan datang bersama istrimu untuk membunuhnya di hadapanmu!"Yua tercekat, dadanya terasa panas, akhirnya kemarahan yang tadi sempat menghampiri mulai merasuki jiwanya.


"A-pa kehancu-ran du-nia itu ka-rena kekuatan a-ma-rahku?!" Avlein mengangguk membalas pertanyaan Yua yang terbata-bata. Dia masih mencoba menahan amarahnya yang bahkan kini sudah berhasil menguasai tubuhnya.


"Silahkan, keluarkan saja semuanya!" timpal Joba yang berdiri di belakang Avlein.


Bersamaan dengan itu pula istana ini bergetar kuat. Karena baru saja Yua melampiaskan amarahnya dengan mengirimkan sebuah meteor beratus kilo meter jauhnya dari kerajaan.

__ADS_1


Meteor tersebut meluncur dari langit dengan kecepatan penuh menghantam tanah dan meledak menghamburkan seluruh yang ada di permukaan. Lalu terbentuk sebuah telaga besar dari ledakan tersebut.


"Dan kau bisa menjadikan lokasi ledakan itu sebagai pengganti sumber airmu!" sambung Joba lagi membuat Yua menatap bengis ke arahnya.


Sebenarnya masih marah, karena bisa-bisanya Joba mengajaknya bercanda disaat hatinya berkecamuk seperti itu. Tetapi dia sadar, dia tidak akan pernah bisa menang jika melawan Joba.


"Dan semenjak itu pula kau akan mendapatkan bantuan dari kaum Lionera yang pernah kau tolong, untuk menutup rapat dunia Greyaq ini. Agar tidak sembarangan lagi makhluk yang bisa memasuki tempat ini."


Yua sudah berhasil meredakan amarahnya secara keseluruhan, kembali menganggukkan kepala mbalas penjelasan Avlein itu.


"Dan tentu kesempatan ini adalah pertemuan terakhir kita berdua!" Lanjut Avlein lagi membuat Yua tersentak di tempat duduknya.


Matanya berdelik mengarah ke Avlein. Padahal ini kesempatan yang langka untuk bertemu dengan Avlein yang bahkan bersedia menyelamatkan hidupnya. Dan masih tidak menyangka mengapa Avlein bisa setega itu kepadanya–mengungkapkan semua kepahitan itu.


"Lebih baik aku memberitahukan semuanya sekarang, dari pada nantinya kau akan berubah menjadi orang lain!"


Dia bergidik, sangat yakin yang dimaksudkan Avlein adalah dia akan menjadi orang jahat ketika kenyataan pahit itu menghampirinya jika Avlein tidak menceritakan semuanya.


"Ya seperti itu lah, kau bahkan tidak ingat lagi dengan kaummu yang sangat kau sayangi itu. Dan terakhir...."


Avlein menghentikan penjelasannya untuk sementara, menunggu Joba yang segera duduk mendekati mereka berdua.


"Suatu saat nanti, Joba dan Avlein yang lain akan datang untuk menemuimu. Ketika itu pula kau harus melakukan tugasmu selanjutnya ...."


"Dan apakah tugasku itu?"


"Pertama, kaum Voq akan berulah yaitu mengganggu kehidupan manusia. Jelas itu semua untuk menarik perhatianmu. Kau biarkan saja mereka seperti itu, sebab saat itu pula Avlein dan Joba akan segera datang. Karena dia berbeda denganku, biar dengan cara dia sendiri menyelesaikan permasalahan Voq!"


Kemudian tangan Joba bergerak meletakkan sebuah kartu hijau di atas meja.


"Kedua, kakek Berlig yang menolongmu mengunci dunia ini akan membutuhkan pertolonganmu lagi, kau harus melindungi dunia Lionera dari luar.


Kartu ini yang akan mengunci dunia itu agar kejahatannya tidak menyebar ke mana-mana. Kelak juga berikan kartu ini pada Avlein."


Yua menatap ke arah kartu yang hanya berwana hijau di permukaannya.

__ADS_1


"Dan ketiga ... ceritakan ini semua padanya. Kita lihat jalan apa yang akan dipilih olehnya!"


***


__ADS_2