
Aku yang sampai detik ini masih belum bisa mengambil keputusan, hanya bisa merenungkan apa yang akan terjadi padaku.
Joba menganjurkan aku untuk membawa gadis itu pergi bersamaku. Karena dia mengatakan, gadis ini tidak akan merepotkan ku bahkan dia akan berguna nantinya.
Dan satu hal yang lebih penting. Aku tidak bisa meninggalkannya sendiri, karena itu akan berbahaya. Juga dia berkata, aku harus segera meninggalkan tempat ini. Karena, kumpulan yang bernama Derk itu benar sudah mencari tahu tentang di mana keberadaan ku. Maka dari itu aku belum bisa mengambil keputusan, mengapa aku harus meninggalkan semua ini.
"Joba kenapa aku harus pergi dari tempat ini? Bagaimana aku menanggapi orangtua angkat ku kelak dan semua barang-barangku ini?" ucapku pergi meletakkan baju yang kuambil ke dalam sebuah koper.
"Kau tak perlu repot dengan semua itu. Orangtua angkatmu tidak akan melarang mu. Dan barang-barang yang kau maksud itu, sebenarnya kau tak akan sempat membaca lagi dalam jangka waktu yang lama."
Aku yang mendengar itu langsung melemparkan pandangan bengis kepadanya. Apa dia sedang bercanda sekarang, menyuruhku melepaskan semua jerit payah ku ini?
"Ya aku tahu kau pasti akan menolaknya. Dan aku bisa membantumu dalam hal ini. Kau bisa mengirimkan barangmu kembali ke orangtua angkatmu, atau semua barangmu akan ku simpan di dalam suatu tempat."
Mendengar penjelasannya itu, aku sedikit tertarik dengan pilihannya yang kedua.
"Dan... tempat seperti apa itu?"
Tiba-tiba saja Joba mengeluarkan sebuah cahaya bewarna biru muda bercampur kemerahan–dan tentu itu sedikit menyilaukan kedua mata.
Lalu cahaya tersebut menghilang dalam hitungan detik, kemudian memperlihatkan sebuah tas kecil berwarna cokelat. Terlihat seperti tas pinggang pada umumnya. Aku hanya menatap heran ke arahnya.
"Ya semua barangmu akan masuk ke dalam sini. Dan sebenarnya kau tak perlu membawa apa-apa. Kau bisa serahkan padaku semua itu."
Tanganku pergi menggaruk kepala bagian belakangku yang tak gatal. Aku hanya berpikir, apa kah ini yang namanya sihir? Baru kali ini aku melihatnya secara nyata. Hanya saja itu semua masih tidak bisa diterima oleh akal sehat.
Seketika itu satu benda yang cukup besar melayang di hadapanku– koper pakaianku yang tadinya tergeletak di atas tempat tidur. Koper itu pergi mendekati tas cokelat tadi–yang sedang membuka dirinya sendiri. Kemudian koper tersebut masuk menyusut ke dalam tas yang lebih kecil darinya, seperti baru saja disedot oleh tas itu.
Dan aku hanya bisa mengerjapkan mataku beberapa kali. Ini semua bagaikan aku sedang menyaksikan sebuah film fantasi. Editannya sungguh bagus.
"Apa dia keluar dengan cara seperti itu juga?" akhirnya aku mengucapkan sesuatu.
"Ya bisa saja... Tapi bisa juga seperti ini..."
Samar di hadapanku mulai membentuk sebuah kotak besar. Dan setelah semuanya menjadi jelas, sebuah koper yang tadinya sudah masuk menyusut ke dalam tas, kembali melayang di hadapanku.
Aku hanya mengernyit melihat kejadian itu. Lantas kenapa dia repot-repot melakukan hal tadi sedangkan dia bisa memunculkan dengan cara seperti ini.
"Haha, aku hanya ingin melihat reaksi wajahmu mu itu secara nyata Avlein." Gelak tawanya pun pecah memenuhi ruangan. Sementara aku hanya berdengus kesal dan melemparkan pandanganku darinya. Kenapa dia selalu membuatku semakin kesal terhadapnya. Cih.... Aku mengumpat dalam hati.
–
"Jadi, kau pasti tahu kan aku tak akan menghidupimu dengan biayaku sendiri!" Mulaiku saat dia sudah berhasil mendaratkan tubuhnya di sofa yang berada di depanku.
"Ya Avlein, aku juga tahu itu. Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan meminta apa pun pada mu kecuali hanya ingin bersamamu." Balasnya tanpa menatap wajahku.
__ADS_1
"Kenapa kau yakin sekali aku ini orang baik?"
"Karena kamu sampai sekarang belum menggangguku dan bahkan mengizinkan aku tetap bersamamu!"
"Hei! Itu semua karena kau yang tetap memaksa!" tegasku membuat dia menundukkan kepalanya. Ya selalu saja seperti itu. Pasti akan menggunakan kekuatan wanita sialan itu untuk menyerangku.
"Kau tahu sendiri kan Joba itu seperti apa, dia mengatakan kita harus pergi dari tempat ini—
"Jadi aku memang boleh ikut bersamamu?!!" Wow... reaksi yang sedikit mengejutkanku. Baru saja dia melompat dari tempat duduk menunjukkan kegembiraannya. Wajahnya pun kini terlukis senyuman yang lebih lebar, dengan kedua tangan mengepal di depannya.
"Oh maafkan aku!" lanjutnya lagi sadar diri karena telah memotong pembicaraanku dan kembali duduk sedikit merapikan posisinya. Sifatnya sungguh tidak bisa dipikirkan.
"Jadi dalam beberapa hari ke depan kita akan pergi ke Hartford meninggalkan tempat ini. Kau urus semua keperluanmu dan aku harap tak ada sedikitpun yang mengganggu aktivitasku!" lanjutku lagi mulai beranjak dari dudukku, kembali menuju ke kamarku. Pergi meninggalkan wajah yang berusaha menahan senyuman itu.
Setiba di kamar, aku dikejutkan oleh Joba yang melayang menghampiriku secara mendadak. Dia terbang di hadapanku membuat aku mendorong tubuhku dengan sendirinya ke sisi tempat tidur. Hal itu seperti dia saja yang sedang mendorong tubuhku. Dan kalau saja dia menggunakan tubuh manusia, aku yakin satu kepalan tangan sudah mendarat di wajahnya saat mendekatiku tadi.
Kedua alisku terangkat keheranan menatapnya. Apa maunya sekarang?
"Kau juga harus membawa mereka Avlein!"
Ah ya... Aku teringat dengan dua makhluk yang memiliki wajah kembar itu, Bogi dan Bogu. Kenapa aku bisa melupakan mereka berdua. Apa karena aku sudah melihat wajah asli mereka.
"Tapi mereka dalam wujud binatang, dan kau tahu sendiri kan berkelana dengan binatang itu merepotkan."
"Mereka hanya butuh izinmu. Setelah itu kau bisa serahkan padaku apa yang akan kau khawatirkan."
"Tidak. Jika aku tidak menanyakannya padamu, kau akan melupakan mereka!" Aku tertegun mendengar seruan itu. Hanya saja terlintas dipikiranku, kenapa aku bisa melupakan mereka. Dan aku berfirasat, kalau saja nanti aku teringat mereka, bisa saja mereka sudah tidak bisa ku jumpai lagi.
"Ya benar seperti itu Avlein, kau lupa pada mereka. Ketika kau ingat, mereka berdua sudah tertangkap oleh Derk yang mencarimu. Dan itu akan lebih memudahkan pergerakan mereka yang mengincar dirimu."
"Dan kenapa kau tidak melakukan seperti yang kau lakukan kemarin? Kau bisa membawa mereka ke dunia Emard."
"Tidak bisa, selanjutnya mereka membutuhkan izinmu untuk bisa berkeliaran Avlein."
"Maksudmu, karena kemarin aku sudah mengizinkan mereka tinggal bersamaku, maka dari itu aku sudah menjadi tuan mereka?"
Joba hanya mengayun di udara dan aku yakin sekali itu menandakan pertanyaanku barusan semuanya benar. Dan aku hanya berharap semoga saja semua ini tidak merepotkanku untuk ke depannya.
***
Sampai saat ini kalimat yang dikatakannya selalu terlintas di pikiranku. Sungguh sangat bahagia ternyata dia tidak akan meninggalkanku. Karena aku juga tidak ingin kembali ke rumah itu lagi.
Ya walau ayahku sudah menghubungiku beberapa kali, aku tidak mau menjawab panggilannya tersebut. Aku pasti akan dimarahi dan akan lebih sering lagi dikurung di dalam rumah yang menyeramkan itu. Ditambah aku juga sudah membawa pergi buku tua kesayangannya.
Tetapi kini aku sedikit merubah pikiranku, di mana aku tidak dapat percaya dengan sifat Ayahku saat ini. Karena dia tidak memblokir kartu debitnya yang juga sudah ku bawa kabur. Awalnya kupikir, aku akan lebih memperburuk keadaan. Tetapi ternyata semua diluar dugaanku.
__ADS_1
Ini tidak seperti Ayahku yang biasanya. Karena meminta uang belanja saja, aku pasti akan diberikan dalam jumlah yang pas-pasan.
Apa ku jawab saja panggilan itu? Tapi aku masih takut kalau dia memarahiku. Aku bertanya sendiri pada batinku. Segera mempercepat jalanku kembali ke rumah Avlein. Aku baru saja selesai membeli barang-barang yang ku butuhkan.
Aku akhirnya sampai di rumahnya. Tidak seperti biasanya, wajah tampan itu yang selalu membelakangi ku pergi menuju kamarnya setelah membukakan pintu depan, kini berhenti duduk di ruang tamu. Mulai menyandarkan punggung dan sepertinya dia ingin menyampaikan sesuatu padaku.
"Ku kira kau akan membawa barang yang cukup banyak!" Mulainya menatap ke arah satu koper yang ku bawa. Itulah barang-barang yang sudah ku beli.
"Tidak Avlein. Aku bukan seperti perempuan pada umumnya yang harus memakai baju banyak dan peralatan yang lengkap." Mata biru yang tajam itu kembali menatap ke arahku. Kini dia sedikit bangkit dari sandarannya.
"Oke itu bagus, dan Joba ingin mengatakan sesuatu padamu. Lebih baik aku biarkan kalian berbicara berdua." Jelasnya kini beranjak dari duduknya dan pergi menuju ruang perpustakaannya.
Dan aku pun berpaling menatap Joba yang perlahan mulai melayang ke hadapanku.
"Jadi aku meminta izinmu Vlivy, aku akan menyimpan tasmu di suatu tempat. Sehingga kamu tidak repot membawanya ke mana-mana."
Tentu saja aku mengizinkannya. Karena itu juga pasti tidak merugikan ku sedikit pun.
Joba pun kemudian memperlihatkan sebuah pertunjukan yang biasanya kita sebut sihir. Bagaimana mungkin dia bisa mengeluarkan sebuah cahaya yang cantik itu dan setelah hilang malah memperlihatkan sebuah tas cokelat yang melayang.
Ditambah tas kecil itu berhasil memakan koperku yang sangat besar dari ukurannya. Apalagi kalau bukan sihir namanya. Siapa sebenarnya Joba ini. Benda mati bisa seperti itu. Apakah dia berisi makhluk tak kasat mata?
Setelah itu dia juga memperlihatkan cara yang biasa saja. Memunculkan dan memudarkan koperku itu secara perlahan. Tapi itu tetaplah hal yang luar biasa.
"Ohya Joba... Apa aku boleh menanyakan sesuatu?" Ucapku setelah Joba menyelesaikan pertunjukannya. Aku hanya ingin memastikan sesuatu karena Joba bisa saja juga melihat masa depanku.
"Angkat saja telepon dari ayahmu itu. Dia tidak akan marah padamu. Semua itu hanya kamu saja yang terlalu mengambil sisi negatifnya hingga kamu menjadi benci kepada Ayahmu. Karena sesungguhnya dia melakukan semua itu karena dia sayang padamu."
Aku tidak berkutik mendengar penjelasannya itu. Padahal aku hanya ingin menanyakan satu hal padanya, tetapi dia sudah menjelaskan semuanya.
Dan karena itu juga aku akan meminta maaf pada Ayahku. Terimakasih banyak Joba, sudah membantu ku untuk mengambil keputusan.
***
*
note author:
Hallo teman-teman... terimakasih yang sudah bersedia membaca cerita yang udah kuusahakan yang terbaik ini.
aku selalu membutuhkan kritik dan saran dalam bentuk apa pun itu untuk kemajuanku dalam penulisan cerita selanjutnya.
jadi jangan sungkan ya keluarin semua unek-unek teman semua hehe..
terimakasih..
__ADS_1
salam hangat, Hka