JOBA

JOBA
[06] Ya, sebuah buku


__ADS_3

***


Aku mencari-cari orang yang ingin ku temui itu– sedang berada di mana. Hingga akhirnya aku berada disebuah lorong yang terdiri dari dua pintu saling berhadapan dan satu pintu tepat mengarah ke hadapanku–yang jelas orang yang ingin ku temui itu sering mengarah pergi ke lorong ini.


Aku pun memberanikan diri untuk mengetuk salah satu dari ke tiga pintu tersebut. Aku yakin dia pasti berada disalah satunya. Mulai menuju pintu cokelat yang melekat pada dinding sisi kananku.


Mengetuknya tiga kali ketukan–hening–tidak ada tanggapan apa pun dari dalam ruangan. Mencoba mengetuknya kembali–kini dengan seruan memanggil namanya. Tetap aku tidak mendapati tanggapan. Hingga mendadak pintu di kiri ku berbunyi terbuka. Seketika itu juga aku terkejut melihat ke sumber suara.


Dada bidang tanpa sehelai busana menutupinya, sedang diam melihat ke arahku dengan sepasang bola mata biru terang. Tak lupa beberapa butir air mulai berjatuhan dari helaian rambut panjangnya yang basah–mengalir ke pergelangan tangan memperlihatkan beberapa urat ototnya yang jelas itu menandakan ia sering mengangkat alat berat.


Hingga aku terfokus pada kotak-kotak yang melengkapi bagian perutnya–menyadarkan aku bahwa dia adalah sosok tuan rumah yang sedari tadi ku cari-cari–bukanlah postur telanjang dada yang seenaknya saja bisa ku nikmati untuk memuaskan nafsu mata ini.


Sontak aku membalik badan menutupi kedua mata dengan telapak tangan. Dan benar-benar meminta maaf kepadanya. Juga menjelaskan mengapa aku bisa berada di sini.


"Ooh kalau begitu kau letakkan saja di dapur. Lalu kau harus sediakan makanku untuk besok pagi! Dan kamar mu yang ini." Jelasnya mengetuk pintu yang melekat pada tembok sisi kananku.


Lebih tepatnya berhadapan dengan pintu yang awalnya sudah ku ketuk. Aku yang semakin malu dengan apa yang sudah terjadi tak berani lagi untuk mengucapkan kata-kata. Hanya bisa mendengar dia yang baru saja menutup pintu sebelah kiriku. Dan bersamaan itu pula kulihat ke arah itu dan ya dia sudah menghilang–masuk ke dalam kamarnya.



Pagi ini seperti permintaannya kemarin, aku sudah menyediakan sarapan untuknya tidak lupa juga menyiapkan buah-buahan sebagai makanan pembuka dan penutupnya.


Setelah itu aku bergegas kembali ke kamarku agar tidak bertatapan dengan mata biru yang tajam itu.


Aku tidak mau mengingat postur tubuhnya lagi yang pagi ini tak sengaja ku lihat kembali. Dan itu bukanlah sekedar handuk lagi yang menutupi bagian bawahnya. Melainkan celana ketat hitam pendek jauh di atas lutut, membuat tulang pinggulnya itu sangat melengkapi bagian pahanya yang sedikit berotot.


Rasanya tubuhku semakin memanas mengingat postur tubuh atletis yang sempurna itu. Ini pertama kalinya aku melihat semua yang ada di kebanyakan media secara nyata.


__ADS_1


Pria yang memiliki tinggi sekitaran 185 dan punggung yang lebar itu, kini berjalan mulai menjauhi pandanganku. Aku berusaha mengikuti langkah kaki panjangnya dari belakang.


Hingga aku berhasil menggenggam sedikit mantelnya untuk menghentikan langkah kaki pria tampan ini. Aku pun memohon padanya untuk tidak meninggalkan aku di rumah yang seperti neraka itu. Dengan satu persyaratan–bawakan buku yang diperlihatkan oleh ayah kepadanya.


Buku tua yang jelas sekali sering disembunyikan Ayahku di mana keberadaannya. Dari awal aku mengetahui semua itu, aku yakin sekali dia tidak ingin buku ini berpindah ke tangan orang lain. Lantas dia menyimpannya di ruangan rahasia–yang berada di balik lemari kamarnya. Mengira tak ada seorang pun yang akan mengetahui keberadaan tersebut.


Aku yang kini berhasil memasuki kamar Ayahku dengan waspada, masih berjaga-jaga dengan langkahku agar tidak membangunkannya–ia sedang terlelap di ruang kerja tepat sebelah ruangan ini. Berusaha melancarkan aksiku untuk mengambil buku itu dan segera pergi meninggalkan rumah ini.


Dan aku baru saja berhasil menapaki kakiku di atas sebuah kursi yang tadi berusaha ku pindahkan tanpa suara–akhirnya berhasil mencapai rak kelima dari lemari itu. Dimana tombol untuk membalik lemari berada pada deretan ke sebelas dari pojok kanan.


Tidak memperlama waktu, aku pun segera menarik buku berwarna biru tua dan ya lemari pun berputar membalikkan dirinya sendiri. Tampaklah sebuah buku yang selalu disembunyikan Ayahku tepat berada di tengah.


Segera aku mengambilnya dan mendorong kembali lemari tadi ke arah yang berlawanan dari putarannya. Lemari pun kembali terlihat seperti sediakala tanpa mengeluarkan suara.


Kemudian aku bergegas meninggalkan rumah ini, tidak lupa membawa apa saja yang sudah ku persiapkan.


***


Kalian tahu, semua orang pasti bisa berubah. Aku yakin orang seperti ku ini tidak akan tahan lama menerima perlakuan yang menyakitkan itu.


Tetapi aku tidak akan mengubah semua pandangan mereka terhadapku. Aku tetap membiarkan semua ini terjadi padaku untuk mendapatkan apa yang ku inginkan. Oleh karena itu buku dan benda spesial ini bisa berada pada genggamanku sampai sekarang.


Buku di mana yang mengisahkan tentang seseorang. Seseorang yang bernama Avleinsist, yang berhasil menemukan dunia lain, dan dunia itu hanya bisa dimasuki dengan menggunakan sebuah kunci. Dan kunci inilah yang sedang dicari keberadaannya. Karena dia sudah menghilang beratus-ratus tahun lamanya.


Tidak hanya itu, ternyata ada beda lain yang bisa menuntun kita ke kunci tersebut dan akhirnya aku juga berhasil mendapatkan salah satu dari benda itu. Di mana benda tersebut sebenarnya mati dan akan hidup jika dia sudah mendapatkan apa yang sebenarnya dia cari.


Itulah yang terjadi saat ini.


Benda itu hidup saat pemuda ini berada di dekatnya. Meyakinkan aku akan satu hal, bahwa kunci itu sudah bersamanya.

__ADS_1


Pemuda ini sangatlah pandai berbicara. Sampai dia berhasil mamatikan perkataanku untuk menyembunyikan sesuatu yang dimilikinya. Aku juga yakin sekali nama itu bukanlah nama dia yang sebenarnya. Dan aku punya caraku sendiri untuk menghadapi ini.


Tapi aku tidak mengira semua ini terjadi. Vlivy. Aku benar-benar tidak menyangka dia sangat berani melakukan semua ini padaku. Dan pasti itu semua karena pemuda itu. Apa aku akan membiarkannya? Ya! Sepertinya lebih baik begitu asalkan tetap di luar jangkauan Derk dan perkumpulannya. Entah mengapa aku percaya pada pemuda satu ini, oleh karena itu aku sedikit menceritakan padanya apa yang kuketahui.


Dan Aku akan mulai mengawasi pergerakannya. Derk. Yang pasti tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan keinginannya. Tujuan kami sama dan dia yakin aku memiliki benda itu. Aku hanya tidak akan terima kalau saja dia berani menyentuh putriku satu-satunya. Sekiranya hal itu terjadi, aku akan menggunakan rencana terakhirku–membunuhnya.


"Kau! Jangan sekali-sekali kau menyentuh Vlivy!" ucapku lantang yang kini sudah menarik kerah bajunya membuat dia sedikit membungkukkan tubuhnya ke bawah.


Pria yang umurnya dua puluh tahun lebih muda dariku. Yang baru saja mengancamku untuk memberikan benda yang dia inginkan. Dia tidak akan sungkan membunuh putriku, jika aku tetap tidak memberikan benda itu.


Derk Erker Collin. Pria yang diakui sebagai pemimpin dalam perkumpulannya–dan pasti juga merupakan salah satu orang yang tidak menganggap keberadaanku. Dia percaya bahwa aku yang selalu melarikan diri ini, sudah memiliki benda itu. Bahkan dia tidak akan mengurungkan niatnya yang selama ini ingin menyingkirkan diriku dari dunia ini. Tetapi dia tetap mengurungkan niat itu, karena aku merupakan keturunan Blee–yang sangat ahli dalam menemukan sesuatu.


"Huh! Apa yang akan kau lakukan? Kau bahkan tidak akan bisa membunuhku!" Dia mendengus di wajahku sembari menepis kuat tanganku dan menarik tubuhnya kembali ke postur awal–berdiri tegap.


Dan sesungguhnya benar yang di katakannya barusan, aku tetap tidak bisa membunuhnya karena sudah berbagai cara kulakukan. Dia akan kembali muncul di hadapanku dengan keadaan yang normal.


Aku yang akhirnya menyerah kalau dia sudah membawa nama anakku satu-satunya itu–akhirnya memberikan juga benda itu ke padanya. Yang aku sangat yakin ini semua barulah suatu permulaan. Aku berfirasat dia tetap akan melancarkan rencana awalnya–karena Vlivy yang saat ini sudah meninggalkan diriku dengan sebuah buku yang amat sangat penting. Buku Avleinsist Forqueto.


***


*


note author:


Hallo teman-teman... terimakasih yang sudah bersedia membaca cerita yang udah kuusahakan yang terbaik ini.


aku selalu membutuhkan kritik dan saran dalam bentuk apa pun itu untuk kemajuanku dalam penulisan cerita selanjutnya.


jadi jangan sungkan ya keluarin semua unek-unek teman semua hehe..

__ADS_1


terimakasih..


salam hangat, Hka


__ADS_2