
Saat dunia Greyaq ini dapat dilihat oleh kedua mata, ternyata dunia ini ditutupi oleh sebuah kaca yang aku belum mengetahui sejauh apa berada di atas sana.
Karena saat berada di bagian kota, aku tidak dapat melihat kaca yang seharusnya menjadi langit-langit dari bawah sini. Padahal ketika kami memasuki pintu gerbang besar itu, untuk menuju kota tidaklah membutuhkan waktu yang lama, bahkan hanya berlalu dalam hitungan detik.
Lalu dari perlakuan semua makhluk yang ada di dunia ini, sepertinya Joba dan Avlein ini adalah pemimpin yang sebenarnya dari dunia Greyaq.
Bahkan seseorang yang duduk di singgasana itupun rela menyungkum lantai di hadapanku yang bahkan sama sekali tidak mengharapkan semua perlakuan ini.
Saat ini sosok yang berpenampilan seperti seorang raja itu masih bersujud di hadapanku, menunggu apa seruanku selanjutnya.
Begitu juga dengan Joba yang hanya berdiam diri di sebelahku, padahal seharusnya dia yang angkat bicara karena tahu aku juga tidak ingin menerima semua perlakuan ini.
Segera aku menarik pundaknya untuk berdiri tegak lurus di depanku. Tetapi sama halnya seperti prajurit tadi, dia segera berpaling dari tatapanku untuk menundukkan kepalanya memberi hormat padaku.
"Hei ayolah, kau juga tahu aku sendiri masih bingung dengan semua ini! Tolong jangan perlakukan aku seperti ini!" ucapku kepadanya sembari melepas desahan yang cukup panjang.
Membuat dia akhirnya mengangkat kepalanya dan sekilas menatap ke arahku kemudian sepasang mata kuning itu beralih ke arah Joba.
"Ya, maka dari itu kami datang ke sini untuk menemuimu!" Joba berucap, kembali mengubah pandangan mata kuning itu ke arahku.
Dan dari perkataan Joba pula aku semakin dipenuhi dengan pertanyaan, ada apa sebenarnya ini? Aku berfirasat akan ada sesuatu yang perlu ku lakukan.
Seorang pria yang sedikit lebih tinggi dariku dengan rambutnya yang berwarna cokelat, juga terdapat sebuah mahkota mengkilap di kepalanya.
Tidak lupa jubah berbulu tebal berwarna emas yang berkilau ketika dia melangkah–menyeret lantai pula mengikuti ke mana dia berjalan. Pria yang masih berparas muda sekitaran umur 30 tahunan beserta sepasang bola mata kuning yang tegas itu, aku yakin sekali tidak akan ada yang berani menentangnya.
Yang membuat aku lebih penasaran, mengapa dia terlihat seperti manusia biasa?
"Paduka pasti bertanya-tanya, mengapa aku seperti kalian sementara yang lainnya berparas muka yang unik dan juga memiliki tinggi yang berbeda sangat jauh dariku?" ucapnya seraya menuntun kami ke ruangan lainnya.
Dia kembali menatap ke arahku dan berkata, "Dan aku sebenarnya tidak sama seperti Joba yang pandai membaca pikiran orang lain."
Membuat aku sedikit bergidik karena aku mengira dia sama seperti Joba, sebab dia bisa mengatakan apa yang setidaknya sedang kupikirkan.
Terlihat jelas makhluk yang berjalan di sebelah kananku juga langsung menahan tawanya agar tidak pecah, siapa lagi kalau bukan Joba namanya. Ingin sekali aku memukul kepalanya itu yang sungguh susah ku capai.
"Oh, sepertinya Paduka Joba baru saja membaca pikiran Anda Paduka Avlein?" sahutnya lagi kini akhirnya pintu ruangan yang sedari tadi kami tuju, terbuka.
Tampak berbagai jenis makanan sudah terhidang disebuah meja panjang seperti yang biasanya terdapat di dalam istana.
Ini semua sungguh luar biasa. Cahaya yang terpancar di atas meja, membuat seluruh makanan yang dihidangkan itu terlihat sangat lezat. Mengingatkan aku bahwa aku belum seutuhnya mengisi kekosongan perut ini.
Tiba-tiba beberapa kursi mulai bergerak dengan sendirinya, sang raja pun menyerukan kami untuk segera mendudukinya. Saat itu pula para pelayan menuangkan berbagai jenis minuman di gelas yang tersedia.
Walaupun mereka memiliki tubuh yang kecil, tetapi mereka bisa menggapai meja yang lebih tinggi dari mereka–lebih tepatnya melayang ke atas meja itu. Aku bahkan tak mengerjapkan mataku melihat kejadian ini. Ternyata kaum ini juga luar biasa.
"Jadi tunggu apa lagi? Silahkan dinikmati hidangannya Paduka!" celetuknya memecahkan konsentrasiku yang sibuk terkagum dengan sekitar.
"Hei ayolah, tolong berhenti memanggilku Paduka! Aku tidak terbiasa dengan semua ini."
"Baiklah-baiklah, Tuan Avlein, perkenalkan nama saya Yua."
"Cukup memanggilku Avlein saja dan bicaralah selayaknya. Jangan terlalu sopan seperti itu, aku ini lebih muda darimu!"
__ADS_1
Dia tertawa mendengar keluhanku barusan sembari mengangkat gelas untuk menenggaknya beberapa tegukan.
Kemudian dia berbicara kembali,
"Jadi, aku yakin kau tidak akan tertarik padaku untuk menceritakan masa laluku tentang mengapa aku ini adalah seorang manusia, sementara yang lainnya merupakan makhluk yang berukuran kecil?"
Dari pertanyaannya itu aku sedikit berpikir mungkin dia mengatakannya seperti itu, karena kisahnya mempunyai alur yang cukup panjang. Benar aku penasaran dengan semua yang ada di sini, tetapi aku ke sini bukanlah karena hal tersebut.
"Hmm ... mungkin intinya seperti ini, aku ini adalah salah satu orang yang menemukan dan menyelamatkan hidup makhluk tersebut. Dan sejak saat itu dia ikut bersamaku bahkan rela menjadi budakku demi mendapatkan izin agar bisa selalu bersamaku."
Lanjutnya seraya mengusap dagu dan menariknya bagai ia memiliki janggut. Padahal kenyataan bahwa wajahnya tidak ditumbuhi bulu sehelai pun.
"Dan ada apa dengan tempat ini?" balasku tampaknya dia akan tetap mengerti dengan apa yang ku maksudkan.
"Maksudmu kaca yang ada di atas sana, kan?" dia menghentikan pembicaraannya untuk mengambil satu buah jeruk dan segera mengupas kulitnya.
"Hmm ... Seperti yang kau pikirkan, itu pelindung dunia ini, dan juga tidak akan bisa dilihat dari bawah sini. Karena itu salah satu kekuatannya Kakek Berlig. Aku ini apalah yang hanya manusia biasa, haha ...."
"Maaf sebelumnya, aku tidak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan!" celetuk Vlivy membuat Yua menatap ke arahnya.
Menghentikan tangannya yang hendak melahap jeruk yang baru saja selesai dikupasnya. Lantas ekspresinya juga berubah seolah dia baru tersadar bahwa ada seorang lagi yang ikut bersama kami. Begitu juga aku yang baru sadar sedari tadi menggunakan bahasa dunia ini.
"Oh! Maafkan saya Paduka Ratu! Saya melupakan Anda juga datang bersama Avlein!" balasnya menggunakan bahasa manusia biasa seraya tergelak di tempatnya duduk.
Kemudian kembali meletakkan jeruknya tadi dan saat itu pula dia berdiri untuk membungkuk ke arah Vlivy memberi hormat.
Vlivy yang juga terkejut menerima perlakuan itu, dengan sigap berdiri dan membungkuk pula di hadapan Yua. Tidak lupa wajahnya merona dan menyerukan agar melayaninya dengan cara yang sama seperti diriku. Tetapi sang raja Yua hanya tertawa menerima semua permintaan itu
Lalu dia mulai bergerak mendekati diriku.
"Jadi, sebelum aku mengerjakan tugasku, ada perlu apa Avlein datang ke sini?"
Ya, akhirnya aku akan melanjutkan cerita dari buku tersebut. Saat itu pula ketika aku melirik ke arah Joba, sebuah buku muncul di genggamanku. Mulai merapikan piring dan gelas yang ada di atas meja, bertujuan mendapatkan posisi untuk membuka buku tersebut.
"Oh, buku Avlein! Ternyata selama ini buku itu bersamamu?! Asal kau tahu, buku itu sudah lama menghilang dan diincar oleh semua makhluk di dunia ini. Tetapi aku tidak tertarik terhadap buku itu, walaupun sesungguhnya buku tersebut adalah buku ajaib. Paduka Avlein benar luar biasa, menciptakan buku yang bisa berubah sendiri isi ceritanya."
"Tapi aku baru mendapatkan buku ini."
Dia berkedip beberapa kali tampak dia terkejut dengan jawabanku barusan. Kemudian dia menarik salah satu kursi dan duduk lebih dekat denganku–di sisi kananku.
"Dan benarkah kau juga baru bertemu Joba?" Aku hanya mengangguk membalas pertanyaannya itu.
"Oh Lord! Kau pasti sudah bertemu dengannya, paduka Avlein! Aku sungguh sangat merindukannya!"
"Kakek itu ... Avlein?!"
Dia kembali mengerjapkan kedua matanya pelan. Sedikit melirik ke arah Joba dan kembali menatap ke arahku. Seperti, dia ingin memastikan sesuatu dulu sebelum menjelaskannnya.
"Ya, dia! Haha ... Aku benar-benar rindu padanya. Sudah lama aku tidak berjumpa dengan paduka Avlein. Hahaha ...."
"Dan sepertinya kau menyembunyikan sesuatu? Dan ... Joba tidak mengizinkan untuk memberitahukannya, aku benar, kan?"
"Haha ... Dan mengapa kau mengeluarkan buku tersebut?" balasnya menepuk kedua tangannya satu kali. Jelas sekali bahwa dia menghindar dari apa yang baru saja kutanyakan.
__ADS_1
"Baiklah kalau memang seperti itu ... Aku ke sini karena buku ini yang menuntunku." balasku seraya membuka buku tua tersebut–kelembaran kosong yang terakhir kali kulihat.
Lalu tak kusangka di sana sudah terdapat sebuah kata.
"Yua?" ucapku menatap keheranan padanya.
"Haha, sepertinya benar di sana tertulis namaku! Oh ternyata paduka Avlein masih ingat denganku." balasnya yang kemudian terdiam melihat ekspresiku yang saat ini sedang fokus menatapnya.
Aku yakin dia sadar kalau aku tidak bisa diajak bercanda untuk saat ini.
"Kau boleh menceritakan semua Yua!" celetuk Joba memecah tatapan mata kami.
"Baiklah, sekarang aku sudah mendapatkan izinnya." balas Yua memberikan senyumannya.
Membenarkan posisi duduknya dan siap menceritakan apa yang ingin disampaikannya sedari tadi.
"Pertama untuk kejadian tadi, benar aku mengelak pertanyaanmu karena persetujuan Joba. Dan ... Sebenarnya yang kau jumpai itu bukanlah sosok Avlein yang sesungguhnya."
"Jadi maksudmu itu benar dia, tetapi dalam wujud orang lain?"
"Ya, dia bisa berubah menjadi orang lain dan tentu saja Avlein yang mengantarkan Joba kepadamu, karena orang lain pasti tidak akan mengembalikannya padamu."
Terlintas dipikiranku suatu hal penting. Siapa sebenarnya Avlein ini? Kenapa aku baru tersadar sekarang, bahwa aku sangatlah berbeda jauh dengannya. Aku ini hanyalah manusia biasa. Tidak seperti dia yang memiliki kekuatan. Bisa membuat buku tua itu dan bahkan berubah wujud?
"Yap, kau pasti beranggapan kau tidak mempunyai kekuatan apapun!" lanjutnya lagi memecah renunganku.
"Kau yakin, kau tidak bisa membaca pikiran orang lain?"
Kembali gelak tawanya pecah tetapi kini dia tidak tertawa sendirian. Karena suara tawa yang sangat tidak ingin ku dengar, juga terdengar dari sebelah kiriku–Joba. Membuat aku menggerutu mengutuki mereka berdua, selalu saja keseriusanku dipermainkan seenaknya.
"Maafkan aku Avlein, benar aku tidak sehebat Joba. Tapi aku bisa mengetahuinya dari ekspresi yang kau tunjukkan." balasnya seraya menyeka air yang sempat keluar dari ujung matanya.
Sepertinya dia sangat bahagia denga apa yang baru saja terjadi.
"Baiklah, kedua ...." dia melanjutkan, "Kau datang ke sini karena petunjuk dari buku Avlein, dan mendapatkan akhiran sebuah kata yaitu namaku sendiri.
Sepertinya paduka Avlein juga ingin aku menceritakan sesuatu padamu. Jadi seperti yang kukatakan tadi, sebelum aku melaksanakan tugasku, berkenankah Avlein mendengarkan cerita yang cukup panjang ini?"
Aku kembali berpikir sejenak, mungkin dari cerita yang akan ku dengarkan itu, aku bisa mendapatkan sesuatu?
Atau aku memang harus mendengarkannya untuk melanjutkan tulisan dari buku itu?
"Bagaimana kalau aku menolaknya?"
"Oh jelas kau akan mengatakan itu ...." ucapnya kembali mengambil gelas yang berisikan air anggur.
"Kau tenang saja, cerita ini bukanlah tentangku, melainkan mengenai paduka Avlein yang dulu sempat singgah di dunia ini." lanjutnya kemudian tersenyum kepadaku, sepertinya dia tahu aku sedikit tertarik dengan apa yang baru saja dikatakan olehnya.
"Dan aku yakin sekali Joba tidak menjelaskannya padamu, maka dari itu kau berada di tempat ini sekarang."
Aku pun sedikit gelisah dari posisi dudukku mendengar pernyataannya barusan. Bagaimana bisa dia dengan mudahnya menebak semua yang terjadi padaku. Apa benar semua itu bisa dilihat dari ekspresiku? Padahal aku sudah mencoba setenang mungkin.
*
__ADS_1