JOBA

JOBA
[31] Si 'Tangan Kanan'


__ADS_3

***


Seluruh para ahli kesehatan tengah berada di kamar ratu. Dengan beberapa pelayan yang juga menyertai membawa perlengkapan. Ratu tak kunjung sehat, satu bulan lamanya.


Bersamaan dengan itu pula seluruh penduduk dikumpulkan akan perihal suatu pengumuman. Bahwa pemimpin kerajaan telah digantikan oleh seseorang. Seorang yang mendapat kepercayaan penuh dalam pandangan para kaum yaitu Beni—tunangan ratu.


Sementara salah satu pelayan yang tak memedulikan pengumuman itu, masih menatap nanar ratu yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Menggenggam tangannya erat, mendengarkan semua yang dipintanya.


Ardo—tangan kanan ratu yang mengetahui semua kejadian. Sampai mengetahui siapa pelaku sebenarnya yang tega memberikan racun. Serta dia juga mengetahui bahwasanya sia-sia saja semua ahli kesehatan berada di sini, mereka tak akan berhasil menyembuhkan ratu.


Karena pengobat yang sesungguhnya entah kapan akan datang berkunjung. Avlein, Ardo benar-benar berharap dia segera tiba.


Tapi dia tahu juga itu tak akan terjadi, sebab dia mengetahui pula dunia ini akan segera hancur. Karena dia mendengarkan semua perbincangan antara ratu dan Avlein saat itu.


Begitu pula yang terjadi selanjutnya. Bukannya Beni berhasil memimpin kaum, malah dia membuat seluruh rakyat memberontak melawan kehendaknya.


Keadilan tak berlaku lagi di dunia ini. Mengakibatkan dia terbunuh oleh kaumnya sendiri. Tentu tak akan ada yang memijaknya karena sifatnya yang angkuh itu. Bahkan dia menyalahkan makhluk-makhluk yang tak bersalah sedikitpun.


Ardo, tentu membiarkannya mati sia-sia, malah dia bahagia akhirnya Beni menerima ganjaran dari sifat serakahnya itu. Yang sudah meracuni ratu dan bahkan membuat kaum ini melupakan jati dirinya.


Saling membunuh tersebar di mana-mana. Kaum terpecah menjadi beberapa bagian. Juga mulai mengancam dunia luar.


Tapi benar yang disampaikan Avlein, bahwasanya dunia Lionera akan terkunci dari luar. Bertujuan mencegah peperangan yang ingin dilakukan. Itu semua telah terjadi. Hingga kaum hanya bisa menguasai wilayah masing-masing.


Ardo mengamankan ratu di sebuah goa, yang ditutupnya dengan ramuan yang telah dia kuasai. Sebenarnya benar tak ada lagi yang peduli kepada ratu sejak dia jatuh sakit, tapi untuk berjaga-jaga jika saja terjadi saling memakan antar kaum, maka dia menggunakan kekuatannya.

__ADS_1


Sebenarnya saat semua ini sudah hancur, para kaum sudah berlomba-lomba membuat makhluk cipataan sendiri, bertujuan menguasai wilayah.


Tentu Ardo juga sudah melakukan hal yang sama, tetapi karena dia yang seorang diri kalah dengan jumlah, terpaksa dia hanya bisa menyembunyikan dirinya.


Hari demi hari berlalu hingga dipertemukan dengan mingguan. Minggu demi Minggu berlalu, bulan pun berkunjung untu melengkapi. Hingga bulan dipertemukan dengan tahun, bertahun-tahun akhirnya menjadi penguasa.


Dia masih menantikan harapan yang tak tahu pasti akan terwujud atau tidak. Yang jelas dia percaya bahwa ratu akan diberi kesempatan lagi.


Sampai pada akhirnya berpuluh-puluh tahun berlalu, sang ratu semakin melemah. Kondisi dunia pun semakin buruk. Bahkan Ardo kesusahan untuk mengumpulkan bahan makanan. Untuk air yang bersih juga sulit ditemukan.


Berkeliaran di luar tak aman lagi. Makhluk yang aneh-aneh berada di mana kita menginjakkan kaki. Dia mempertaruhkan nyawanya sendiri demi mendampingi ratu.


Dia rela melakukan semua itu karena dia tak pernah lupa dengan kebaikan yang dilakukan oleh ratu. Jika saja waktu itu dirinya tak diselamatkan, maka saat ini dia tidak akan berada di sini. Bahkan di dunia ini.


Tiba-tiba suatu hari. Pelindung yang berada 1 mil dari tempat persembunyiannya, baru saja di terobos paksa. Membuat dia bersiap siaga di samping ratu jika terjadi hal yang tak terduga.


Penuh dengan pertanyaan pula di pikirannya setelah itu. Siapakah gerangan yang datang? Tak mungkin ramuannya bisa ditembus oleh kaumnya yang lain, karena dia sudah memastikan bahwa itu hanyalah tangan kanan ratu saja yang mengetahui bahan-bahannya.


Derapan kaki pun mulai mendekati goa. 2 orang. Tidak! Mereka berempat! Dengan salah satunya yang mungkin sudah tak bernyawa lagi. Pikir Ardo. Dia dapat mengetahuinya dari langkah yang menyentuh tanah persembunyian. Dengan berat orang itu saat berlari.


Dan tentu juga bau darah, dengan tetesan yang sangat banyak. Ardo pun sudah mengeluarkan ramuan pelindung yang menutupi tempatnya berdiri di samping ratu. Tameng oranye–melingkar setengah di hadapannya.


Dan beberapa senjata lengkap berada di dalam tas pinggangnya. Dia siap menyambut kedatangan tamu. Dan saat itulah juga dia melihat 4 sosok. Salah satunya menggendong seseorang yang dibanjiri darah.


Dia bersimpuh di bawah setelahnya. Kakinya lemas seketika. Melihat sosok yang sangat dinantikannya akhirnya datang juga. Tapi siapa yang tak sadarkan diri itu? Dia berharap bukanlah Paduka Avlein ....

__ADS_1


"Kami belum terlambat!" Joba berkata setelah itu. Membuat tameng itu menghilang. Perasaan lega pun memenuhi raganya. Ado tersenyum menyambut kedatangan mereka. Tidak lupa memberi hormat kepada sang raja.


Bersamaan dengan itu pula, kumpulan daun dan kayu berterbangan melewati tempat mereka berdiri, menyusun diri membentuk sebuah ranjang. Joba segera membaringkan orang itu di atasnya. Melepas pakaiannya dan setelah itu terjadi fenomena yang mustahil.


Tapi masih ada dua orang lagi yang menyusul keberadaannya, tak pernah dilihatnya makhluk jenis apa mereka itu. Lingkaran hitam di dahi, dia hanya pernah mendengar cerita tentang kisah mereka. Tak menyangka ternyata makhluk itu memang ada.


Telah lama dia menyaksikan fenomena itu, akhirnya dia mengetahui siapa dia gerangan. Avlein. Bahkan dia syok setelah mengetahuinya. Apa dia akan baik-baik saja? Tentu! Itu pasti.


Karena tubuhnya bisa kembali ke bentuk semula. Bahkan dia lihat sendiri jantungnya yang sempat berhenti itu berdetak kembali. Setelah Joba memberitahukan pula dia pun beranjak meninggalkan ruangan untuk menyiapkan jamuan untuk para tamu.


Tapi makanan yang telah dikumpulkannya malah terjatuh tanpa disengaja. Perasaan bahagia membuat dia tak sadarkan diri untuk sejenak. Melihat ratu Amira yang sudah berdiri sendiri. Pucat diwajahnya pun tak terlihat lagi. Tergantikan wajah cantik yang sudah lama dinantikannya.


Ingin rasanya dia berlari ke sana untuk ikut memeluk tubuh wanita itu. Tapi tidak. Dia melakukan kesalahan.


"Oh maafkan aku! Aku akan membawakannya lagi!" ucapnya pergi membereskan makanan yang bertebaran di lantai.


Tapi Joba segera menjentikkan jemarinya sekali. Ketika itu pula makanan-makanan itu melayang sendiri pergi menyusun diri ke atas nampan yang di bawa Ardo. Tentu juga sudah bersih dari kotoran yang melekat. Joba melayangkan nampan itu ke atas meja.


"Kau bisa memeluk ratu!"


Saat itu pula ratu melihat ke arah Ardo. Dengan senyuman yang dibasahi air mata, dia membentang kedua tangannya. Menyambut pelukan hangat dari sang tangan kanan. Dia benar-benar berterimakasih padanya karena sudah setia berada di sisinya selama ini.


Mereka menangis tersedu-sedu dalam pelukan tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2