
Seorang gadis, yang masih polos, yang aku yakini juga pasti ia tidak akan betah tinggal di rumah menyeramkan itu. Gadis setinggi pundakku–yang terkadang membuatku kesal terhadap reaksinya–Joba mengatakan dia juga tak pernah mendapatkan kehidupan yang membuatnya bahagia. Hingga dia ditakdirkan bertemu denganku. Dan aku harus bersamanya.
Ya walau kemarin aku sempat menyetujui kenyataan ini, tapi entah mengapa aku kembali ragu atas keputusan yang sudah ku yakini itu. Rasanya aku masih belum rela melepaskan kehidupan damaiku ini. Dan mengapa aku semakin berfirasat aku akan punya tanggung jawab yang besar.
"Hei ayolah Avlein! Mengapa kau seperti ini? Dan lagian aku juga tahu kau sangat menyukai hal yang baru." celetuk Joba menghentikan pemikiran ku. Dan melirik ke arahnya yang sekarang mulai menghampiri diriku.
"Kau tahu sediri kan, kenapa aku bisa menjadi ragu dengan keyakinan ku ini. Itu semua karena kau yang tak menjelaskannya kepadaku. Dan sekarang muncul suatu benda yang tak bisa kau jelaskan lagi. Buku apa itu? Bahkan dia tidak ada gunanya sama sekali karena bahasa yang tak dapat ku mengerti itu!" jelasku panjang lebar dengan nada suaraku yang cukup tinggi.
Aku hanya ingin melontarkan semua amarah ini. Sampai kapan aku harus bersabar. Yang ada aku semakin pusing memikirkannya dan itu semua sama saja aku sudah mulai menjauh dari kedamaian hidupku.
"Tenanglah Avlein. Kau akan segera mengerti semua ini. Aku janji itu."
Aku hanya melemparkan pandanganku dari Joba sembari mendengus dengan sangat kesal, aku yakin pasti jawabannya akan selalu seperti itu. Percuma saja rasanya aku terus berdebat tentang permasalahan ini dengannya.
Kemudian pergi membaringkan tubuhku membelakangi Joba. Aku tidak mau lagi menatap ke arahnya, dari pada kesalku semakin menjadi-jadi. Aku pun memutuskan untuk memejamkan kedua mataku.
Avlein ....
Samar-samar aku mendengar ada yang memanggil namaku. Membuat aku perlahan membuka sebelah mataku–disusul dengan mata satu nya lagi karena ke anehan pandangan yang ku lihat saat ini. Sontak aku terduduk dari baringan ku. Semuanya putih. Berkabut tebal. Mencoba mengibaskan kedua tanganku berusaha menghilangkan kabut itu, tetap percuma saja.
Aku mulai berlari tanpa tujuan, kepanikan pun mulai meresapi jiwaku. Baru kali ini aku merasakan degupan jantungku berlaju lebih cepat dari biasanya. Bahkan mengalahkan degupan jantungku saat aku mendapati kakek tua yang memberikan Joba, menghilang dalam hitungan detik.
Aku yakin sekali kalau ini bukanlah sebuah mimpi. Dan itu juga mengingatkanku pada satu hal untuk menghindari kepanikan–Joba–yang katanya akan menuntunku.
"Joba di mana kau?! Jangan main-main padaku!" teriakku kemudian dan hanya gemaan suaraku yang membalasnya.
Kembali aku meraba-raba sekitarku–dan mulai melanjutkan lagi langkah kakiku berharap ada satu benda saja yang berhasil ku sentuh.
Avleiin ....
Kembali terdengar suara yang menyebutkan namaku tadi. Segera aku mengarah ke sumber suara itu–menerjang kabut putih yang tak ada habisnya ini.
Dekat semakin dekat.
Aku semakin mendekati bayangan hitam yang sempat samar ku lihat dari kejauhan. Tidak memperdulikan lagi sosok apa yang akan ku jumpai di depan sana, yang jelas aku harus bertemu seseorang detik ini juga.
Akhirnya aku berhasil menggapai bayangan itu. Yang kini hanya melemparkan senyumannya kepadaku. Seseorang atau bahkan bukan manusia? Aku tidak tahu pasti jenis makhluk apa dia ini. Karena wajahnya itu yang sangat berbeda. Tetapi memiliki rambut dan bahkan mengenakan pakaian layaknya manusia. Tapi aku meragukan itu semua.
Aku juga tidak dapat menebak dia ini seorang perempuan atau laki-laki yang jelas dia lebih tinggi dariku–sekitar satu meteran di atasku. Dengan kulit yang pucat, berambut putih dan perak kebiruan yang panjang, dia memiliki paras muka lebih muda. Jikalau dibandingkan dengan umur manusia, dia sekitaran umur 25-30an.
Dan yang terakhir. Matanya. Mata apa itu? Bola matanya berwarna kuning sedang sclera matanya berwarna biru. Itu membuatku sangat yakin bahwa dia bukan lagi seorang manusia.
__ADS_1
"Hei, aku ini makhluk hidup kok. Berhentilah berpikir yang aneh-aneh!" sahutnya mulai menghampiriku dan aku semakin syok mendapati jawaban itu. Ini jelas suaranya Joba. Tapi kenapa bisa seperti ini.
"Dan aku juga membawa mereka!" serunya lagi kini membentangkan tangan kanannya. Memperlihatkan dua anak laki-laki–sekitaran umur lima tahun–yang sudah tersenyum lebar ke arahku memperlihatkan gigi taring mereka. Yang satunya memiliki tubuh sedikit berisi.
Seketika mereka langsung berlari menghampiriku membuat aku terjatuh terduduk di bawah. Sementara mereka dengan puas memelukku sambil menyiumi pipiku.
Bogi dan Bogu.
Ya mereka berdua. Tampak seperti manusia. Telinga mereka panjang, memiliki bola mata yang unik. Flip Flop–Biru dan kuning. Ternyata mereka berdua anak kembar dengan berambut pendek berwarna pirang. Satu hal yang membuat mereka terbilang bukan manusia biasa. Di dahi mereka, terdapat sebuah lingkaran hitam seperti lobang.
Makhluk apa mereka ini? Dan tempat apa ini sebenarnya?
"Ini bukan duniamu lagi Avlein. Maka dari itu kau melihat rupa kami seperti ini. Inilah wujud asli kami yang sebenarnya." Aku mengerjap pelan mendengar penjelasan itu. Mulai sedikit percaya bahwa dunia yang tersembunyi itu benar adanya. Tapi, apakah ini tempatnya?
"Mungkin ini salah satu dunia itu. Tapi sebenarnya kau sudah sering ke tempat ini. Bahkan kemarin baru saja kau kemari. Hanya kau yang tidak dapat mengingatnya." sahut Joba lagi mulai melangkah maju ke depan. Sementara aku bangkit dari dudukku pergi mengikutinya dari belakang–Bogi dan Bogu berjalan menggandeng tangan kiri dan kanan ku.
"Kita mempunyai tujuan di sini." ucapnya lagi menghentikan langkahnya dan tangannya mulai terangkat–menjentikkan jemarinya di udara. Belum sempat aku mengerjapkan mata, semua kabut tebal itu langsung berhembus kencang lenyap entah ke mana. Kejadian yang sungguh menakjubkan.
Dilain sisi aku baru tersadar bahwa aku sudah berada di tempat yang berbeda. Tempat yang benar-benar luar biasa. Kalian tak akan percaya semua ini.
Kami semua sudah berada di sebuah lorong yang ku rasa tidak akan kita temui ujungnya. Dan dinding tempat ini yang bikin kita semua terpaku. Adalah sebuah rak buku yang tingginya sampai langit-langit. Sekitar lima belas hingga dua puluh meter menjulang ke atas–kemudian menghilang dari balik kabut putih yang menutupinya. Yang terlintas dipikiranku, ini jelas bukanlah sebuah ruangan lagi.
Kami terus berjalan hingga akhirnya kami menemukan ujung dari lorong yakni sebuah tembok. Yang lebih tepatnya jalan buntu. Aku keheranan melihat ke arah Joba. Sementara ia hanya tersenyum kecil dan mulai merogohkan tangan ke dalam saku mantelnya–mengeluarkan sebuah kartu berwarna emas. Segera menempelkannya pada tembok itu. Yang tiba-tiba saja menimbulkan sebuah retakan.
Trak... Trak...
BUUM!
Tembok itu meledak. Membuat aku secara spontan menyilangkan tanganku menutupi kepala–berpikir aku akan terkena bebatuan yang hancur itu.
Tetapi tidak.
Tidak ada satupun batu yang terlempar jauh bahkan menyentuh tanah, batu itu hanya hancur menjadi debu dan menghilang tertiup angin yang entah dari mana asalnya. Memperlihatkan sebuah ruangan gelap gulita dengan satu pencahayaan di depan sana. Dan kami berjalan menuju cahaya itu.
Sebuah kursi dan meja terbuat dari kayu berada di bawah pencahayaan yang kami lihat sebelumnya. Yang kini aku sudah mendaratkan tubuhku di atas kursi tersebut. Untuk menunggu kedatangan seseorang. Sementara Joba, Bogi dan Bogu hanya berdiri di hadapanku juga menunggu kedatangan orang itu. Tak lama kemudian, samar muncul sebuah cahaya kecil di depanku. Aku yakin orang itu sedang menuju ke arahku.
"Tidak. Dia sudah di belakangmu Avlein!" seru Joba membuat aku langsung mendongak kepalaku ke belakang. Dan ya seseorang yang sangat tinggi sudah berdiri di belakangku–dengan dibaluti jubah putihnya. Bahkan tingginya melebihi tinggi Joba. Satu hal yang tak bisa aku percaya yakni wajahnya. Aku yakin sekali umurnya sudah melebihi seorang moyang. Dia sangat tua. Tetapi tidak bungkuk sama sekali.
"Joba .... "
Mulainya dengan nada suara sedikit cempreng, pergi melewatiku menghampiri Joba, segera memeluk dan mengangkatnya. "Sudah lama kita tidak berjumpa kawan!" Dia mulai menggoyang-goyangkan pelukannya.
__ADS_1
"Tolong jangan perlakukan aku seperti ini di hadapannya, Arlmen!"
"Oh maafkan aku! Lagi pula, aku sangat merindukanmu Joba!" balasnya lagi kini melemparkan pandangannya ke arahku. Mata kami berjumpa. Mata merah itu perlahan mulai menyipit seperti meragukan sesuatu. "Dan... Ini kah dia? Jauh lebih muda dari yang sebelumnya!"
"Kau saja yang semakin tua Arlmen. Karena hanya itu perkataanmu dari dulu!"
"Dan anak muda, silahkan kau duduk kembali. Kau hanya perlu menunggu di sini dan mengikuti perintahku." lanjutnya lagi yang sedikit membuatku terkagum pada pria tua ini. Dia baru saja menghampiriku dengan gerakan yang sangat cepat. Hanya tak menyangka seorang moyang bisa melakukan gerakan secepat itu.
"Tenang saja anak muda, walaupun aku sudah tua, aku masih memiliki tenaga yang tak bisa diterima pemikiran logismu," sahutnya membuat aku sedikit bergidik. Oh baiklah ternyata dia sama seperti Joba. Dan polosnya aku tidak memikirkan lagi hingga ke sana. Membuat dia terkekeh pelan pergi menghilang ditelan kegelapan.
Beberapa saat dia kembali muncul di hadapanku–yang baru saja menghantamkan sebuah buku amat sangat tebal di atas meja. Membuat debu-debu yang ada pada buku itu berhasil menerpa wajahku dan aku yakin sekali sudah mengotori seluruh wajah ini. Sedikit terbatuk aku mulai menyekanya dengan tangan.
"Oh maafkan aku, tapi tidak ada yang mengotori wajahmu Avlein. Kau akan tetap tampan." ujarnya lagi sedikit terkekeh dan segera duduk di hadapanku sehingga melaraskan pandangan kami. "Dan aku juga lupa memperkenalkan diri." lanjutnya lagi kini mengulurkan tangan yang sangat besar itu di hadapanku. Segera aku menerima uluran itu.
"Namaku Arlmento, kau bisa memanggilku apa saja yang kau inginkan. Aku adalah penjaga tempat ini, dunia Emard." Jelasnya lagi melepaskan uluran tangan itu. Dan aku hanya tersenyum membalas semua itu karena aku yakin aku tak perlu menjelaskannya lagi. Dia sudah mengetahui semuanya.
"Ya dan kau juga melihat sendiri kan tempat apa ini. Banyak buku-buku menuju tempat ini, dan bahkan di hadapanmu saat ini ada sebuah buku yang sangat tebal. Inilah dunia ilmu pengetahuan. Kau mau belajar apa, semua bisa kau pelajari di sini!" lanjutnya lagi berhasil membuat aku mengangguk paham memperjelas semua ini.
"Dan ya sekarang kau harus mempelajari semua ini!" ujarnya memukul sampul buku yang tebalnya kira-kira setinggi 60 centimeter. Membuat kedua alisku terangkat mengira aku salah mendengar nya. "Tidak, kau benar harus mempelajari semua ini, karena itu yang kau butuhkan."
Aku hanya berdengus kesal menerimanya. Mengapa aku malah harus belajar. Tetapi kekesalanku menghilang setelah melihat tulisan pada buku itu. Aku yakin sekali aku pernah melihat huruf-huruf ini. Tapi ku rasa saat ini aku tidak punya waktu untuk memikirkannya.
"Selesai!" celetuknya menutup sampul belakang buku tebal itu. Aku yang terheran-heran masih mengerjapkan mataku beberapa kali. Karena rasanya ini belum lama semenjak aku merasa kesal tadi. Bahkan aku rasa itu tidak sampai dua jam lamanya. Secepat itu kah aku mempelajari semua ini?
"Ya kau sudah mengerti Avlein! Sekarang kau tak perlu khawatir lagi. Kau sudah menguasai semua bahasa ini. Bahasa beberapa dunia yang akan kau temui selanjutnya." Aku mengangguk paham mendengarnya. Tidak perlu bertanya lagi, aku yakin jawabannya pasti akan sama seperti Joba. Mereka pasti hanya sedikit menjelaskan saja.
Aku pun bangkit dari dudukku karena melihat Arlmen yang sudah berpindah dari posisinya. Tidak lupa mengucapkan banyak terimakasih karena ini sudah membantuku keluar dari keraguanku.
Dia membalas semua itu dengan sebuah pelukan dan ya yang pasti mengangkat tubuhku ke atas–membuat wajahku tenggelam di depan dadanya. Menggoyangkan pelukannya dan itu sungguh sangatlah menyebalkan. Aku akhirnya tahu alasan Joba jengkel menerima perlakuan ini.
Dan saat itu juga ketika pelukannya terlepas aku sudah kembali berada di kamarku. Sementara Arlmen menghilang perlahan. Membuat aku benar-benar ternganga lebar melihat semua kejadian itu.
*
note author:
Hallo teman-teman... terimakasih yang sudah bersedia membaca cerita yang udah kuusahakan yang terbaik ini.
aku selalu membutuhkan kritik dan saran dalam bentuk apa pun itu untuk kemajuanku dalam penulisan cerita selanjutnya.
jadi jangan sungkan ya keluarin semua unek-unek teman semua hehe..
__ADS_1
terimakasih..
salam hangat, Hka