JOBA

JOBA
[23] Pemimpin Kaum


__ADS_3

Makhluk berjubah itu berjalan ke arahku, kemudian dia mulai melesat ke sembarang arah, hingga sesuatu yang tajam menyentuh leher belakangku.


"Jika kalian berdua bergerak, kalian tahu apa yang terjadi padanya!" seru makhluk itu yang melayang di belakangku. Menyebabkan Bogi dan Bogu terpaksa menuruti perintahnya.


"Siapa kau sebenarnya, membuat keributan seperti ini?!" lanjutnya.


"Tapi kamilah yang diserang terlebih dulu!" balasku, kini benda tajam tersebut sedikit menjauhi leherku.


"Jadi kalian yang memulainya?" ujarnya kemudian dia melompat ke depan lima makhluk yang menyerang kami. Bersamaan dengan itu pula kelima makhluk itu bersujud di bawah.


"Tapi serangan kami tak ada yang berhasil satu pun!"


"Sejujurnya kami tak bisa menembus angin topan kalian!" timpal Bogu membuat semua makhluk tersebut menatap ke arahnya. "Oh, haha ... Abaikan saja perkataanku barusan ...." Segera Bogu bersembunyi di belakangku.


Lalu tangannya bergerak membuka jubah yang menutupi kepalanya. Memperlihatkan sorot mata merah dari balik jubah tersebut, tak lupa menatap bengis ke arahku. Satu yang langsung terpikirkan olehku, semoga saja ini semua tidak seperti mimpi yang kualami.


Dia kembali menghilang dari tempatnya berdiri, tiba-tiba sudah merangkul pundakku seraya berkata,


"Sepertinya benar kalian bukan makhluk yang biasa, karena kau tak mempan terhadap sorotan mata merah ku! Siapa sebenarnya kalian? Ada perlu apa datang ke wilayah kami?"


"Kau mungkin akan menyesali semua perbuatan mu, jika kau tahu siapa sebenarnya Bos kami! Haha ...." Bogu masih dengan polosnya tertawa, tetapi tidak ada yang memedulikan perkataannya.


"Aku hanya ingin berbicara dengan kalian para kaum Voq—


"Dari mana kau tahu kami ini kaum Voq?!" dia kembali mengarahkan tangannya ke bagian bawah leherku, dengan benda tajam yang seperti-nya berhasil menusuk kulitku. Menyebabkan aku tak berani lagi untuk menggerakkan tubuhku.


"Tak ada makhluk lain yang mengetahui nama kaum kami selain kaum Orgy! Apa kau utusan si raja sialan itu?!" lanjutnya.


Tetapi beberapa detik setelah itu, benda tajam tersebut langsung menghilang dari genggaman nya, membuat dia sedikit kebingungan. Menyapu kan pandangan dan didapatinya Bogu sudah menunjukkan senyuman gigi taringnya dengan 10 pisau yang barusan saja direbut olehnya.


"Apa kau mencari ini? Hehe ... Lebih baik hentikan saja untuk melukai Bos kami, karena dia itu mengerikan jika dia marah!" lanjut Bogu memainkan pisau-pisau tersebut di jemarinya.


"Hei ayolah, jangan berbicara seperti itu! Bahkan aku tak bisa melompat tinggi seperti kalian!"


"Cih, jangan abaikan aku sialan. Jadi apa mau kalian?!"


"Aku hanya ingin berbicara pada kalian. Hmm ... Tapi kalau seperti ini lebih baik kepada pemimpin kelompok kalian. Apa kau orangnya?" balasku.


"Kalau begitu ikuti kami!" ucapnya kembali mengenakan jubah kepalanya.


Kemudian dia melompat ke satu dinding ke dinding bangunan lainnya, untuk berlari di atas atap. Disusul pula dengan anggota kelompoknya yang lain.


Melihat itupun Bogi dan Bogu kembali menggeng-gam lenganku di sisi kanan dan kiri. Lalu juga mengikuti ke mana mereka bergerak.


Ketika kami berada di atap, tak ku sangka sebuah bangunan bersimbolkan rumah Greyaq yang berwarna hitam—lebih besar ukurannya dari yang lainnya—sedang melayang di udara.


Memperlihatkan bahwa itu adalah markas besar mereka. Padahal saat kami menuju ke bagian kota tadi, bangunan ini tak ada terlihat di langit-langit. Atau aku saja yang tak melihatnya? Tapi ... ini semua sungguh menakjubkan.


"Apa kalian bisa melompat setinggi itu?"


"Hehe, jangan meragukan kami Avlein!" kemudian mereka melompat sekiranya mencapai 10 meter bahkan lebih.


"Woaaah! Hebaat!" aku berteriak bahagia selama mereka mencapai markas tersebut.


Melihat ke bawah tidaklah mengerikan, bahkan ini sungguh luar biasa. Apa aku bisa seperti mereka? Haha aku rasa itu tak akan mungkin.


Tanpa menggunakan gerbang, kami langsung digiring melewati beberapa ruangan, hingga kami berada di ruangan dengan satu kursi di tengahnya. Tak lupa beberapa kaum berjubah mengelilingi tempatnya duduk.


Seseorang.


Ya dia tergolong manusia, tetapi sepertinya memiliki tinggi yang sama dengan Bogi dan Bogu. Rupanya pun berbeda dengan kaum Greyaq. Dan raut wajahnya, tampaknya dia adalah pemimpin yang baik. Bahkan tak ada tatapan membenciku sedikitpun, karena dia tersenyum menyambut kedatangan kami.


Lalu kaum yang menggiring kami segera bersujud di hadapannya, melaporkan kepada pemimpin.

__ADS_1


"Paduka, kita kedatangan tamu!"


Lantas senyumannya itu melebar, sangat lebar. Selanjutnya pula dia tertawa kikih, itu membuat dia menyerupai hantu gentayangan. Aku pun jadi mengenyampingkan kata baik tadi untuknya.


Tiba-tiba saja wajah itu langsung berada di depan wajahku. Sontak aku hampir terduduk di bawah, tetapi untung saja aku bisa menahan tubuhku. Aku benar-benar terkejut dengan wajahnya itu, bahkan aku tak merasakan sesuatu akan mendekat seperti itu.


"Manusia ya?!" dia berucap masih diiringi tawa kikihnya.


"Dan kalian ... Dari mana asal kalian berdua?"


"Dari—


"Tapi aku tak butuh jawaban kalian, aku hanya tertarik dengan manusia satu ini. Bahkan dia bisa melihat kami?! Itu hebat ...." potongnya.


Kemudian dia melayang mengitariku dan memperhatikan tubuhku dengan saksama.


"Aku yakin kau tak bisa dianggap remeh, karena mereka yang sebanyak ini sudah datang menemui ku. Jadi ... ada perlu apa kau ke sini?" Dia kembali mendaratkan tubuhnya di hadapanku, kemudian melipat kedua tangan di depan dada.


"Aku hanya ingin tahu, mengapa kalian menggang-gu manusia?"


Masih dengan senyumannya yang lebar itu dia membalas, "Jadi ... kau ingin aku menghentikan semua ini? Siapa kau bisa memerintahku?!"


"Aku Avlein ...."


Mendengar ucapanku, semuanya terdiam untuk beberapa saat. Lalu Bogu dengan sombongnya memecah keheningan ruangan. "Aha! Kalian semua pasti terkejut! Hahahah ...."


"Cih, aku tak percaya dengan ucapanmu! Jika iya, kau pasti akan datang bersama Joba!" balas pemimpin itu. Kemudian dia menghilang dari tempatnya berdiri.


Aku hanya bisa melihat bayangan yang melesat ke sembarang arah. Gerakannya berbeda dengan makhluk lain. Bahkan aku rasa kecepatannya juga melebihi Bogi dan Bogu.


Berbicara mereka berdua,aku baru tersadar bahwa mereka sudah terikat jauh di belakangku, dengan kepala mereka yang tertunduk.


"Bogi, Bogu!" aku menyerukan.


Sedari tadi aku hanya terfokus ke mana bayang tersebut bergerak, sampai aku melupakan apa yang terjadi dengan teman yang melindungi ku. Dan sekarang, gerakan itu tak sama seperti semula. Makhluk satu ini kecepatannya semakin bertambah. Lebih lagi, kini dia mulai menyentuh tubuhku.


"Jika kau Avlein, kau pasti tak akan kalah dengan ini!" ucapnya terkikih.


Makhluk yang lain juga mulai menepi jelas untuk memberi ruang pertempuran untuk kami berdua. Tapi, apa yang bisa kulakukan?


"Apa alasan kalian menganggu manusia? Aku hanya ingin tahu itu, tak ada niat melarang kalian!"


"Kalahkan aku ... maka aku akan memberitahukan semuanya padamu! Dan jika perlu aku akan menghentikan semua ini!" balasnya masih tertawa kikih.


Aku menggeram dalam hati. Aku hanya bisa menerima pukulan dari bayangan tersebut dan tak tahu harus melakukan apa. Tapi aku hanya merasakan sakit sedikit saja dari hantaman kuat itu, juga berusaha menahan tubuhku yang goyah akibatnya.


"Apa kau tak ingin melawanku? Aku yakin kau tetap bisa menyerangku tanpa melukaiku! Karena kau Avlein ... Ayolah buktikan ucapanmu!"


Aku pun memejamkan kedua mata, mencoba untuk mendengarkan ke mana arah bayangan tersebut melesat. Tetapi kini terasa hawa panas dari arah belakangku, sontak aku langsung membuka mata dan berbalik ke belakang. Karena hawa panas ini pernah ku rasakan.


Ya, aku mendapati monster yang kulihat dalam mimpi itu kini berada di belakangku. Tetapi dia berbeda, hanya setinggi pundakku, bermata dua, retakannya pun berapi biru, serta tidak memiliki gigi-gigi taring. Dia tidaklah mengerikan. Apa dia akan menyerangku? Dia hanya menatap ke depan.


"Wow, ternyata kau datang tidak hanya bertiga?! Asal kau tahu, ini perkelahian antara kita berdua, bukan makhluk lain!" serunya yang masih melesat ke sembarang tempat.


Dan tentu aku sendiri sangat kebingungan dengan apa yang dikatakan olehnya, Bukannya seharus-nya monster ini anggota mereka yang juga ingin menyerangku? Tapi ....


BUG!


Kembali tubuhku bertabrakan dengan bayangan tersebut. Dan sekarang cukup menyakitkan.


BUG! Kedua kali ....


BUG! Ketiga kalinya

__ADS_1


Keempat—Monster itu langsung menangkap tubuh makhluk tersebut. Yang kemudian memberontak pula dia dalam genggaman monster itu.


"Hei ayolah! Kau yang harus melawanku! Bukan seperti ini!"


"Tapi dia—


"Cih sialan ... kalau seperti ini baiklah ...." Dia memotong perkataanku.


Lalu memejamkan matanya dan bergumam mengucapkan sesuatu. Tak lama setelah itu tubuhnya menyusut dan terlepas dari genggaman monster tersebut.


Kemudian dia segera melompat ke atas, bersamaan dengan itu pula ukuran tubuhnya kembali. Selagi melayang di atas, dia menggerakkan jemarinya membentuk beberapa simbol.


"Api harus dipadamkan dengan air!" teriaknya lantas menyemburkan air yang cukup banyak dari simbol tangan yang dibentuknya tadi. Mengarahkan air tersebut ke monster yang masih berada di belakangku.


Telah banyak air yang disemburkan olehnya, tentu membuat tubuh dan sekitaran ku menjadi basah kuyup. Dan akhirnya monster itu bisa terlihat kembali. Ternyata dia berhasil memadamkan api di tubuhnya. Begitu pun mata monster itu yang terpejam. Makhluk itu tertawa terbahak-bahak mendapati hal tersebut.


"Segampang itukah? Hahahaha ... Tidak berguna!"


Dia kembali menatap ke arahku, kemudian perlahan mulai mendekatiku. Seraya berkata, "Baiklah, sekarang tinggal pertarungan kita berdua!"


Tetapi kembali sesuatu yang panas melesat di sebelahku, pergi melompat untuk menangkap tubuh makhluk tersebut. Kemudian menghantam-kan tubuh makhluk itu di lantai, beserta aumannya yang sangat keras.


GRAAAAAUU


Bahkan kami semua sampai menutup telinga kami, karena suaranya yang sangat menyakitkan. Kudapati pula makhluk yang berada di genggaman monster itu tak dapat berkutik lagi.


"Aku ... Kekuatannya Avlein, maka dari itu aku berhak melawanmu! Dan turuti saja perkataan-nya!" seru monster itu dengan suaranya yang parau.


Kedua alisku pun melejit mendengar kata-katanya itu, bagaimana mungkin monster tersebut kekuatanku? Dia pasti berbohong.


Aku pun segera menghampiri mereka berdua, lalu kusentuh tubuh makhluk tersebut, bersamaan dengan itu pula tangan monster bergerak melepaskan genggamannya.


Makhluk satu ini masih tak kenal nyerah, bisa-bisa nya dia tertawa lebar melihat aku yang ingin mengangkat tubuhnya. Tetapi ternyata dia masih bisa bergerak. Dia mengelak dan melompat ke belakang, sembari menggerakkan tangannya ke leher kananku dengan sebuah pisau.


Membuat aku langsung menggenggam pergelangan tangannya, untuk menahan serangan tersebut. Lantas dia pun mengerang kesakitan.


"Ampuun ... ampuun ... tolong lepaskan aku!"


Aku yang juga terkejut segera melepaskan tanganku. Ini kedua kalinya terjadi. Ada apa sebenarnya dengan tanganku ini? Padahal aku hanya menggenggam biasa saja.


"Kau menyerap kekuatanku! Jadi tolong hentikan itu! Aku janji akan menuruti semua maumu." ucapnya mengelus pergelangan tangannya.


Menyerap kekuatannya? Tidak mungkin. Aku tak merasakan apa-apa di tubuhku ketika menyentuh-nya. Ada apa dengan semua makhluk ini? Bagaimana bisa mereka mengatakan hal yang tak kumiliki.


Kemudian dia menyentuh kakiku, bersujud di bawah. Diikuti pula makhluk lainnya juga melakukan hal yang sama.


"Maafkan kami Paduka Avlein!" seru pemimpin makhluk, disusul anggotanya yang lain.


Mendadak monster tadi menyentuh pundakku, suara dengkuran aneh pun berasal dari hidungnya. Lalu dalam sekejap tubuhku yang tadinya basah kuyup mengering seketika. Saat itu pula dengkuran tersebut menghilang.


Aku menatap ke arahnya, begitu juga dia yang menatap ke arahku.


"Jadi kau sebenarnya ciptaanku? Atau kau diperintah oleh Joba?!"


Dia mengaum pelan, kemudian sedikit menundukkan kepalanya. Sepertinya dia ingin aku menyentuh kepalanya itu. Segera aku meletakkan telapak tangan kananku.


"Aku berasal dari kekuatanmu ...." lantas setelahnya dia kembali berasap memadamkan api birunya. Kemudian retakan batu tubuhnya semakin retak dan meledak—tanpa mengeluarkan suara—menjadi serpihan debu. Lalu serpihan tersebut terserap ke dalam tanganku. Berhasil membuat aku tak berkutik lagi.


Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Bahkan aku tak merasakan apa pun saat debu itu masuk ke dalam tubuhku.


Segera aku melihat ke makhluk yang bersujud di kakiku. "Tolong berdiri dan tolong kau sadarkan teman-temanku terlebih dulu. Setelah itu kau harus menjawab apa yang kupertanyakan!"


"Baiklah Paduka!"

__ADS_1


*


__ADS_2