
Beberapa artikel yang sudah ku ketahui sejauh ini, pada umumnya manusia berumur maksimal 122-150 tahunan. Dan itu kecil kemungkinannya untuk orang biasa sepertiku, bisa diberikan umur yang sekiranya sampai seratus tahun saja aku sudah sangat bersyukur.
Perkataannya terus menghantuiku hingga akhirnya aku tersentak dari pejaman mataku mengingat perbincangan panas kami yang terjadi tadi malam. Bahwa sekali saja dia tertidur, dia akan bangun lagi sekitaran seratus atau bahkan bisa mencapai dua ratus tahun kemudian.
"Selamat pagi Avlein. Jangan terlalu membuatku bahagia seperti ini Avlein. Sampai kau selalu mengingatku saat kau masih terlelap."
Dia memecahkan suasana pagi ku dengan gelak tawanya. Tidak memikirkan perasaanku yang masih tak dapat menerima perdebatan kami yang terjadi tadi malam.
Dan lebih kesalnya lagi dia hanya meminta maaf kepada Bogi dan Bogu yang tak sengaja terbangun karena tawanya yang memenuhi ruangan.
"Hei ayolah Avlein, aku hanya menghibur diriku karena bosan menunggu kalian semua yang terlelap." Serunya lagi mengikuti aku yang kini pergi mengambil gelas berisikan air minum—segera menenggaknya tanpa menyahuti bujukan Joba barusan.
Setelahnya aku melanjutkan lagi pergerakan ku menuju toilet yang berada di luar kamar—seraya menggaruki kepala belakangku. Seketika itu juga aku beradu mata dengan sepasang bola mata hijau yang membuat aku tak mengerjapkan mataku untuk beberapa saat. Kemudian perlahan wajahnya langsung memerah. "Oh! Maafkan aku!" sembari menutup matanya dan lenyap di balik pintu kamar satu lagi.
Aku pun berhasil mengedipkan mataku pelan, berpikir sejenak kenapa aku bisa melupakan bahwa ada orang lain di rumah ini. Ditambah orang itu yang kemarin adalah pertama kalinya melihat bentuk tubuh telanjang dada seorang pria.
Terdengar gelak tawa Joba kembali pecah—dari balik pintu kamar yang ganggangnya belum ku lepaskan sedari tadi. Itu mengingatkanku kembali sebuah fakta bahwa, aku masih kesal terhadap dirinya.
Cih sial. Ayolah ini sudah jadi rutinitas ku tidur tanpa menggunakan kaos dan hanya boxer. Dan bangun tidur segera ke toilet. Gerutuku dalam hati mulai pergi memasuki kamar mandi dengan penuh kekesalan.
Setelah rutinitas pagi selesai ku lakukan, aku pun pergi menuju dapur. Tak ada seorang pun yang berada di ruangan ini. Hanya beberapa makanan dan buah-buahan segar sudah dihidangkan di atas meja.
Aku pun kembali ke depan pintu kamar tempat Vlivy berada. Sepertinya dia belum mempunyai keberanian untuk menatap wajahku.
"Hei kau!" ucapku beberapa saat setelah aku mengetuk pintu kamarnya tiga kali. Terdengar derapan kecil dari dalam yang sepertinya berlari mendekati pintu.
"Ya Tuan?" sahutnya dari dalam tanpa membukakan pintu tersebut. Aku yang sedikit mendesah menerima perlakuan itu hanya bisa bersabar kepadanya.
"Kau bereskan semua barangmu. Nanti kita akan pergi ke rumah mu! Dan ....berhenti memanggilku Tuan!" seruku lagi tanpa peduli balasannya dan segera kembali ke ruang dapur untuk memenuhi kekosongan perutku.
–
Oh apa yang harus ku lakukan, untuk mendekati- nya saja aku belum memiliki keberanian. Apa lagi untuk menatap wajahnya yang sangat tampan itu. Aku akan mengingat lagi kejadian tadi pagi yang sudah terjadi untuk kedua kalinya. Bagaimana nanti kalau kami sempat beradu mata lag—Joba akhirnya menghentikan komat-kamitnya membacakan isi pikiran gadis yang berjarak dua meter berjalan di belakangku.
Karena aku baru saja memarahinya bahwa sebenarnya aku tidak membutuhkan hal yang seperti itu. Bahkan aku semakin kesal terhadapnya mendengar suara anehnya yang ingin menirukan suara hati gadis itu.
Karena itu sangatlah berbanding terbalik dengan suara Joba yang sesungguhnya–nadanya berat dan sedikit serak basah–yang tertawa saja sudah membuat kita menggeram apalagi menirukan suara seorang gadis, itu akan semakin menjijikkan.
"Hei kau! Apa rumahmu masih jauh? Kita sudah hampir dua jam menjauh dari taman itu, dan kau mengatakan tidak perlu menggunakan kendaraan. Bukannya seharusnya kita sudah di rumahmu?" tanyaku menghentikan langkahku untuk melihat ke arahnya.
Dia yang terkejut melihat ke arahku mulai melemparkan pandangannya–menatap ke bawah. Dan baru saja melewati diriku dengan tangan menutupi wajahnya yang sepertinya telah merona. Dan mengapa aku semakin kesal terhadapnya–yang berani memerintahku mempercepat langkah kakiku untuk mengikutinya. Anehnya lagi, aku malah menuruti perkataannya dan hanya mengumpat dalam hati. What the....
Pria paruh baya yang ini adalah seorang sejarawan. Yang bahkan lebih tergila-gila dari seorang sejarawan yang sesungguhnya. Aku tidak boleh mengungkapkan siapa sebenarnya namaku dan apa yang sudah kumiliki.
Joba mengatakan nya hingga ada derapan kaki yang kuat dari balik pintu–setelah beberapa kali kami menekan tombol bel rumah. Seketika muncullah pria paruh baya berumur sekitar 50 tahunan yang bertubuh gemuk setinggi pundakku–langsung memeluk gadis itu.
Serta merta bau alkohol dan asap rokok yang melekat padanya menyebar dengan leluasa. Tak lama pandangannya mengarah kepadaku. Aku pun tersenyum dan sedikit membungkuk membalas pandangan itu.
"Vlivy, apa dia orangnya?" ucapnya yang baru saja melepas pelukan itu menatap anak perempuannya untuk menunggu jawaban. Tetapi karena tak ada balasannya dia kembali menatap kepadaku. "Ah, lebih baik kita masuk," lanjutnya masuk terlebih dahulu ke dalam rumah. Segera menyerukan untuk duduk di ruang tamu. Sementara dia hilang di telan kegelapan menuju ruangan lain.
__ADS_1
Rumahnya menarik tetapi cukup menyeramkan bagi yang tidak menyukainya–karena cuma ada beberapa titik cahaya di rumah ini. Aku tak tahu alasannya padahal kalau saja semua ini diberikan cahaya yang cukup, aku yakin aku tertarik untuk tinggal di sini–karena jumlah bukunya lebih banyak dari jumlah toko buku yang pernah ku jumpai.
Ketika kita baru saja memasuki rumah ini, dimulailah petualangan pembukuan kita. Karena dindingnya adalah rak buku yang menyentuh hingga atap rumah dan pasti semua raknya tidak memiliki sela untuk dimasuki buku lain.
Hingga kita tiba di ruang tamu, semua pandangan kita hanyalah buku-buku. Dan kursi meja ini adalah sebagai hiburan satu-satunya untuk mata kita–hingga aku mengurungkan kembali niat awalku. Aku yakin ruangan lainnya juga seperti ini dan pasti tak akan ada yang betah terlalu lama di ruangan seperti ini. Ditambah ruangan ini kekurangan cahaya.
Sosok gemuk itu kembali muncul di hadapan kami dengan satu buku–sampul dan lembarannya tampak sudah tua– yang tebalnya kira-kira sepuluh centimeter, diapit di antara lengan dan tubuhnya. Segera meletakkannya di atas meja ruang tamu. Aku tidak dapat mengenali buku jenis apa itu, karena aku tidak mengerti tulisan yang tertulis di sana.
"Nah Vlivy, apa jawaban dari pertanyaan Ayah tadi?" mulai pria itu sepertinya sedang mencoba mencari di mana tombol pencahayaan berada.
"Aku tidak mengerti maksud Ayah!"
TAP.
Beberapa cahaya muncul dan membuat ruangan ini sedikit hidup. Dia pun segera duduk di hadapan kami.
"Baiklah, yang penting saat ini kau selamat. Ayah saja yang langsung bertanya padanya." ujarnya kembali melempar pandangannya kepada ku. "Nah anak muda, kau pasti sudah tahu kan, benda yang di bawa anakku?" serunya mengeluarkan satu kotak rokok dan korek api dari saku bajunya. segera dia membakar satu batang dan menghirupnya dalam.
"Ya, dia sudah memperlihatkannya padaku. Sebenarnya benda apa itu?"
"Apa kau juga memilikinya?" tanyanya lagi sembari tangan menarik asbak dan menaburkan abu rokoknya di atas benda itu.
"Permisi, Anda belum menjawab pertanyaanku sebelumnya!"
"Aku janji akan menjelaskannya padamu. Tapi jawab dulu pertanyaanku tadi."
"Aku tidak memilikinya. Makanya kutanyakan benda apa itu sebenarnya? Karena aku baru pertama kali melihat benda itu."
"Bukankah Anda sudah berjanji, kalau aku menjawab Anda akan menjelaskannya?!" balasku membuat dia mengurungkan niatnya untuk meninggalkan ruangan ini. Raut wajah kesal kini mulai tampak darinya. Aku yakin sekali dia mengumpat dalam hati.
"Baiklah, maaf aku sudah kelewatan terhadapmu. Karena aku sangat kacau saat ini." jelasnya menopang kedua siku tangannya dengan paha kakinya. Mulai membuka lembaran buku tua itu dan segera mencari-cari halaman yang sepertinya ingin terlebih dahulu ia jelaskan.
"Vlivy, letakkan benda itu di atas meja." Segera anaknya itu menuruti perintahnya. "Kau tahu anak muda, buku ini juga diincar oleh mereka dan benda ini bukanlah yang asli. Lihat!" lanjutnya menunjuk halaman yang tampaknya terdapat sebuah gambar pada halaman itu. Kami sontak menggapai jarak yang cukup untuk melihatnya.
"Inilah yang asli!" Lantas aku langsung tercekat melihat gambar itu karena gambar itu adalah sebuah arloji yang sama persis seperti Joba.
"Ini namanya JOBA. Dan ini ...." jelasnya menunjuk huruf yang tak pernah ku lihat sebelumnya.
"Kepanjangannya adalah 'Jiaroquen Bexiellopa' dan memiliki arti memberimu segalanya. Disingkat menjadi Joba."
"Jadi dia memberikan segalanya yang kita inginkan?"
"Bukan itu maksudnya anak muda, itu maksud dari bahasa yang kita ketahui. Tetapi, makna yang sebenarnya adalah benda itu akan memberitahukan apa yang tidak kita ketahui sebelumnya. Seperti, dia akan membawamu ke dunia baru!" jelasnya kini mulai beringsut menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Buku ini peninggalan dari Kakek moyangku. Semua yang berhubungan dengan Joba ini, ada di sini. Termasuk orang yang seharusnya memiliki benda ini. Dan benda yang kumiliki ini juga peninggalannya. Tapi dia hanya mampu menunjukkan di mana keberadaan sang pemilik. Tapi kau tidak memilikinya anak muda, berarti benda ini benar kenyataannya bahwa dia palsu." penjelasannya sementara berhenti untuk mengatur pernapasannya.
"Kau tahu anak muda, kakek moyangku mendapatkan semua ini dengan cara yang tidak layak kita tiru. Karena dia sangatlah menginginkan Joba ini. Kau tahu, semua orang juga begitu, termasuk diriku sendiri. Karena aku ingin tahu, dunia apa yang disembunyikan dunia ini, dan aku yakin sekali tidak hanya itu kekuatannya. Jadi, apa kau mau membantuku mencari benda ini? Sebelum kita didahului oleh Derk dan kumpulan-nya yang menghampiriku kemarin?"
"Maaf. Tapi aku tidak berniat untuk ikut campur dalam sauatu masalah,"
__ADS_1
Tampak dia menghelakan napas panjang sangat kecewa mendengar jawaban yang baru saja keluar dari mulutku tanpa ragu-ragu.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu anak muda! Tapi kalau kau berubah pikiran, datanglah padaku."
"Aku mengerti, sekarang saatnya diriku harus pamit. Aku hanya mengantarkan anakmu pulang ke rumah dan ya untuk mengetahui sebenarnya apa yang sedang terjadi." balasku mulai bangkit dari dudukku. Melihat itu pria paruh baya tadi pun juga mengantarkanku ke pintu depan.
"Oh, kita lupa memperkenalkan diri. Aku Cokey." ujarnya mengulurkan tangannya ke arahku. "Eric! Senang berkenalan dengan Anda Paman!" balasku menyambut uluran tangan itu dengan senyuman.
Dia pun membalas senyumanku dan melepas genggamannya. Hal itu juga kesempatanku untuk melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
Beberapa meter sudah aku melangkah menjauhi rumah Vlivy, samar aku mendengar namaku di panggil dari arah belakang. Dan aku yakin sekali kalau itu pasti gadis yang sudah membuatku kesal beberapa kali hari ini. Dia berhasil menggenggam ujung mantelku mengakibatkan aku terpaksa berhenti dari langkahku.
"Tuan, apa Anda akan meninggalkan aku di rumah itu?"
"Apa maksudmu? Itu kan rumahmu dan kau adalah anaknya. Apa urusannya denganku?!" balasku dengan nada cukup tinggi karena aku tidak suka dengan pertanyaannya itu yang sungguh tidak masuk akal. Dan juga melampiaskan kekesalanku yang tadi dengan menepis tangannya yang menggenggam mantelku.
"Aku tidak mau tinggal bersama orang yang jahat!" ucapnya kini sedikit menundukkan kepalanya dan seperti tampak butiran air pada sepasang mata hijau itu. Ooh demi kedamaianku lagi, inilah hal yang paling ku benci. Kekuatan para wanita—air mata.
"Dari mana kau tahu aku orang yang baik?! Kita baru kenal, sedangkan kau dan Ayahmu sudah lama tinggal bersama. Kau sama sekali tidak memikirkan semua itu?!" bentakku lagi tidak akan termakan dengan kekuatan wanitamu itu.
Mendadak dia melihat ke arahku dan kembali kami beradu mata–kemudian kedua tangannya menggenggam tanganku. "Tolonglah Tuaan!"
Astaga gadis ini benar tak kenal rasa takut dan kata menyerah. Aku pun semakin kesal mengapa aku luluh melihat reaksinya itu. Aku berhasil terkena kekuatan wanita yang dimilikinya. Sialan!
"Oke, bawakan buku tua itu untukku!" Dia tidak membalas permintaanku barusan dan inilah kesempatanku untuk pergi. Menepis kedua tangannya dengan paksa dan kembali melangkahkan kaki ketujuanku.
"Akan ku ambil!" balasnya membuat aku kembali melihat ke arahnya. Dia benar-benar tak takut padaku sedikitpun. Aku sungguh tidak percaya.
"Tapi Anda haru janji menjagaku!"
"Aku tidak akan berjanji pada siapa pun."
"Kalau begitu biarkan aku tinggal bersamamu!"
"Aku tidak berjanji!" Dia pun memberikanku senyuman yang lebih lebar dari yang sebelumnya ku lihat. Dan segera membalik tubuh mungilnya pergi meninggalkanku.
Sedangkan aku semakin kesal melihat reaksi itu. Mengapa sepertinya dia yakin aku akan menerimanya. Dan mana reaksi malu-malunya yang sebelumnya ... Lagi-lagi aku mengumpat.
*
note author:
Hallo teman-teman... terimakasih yang sudah bersedia membaca cerita yang udah ku usahakan yang terbaik ini.
aku selalu membutuhkan kritik dan saran dalam bentuk apa pun itu untuk kemajuanku dalam penulisan cerita selanjutnya.
jadi jangan sungkan ya keluarin semua unek-unek teman2 hehe...
Terimakasih..
__ADS_1
salam hangat, Hka