
***
Derapan kaki mulai tak beraturan. Sesekali mereka melompat ke atas untuk berlari di antara dahan pepohonan.
Beberapa kali juga mereka sudah mencoba untuk menggunakan kekuatan teleportasi yang mereka miliki, tetapi karena adanya kekuatan penghalang dari musuh yang mengejar, mereka tidak bisa menggunakannya.
Pertempuran itu memang harus dihindari untuk mencegah kehancuran kota secara keseluruhan, agar mengurangi korban yang berjatuhan.
Maka dari itu, inilah yang mereka lakukan sekarang, terpaksa melarikan diri sejauh mungkin.
Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah gerbang. Beruntung sekali saat ini tidaklah sembarangan orang yang bisa melewati pintu itu. Segera mereka memasuki pintu tersebut menuju ke dunia yang berbeda.
Greyaq ....
Seketika mereka melewati pintu gerbang, benar mereka terbebas dari pengejaran tersebut. Dan tentu saja semua makhluk yang ada di dalam pasti akan langsung mengarahkan senjata kepada mereka, karena mereka tahu ini semua akan terjadi.
Dengan itu pula mereka melepaskan penyamaran yang sedari awal mereka gunakan–merubah kembali wujud mereka ke bentuk yang sesungguhnya.
"Oh, Paduka Joba! Maafkan kami Paduka!" serentak sepuluh prajurit seraya menjatuhkan senjata mereka dan bersujud di bawah.
Tetapi Joba langsung mengarahkan tangannya ke depan untuk mengangkat tubuh mereka semua kembali berdiri tegap. Tidak lupa juga mengembalikan posisi senjata pada genggaman prajurit itu.
"Tidak masalah! Tentu kalian tidak mengenali aku yang menggunakan wujud orang lain!"
"Maafkan kami Paduka Avlein!"
"Tidak apa, kalian patut melakukan semua itu! Kami datang ke sini hanya singgah untuk sementara."
Mendengar jawaban itu pula kesepuluh prajurit itu kemudian membimbing perjalanan menuju kerajaan Greyaq.
"Sejujurnya kami benar di sini hanya untuk sementara!" seru Avlein menghentikan langkah kaki mereka yang belum begitu jauh dari pintu gerbang.
"Dan kami di sini bukan bermaksud untuk menolong raja kalian!" timpal Joba menjawab tujuan, kenapa mereka berdua malah di bawa ke bagian kerajaan.
"Jadi, ternyata benar berita yang beredar itu, mereka bisa mengetahui semuanya!" bisik salah satu prajurit yang berjalan pada bagian belakang.
Tentu saja hal itu dapat di dengar oleh yang lainnya, membuat semua mata kini sudah tertuju kepadanya.
"Ya, seperti itulah. Bahkan aku tahu kau akan mengatakan hal tersebut! Maka dari itu kami tidak akan pergi ke istana, karena kami juga tidak akan menginap di sini." lanjut Joba lagi hendak memutar arah kembali ke pintu gerbang.
Saat mendengar penjelasan itu juga pemimpin dari kumpulan prajurit yang berdiri pada bagian depan, segera memeluk kaki Joba–menghentikan langkahnya.
Tubuhnya bergemetar sebenarnya ini adalah perbuatan yang tidak berhak dilakukan olehnya. Tetapi demi sang raja, dia rela menerima hukuman bahkan mati sekalipun.
"Tolonglah raja kami Paduka! Kami tidak ingin kehilangan dirinya. Sudah banyak penyembuhan yang kami lakukan, tidak ada yang berhasil sedikitpun!" teriaknya kini air matanya bergelimang.
Begitu juga dengan prajurit yang lainnya, juga mulai menangis melihat permohonan ketuanya itu. Ikut serta pula bersujud di bawah memohon kepada Avlein dan Joba.
"Tapi sebenarnya, kalau saja kami tetap berada di sini, maka dunia ini akan segera hancur." Mendengar jawaban dari Avlein itu, tangis mereka berhenti sejenak kemudian berlanjut menjadi isakan.
__ADS_1
"Tentu kalian tidak akan rela melepaskan jerit payah kalian dalam membangun semua ini, kan?" sambung Joba menarik pelan kaki yang sedari tadi dipeluk oleh pemimpin prajurit.
"Dan jika kami tetap membantu raja kalian, hasilnya hanyalah fifty-fifty. Raja kalian bisa selamat atau bahkan jelas akan pergi meninggalkan dunia ini!"
Mendengar itu pun tangisan mereka kini berhenti. Mereka hanya tidak mau kehilangan raja mereka. Jika pengobatannya tidak berhasil, mereka akan kehilangan sang raja–tentu mereka tidak ingin semua itu terjadi.
Kemudian pula para prajurit akhirnya pergi berpamitan kepada kedua orang itu. Tidak lupa mengucapkan terimakasih setidaknya mereka mendapatkan alasan, mengapa kedua orang itu tidak bisa memenuhi permintaan mereka.
Setelah para prajurit itu berjalan cukup jauh, Joba menghentakkan pelan kaki kanannya, seketika beberapa tumpukan tanah naik dengan sendirinya dan bergerak membentuk sebuah pondok–di mana Avlein langsung memasukinya. Setidaknya mereka bisa beristirahat sejenak.
"Sepertinya kau tertarik menolong mereka Avlein!" mulai Joba ketika mereka menghidangkan beberapa makanan yang baru saja berterbangan dari luar. Seperti buah-buahan dan sayuran yang berasal dari hutan. Setidaknya ini bisa mengisi kekosongan perut Avlein.
"Kau juga tahu kan, jika kau membantunya kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu!" lanjut Joba membantu Avlein mengupasi buah-buahan yang hendak dilahapnya.
"Yang jelas, jika kita lebih lama lagi dari ini, dia akan segera menghampiri dan tentu pertempuran akan terjadi lagi!" lanjut Joba lagi.
"Tapi jika kita tetap pergi, maka Greyaq ini nantinya akan tetap lenyap!"
"Dan kau juga tahu, kau belum tentu bisa menyelamatkan raja itu! Karena kita melihat masa depannya dia tetap akan mati!" seru Joba lagu menghentikan gerakan Avlein untuk melahap buahnya. Kini sepasang mata hijau itu menatap Joba dengan lekat.
"Oh, baiklah Avlein, kalau memang itu maumu!" balas Joba kini Avlein pun kembali melanjutkan kegiatannya, menghabiskan semua hidangan yang mereka sediakan.
------------------------------
Dari satu jam, dua jam telah berlalu, mereka bergegas ke posisi mereka masing-masing. Di mana Joba akan mengamankan penduduk Greyaq sementara Avlein akan mengurus kedatangan orang itu. Sekiranya ini tidak akan mempersulitnya untuk menolong sang raja setelah semua ini beres.
Percuma saja kalau mereka bertempur ke luar Greyaq karena itu bisa memperlambat pertolongan raja.
Akhirnya dia datang juga. Yang baru saja berhasil menghancurkan gerbang yang terlihat seperti black hole berwarna pelangi itu–menjadi berkeping-keping.
Kepingan itu juga sempat meninggalkan goresan pada kulit Avlein saat berterbangan tadi, tidak lupa segumpalan darah mulai mengucur dari robekan. Tentu saja itu tidak akan berpengaruh padanya, karena kulit yang terluka kini sudah tertutup kembali dengan sendirinya.
Saat itu pula setelah gerbang Greyaq hancur, beberapa pasukan yang di bawanya mulai melesat berpencar ke berbagai sudut, untuk mencari keberadaan Joba.
Sementara satu orang yang dinantikannya, kini terlihat jelas ujung bibirnya terangkat, menyunggingkan senyuman picik di hadapannya.
"Bisa-bisanya kau memancingku untuk datang ke tempat seperti ini!" dia berdengus, secara diam-diam mengepal tangan kanannya.
Ketika itu juga di dekat Avlein berdiri, keluar setumpukan tanah ingin mengurung tubuhnya di dalam. Tetapi saat bersamaan pula Avlein sudah mencelat ke sembarang tempat–tidak bisa dilihat kecepatan gerakannya.
Mendadak seseorang sudah berbisik di sebelahnya, "Kau tahu kan, aku sudah menebak semua seranganmu! Erker Collin!"
Tangannya bergerak cepat untuk membekuk tubuh Avlein, tetapi sia-sia saja, Avlein sudah melambung tinggi ke depan hingga berjarak 4 meter darinya. Dia mendarat dengan pelan tidak lupa juga mengembalikan senyuman picik kepada Erker–yang terlihat jelas sangat kesal dengan perkataan Avlein tadi.
"Aku tahu kau hanya bisa menggunakan kekuatan pembeku itu, jika kau berhasil menyentuhku!"
"Cih, berisik! Aku juga tahu kau lagi dalam masa pemulihan, maka dari itu kau hanya bisa melarikan diri dariku!" balas Erker sembari mengangkat kedua tangannya setinggi dada, untuk mengumpulkan puing-puing pintu gerbang yang pecah tadi.
Kemudian dia mengarahkan ribuan puing yang ujungnya runcing itu ke arah Avlein, siap melesat cepat ke arahnya. Dia tahu serangan itu tidak akan mempan terhadapnya, tetapi dia hanya ingin membuatnya lengah.
__ADS_1
Sementara di sisi kanan, kiri dan belakang Avlein, juga sudah keluar tanah yang menjulang tinggi bertujuan memperkecil gerakan Avlein ketika dia berpindah tempat.
Kemudian serpihan tadi pun meluncur cepat ke arahnya yang masih berdiam diri di sana. Melihat itu pun Erker mengambil kesempatan untuk melompat ke atas, lalu mengeluarkan cahaya ungu dari tangannya. Dan melemparkan juga cahaya tersebut ke arah Avlein.
BUUM!
Seketika ledakan terjadi. Meruntuhkan seluruh yang ada di sekitaran mereka, beberapa pohon juga berterbangan karena ledakan tersebut. Tidak lupa di tanah juga terbentuk sebuah lobang yang sangat dalam. Serta merta burung-burung berterbangan menjauh tak sudi lagi menjadi saksi bisu pertempuran.
Tetapi ketika pandangannya bisa menembus debu yang bertebaran, tidak dapat dilihatnya lagi Avlein yang seharusnya masih berdiri di sana.
"Kau lupa, aku juga bisa melakukan ini?!" celetuknya dari arah belakang ketika ia masih mengudara untuk mencari keberadaan Avlein. Mendengar itu pula matanya bergerak ke sumber suara tanpa menoleh.
Mendadak sesuatu yang panas dan berputar menyentuh punggung Erker dari belakang. Membuat dia terdorong kuat ke bawah menghantam tanah, berguling-guling lalu terpental sejauh sepuluh meter.
Avlein pun melompat dengan lihai pergi mendekatinya–terlihat dia masih berusaha mengangkat tubuhnya yang terkapar, juga mengatur pernapasannya yang tersengal.
"Lebih baik menyudahi pertempuran ini! Dan ada baiknya juga kau kembali karena kau juga tahu, kau tidak akan bisa menang melawanku dan aku juga tidak akan bisa membunuhmu!"
Kembali dia melemparkan tatapan bengis, tidak memedulikan perkataan Avlein barusan. Lalu air hujan mulai turun hanya di tempat Avlein berdiri. Membuat Avlein mengangkat kepala untuk melihat ke atas.
Seketika juga air hujan tersebut berhenti kemudian berubah menjadi kumpulan jarum tajam–siap menusuk habis orang yang berada di bawahnya.
"Apapun yang kau lakukan, kau tetap tidak akan bisa membunuhku!" seru Avlein lagi yang masih berdiri di tempat itu siap menerima tusukan jarum-jarum tadi.
Saat itu pula jarum tersebut meluncur gesit bersedia menembus kulit Avlein. Tetapi sama halnya seperti sebelum ini, itu semua hanyalah sebuah pengalihan.
Erker kini sudah melejit ke arah Avlein dengan bantuan tanah yang baru saja dikeluarkannya dari belakang–melempar tubuhnya untuk meringkus tubuh Avlein dengan kedua tangan.
Bersamaan dengan itu pula hujan yang berubah menjadi jarum tadi, kembali menjadi air ketika bersentuhan dengan tubuh mereka. Sementara Avlein hanya memberikan senyuman kepadanya.
"Aku bisa mengubah takdirku dan tentu takdirmu juga!" balas Erker sembari merapatkan kelima jemari tangan kanannya, mengarahkannya ke jantung Avlein. Kemudian tangannya itu juga mengeluarkan sengatan listrik lalu bercahaya ungu lebih terang dari sebelumnya.
Dia menusuk paksa tangannya menembus tubuh Avlein–terlihat dari punggung belakang sebuah jantung penuh darah di genggamannya. Wajahnya juga dilumuri darah yang keluar dari mulut Avlein, ketika tangan itu menembus tubuhnya.
Tidak berhenti disitu, tanggannya yang masih bercahaya itu kini ukuran kilauannya semakin membesar, kemudian ....
BDBUUM!! DUARR!!
Menciptakan ledakan yang maha dahsyat, berhasil menggoyangkan dan meratakan wilayah lebih luas dari yang sebelumnya.
Retakan tanah dari ledakan itu pun bergulir hingga bagian kota–yang juga serta merta meruntuhkan rumah penduduk satu per satu. Membuat Joba yang masih bergulat dengan pasukan Erker, menoleh ke sumber ledakan. Dilihatnya cahaya ungu itu masih terang menerang di ufuk barat.
"Avlein!"
*
Note:
Hallo...
__ADS_1
Disini jujur aku kesulitan dalam penulisan perkelahiannya. Karena aku ini yang masih jauh banget dari kata bagus dalam penulisan narasi. Moga aja berhasil kebayang Ama pembaca😥