Jodoh Kencan Buta

Jodoh Kencan Buta
Apes


__ADS_3

"Kamu tahu kalau kita ada guru baru?"


Reno menoleh. Mereka berhenti di lampu merah. Lantas, ia kembali menghadap ke depan, melirik sebentar pada kaca spion, tatapan mereka pun bertemu di sana. Tidak bisa dielak, senyum terbit di wajahnya.


"Bapak itu ngajar di kelas kamu enggak?" tanyanya lagi.


"Enggak tahu juga. Soalnya hari ini baru hari pertamanya, kan?" sahut Azalea acuh tak acuh.


Sementara itu, Reno penasaran bagaimana tanggapan Azalea tentang guru baru tersebut.


"Kamu udah ketemu sama dia? Katanya, sih, orangnya ganteng. Cewek di kelasku heboh gosipin guru baru itu. Di kelas kamu gimana?" Reno mengajukan banyak pertanyaan. Ia benar-benar penasaran.


Azalea mengedikkan bahu. "Enggak tahu juga. Aku enggak meratiin, sih. Kamu, kan, tahu sendiri kalau aku sibuk nyari kabar tentang Mona. Mana sempat mikirin hal yang enggak penting kayak gitu," jelasnya.


Azalea mendongak, melihat lampu yang telah berubah warna. "Jalan!" Ia menepuk bahu lelaki di hadapan.


Senyum di wajah Reno semakin lebar. Rasanya, dadanya terasa begitu lapang mendengar pengakuan Azalea. Keyakinannya terhadap gadis itu menjadi semakin kuat. Ia juga semakin optimis akan pilihan hatinya. Azalea berbeda. Gadis itu tidak menilai seseorang hanya lewat tampang saja.


"No, bisa lebih cepat lagi enggak?" Azalea mulai gelisah.


Azalea hanya punya waktu lima belas menit untuk sampai di apartemen. Tidak siap rasanya jika harus menerima semburan kemarahan Reynand.


"Macet ini, Lea," ujar Reno. Ia tidak berbohong. Walaupun di dalam hati masih ingin berlama-lama dengan gadis itu.


"Lewat jalan kecil aja gimana? Bisa enggak?" Azalea memberikan penawaran.


Ada keraguan di dalam hati Azalea, sebab ia belum pernah berkendara melewati gang sempit. Namun, di sudut hatinya yang lain ia berusaha meneguhkan bahwa bersama Reno tidak akan terjadi apa-apa. Yang paling penting sekarang adalah ia harus segera pulang.


"Kamu yakin?" Reno memastikan. Kendaraan roda duanya melaju sangat lambat karena macet.


"Iya." Azalea menjawab yakin. Lantas, ia bisa merasakan saat Reno berusaha keluar dari kemacetan.


Akhirnya, Azalea bisa bernapas lega saat hampir sampai ke gedung apartemennya. Ia menepuk bahu Reno berulang kali, meminta berhenti.


Azalea sengaja berhenti agak jauh dari gedung tempat tinggalnya. Ia tidak ingin siapa pun teman sekolahnya tahu alamatnya sekarang.

__ADS_1


"Di mana tempat tinggal kamu, Azalea?" Reno bertanya dengan protes.


Rasanya sangat tidak bertanggung jawab jika menurunkan seorang cewek di pinggir jalan, terlebih jika cewek itu adalah gebetannya.


"Aku akan mengantarkan kamu sampai rumah." Ia hendak meraih tangan Azalea yang telah turun dari kendaraan besarnya. Sayang sekali, Reno harus menelan rasa kecewa karena gadis itu mengelak.


"Ini udah deket, kok. Aku jalan kaki aja." Azalea menunjuk asal tempat di sana.


"Tapi--"


"Makasih ya, Reno. Sampai ketemu lagi di sekolah besok." Azalea melambaikan tangan dan melangkah buru-buru meninggalkan lelaki itu.


Azalea tahu jika Reno kecewa. Namun, ia tidak bisa melakukan apa pun. Azalea berjanji akan menebus kesalahan dan mengucapkan terima kasih dengan layak besok. Tanpa menoleh lagi, ia terus berjalan meninggalkan Reno yang masih terpaku menatapnya.


Napas Azalea tersengal saat sampai di depan pintu unitnya. Ia mengatur napas sebelum menekan digit password. Saat pintu terbuka, betapa terkejutnya Azalea karena Reynand berdiri berkacak pinggang di balik pintu.


"Reynand! Bisa enggak, sih, enggak buat orang kaget gini?" Azalea berusaha mengenyahkan rasa takutnya. Ditatap tajam oleh lelaki itu tentu membuat nyalinya menciut.


"Kamu telat sepuluh menit," kata Reynand sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


"Cepat mandi! Aku tunggu di meja makan." Reynand mengedikkan dagu.


Tidak ingin kehilangan kesempatannya, Azalea segera berlari melewati lelaki itu. Ia bahkan tidak sengaja menyenggol lengan Reynand.


"Ups, sorri," katanya sambil lalu masuk ke kamar.


Reynand telah menunggu di meja makan dengan menu nasi goreng tersaji di sana. Sebenarnya, perut Azalea sudah kenyang, tetapi ia tidak ingin Reynand semakin marah padanya jika tahu kalau dirinya sudah makan bersama Reno tadi. Azalea pun menyendok nasi ke piring, dan makan dengan malas.


"Apa nasinya tidak enak?"


Pertanyaan itu cukup mengejutkan. Ditambah dengan tatapan lekat Reynand kepadanya. Azalea menelan dengan paksa nasi di dalam mulutnya, dan dibantu dengan air putih.


"Enak, kok, enak banget." Azalea kembali menyendok nasi di piringnya.


Ya, masakan Reyand memang sangat enak, perutnya saja uang sudah terisi penuh oleh semangkuk bakso ditambah segelas jus dan sebotol air mineral tadi. Belum ada satu jam dari saat Azalea makan bersama Reno tadi.

__ADS_1


"Kalau gitu habiskan!"


Azalea terus menyuap sampai isi piringnya habis. Ia pikir, masalahnya sudah selesai. Ternyata, dugaannya salah. Reynand menyuruhnya menghabiskan nasi dalam mangkuk besar itu, bukan hanya di piringnya saja.


"Aku sudah makan tadi di kantor. Sepulang dari sekolah, aku mampir di kantor." Reynand memberikan keterangan. "Apa kamu sudah makan juga?" Dahi lelaki itu mengernyit.


"Oh ... belum, kok. Aku belum makan." Azalea menggeleng berulang kali. Lantas, mengisi kembali isi piringnya yang telah kosong.


Rasanya, perutnya ingin meledak. Azalea sampai kesulitan bergerak. Ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi, tangannya mengelus perutnya berulang kali seperti ada bayi di dalam sana, dan kini tubuhnya mulai terasa lelah.


Hari ini hidupnya double apes.


"Lalu, ceritakan ke mana saja kamu pergi tadi." Suara Reynand belum juga melunak, masih terdengar tegas dan datar. Begitupula dengan tatapannya.


"Aku mecari keberadaan Mona tadi. Tapi rumahnya kosong. Tetangganya juga enggak tahu dia di mana." Azalea memilih untuk menceritakan yang sesungguhnya. Sepertinya akan percuma saja jika berbohong pada lelaki itu.


"Terus?"


"Terus apanya? Ya udah, terus aku pulang." Azalea menengadahkan pandangan ke atas, menatap langit-langit ruangan terasa lebih baik ketimbang menatap wajah datar lelaki di hadapannya.


"Kamu pergi sama teman cowokmu itu?"


Azalea mengubah posisi menghadap Reynand dengan wajah tegang. Mulutnya sudah terbuka, hendak mengucapkan kata saat Reynand kembali bersuara.


"Cowok yang aku lihat tadi sekolah. Asik banget kalian ngobrol berdua."


"Dia Reno namanya. Tadi kebetulan aja, sih, pas berencana ke rumah Mona, pas Reno bisa." Azalea menekan rasa tidak nyaman di dalam hatinya.


"Lain kali, kalau mau pergi-pergi itu bilang. Jangan kayak tadi lagi--"


"Emang kamu khawatir sama aku?" sela Azalea cepat. Mendadak ada debaran tidak biasa yang ia rasakan.


"Kamu tanggung jawabku sekarang. Kalau ada apa-apa tentu aku harua lebih dulu yang tahu." Reynand mendorong kursinya, lalu berdiri. "Jangan lupa kalau status kamu adalah istriku. Seorang istri harus izin terlebih dahulu kepada suaminya sebelum pergi ke mana pun."


"Iihh, dasar." Azalea menggerutu kesal.

__ADS_1


"Jangan lupa cuci piring!"


__ADS_2