
Reynand turut menikmati pemandangan di hadapan. Deburan ombak naik turun. Rasanya, ia ingin ke sana menggulung diri dalam deburan itu. Seperti yang ia rasakan saat ini, tergulung dalam aroma wangi tubuh sang gadis.
Reynand semakin mengetatkan pelukan. Ia sampai berdesis pelan saat Azalea menggeliat, hendak melepaskan pelukannya.
"Sssttt. Kamu diam aja, jangan bergerak," kata Reynand memberi peringatan, sebab tubuhnya telah menunjukkan tanda bahaya karena pergerakan gadis yang berada dalam pelukannya itu.
"Aku ...."
Azalea masih berusaha melepaskan diri, tetapi peringatan Reynand kembali terdengar. Akhirnya, ia pun diam dengan tubuh kaku. Pemandangan yang tadi tampak indah, kini tidak lagi bisa dinikmati. Azalea sibuk merasakan ritme jantungnya sendiri.
"Kamu suka di sini?" tanya Reynand dengan suara berbisik. Embusan napas hangatnya mengirimkan gelenyar aneh dalam aliran darah Azalea.
Azalea mengangguk kaku. Beberapa menit kemudian, keduanya hanya berdiam diri hingga suara kriuk dari perut Azalea terdengar.
__ADS_1
Reynand terkekeh pelan. Ia cium pelpis gadis dalam pelukannya itu, kemudian mengurai pelukan. Walau hati terasa berat, tetapi ia tidak akan mungkin tega membiarkan Azalea kelaparan.
"Kita makan di kamar saja ya," ujar Reynand kemudian melangkah menuju meja telepon resort yang tersedia di kamar ini.
Azalea mengangguk, lalu melangkah ke ranjang. Tubuhnya masih merasakan termor karena perlakuan Reynand tadi, bahkan kedua lututnya melemas seperti jelly. Ia butuh pegangan agar tidak limbung ke lantai.
Selama Reynand melakukan panggilan, Azalea duduk di pinggit ranjang. Ia menarik dan mengembuskan napasnya dengan cepat, berusaha mengatur ritme jantungnya agar berdebar secara normal. Ia sangat gugup bukan kepalang.
Setelah dirasa lega, Azalea pun masuk ke kamar mandi. Ia ingin berendam dan menyegarkan diri.
Rupanya, Reynand tengah duduk di sofa sembari memainkan ponsel. Azalea tidak berniat menyapa lelaki itu. Ia melangkah melewati Reynand menuju koper, mengambil pakaian ganti kemudian berlari kecil masuk ke kamar mandi.
Setelah berganti pakaian, Azalea keluar dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Reynand yang telah bertelanjang dada di depan pintu kamar mandi. Lelaki itu bersikap santai berdiri di hadapannya kini.
__ADS_1
"Makanan sudah siap di meja. Kamu bisa makan lebih dulu, aku akan mandi."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Reynand melewati Azalea. Lelaki itu menghilang di balik pintu kamar mandi. Tanpa disadarinya, Azalea menahan napas sampai beberapa menit kemudian.
Alarm tanda bahaya telah bergema di dalam kepala. Azalea bergegas menuju makanan yang terhidang, tanpa berniat menunggu Reynand terlebih dahulu. Ia bahkan belum menyisir rambutnya dengan benar.
Azalea makan dengan lahap. Ia terus menunduk, menyuapkan makanan ke mulut. Masakan laut yang terhidang sungguh menggugah selera. Ia sampai tidak sadar jika Reynand tengah berjalan ke arahnya. Lelaki itu berdiri, memperhatikan Azalea dengan senyum tekulum.
Reynand menggunakan pakaian santai. Kaus pas di badan dan celana pendek di bawah lutut. Setelah makan, ia berniat untuk kembali beristirahat. Nanti malam, barulah dirinya akan mengajak Azalea menikmati pemandangan yang ada.
Habis sudah isi piringnya. Azalea meraih gelas di hadapan, dan saat itulah kepalanya mendongak menangkap ada seseorang di sekitarnya.
Seketika, Azalea terbatuk karena terkejut. Postur Reynand saat tidak mengenakan baju tadi berhasil merusak konsentrasinya. Ditambah dengan pelukan lelaki itu yang masih ia rasakan.
__ADS_1
Azalea merasa bahwa Reynand telah berhasil merusak isi kepalanya.