Jodoh Kencan Buta

Jodoh Kencan Buta
Gigitan Nyamuk


__ADS_3

Menit demi menit berlalu, ketiga orang itu diam dengan kegiatan masing-masing. Emery masih menunggu jawaban dari sang cucu menantu, sementara sang cucu menantu justru masih dilanda kebingungan. Azalea takut jika salah kata dalam memberikan jawaban.


"Kakek tenang saja. Kami pasti akan tinggal di sini bersama Kakek."


Beruntung, Reynand mengambil alih keadaan. Lelaki itu menjawab pertanyaan Kakek Emery mewakili sang istri.


"Azalea sudah kelas tiga. Nanti setelah kelulusan kita akan pindah tinggal di sini, Kek," lanjut Reynand lagi.


"Kenapa harus menunggu lulu, Rey? Sekarang kalian juga bisa langsung pindah ke rumah ini, kan? Ingat! Rumah ini adalah rumah kamu, itu berarti rumah kalian bersama." Kakek Emery menyahut dengan nada terselip protes di dalamnya. Menunggu satu tahun lagi cukup lama baginya yang sudah tua itu.


"Dari sini ke sekolah Azalea jaraknya lumayan jauh. Lagipula, biarkan Azalea fokus pada belajarnya dulu, Kek. Nanti setelah dia melanjutkan kuliah baru menjalankan tugasnya dengan baik." Reynand menjelaskan dengan sangat hati-hati.


"Apa itu artinya ....? Yah, Kakek belum bisa punya cucu dalam waktu dekat dong." Kakek Emery menghela napas lesu. Ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi.

__ADS_1


Sementara itu, wajah Azalea merah padam. Baginya, apa yang dibicarakan dua lelaki itu sangat sensitif. Walaupun, dirinya tidak tahu betul ke mana arah pembicaraan itu. Namun, mendengar kata cucu dari lisan sang kakek cukup membuatnya malu.


"Kakek harus lebih bersabar. Azalea masih remaja dan aku hanya ingin agar dia menikmati masa remajanya dengan indah, enggak sibuk dengan urusan rumah tangga apalagi anak." Reynand menoleh pada Azalea dan tersenyum. Kemudian, suara notifikasi dari ponselnya mengalihkan perhatian.


Azalea membalas senyum itu. Lantas, saat ia menyingkap rambutnya ke belakang, tampaklah warna kemerahan di lehernya. Ia lupa jika telah membiarkan rambutnya sepenuhnya ke depan agara menutupi warna merah itu.


"Ada apa dengan lehermu?" tanya Kakek Emery dengan mata memicing.


Kontan Azalea meraba lehernya dengan jari telunjuk. "Enggak tahu ini, Kek. Bangun tidur udah merah-merah begini. Di kamar Reynand banyak nyamuknya," jawab gadis itu polos. Tidak terpikirkan sedikit pun olehnya apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Oohh. Kayaknya, sih, nyamuknya besar-besar banget itu, Azalea. Kamu butuh racun nyamuk untuk mengusirnya," sahut Kakek Emery dengan raut serius. Ia sengaja memancing untuk menggoda.


"Bisa jadi, Kek. Tapi, kok, enggak gatel ya, Kek. Enggak bentol juga. Biasanya kalau digigit nyamuk, kan, gatel dan bentol." Azalea menatap Kakek Emery dengan ekspresi polosnya.

__ADS_1


"Udah tanya ke Reynand?" tanya Kakek Emery sembari melirik jenaka sang cucu. Ia sengaja menjawil lengan Reynand membuat lelaki itu mengalihkan fokus.


Reynand meninggalkan room percakapan bersama Jonathan. Ia menoleh, menatap serius penuh tanda tanya pada sang kakek yang tersenyum jail.


"Udah, Kek. Azalea udah minta anterin beli racun nyamuk nanti setelah pulang dari sini," balas Azalea. Matanya mengerjap, binarnya menunjukkan kemurnian dan ketulusan.


Tatapan Reynand beralih pada Azalea. Sejenak, ia masih mencerna ke mana arah pembicaraan dua orang itu.


"Kamu tanya ke Reynand, dia digigit nyamuk juga enggak? Kalian berdua harus basmi nyamuknya sama-sama." Kakek Emery geleng kepala, lalu menepuk bahu sang cucu semata wayang.


"Ngomongin apa, Kek ... Azalea? Di mana ada nyamuk?" tanya Reynand bingung menatap Kakek dan Azalea secara bersamaan.


"Di kamar kamu, Reynand. Nih, leher aku merah-merah--"

__ADS_1


Belum selesai Azalea berujar, Reynand sudah terbatuk-batuk dengan wajah merah padam.


__ADS_2