
"Rey ... nand ...."
Suara Azalea tersengar begitu merdu di telinga, seakan mengundang dirinya untuk semakin mendekat. Kepala Reynand sudah pening. Lelaki itu tidak lagi mampu mengendalikan diri.
Reynand telah terbelenggu oleh paras cantik yang kini telah terkungkung di bawah tubuhnya. Kulit putih nan mulus yang halus begitu memggoda, ia terus menari dalam ketidaksadarannya.
"Rey ... nand."
Lagi, alunan suara itu begitu syahdu sampai ke relung hati, menambah gejolak di dalam diri. Reynand mengecup apa saja yang ia temui. Bagai seorang musafir yang kehausan, Reynand butuh air untuk melepaskan dahaganya. Namun, semakin dirinya meneguk rasa, haus itu semakin menjadi, membabi buta sampai hilang akalnya. Hingga, air itu terasa nyata di lidahnya.
Reynand tersentak, mendapati kesadaran yang mulai terkumpul di kepalanya. Padahal, ia sedang tidak menenggak minuman beralkohol. Namun, seolah ia telah mabuk kepayang.
"Ka ... mu menangis?" tanya Reynand. Lantas, ia beringsut duduk saat menyadari bahwa Azalea benar-benar tengah menangis.
__ADS_1
"Aku ... takut. Aku takut banget."
Azalea menggeleng berulang kali. Air matanya meleleh, bagai bendungan yang jebol. Lantas, gadis itu teisak. Sungguh menyedihkan ekspresinya kini. Azalea tampak sangat ketakutan.
"Aku ... takut. Kamu ... kayak orang kesurupan." Azalea menutup wajah dengan kedua tangan. Tubuhnya gemetar. Ia tidak peduli dengan keadaannya yang kini tidak berpakaian. Ia juga tidak peduli dengan tatapan nanar yang dilayangkan Reynand kepadanya. Yang gadis itu lakukan hanya menangis dan menangis. Ia ingin menuntaskan apa yang membuat dadanya begitu sesak.
Reynand menjambak rambutnya. Apakah perlakuannya sangat kasar? Sehingga membuat Azalea tidak menikmati sentuhannya, justru merasa terluka.
Reynand mengatur napas, mengendalikan dirinya sendiri. Lebih tepatnya, ia berusaha mengendalikan sesuatu yang masih menggelegak di dalam dadanya.
Berbeda dengan Azalea yang sudah tidak berbusana, Reynand masih mengenakan celana. Ia belum sepenuhnya melepaskan apa yang ada di badan. Lantas, ia pun berbaring miring, memeluk tubuh gadis yang masih bergetar oleh tangis.
Keduanya terdiam. Azalea masih menuntaskan tangisnya, sedangkan Reynand sibuk dengan pikirannya. Lelaki itu tersadar jika dirinya sudah lepas kendali. Ini bukanlah saat yang tepat untuk mengambil sesuatu yang paling berharga dari seorang Azalea Lesy. Gadis itu belum siap. Mereka butuh pendekatan yang lebih serius lagi.
__ADS_1
"Maafkan aku ya. Aku seharuanya bisa menahan diri," bisik Reynand sembari menyingkirkan rambut di wajah Azalea. Wajah gadis itu basah oleh keringat yang bercampur air mata.
Azalea membuka mata. Ia menoleh, menatap Reynand dengan hati yang penuh oleh rasa bersalah. Ia sadar betul, tidak seharusnya merasa takut kepada Reynand. Namun, perasaan itu tiba-tiba saja datang menghantam dadanya.
"Aku ... minta ... maaf karena belum bisa jadi istri yang sempurna untuk kamu," balas Azalea dengan suara serak. Air mata yang mulai mengering kini kembali mengalir, menganak sungai membanjiri wajahnya.
Reynand merasa sedih atas keadaan Azalea. Ia pun menggeleng berulang kali, tangannya bergerak menghapus air mata yang terus mengalir di pipi gadis itu.
"Kita masih punya banyak waktu. Seumur hidup, kita punya waktu untuk menikmati itu nanti." Reynand berkata pelan, meyakinkan diri sendiri atas setiap kalimat yang ia ucapkan.
"Jangan nangis lagi. Maafkan aku ... tidak seharusnya aku terburu-buru," kata Reynand lagi.
"Anak buah kamu kasihan dong ya, lemes lagi dia," balas Azalea kemudian.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Reynand bingung dengan maksud gadis itu.
Akan tetapi, lirikan Azalea membuat Reynand terkekeh pelan.