Jodoh Kencan Buta

Jodoh Kencan Buta
Tidur di Kantor


__ADS_3

Azalea pikir, setelah menyelesaikan makan siangnya, ia akan pulang bersama sang kakak. Rupanya, dua orang dewasa di hadapannya itu sudah memiliki rencana lain.


Reynand meminta Azalea dan Jasmine menunggu sebentar di ruangannya, sementara dirinya menyelesaikan pekerjaannya hari itu.


Selama menunggu, kedua kakak beradik itu tidak dibiarkan menganggur saja oleh sang pemilik ruangan. Reynand meminta sekretarisnya untuk menyiapkan minuman dan camilan.


"Sebentar saja di sini kami bisa langsung gemuk, lho, Rey," ujar Jasmine memberi komentar. Wanita itu memang tidak segan dalam mengutarakan isi pikiran dan mengungkapkan apa yang dirasakan. Sangat berbeda dengan sang adik yang lebih sering menyimpan di dalam hati.


"Biar kalian enggak bosan," balas Reynand sopan. Ia menghadap pada layar di hadapan, fokus pada pekerjaannya.


"Pantas saja Azalea jadi lebih berisi badannya." Lantas, Jasmine menoleh pada sang adik yang kini tengah menikmati camilan. Sepiring kentang goreng telah berpindah ke pangkuan gadis remaja itu. "Makan terus bawaannya," lanjut Jasmine menggoda.


Jasmine terkekeh pelan kala mendapati wajah Azalea yang bersemu merah. Gadis itu pasti malu karena digoda.


"Badannya berisi enggak apa-apa kali, Dek, biar tambah cantik. Ya, kan, Rey?" kata Jasmine lagi. Ia sengaja memancing Reynand. Padahal, hal demikian justru dapat mengganggu konsentrasi lelaki itu dalam menyelesaikan pekerjaan.


"Iya."


Azalea tidak menyangka jika suaminya itu menjawab godaan sang kakak. Ia menoleh cepat, melotot pada Reynand yang bahkan tidak membalas tatapannya. Lelaki itu sudah kembali berkutat pada pekerjaan.


Suara dering ponsel berbunyi, itu milik Jasmine. Wanita itu merogoh tas dan mengambil si benda pintar, lalu senyumnya terkembang begitu saja. Selanjutnya, ia telah tenggelam dalam obrolan yang hanya dirinya dan si penelepon yang mengerti.


Azalea tahu betul bahwa sang kakak sedang menerima telepon dari sang kekasih. Ia pun hanya diam saja, dan mulai merasa jenuh karena tidak ada yang akan dilakukan.


Azalea membuka ponsel dan melihat sosial media, tetapi hanya sebentar karena tidak ada yang menarik baginya. Ia pun bermain game, hanya sebentar karena merasa bosan. Lantas, melihat video pendek yang dibagikan di aplikasi, lagi-lagi dirinya merasa jenuh. Azalea pun memasukkan benda itu ke dalam tasnya.

__ADS_1


Selanjutnya, Azalea beranjak dari kursi. Ia mengedarkan pandangan, melihat seisi ruangan. Matanya pun tertuju pada lemari yang berada di samping kursi Reynand. Ia melangkah mendekat, mencari lebih dalam apa saja yang tersusun di sana.


Pertama kali yang Azalea lihat adalah foto Reynand memakai toga. Ia pikir, itu adalah foto Reynand saat berada di luar negeri. Lantas, di samping bingkai itu terdapat gambar Reynand bersama sang kakek. Mata Azalea berlanjut memperhatikan deretan buku. Matanya tertuju pada sebuah buku yang membuatnya menarik. Ia mengambil buku itu dan duduk di kursi di hadapan Reynand.


Azalea membaca dengan serius, sampai tidak menyadari jika lelaki di hadapannya itu sesekali mencuri pandang.


Sampai beberapa waktu berjalan, Jasmine selesai dengan teleponnya, ia pun menghampiri sang adik yang ternyata tertidur di meja kerja Reynand.


"Kamu belum selesai?" tanya Jasmine. Hari sudah merambat sore. Keluarga mereka sudah mengabari jika persiapan telah selesai, itu tandanya sudah waktunya mereka pulang.


"Sebentar lagi, sambil nunggu Azalea bangun," jawab Reynand menoleh pada Jasmine sekilas, lalu kembali menatap berkas di atas meja.


"Azalea enggak apa-apa kalau mau dibangunin." Jasmine telah bersiap membangunkan Azalea, tetapi Reynand menahannya.


"Biarkan saja. Aku sebentar lagi selesai, nanti biar aku pindahkan ke sofa. Kalau kamu mau pulang duluan enggak masalah." Reynand berujar dengan tenang.


"Bukan begitu--"


Belum selesai Reynand mengungkapkan alasannya , Jasmine kembali bersuara. Wanita itu terkekeh pelan, lalu berkata di sela kekehan, "Enggak masalah. Brian sudah menjemputku. Dia sedang di jalan menuju ke sini."


"Ah, begitu. Sorri ya, aku enggak bermaksud mengusir. Tapi, kamu tahu sendiri. Biasanya si pemilik pesta memang datang terlambat, bukan?" Reynand bersuara tenang.


Beberapa saat kemudian Jasmine sudah berpamitan karena jemputannya telah datang. Tinggallah Reynand berdua dengan Azalea. Pekerjaan lelaki itu akhirnya selesai juga. Berkas yang masih tersisa akan ia periksa di hari esok.


Reynand berdiri, memutari meja dan mendekati Azalea yang tampak tenang dalam tidur. Semalam, gadis itu memang tidak bisa tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


Reynand memindahkan Azalea ke sofa. Wajah gadisnya sangat pulas, tidak terusik oleh gerakan apa pun. Reynand duduk di lantai, menunggu dan menjaga Azalea sampai terbangun. Saat gadis itu bergerak, ia pun bersikap waspada kalau saja akan terjatuh. Namun, mata Azalea terbuka hingga tatapan keduanya pun bertemu.


"Aku ketiduran?"


"Kamu sudah bangun?"


Keduanya berbicara secara bersamaan. Lantas, saling memalingkan wajah karena malu. Senyum terkulum di bibir keduanya dengan wajah bersemu merah.


Reynand merasa jika dirinya kini seperti seorang ABG yang terkena virus merah jambu, dan baru mengenal cinta. Sungguh, ia tidak pernah menyangka jika menikah dengan gadis yang jauh di bawahnya akan memberikan dampak yang sedemikian rupa pada dirinya.


"Kak Jasmine di mana?" Azalea akhirnya menyadari jika hanya ada mereka berdua saja di dalam ruangan itu. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan sang kakak. Namun, Jasmine tidak ditemukannya.


"Jasmine sudah pulang lebih dulu. Dia dijemput Brian." Reynand menjelaskan. Lantas, ia pun berdiri dari duduknya yang bersimpuh di lantai. Lumayan pegal dan kakinya serasa kesemutan. Ia sampai harus berjalan dengan pincang.


"Kamu kenapa?" tanya Azalea khawatir. Gadis itu segera menghampiri Reynand dan memapah lelaki itu.


"Hey, aku bukan lelaki cacat. Aku juga enggak sakit. Kakiku ini cuma kesemutan, Azalea." Reynand menjelaskan dengan ringisan. Pasalnya, saat kaki kanannya berpijak ke lantai rasanya sangat tidak nyaman sampai ke kepalanya.


"Yang ini yang kesemutan?" tanya Azalea dengan polosnya, tangannya memijit kaki kanan Reynand dan membuat lelaki itu menjerit. Jeritan itu justru membuat Azalea tertawa.


Sadar jika dikerjai, Reynand pun menjepit hidung Azalea dengan kedua jarinya. Ia melakukan itu dengan perasaan gemas.


"Aw sakit, Rey!"


"Salah sendiri jahil."

__ADS_1


Keduanya pun tertawa bersama. Setelahnya, Reynand mengajak Azalea pulang. Perjalanan keduanya kali ini diisi oleh obrolan ringan. Azalea cukup bingung mengapa mereka tidak pulang ke apartemen melainkan ke rumah orang tuanya. Namun, Reynand tidak menjawab. Lelaki itu membuka pintu mobil dan keluar dari kendaraan itu. Ia berlari mengitari mobil, lalu membukakan pintu untuk Azalea. Bak seorang raja yang menyambut sang permaisuri, begitulah yang Reynand lakukan.


Keduanya berjalan dengan tangan yang saling menggenggam menuju taman belakang. Dan, betapa terkejutnya Azalea ketika mendapati rumah orang tuanya mendadak gelap gulita karena listri padam. Ia pun kontan segera memeluk erat tubuh Reynand. Ia menenggelamkan kepalanya di dada lelaki itu.


__ADS_2