
Azalea tercenung memikirkan apa yang dikatakan Reynand barusan. Ia menyetujui sekaligus menyadari itu. Hanya saja, hatinya tidak bisa mengelak perasaan itu.
Jika seseorang ditanya, siapakah yang paling jujur di dunia ini? Tentulah hati jawabannya. Pasalnya, ketika lisan mampu berkata tentang pengingkaran, maka hati tidak akan mampu. Azalea paham bahwa hati adalah penasihat terbaik. Tidak jarang jika di buku yang ia baca, jika membutuhkan nasihat yang paling baik, memintalah pada hatimu.
Azalea juga sering mendengar ungkapan, bertanyalah kepada hatimu.
Ia sadar jika perkenalannya dengan Reynand masih amat singkat, tetapi hatinya meyakini bahwa lelaki itu adalah pasangan yang tepat. Maka, Azalea pun akan meyakini itu.
Azalea akhirnya mengangguk yakin. Ia dengan mantap menjawab, "Aku memang tidak memiliki pengalaman soal cowok, percintaan, hubungan pacaran, tetapi aku yakin dengan kata hatiku."
"Dan kamu yakin kalau aku adalah pasangan terbaik kamu?" tanya Reynand penuh tuntutan.
"Ya." Azalea mengangguk semakin mantap. "Tidak peduli dengan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Hidupku adalah sekarang. Masa depan tidak ada seorang pun yang tahu," katanya dengan raut serius.
Reynand cukup tercengang dengan perkataan itu. Azalea memang sering kali bisa berpikir dewasa. Walau di saat-saat tertentu.
"Oke." Reynand menjawab singkat. Lantas, ia membenahi duduknya, menghadap kemudi. Reynand memasang sabuk pengaman, menyalakan mesin. Ia menoleh pada Azalea, "Pasang sabuk pengamanmu." Kendaraan itu pun keluar dari parkiran restoran dan meluncur di jalan raya.
Selanjutnya, hanya ada keheningan yang menyelimuti keduanya. Perjalanan ditempuh dalam diam. Sampai mereka tiba di sebuah rumah sederhana yang menjadi tujuan.
Azalea seketika menoleh. Matanya mengerjap pelan menanti informasi yang akan disampaikan Reynand kepadanya. Anggukan kepala yang diberikan lelaki itu membuat matanya seketika mendelik.
Jantung Azalea berpacu kencang. Sebentar lagi, ia akan bertemu dengan seseorang yang telah dirindukan. Mona, sahabatnya. Rasanya sudah berabad lamanya mereka tidak bertemu. Banyak hal yang ingin Azalea ceritakan pada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Ayo kita turun!" Azalea mengajak penuh semangat. Binar bahagia terpancar jelas dari wajahnya. Rasa lelah dan pegal selama menempuh perjalanan hampir dua jam itu sirna seketika.
Keduanya melangkah beriringan dalam diam. Malam itu, langit tak berbintang. Entah ke mana perginya bintang gemintang. Mungkinkah penghias langit malam itu telah berpindah ke wajah gadis yang binarnya memancarkan cahaya? Mungkin gemintang malu untuk menampakkan diri tersebab mata gadis itu berkelip riang. Reynand mengembuskan napas pendek. Ia berharap akan ada kebaikan yang terjadi malam ini. Lelaki itu ingin terus melihat binar di mata gadisnya, setidaknya sampai mereka pulang.
Azalea berhenti di depan pintu. Kebetulan, rumah yang dituju tidak memiliki pagar. Sehingga mobil leluasa berhenti tepat di depan rumah.
Azalea menoleh, menatap lelaki di sampingnyq dalam keremangan malam. Rumah ini sangat sunyi, seperti tidak berpenghuni. Lampu di teras rumah juga tidak menyala.
Mendapati tidak ada respon dari sang suami, Azalea pun segera mengangkat tangan untuk mengetuk pintu.
"Permisi!" seru Azalea sembari mengetuk pintu berulang kali.
Beberapa menit berlalu, rasa putus asa pun menggayut di hati. Azalea tertunduk lesu. Tampaknya, usahanya untuk menemui Mona harus gagal lagi. Semangat yang beberapa waktu lalu menggebu di dadanya lesap seketika. Dengan wajah kuyu dan bibir mengerucut cemberut, Azalea berbalik. Pandangannya sudah mulai mengabur karena kaca-kaca bening menutupi penglihatan. Ia hendak melangkah saat pintu tiba-tiba saja terbuka.
"Pak Reynand ... Azalea."
"Gue ... cariin lo ke mana-mana." Azalea berkata lirih dalam isaknya. Pelukannya semakin mengetat, ia tidak ingin sahabatnya itu pergi lagi.
Setelah beberapa menit terlewati, kedua sahabat yang telah terpisah beberapa waktu itu pun saling mengurai pelukan. Tangan keduanya terangkat, saling menghapus jejak di wajah sahabat mereka. Senyum pun merekah dalam isak tangis yang masih terdengar.
"Lo ... apa ... kabar?" tanya Azalea dengan suara serak yang tersendat-sendat.
"Sekarang sudah jauh lebih baik." Mona menjawab dengan mengulas senyum. Tangisnya telah sepenuhnya berhenti. Berbeda dengan Azalea yang masih mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Sudah nangisnya. Dasar si cengeng," gumam Mona serupa ejekan yang dibalas dengkusan pelan oleh Azalea.
"Pak Reynand ...." Mona mendongak, menatap lelaki tinggi nan gagah yang sedari tadi hanya diam menyaksikan mereka. "Terima kasih sudah bawa Azalea ke sini. Ini sudah malam, sebaiknya Bapak bawa dia pulang."
Perkataan itu membuat Azalea kembali menangis. Kali ini, gadis itu memekik dengan suara tertahan. Kepalanya menggeleng berulang kali. Air matanya terus menangis seperti bendungan air bah yang tidak bisa lagi ditampung.
"Jangan lakukan ini, Mona. Gue kangen banget sama lo. Banyak yang ingin gue ceritakan dan tanyakan sama lo," ucap Azalea dengan wajah penuh permohonan dan air mata yang menganak sungai.
"Sorri, Lea. Gue enggak bisa. Sebaiknya kalian pulang." Mona menegarkan diri. Ia tidak boleh menangis lagi.
Mona memundurkan langkah, tangannya meraih gagang pintu bersiap untuk menutup, mengusir tamunya secara terang-terangan.
"Mona ... Mona, please. Jangan gini. Kita masih bisa sahabatan kayak biasanya. Enggak akan ada yang berubah. Lo masih bisa sekolah. Tersangkanya udah ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Enggak akan ada yang bisa nyakitin lo lagi." Azalea meracau dengan wajah kacau. Tangannya sibuk menggapai Mona yang semakin merapatkan pintu, tetapi gerakannya terbatas karena ditahan oleh Reynand.
"Mona, please. Jangan lakuin ini ke gue." Tenaga Azalea melemah. Ia terduduk di lantai dengan tangan Reynand melingkar di pinggangnya. Lelaki itu berusaha memenangkan walaupun hasilnya nihil.
"Sorri, Lea. Semoga lo bahagia selalu." Pintu pun ditutup. Tubuh Mona telah menghilang di balik pintu rumah yang tampak sunyi itu.
Azalea memberontak. Ia meraih gagang pintu, berusaha membuka, tetapi tidak bisa kerena sang pemilik rumah telah mengunci rapat dirinya. Bukan hanya rumah yang terkunci, tetapi juga hati dan dirinya.
Azalea menoleh, memohon pada Reynand agar melakukan sesuatu untuknya. Namun, lelaki itu justru menggeleng berulang kali.
"Kamu jahat! Kalian semua jahat sama aku!" Kali ini Azalea meraung, memukul-muluk dada bidang Reynand. Ia mengerahkan seluruh tenaga, tetapi justru dadanya sendiri yang merasa tersakiti.
__ADS_1
Reynand menunggu dalam diam, sampai Azalea terkulai lemah. Lantas, ia pun membopong gadis itu masuk ke mobil. Setelah memastikan Azalea duduk dengan nyaman, barulah Reynand berlari menuju kursinya. Ia tatap wajah gadis itu. Binar yang tadi dilihatnya kini berubah dengan mendung yang kelam, seperti langit yang gelap gulita berganti mendung dan menurunkan gerimis.
Di dalam rumah, Mona membekap mulut. Ia bersimpuh di atas lantai yang dingin, menangisi nasib buruk yang menimpa masa depannya.