
Pagi itu, tiada angin tiada hujan, Reynand menunggu Azalea bersiap. Lelaki itu duduk di sofa ruang tamu dengan pakaian yang rapi sambil memainkan ponsel. Reynand langsung berdiri saat melihat Azalea datang.
"Kok, kamu belum berangkat?" Azalea bertanya bingung, serasa aneh dengan sikap sang suami.
Reynand tidak menjawab. Ia berdiri, berjalan mendahului, kemudian menoleh sekilas. "Cepetan!" katanya galak.
Azalea menunduk. Ia menahan kekesalannya kepada Reynand. Dientakkannya kaki ke lantai sambil berjalan cepat, ia tidak menyadari jika seseorang di hadapannya itu menghentikan langkah.
"Aw!" Azalea memekik kaget karena keningny menabrak punggung kokoh di depannya. Wajahnya memerah, semerah kepiting rebus antara malu dan menahan rasa sakit di kening. Tangannya sibuk mengelus kening yang terasa sakit.
"Jalan itu hati-hati, Lea." Suara Reynand tertahan, tetapi lelaki itu ikut mengelus kening Azalea yang memerah. Ia mengulum senyum, merasa lucu dengan polah sang istri.
"Iya, maaf." Azalea membalas lirih dengan kepala yang terus menunduk.
Akan tetapi, perlakuan Reynand selanjutnya justru membuat kepalanya mendongak. Lelaki itu menggenggam pergelangan tangannya, bukan genggaman yang kasar melainkan genggaman lembut. Lantas, Reynand menariknya keluar dari unit mereka.
Tanpa melepaskan gandengan tangannya, Reynand menutup pintu. Ia memindahkan tangannya ke telapak tangan Azalea, lalu memasukkan jemarinya di sela jemari gadis itu. Seperti sebuah puzzle yang menemukan potongannya, begitu yang lelaki itu rasakan saat ini. Rasanya, tautan tangan mereka sangat pas dan menenteramkan. Sampai, ia merasa tidak rela untuk melepaskan saat mereka sampai di basemant.
Seperti ada yang hilang ketika Reynand melepaskan tautan tangan mereka, begitulah yang dirasakan Azalea. Ia meremas rok sekolah demi menghalau kekosongan jiwanya. Rasanya akan sangat memalukan jika Reynand tahu apa yang dirasakan hatinya. Azalea menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak di dalam dada.
"Masuk!"
Perintah yang diucapkan Reynand cukup mampu mengalihkan Azalea dari kegusaran. Ia bergegas membuka pintu mobil, lalu masuk dan dengan gerakan cepat pula memasang sabuk pengaman.
"Kenapa aku enggak diantar sopir aja?" tanya Azalea dengan ekspresi bingung yang tidak dibuat-buat. Ia benar-benar tidak mengerti dengan rencana Reynand pagi ini.
__ADS_1
"Aku enggak mau kamu keluyuran lagi." Reynand membalas ucapannya tanpa menoleh. Tatapan lelaki itu tetap lurus ke depan.
Mulut Azalea ternganga. Bisa-bisanya Reynand berbicara demikian. Ia pikir, masalah semalam sudah selesai.
"Bukankah aku sudah menjelaskan--"
"Sudah nurut aja. Aku malas berdebat. Hari ini, siap-siap ketemu dengan pelajaranku nanti." Reynand menutup debat mereka dengan menyalakan musik, membuat bibir Azalea yang telah terbuka kembali terkatup rapat.
Azalea menoleh cepat saat mobil berhenti di persimpangan. Sebenarnya, ia sudah bisa menebak, tetapi tetap merasa tidak percaya dengan tindakan yang dilakukan Reynand. Walaupun, dirinya juga pasti tidak akan setuju jika lelaki itu mengantarnya sampai sekolah.
'Ah, benar-benar serba salah menghadapi lelaki aneh ini.'
"Emang kamu sudah siap, kalau status kita dipublikasikan?" tanya Reynand dengan mata memicing. Seolah, lelaki itu mengetahui isi kepala Azalea saat ini.
"Ya ... enggak. Aku belum siap. Aku, kan, masih sekolah." Azalea mendadak gugup. Bisa mati mendadak dirinya kalau sampai sekolah tahu bahwa dirinya sudah berstatus sebagai istri orang.
"Mending tadi aku berangkat sama sopir--"
"Mulai sekarang enggak ada sopir lagi. Sudah cukup. Kita akan berangkat dan pulang bareng," sela Reynand cepat.
"Ha?" Azalea menatap tidak percaya. Pergi dan pulang sekolah ia harus berjalan kaki sejauh ini, bisa putus kakinya.
"Itung-itung kamu olahraga, kan. Jangan malas. Cepat turun!" Reynand mengedikkan dagu, memberi isyarat agar Azalea cepat keluar dari mobilnya.
Azalea menarik napas panjang. Jika bisa, ingin sekali ia menahan napas sepanjang yang dirinya bisa.
__ADS_1
Azalea membuka pintu mobil dengan kasar, lalu keluar dengan gerakan kasar pula. Saat, tangannya hendak menutup pintu, suara panggilan Reynand terdengar. Lelaki itu mengulurkan tangan, dan nahasnya ... ia tahu betul apa maksud Reynand tersebut.
Azalea mencium punggung tangan Reynand. Ia rasakan elusan lembut di kepala setelah kepalanya menjauh. Sialnya, elusan itu seperti mengantarkan gelombang kedamaian di hatinya.
'Ayolah, Azalea! Jangan mudah baperan begini.' Azalea merutuki dirinya sendiri.
Azalea menatap pasrah mobil yang tadi ditumpanginya melaju meninggalkannya. Azalea membenahi tas di punggung, kemudian berjalan cepat menuju sekolah. Ia tidak ingin terlambat.
Azalea menunduk memegangi kedua lututnya. Keringatnya bercucuran melewati pelipis. Ia lap keringat itu dengan punggung tangan. Lelah sekali rasanya, entah kapan terakhir kali dirinya berjalan pagi. Jika tidak di jam pelajaran olahraga, Azalea malas sekali berolah raga.
Sentuhan dingin di pipi menyentak tubuhnya. Azalea mendongak dengan mata terbelalak kaget mendapati siapa yang berdiri di sampingnya. Lantas, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak puas hanya itu, ia memutar tubuh melihat sekeliling. Ada beberapa orang yang lewat, tetapi tidak memperhatikan ke arahnya.
Azalea bernapas lega, dan mengambil botol yang diberikan Reynand yang merangkap menjadi gurunya di sekolah. Siapa yang menyangka jika lelaki itu justru menjauhkan minuman dingin yang disodorkan.
"Ini dingin, enggak baik untuk kesehatan setelah lelah berolah raga." Reynand berujar santai. Ia memindahkan botol air mineral dari tangan kiri ke tangan kanannya, lalu memberikan kepada Azalea. "Minum yang ini aja," katanya pelan dengan tatapan lembut yang membuat Azalea terpesona.
Reynand emang paling bisa membuat hati yang beku menjadi mencair, perasaan yang sedang terbakar, menjadi hangat, dan membuat harapan pada hati seseorang.
Azalea menerima botol itu dengan malu-malu. "Makasih," ujarnya lirih. Kedua pipinya bersemu merah.
Saat membuka tutup botol, Azalea kesulitan. Ya, Azalea memang seperti gadis-gadis yang lain. Apabila sedang bersama pasangannya, tenaganya seolah lenyap begitu saja. Tidak bersisa. Padahal, di hari biasa saat tidak ada Reynand di sampingnya, Azalea bisa melakukan apa saja. Perkara membuka botol hanyalah perkara yang amat kecil baginya.
Reynand tersenyum tipis. Ia membukakan tutup botol itu dengan suka hati. Lantas, lelaki itu pun beranjak pergi. Tidak lupa, tangannya terulur mengelus kepala Azalea. Hanya elusan ringan, seringan kapas, tetapi efeknya sampai ke dada Azalea.
'Kepala yang dielus. Kenapa hati yang ketar-ketir.' Azalea mengeluh sendiri.
__ADS_1
Belum sempat Azalea melanjutkan langkah masuk ke kelas, saat matanya menangkap interaksi Reynand bersama guru yang lain. Lelaki itu tampak melebarkan senyumnya, bahkan selama menjadi istrinya Azalea belum pernah mendapati Reynand tersenyum selebar itu.
Tiba-tiba saja, bibir Azalea mencebik. Ia kesal sekali, seperti ada yang terbakar di dalam dadanya. Tentu saja bukan hutan yang terbakar, tetapi hatinya tengah dilanda cemburu saat melihat Ibu Winda menyelipkan rambut di daun telinga. Guru Bahasa Indonesia-nya itu terlihat malu-malu meong, seperti remaja yang terserang virus kasmaran.