
Hari itu, suasana lapangan sekolah begitu takdzim. Para siswa, guru dan karyawan sekolah mendengarkan pidato penanggung jawab sementara kursi kepala sekolah yang masih kosong. Semua mata fokus menatap lelaki yang berdiri di depan podium. Entah karena memang mendengarkan apa yang dikatakan atau hanya menatap wajah rupawan itu. Kalau Azalea, sih, hanya memandang saja. Ia mendengarkan, tetapi sangat sedikit yang masuk ke telinganya, yang lain hanya lewat saja.
Setelah sesi pidato dan pengumuman selesai, semua pun dibubarkan. Beberapa saat lagi akan masuk ke sesi pengambilan raport oleh orang tua wali siswa.
Selanjutnya, mereka antre menunggu giliran mengambil hasil ujian semester. Tibalah pada giliran Azalea. Bersyukur Jasmine datang lebih awal, saat dipanggil keduanya pun langsung masuk ke kelas.
Azalea sangat kecewa dengan hasil ujiannya di semester ini. Pasalnya, ia sudah belajar dengan giat lebih dari dari ujian di semester sebelum-sebelumnya. Namun, hasil kali ini tidak sesuai harapan. Gadis itu mendapatkan peringkat keempat.
Azalea menunduk lesu keluar dari ruang kelasnya. Dalam pikirannya sekarang ia ingin bersembunyi di kamarnya saja, tidak akan keluar ke mana pun selama liburan. Bayangan akan liburan dan jalan-jalannya pupus begitu saja bak debu yang berterbangan.
"Kita ke ruangan Reynand, yuk, Dek," ajak Jasmine antusias. Ia tidak menyadari perubahan ekspresi sang adik.
"Aku mau pulang aja, Kak. Capek banget rasanya," balas Azalea. Ia memasang senyum penuh kepalsuan agar sang kakak tidak mengetahui kesedihannya. Akan sangat memalukan jika Jasmine tahu tentang perjanjiannya dengan Reynand, sedangkan dirinya tidak berhasil mencapai itu.
"Lho, kenapa? Ini juga baru jam 10an. Nama kamu, kan, dipanggil di urutan awal tadi." Jasmine menatap heran. Bukankah dirinya yang ingin bertemu dengan Reynand? Harusnya tentu tidak ada masalah jika minta diantarkan. Ia akan menggunakan alasan jika ada yang bertanya dan sudah bisa dipastikan jika tidak akan ada yang curiga.
"Aku lagi malas aja, Kak. Lagian mau ngapain, sih, ketemu sama dia?" protes Azalea ketus. Ia akan sangat malu sekali jika bertemu dengan Reynand, dan Jasmine tahu dengan rencana mereka. Ah, sangat memalukan sekali.
"Ayolah! Ada sesuatu yang harus Kakak pastikan. Anggap aja gantian kamu tolongin Kakak, gimana?" Jasmine masih berusaha membujuk sang adik. Ia pun tersenyum lebar saat Azalea menganggukkan kepala sebagai jawaban atas ajakannya itu.
Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Jasmine bergegas menarik tangan sang adik menuju ruang kepala sekolah.
Benar dugaannya, banyak wali santri yang antre di depan ruangan kepala sekolah. Ia mengangguk berulang kali seperti memahami apa yang dilakukan para ibu-ibu muda dan tua di sana. Bahkan, ada yang terlihat masih muda.
__ADS_1
"Permisi, Ibu-ibu sekalian. Bapak kepala sekolah kita sedang sibuk sekali, tidak bisa diganggu." Suara Ibu Winda membuat mereka mengheningkan cipta. Kasak-kusuk yang sejak tadi terdengar kini menghilang dalam sekejap.
Jasmine mengajak Azalea lebih mendekat. Seketika itu juga, gerakan keduanya dihadang oleh Ibu Winda.
'Udah kayak jadi asisten saja Ibu ini,' ujar Azalea dalam hati.
"Mau ke mana, Azalea? Pak Reynand sedang sibuk, tidak mau diganggu." Ibu Winda bertanya ketus. Wajahnya tampak sekali menunjukkan ketidak sukaan terhadap Azalea.
"Kami ada janji dengan Pak Reynand, Ibu Winda. Tolong sampaikan saja kalau Yasmin Talia datang ingin menemui." Jasmine berkata dengan penuh percaya diri. Di dalam hati ia berharap bahwa adik iparnya itu mengetahui namanya secara lengkap.
"Tapi--"
"Mohon dibantu ya, Ibu." Azalea berujar sopan. Ia mengangguk hormat. Lantas, tersenyum kepada siapa saja yang tengah memperhatikan mereka.
Akan tetapi, ketika mendapati Reynand yang kemudian berjalan keluar membuat ekspresi wajah Ibu Winda berubah masam. Ia jadi penasaran siapa sebenarnya wanita yang datang bersama Azalea itu. Apa hubungan wanita itu dengan Reynand, pujaan hatinya?
Ibu Winda sengaka mengekori Reynand. Ia ingin memastikan fakta yang sebenarnya. Di luar, para wanita yang tadi berkerumun kini sudah membubarkan diri.
"Ayo masuk!"
Ibu Winda cukup terkejut dengan sikap ramah dan tidak formal yang Reynand tunjukkan untuk wanita yang bernama Jasmine itu. Matanya terus mengamati interaksi keduanya. Benar-benar mencurigakan.
Saat Jasmine dan Reynand melewatinya masuk ke ruangan, Ibu Winda tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bertanya kepada Azalea.
__ADS_1
"Azalea, siapa wanita yang datang bersama kamu itu?" tanya Ibu Winda tegas. Ekspresi wajahnya tampak kaku.
Sesaat, Azalea mencerna pertanyaan Ibu Winda itu dengan seksama. Jangan sampai dirinya salah bicara dan salah memberikan informasi.
"Kakak saya, Bu." Azalea akhirnya menjawab dengan apa adanya.
Untuk sesaat, Azalea bisa melihat Ibu Winda yang mendelik, tetapi ekspresi wanita itu cepat berubah. Ibu Winda menampilkan ekspersi datar.
"Apakah dia tidak bekerja, sampai bisa menemani kamu mengambil raport? Di mana orang tua kamu, Azalea?" tanya Ibu Winda lagi. Tampak sekali jika pertanyaannya itu menjurus pada status Jasmine.
"Oh. Kakak saya memang belum bekerja, Bu. Dia kuliah tahap akhir. Orang tua saya sedang liburan ... di rumah." Azalea menambahkan kata terakhirnya di dalam hati. Ia tidak ingin berbohong, tetapi juga tidak ingin berkata jujur. "Kalau begitu saya mau ke dalam dulu, Bu, mau nemani Kakak saya."
"Tunggu!" seru Ibu Winda cepat. Namun, setelah berpikir beberapa saat, akhirnya ia membolehkan Azalea menyusul dua orang yang ada di dalam sana.
Setelah Azalea masuk dan menutup pintu, Ibu Winda menatap diri sendiri. Ia banyak berpikir terutama membandingkan penampilan dirinya dengan penampilan wanita yang ada di dalam ruangan itu. Bisa dikatakan, dirinya memang jauh lebih dewasa. Bukan hanya soal umur, tetapi juga soal penampilan dan pekerjaan. Sudah tentu dirinya lebih unggul dari Jasmine. Namun, dalam hal kecantikan Ibu Winda merasa minder karena berada di bawah wanita itu.
Ibu Winda memijit pelipis. Ia mulai pusing karena harus mengeluarkan uang untuk perawatan lagi. Padahal, gajinya tiap bulan sudah dipotong untuk biaya ke salon hampir separoh.
"Kalau begini ceritanya, bisa-bisa aku enggak akan makan sebulan," keluhnya sambil menggeleng berulang kali. Ia menoleh pintu ruangan kepala sekolah itu, lalu melangkah meninggalkan dengan perasaan kalah.
Sementara itu, di dalam ruangan tiga orang sedang mengobrol. Oh, lebih tepatnya hanya dua orang saja, sebab Azalea hanya menyimak. Ia sendiri belum terlalu paham dengan obrolan orang dewasa itu. Yang ia tahu, sang kakak meminta Reynqnd agar mau mencarikan pekerjaan. Jadi, Jasmine sudah ingin langsung bekerja?
Azalea memikirkan diri sendiri? Setelah lulus SMA nanti jurusan apa yang ingin ia ambil? Atau, haruskah dirinya di rumah saja tanpa perlu melanjutkan kuliah?
__ADS_1
Ah, menjadi orang dewasa ternyata tidak sepenuhnya menyenangkan. Banyak hal yang tidak mengasyikkan untuk dinikmati. Azalea akan menikmati masa mudanya, setahun lagi dirinya berstatus sebagai pelajar putih abu-abu.