Jodoh Kencan Buta

Jodoh Kencan Buta
Rahasia


__ADS_3

Azalea baru saja sampai di gerbang sekolah saat ponsel di saku bajunya berdering. Ia segera mengambil benda pipih itu untuk menjawab panggilan. Melihat nomor tidak dikenal yang terpampang di layar seketika


membuat matanya menyipit, alisnya menyatu dengan kening berkerut. Ia bingung.


Azalea pikir, itu hanyalah nomor iseng yang masuk dalam panggilannya. Ia menunggu beberapa saat sampai panggilan tersebut berhenti. Namun, belum sempat gadis remaja itu menyimpan kembali ponselnya, benda itu kembali berbunyi. Pada akhirnya, Azalea pun menggeser ikon berwarna hijau.


Mulutnya sudah terbuka hendak menyapa, saat suara di seberang sana lebih dulu terdengar. Azalea menjauhkan ponsel, memastikan mengenali suara si pemanggil.


“Ini siapa ya?” tanyanya penuh tuntutan.


“Aku nunggu di seberang jalan. Cepat ke sini!” ujar lelaki itu lagi tidak berniat menjawab pertanyaan Azalea. Lantas, panggilan pun diputus tanpa menunggu balasan gadis itu.


Azalea mendengkus kesal. Ia melotot garang menatap layar ponsel yang telah menggelap. Didera rasa penasaran, Azalea melangkah cepat keluar gerbang menyeberangi jalan. Dilihatnya ada mobil hitam yang terparkir, tetapi ia tidak melihat pengemudinya, sepertinya ada di dalam mobil. Mata Azalea memicing, memastikan siapa yang pemilik mobil itu.


Saat tubuhnya berada pada jarak dekat dengan mobil, Azalea mengetuk kaca di pintu. Kaca pun terbuka, menampakkan wajah seseorang yang beberapa hari ini dekat dengannya.


“Ngapain kamu di sini?” tanya Azalea heran. Untuk beberapa saat, dirinya tetap berdiri di samping mobil.


“Cepat masuk!” Reynand memberi perintah.


“Kamu ngapain di sini?” Azalea masih berdiri. Daritadi, pertanyaan yang ia ajukan tidak juga mendapatkan jawaban.


“Cepat masuk, Azalea. Kita sudah ditunggu kakek.” Suara Reynand terdengar berat dan tertahan.


“Ha? Apa? Kita akan ketemu kakek? Sekarang?” Azalea memekik kaget. Ia tidak bisa menyembunyikan raut keterkejutannya. Ini benar-benar kabar yang mengejutkan.


“Cepat! Atau aku geret kamu masuk mobil.” Rahang Reynand mengeras, matanya pun menyorot tajam pada gadis yang cukup keras kepala itu.


“Kenapa kamu enggak bilang, sih? Ngasih kabarnya baru sekarang.” Azalea mengentakkan kakinya, kedua tangannga terkepal di sisi tubuhnya.

__ADS_1


Tidak sabar menghadapi istrinya itu, Reynand pun membuka pintu mobil dengan kasar. Ia keluar dengan tergesa, lalu menarik tangan Azalea, memutari mobil dan membuka pintu samping kemudi.


“Masuk!” katanya memberi perintah sembari mendorong bahu gadis itu agar segera masuk ke mobil. Lantas, ia menutup pintu dengan keras, membuat Azalea berjingkat kaget.


Reynand melajukan kendaraannya. Sampai beberapa menit kemudian, keadaan kabin tetap hening. Tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Tampaknya, Reynand sedang malas memulai obrolan dengan gadis yang diuduk di sampingnya. Sedangkan Azalea, masih bertahan pada posisi marah.


“Kita ke butik dulu, terus ke salon sebentar.” Reynand memberi informasi tanpa menoleh ke arah lawan bicara.


“Terserah.” Azalea melipat kedua tangan di dada. Ia benar-benar kesal pada lelaki itu.


Mobil berhenti di depan sebuah butik. Reynand turun kemudian disusul Azalea dengan wajah cemberut.


Dua jam kemudian, sepasang pengantin baru itu pun telah sampai di depan sebuah rumah megah. Kegugupan seketika mendera, sampai Azalea bisa merasakan telapak tangannya yang basah.


“Aku takut,” ungkap Azalea jujur. Ia merapatkan diri pada tubuh tagap nan tinggi yang berjalan di sampingnya, mencari kenyamanan sekaligus perlindungan yang dibutuhkannya saat ini.


Beruntung, Reynand mengerti apa yang dirasakan gadis di sebelahnya. Ia merangkul bahu Azalea, merapatkan tubuh gadis itu pada dadanya, memberikan ketenangan yang dibutuhkan.


Reynand bisa merasakan kepala Azalea yang mengangguk dalam dekapannya. Saat kepala itu mendongak, dan membalas tatapannya. Jantungnya berdebar tidak keruan. Reynand mendadak gugup. Ia berdeham, melepaskan pelukannya dan mundur selangkah demi memberi jarak pada perasaannya. Namun, walaupun begitu, ia sama sekali melepaskan tangannya yang telah berpindah menggenggam erat pergelangan tangan Azalea.


“Kita masuk sekarang,” ujar lelaki itu.


Rupanya, sang kakek telah menunggu kedatangan keduanya di ruang tamu. Lelaki tua itu langsung berdiri, berjalan mendekati mereka. Ia memeluk cucu kesayangan dan cucu menantunya satu per satu.


“Pulang sekolah tadi langsung ke sini?” tanya Pak Emery sembari berjalan menuju ruang makan. “Kita langsung makan saja.”


“Iya, Kek. Tadi pulang sekolah aku langsung jemput Azalea dan ajak ke sini.” Reynand memberikan penjelasan.


Ketiganya kini duduk di kursi meja makan. Di hadapan mereka telah tersaji berbagai macam hidangan yang siap disantap. Jujur saja, Azalea sudah sangat lapar. Akhir-akhir ini, pola makannya tidak teratur.

__ADS_1


“Makan yang banyak, Lea,” ucap Emery lembut yang dibalas dengan anggukan canggung oleh Azalea.


Azalea merasa bersyukur karena selama makan, Kakek Emery cukup ramah dan mengajaknya mengobrol ringan. Sedikit demi sedikit, kegugupan di dalam hatinya pun mulai memudar berganti dengan kenyamanan.


Usai makan, Emery mengajak sepasang suami istri itu duduk di ruang keluarga untuk membicarakan apa saja.


“Jadi gimana? Kamu kapan mulai mengajar di sekolah itu?” tanya Emery. Tatapannya beralih pada cucu lelakinya diikuti oleh tatapan tanya dari Azalea.


Reynand melirik canggung gadis yang duduk di sebelahnya. Ia belum membicarakan masalah ini dengan gadis itu.


“Tadi, aku ke sekolah, Kek. Besok sudah bisa mengajar.” Pada akhirnya, Reynand menjawab pertanyaan sang kakek.


“Baguslah kalau begitu. Kakek harap masalah yang terjadi bisa secepatnya diselesaikan sampau tuntas. Jangan sampai ada korban selanjutnya. Kakek kasih waktu tiga bulan bisa ya?” Emery berbicara serius. Tatapannya lurus menatap Reynand yang memperhatikannya dengan fokus.


Reynand berdeham pelan. Ia tahu, Azalea masih menatap lekat kepadanya. bahkan, gadis itu tidak mengalihakan pandangan barang sedetik pun.


“Aku usahakan, Kek. Kalau dalam waktu tiga bulan pelaku belum ditemukan bagaimana?” Reynand sadar betul bagaimana sikap kakeknya yang tegas. Lelaki itu tidak akan mentolerir kesalahan secuil pun, harus


diselesaikan sampai tuntas, sampai ke akar-akarnya.


“Dengan terpaksa Kakek akan menutup sekolah itu.”


Berita itu cukup mengejutkan bagi Azalea. Ia menoleh cepat dengan tatapan tak percaya. Terlebih, dirinya belum tahu masalah apa yang sedang mereka bicarakan. Reynand benar-benar tidak menganggap kehadirannya. Padahal, ia adalah siswa di sekolah tersebut.


“Tujuan Kakek menderikan sekolah itu adalah untuk membentuk karakter yang bagus. Kakek ingin generasi kita ini bisa terdidik dengan baik. Kalau dari pengajarnya saja sudah tidak benar, bagaimana para siswa akan menjadi pribadi yang berkarakter. Bisa hancur bangsa ini. Dan, kamu juga harus ingat bahwa kasus ini sudah masuk ke ranah kriminal. Pelakunya harus mendapatkan hukuman yang setimpal,” jelas Emery panjang lebar.


“Kek, sebenarnya ada kasus apa di sekolah? Azalea enggak ngerti.” Azalea tidak tahan untuk tidak bertanya.


“Ada kasus pelecehan seksual terhadap murid di sekolah, Azalea. Kamu harus hati-hati.” Emery menjelaskan dengan raut kekhawatiran. Tidak bisa dibayangkan jika Azalea yang menjadi korban.

__ADS_1


Rahasia yang baru didengarnya seperti sambaran petir yang menghantam dada Azalea. Jangan-jangan .... tidak-tidak, itu tidak mungkin. Ia mulai menghubungkan antara ketidakhadiran Mona dengan kasus ini.


__ADS_2