Jodoh Kencan Buta

Jodoh Kencan Buta
Hubungan Ini


__ADS_3

Sepulang dari rumah Emery, keduanya berpisah di kamar masing-masing. Azalea masih merasa kesal karena Reynand tidak juga mau menjelaskan masalah yang terjadi di sekolah.


"Aku juga butuh tahu tentang masalah itu, Reynand." Azalea bersikeras meminta penjelasan. Sepanjang perjalanan tadi diisi dengan berdebatan, dan berujung saling diam.


"Yang penting, kamu harus hati-hati, jaga diri, dan jangan terperdaya oleh bujuk rayu lelaki." Reynand tetap pada pendiriannya. Ia tidak berniat untuk menjelaskan duduk persoalan yang terjadi di sekolah kepada istri kecilnya itu, setidaknya untuk saat ini.


Suara ketukan di pintu kamar membuat Azalea semakin kesal. Belum selesai ia melepas pakaian, lelaki beda kamar itu sudah mengganggu.


"Azalea, buka sebentar pintunya. Ada yang mau aku katakan sama kamu." Reynand berbicara dari luar.


Azalea cukup bersyukur karena lelaki itu tidak langsung membuka pintu tanpa permisi, walaupun status mereka adalah suami istri. Bisa saja, kan, lelaki itu langsung membuka pintu, toh, kamar ini juga milik dia.


Azalea berjalan mendekati pintu dengan resleting gaunnya yang sudah terbuka. Ia mendekatkan wajah ke pintu kamar, seolah tubuh keduanya saling berhadapan tanpa ada penghalang.


"Mau ngomong apa? Langsung ngomong aja, Reynand," ujarnya kemudian.


"Buka dulu pintunya!" Suara Reynand agak meninggi, dan Azalea menyadari hal itu.


"Aku lagi ganti baju. Kamu gangguin aja. Kalau enggak mau langsung ngomong, kita bicara nanti saja setelah aku mandi." Azalea mengucapkan keputusannya.


"Oke."


Jawaban singkat yang diberikan Reynand membuat dahi Azalea berkerut bingung. "Oke apa?" tanyanya.


"Oke aku ngomong sekarang." Reynand cukup tahu jika Azalea sudah masuk kamar mandi, pasti akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk keluar.


"Ya cepet ngomong, dong. Aku udah kegerahan ini." Azalea melayangkan kepalan tinjunya di udara dengan perasaan geram.


"Besok, kita berangkat sendiri-sendiri aja. Dan, anggap aja kita belum pernah saling kenal. Aku enggak mau jadi bahan gosip--"


"Heh, bukannya aku yang seharusnya ngomong gitu sama kamu?" Azalea membuka pintu kamarnya. Ia ingin bertatapan langsung dengan lawan bicaranya yang menurutnya sangat menyebalkan dan semena-mena itu.

__ADS_1


Gerakan tangan Azalea yang begitu cepat saat membuka pintu, membuat gaun yang memang sudah tidak terkancing secara sempurna itu melorot, sampai menampakkan bagian bahunya.


Sementara itu, Reynand yang menyaksikan pemandangan di hadapannya secara spontan menelan ludah. Di dalam hati, ia merutuki diri atas kecerobohan gadis kecil itu.


"Pokoknya gitu ya ...." Reynand maju mendekati Azalea dan membenahi gaun gadis itu.


Reynand menatap lekat gadis di hadapannya. Ia sadar betul dengan kecantikan yang dimiliki gadis itu. "Ingat, kamu harus hati-hati sama makhluk bernama laki-laki. Jangan mudah dibujuk rayu," katanya lembut.


"Termasuk kamu, dong!" sahut Azalea. Jantungnya berdentam tidak karuan. Ia merutuki diri atas kecerobohan yang dilakukannya itu.


Reynand menyunggingkan senyum miring, lantas berbalik. Sebelum melanjutkan langkah, Ia menoleh ... menatap Azalea lewat bahunya. "Kamu lupa, kalau aku ini suami kamu?"


Setelah mengucapkan itu, Reynand melangkah lebar menuju kamarnya, meninggalkan Azalea yang menatapnya dengan tatapan melongo.


Sesampainya di kamar, Reynand tertawa terbahak. Ekspresi Azalea sangat menghiburnya. Ia merasa gemas, dan mulai ragu dengan pertahanan dirinya untuk tidak menyentuh gadis kecilnya itu.


"Oh, sial." Reynand berjalan cepat menuju ke kamar mandi. Ia Lebih baik segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Pagi ini, Azalea cukup beruntung karena bisa bangun lebih awal. Artinya, ia bisa mandi dengan lebih bebas dan leluasa, tidak seperti pagi kemarin.


Azalea bersenandung lirih sembari mengeringkan rambutnya. Ia duduk di depan meja rias, masih mengenakan handuk saja. Suara ketukan di pintu kamar terdengar bersamaan dengan tangannya yang meletakkan pengering rambut ke dalam laci. Ia yakin, si pengganggu paginya itu adalah Reynand. Memangnya siapa lagi? Hanya ada mereka berdua di apartemen ini.


"Ya?!" Azalea berseru tanpa berniat membukakan pintu. Cukup semalam saja ia dipermalukan lelaki itu, untuk selanjutnya tidak akan pernah lagi.


"Kamu sudah bangun?" Suara Reynand yang berat pun terdengar.


"Hm," gumam Azalea kemudian bergegas berganti pakaian.


"Aku sudah menyiapkan sarapan di atas meja. Makanlah! Kemarin kamu tidak sarapan, kan?"


"Itu tahu." Azalea mencibir. Ia menyisir rambut, dan memutuskan untuk mengurai rambut hitamnya itu. "Cantik," katanya pada diri sendiri sebelum keluar dari kamar.

__ADS_1


Saat membuka pintu kamar, Azalea cukup kaget karena tidak mendapati Reynand di sana. Ia pikir lelaki itu masih berdiri di depan kamarnya. Rupanya, Reynand sudah menenteng tas hendak berangkat.


"Kamu sarapan, lalu berangkat sekolah. Aku sudah siapkan mobil dan sopirnya di bawah." Setelah mengucapkan penjelasan itu, Reynand pun pergi tanpa berpamitan.


Azalea menghela napas panjang. Ia pun segera melangkah ke meja makan, menarik kursi dan menyantap hidangan yang telah dibuat oleh Reynand.


"Masakannya cukup enak. Ternyata ... dia pandai memasak." Azalea tersenyum di sela kunyahannya.


Azalea makan dengan cepat, lalu bergegas keluar dari apartemen. Ia harus segera berangkat, tidak ingin terlambat seperti kemarin. Benar saja, sopir telah menunggu di lobi.


Di dalam perjalanan, pikirannya akan ketidakhadiran Mona kembali mengusik. Azalea mencoba menghubungi sahabatnya itu, tetapi tidak juga mendapatkan jawaban. Ia menaik turunkan layar, membaca percakapan mereka selama ini. Tidak ada yang aneh, Mona tidak pernah menunjukkan gelagat yang mencurigakan. Semua tampak normal dan baik-baik saja. Sampai pada pesan yang ia kirimkan, belum ada satu pun yang dibaca gadis itu. Di dalam hati, Azalea terus berdoa semoga Mona baik-baik saja.


Sesampainya di sekolah, Azalea berjalan cepat. Entah mengapa dadanya begitu berdebar. Jantungnya benar-benar tidak bisa diajak berkompromi. Ia khawatir jika harus bertemu dengan Reynand, rasanya sangat aneh dan membingungkan seperti status hubungan mereka sekarang. Walaupun, Reynand telah menegaskan jika mereka pacaran, tetapi tetap saja rasanya aneh. Menikah, tetapi pacaran.


"Hai, Lea!"


Sapaan itu membuat Azalea menoleh seketika. Ia mendapati Reno yang berjalan cepat ke arahnya. Lelaki itu tersenyum lebar.


"Hai juga, Reno!" Azalea membalas sapaan itu. Ia juga melambaikan tangan dengan senyum lebar. Tanpa bisa dicegah, perasaannya berbunga. Ia senang bisa disapa dan berdekatan dengan Reno, murid terkeren di sekolah.


Sekarang, keduanya berjalan bersisian. "Kok sendirian?"


Azalea tahu betul dengan basa-basi itu. "Iya, nih, Mona enggak tahu ke mana. Kemarin enggak masuk, hari ini enggak tahu." Ia mengedikkan bahu. Suaranya terdengar sendu.


"Semoga Mona baik-baik aja." Reno menepuk bahu Azalea, mencoba menenangkan gadis itu.


"Amiin. Thanks, No." Azalea menoleh. Senyumnya yang manis tidak bisa menutupi kesedihannya.


"Mau ditemeni ke rumahnya?" tanya Reno memberikan penawaran.


"Beneran?" Azalea membalas dengan antusias yang langsung dibalas pula dengan anggukan oleh Reno. Namun, saat tatapannya tanpa sengaja beralih dan mendapati Reynand berdiri tidak jauh dari mereka, seketika itu juga membuat ekspresi Azalea berubah tegang.

__ADS_1


Di tempatnya berdiri, Reynand menatap kedua siswa itu dengan tatapan tajam. Ia tidak menyadari jika guru di sampingnya telah memanggilnya berulang kali.


__ADS_2