
Sunyi dan senyap. Begitulah yang dirasakan Azalea saat ini. Jujur saja, rasa takut tiba-tiba menyerang jiwanya. Dalam suasana hening itu, Azalea bisa mendengar dengan jelas suara degup jantung Reynand. Apakah lelaki itu sedang gugup?
Azalea seketika kendongak. Matanya perlahan mengerjap terbuka. Di bawah sinar rembulan yang mengintip malu-malu di balik awan. Dalam gelap malam yang bertabur bintang, tatap keduanya bertemu. Saling mengunci, saling mengisi dengan degup jantung yang tak beraturan, juga dengan perut yang terasa melilit.
Saat tatap keduanya mulai tak berjarak. Saat tangan keduanya saling bergerak. Tiba-tiba saja nyanyian selamat ulang tahun membuat hening menjadi riuh. Bersamaan dengan itu, listri yang padam kembali menyala.
Azalea menoleh kaget. Ia langsung memundurkan langkah menatap keluarganya dengan pekikan yang tidak bisa ditahan. Azalea tidak menyangka jika semua orang ingat akan tanggal lahirnya, sedangkan dirinya saja lupa akan hari lahirnya itu. Ini benar-benar kejutan yang tidak terbayangkan sebelumnya.
"Mama! Papa!"
Lantas, Azalea menoleh pada Reynand yang menatapnya dengan senyum terkembang. Setelahnya, ia mendekati sang kakak yang membawa kue dengan lilin yang menyala.
"Makasih, Ma ... Pa ... Kak Jasmine." Azalea memeluk keluarganya satu per satu. Kemudian mereka pun menuju taman belakang yang menjadi tempat pesta berlangsung. Di sana para asisten rumah tangga telah menyiapkan acara.
"Selamat ulang tahun, Non Azalea!" seru para asisten secara bersamaan.
"Terima kasih!" Azalea membalas dengan riang gembira.
Selanjutnya, acara potong kue. Jasmine telah meletakkan kue di atas meja. Kedua orang tua mereka duduk di kursi yang telah disediakan. Sementara Azalea, Reynand dan Jasmin serta Brian tetap berdiri.
Azalea menerima pisau dan segera melakukan potongan pertama. Ia bingung harus memberikan kepada siapa. Pasalnya, kue pertama harusnya diberikan kepada seseorang yang paling berarti. Ia ingin memberikan kepada Reynand, tetapi perasaan malu terlalu mendominasi.
"Berikan kuenya kepada suami kamu, Azalea," kata Jasmine memberi tahu.
Azalea menoleh kepada Reynand yang kini juga tengah menatapnya. Ia mengerjap pelan, lalu mengulurkan potongan pertama itu kepada Reynand dengan perasaan ragu. Jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang. Perasaannya itu tidak bisa diajak berkompromi. Ia terlalu gugup sekarang. Tangan Azalea gemetar, dan hampir saja kue di tangannya terjatuh sebelum sampai di mulut Reynand kalau saja lelaki itu tidak menggenggam pergelangan tangannya.
Genggaman lembut yang diberikan Reynand membuat degup jantung Azalea semakin menggila.
"Terima kasih," kata Reynand dengan suara lembut hampir seperti bisikan yang tertiup angin malam.
Azalea hendak menurunkan tangannya ketika Reynand menahannya. Ia berdiri kaku kala lelaki itu memeluk tubuhnya.
"Selamat ulang tahun," bisik Reynand depat di telingan Azalea. Kemudian ia mengurai pelukan dan mendaratkan kecupan lembut nan lama di kening sang istri.
__ADS_1
"Cie!" Seruan Kak Jasmine membuat Azalea semakin salah tingkah.
"Udah ayo makan!" ajak Brian sambil merangkul bahu Jasmine, mengajak wanita itu menyiapkan piring.
Reynand tersenyum. Tangannya terulur mengelus kepala Azalea. Bukannya langsung beranjak dari sana dan ikut menyiapkan makan, lelaki itu justru mencium kening sang istri. Detik itu juga, Azalea pun mencubit lengan sang suami, membuat lelaki itu meringis kesakitan.
"Si putri malu." Reynand berbisik, tetapi masih terdengar jelas di telinga Azalea.
***
Reynand membopong tubuh sang istri yang tertidur. Usai pesta di rumah mertuanya tadi, ia memutuskan untuk pulang. Lelaki itu sudah menyiapkan acara sendiri di apartemen. Namun, melihat bagaimana wajah Azalea yang tidur pulas, tidak tega rasanya membangunkan gadis itu.
Reynand membaringkan Azalea di atas ranjang. Kemudian, menarik selimut sampai menutupi dada gadis itu. Wajah Azalea tampak kelelahan. Tentu saja, sedari pagi mereka belum istirahat. Walaupun Azalea sempat tidur di kantornya tadi.
Setelahnya, Reynand keluar dari kamar Azalea. Ia masuk ke kamarnya kemudian menuju kamar mandi. Reynand mengguyur badannya dengan air hangat, lalu usai berganti pakaian ia kembali ke kamar sang istri.
Reynand meletakkan hadiah yang telah ia siapkan ke atas nakas, duduk di pinggir ranjang dan mengelus kepala Azalea. Gadis itu masih pulas. Namun, saat Reynand beranjak dari sana, mata Azalea mengerjap terbuka.
"Reynand," lirih Azalea memanggil. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan menyadari jika sedang berada di kamarnya. "Kamu gendong aku sampai ke kamar? Maaf ...."
"Enggak masalah. Kamu ringan, kok, mungkin karena makannya kurang banyak." Reynand senang menggoda Azalea. Ia senang melihat semburat merah di pipi gadis itu.
"Aku kurus banget ya?" tanya Azalea polos kemudian memperhatikan dirinya sendiri.
Reynand terkekeh pelan. Tangannya terulur mencubit hidung Azalea dengan gemas. "Selamat ulang tahun," katanya kemudian dengan raut serius.
"Kan udah bilang tadi waktu di rumah Mama." Azalea berkata dengan raut serius pula.
"Ini beda," balas Reynand kemudian mengambil hadiah yang telah dipersiapkannya. Lantas, ia pun mengulurkan hadiah itu kepada Azalea.
"Ini apa?" Azalea menunduk, lalu mendongak dengan ekspresi penasaran.
"Buka aja." Reynand mengedikkan dagu.
__ADS_1
Azalea menurut. Perlahan, jemarinya membuka simpul pita di kotak hadiah itu. Entah bagaimana ia menggambarkan perasaannya sekarang. Rasanya ... hadiah yang diberikan oleh Reynand adalah puncak hadiah yang ia idamkan.
Saat membuka hadiah yang diberikan keluarganya tadi, Azalea sangat berharap akan mendapatkan hadiah dari Reynand juga. Rupanya, harapannya itu harus pupus karena tidak ada kado dari lelaki itu di antara tumpukan yang lain. Siapa yang menyangka jika Reynand punya rencana sendiri untuk memberikan kejutan kepadanya. Jantungnya kini berdebar tidak menentu, rasanya perutnya kini mulas. Oh, jangan sampai moment spesial ini harus terganggu.
Mata Azalea membola saat melihat isi kotak itu. Sebuah jam tangan yang ia inginkan.
"Wow! Dari mana kamu tahu kalau aku ingin jam ini?" tanya Azalea tidak percaya. Tangannya sampai gemetar saat mengambil jam itu dari dalam kotak.
Reynand tersenyum. Ia berinisiatif memakaikan hadiah pemberiannya secara langsung. Maka, ia mengambil jam itu dari tangan Azalea kemudian memakaikan di tangan kiri gadis itu.
"Kamu suka?" tanya Reynand dengan tatapan lekat.
"Sangat. Dari mana kamu tahu?" tuntut Azalea.
"Rahasia." Reynand menjawab sambil menjawil hidung Azalea. "Masih ada hadiah lain untuk kamu," katanya sembari melirik isi di dalam kotak.
Benar saja. Azalea mengambil hadiah yang lain dengan antusias. Ia membaca lembaran kertas di dalamnya dengan pandangan tidak percaya.
"Kita ke sana saat liburan--"
"Tapi, aku enggak dapat tiga besar. Aku malu mendapatkan hadiah itu. Aku enggak pantas." Azalea berbicara sambil menunduk dalam.
Reynand menatap Azalea dengan perasaan sedih. Ia tahu betul bagaimana gadis itu telah berusaha semaksimal mungkin.
"Belajar adalah tanggung jawab kami sebagai seorang pelajar. Kamu telah berusaha. Dan, ini bukan hadiah juara, tapi hadiah ulang tahun." Reynand mengangkat dagu Azalea dengan jari telunjuknya. "Kamu mau terima hadiah dari aku, kan?" tanyanya dengan suara bisikan.
"Makasih," jawab Azalea dengan anggukan lemah. Air matanya menitik. Ia sangat terharu dengan perlakuan Reynand.
"Apa kamu mau hadiah yang lain?"
"Apa boleh?" Azalea bertanya balik dengan penuh harap.
"Tentu." Reynand menjawab mantap dengan anggukan yakin.
__ADS_1
"Aku ingin menjenguk Mona. Aku ingin tahu keadaannya. Apa boleh?"
"Aku akan menemanimu." Reynand menarik Azalea ke dalam pelukan. Ia juga mengelus kepala gadis itu dengan perasaan sayang membuncah di dalam dada.