
Azalea menggeliat pelan. Matanya mengerjap pelan dan seketika menutupi mata dengan tangan karena silau. Sinar matahari menerpa wajahnya dengan bebas. Itu tandanya hari yang sudah semakin siang.
Saat tersadar, Azalea pun segera beranjak duduk. Kepalanya sedikit terasa pusing karena gerakannya yang begitu cepat. Ia meminit pangkal hidungnya guna meredakan sakit. Tanpa disadari, selimut yang tadi menutupi tubuh sampai ke dadanya pun merosot.
Azalea mendelik kaget. Ia menoleh cepat, memeriksa sekeliling kalau saja ada orang lain selain dirinya yang ada di kamar itu. Gadis itu cukup bersyukur karena hanya ada dirinya seorang saja. Ia pun dengan cepat membenahi selimutnya, menarik sampai menutupi dadanya.
Lagi, mata Azalea mendelik. Kali ini disertai pekikan tertahan kala melihat banyaknya warna merah di dadanya. Ia pun segera membelitkan selimut untuk menutupi tubuh, lalu berjalan menuju cermin.
Azalea memperhatikan dengan seksama. Detik itu juga ingatannya beralih pada kejadian beberapa hari lalu ketika dirinya merasa digigit nyamuk. Warna dan bekasnya sama, hanya rasanya saja yang berbeda.
Jika hari itu Azalea tidak merasakan apa pun, kali ini ada bayangan seseorang yang berada di atas tubuhnya, menindih dan mengungkung dengan posesive. Azalea sampai merinding mengingat kejadian semalam bersama lelaki itu.
"Ya ampun!" pekik Azalea. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sedangkan selimut yang membelit di tubuh ia apit di kedua ketiaknya. Sudah dipastikan jika pelaku yang sebenarnya adalah Reynand Adanu Emery.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Reynand khawatir. Pasalnya, saat dirinya kembali ke kamar, hal pertama yang didengar adalah suara Azalea yang memekik.
Azalea seketika pun menoleh. Matanya mendelik garang, dan yang dilakukannya itu justru semakin membuat Reynand dilanda kebingungan.
Reynand mendekat, memegang kedua tangan Azalea kemudian menelisik ke seluruh tubuh gadis itu.
"Apa terjadi sesuatu? Ada yang mencelakaimu? Atau, kamu mimpi buruk? Maaf karena aku telah meninggalkan kamu sendirian di kamar tadi, aku jogging sebentar," kata Reynand bertubi-tubu.
"Jadi kamu ya biang keroknya, ha?" Azalea bertanya ketus kemudian melancarkan cubitan di dada Reynand. Ia gemas sekali dengan lelaki itu.
"Apa maksud kamu? Aku enggak ngerti," ujar Reynand polos. Ia menggeliat, menghindar dari cubitan Azalea yang terasa seperti gigitan semut api.
"Kamu sengaja ngerjain aku di depan kakek, kan?" Kali ini, kedua tangan Azalea berhasil ditahan oleh Reynand.
__ADS_1
"Tunggu ... tunggu. Aku masih belum paham dengan maksud kamu." Reynand mencengkeram pergelangan tangan Azalea dengan cengkeraman kuat, tetapi tidak menyakitkan.
"Soal gigitan nyamuk." Azalea cemberut. Ia mengentakkan kaki ke lantai, kesal sekali rasanya.
"Oh ... itu. Jawaban kamu sangat polos--"
"Bisa-bisanya kamu mengerjain aku. Pantesan waktu itu kakek tertawa terbahak terbahak, ternyata kamu yang jadi nyamuknya." Azalea memalingkan wajahnya yang kini merah padam. Mengingat kejadian itu membuatnya mati kutu.
"Ya, kan, itu tandanya kamu masih polos, Azalea. Enggak ada yang salah dengan itu." Reynand terkekeh pelan. Kali ini, ia melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Azalea, menarik gadis itu membuat tubuh mereka semakin merapat.
Azalea berdiri kaku. Ia tidak mampu berkutik. Otaknya kosong. Ia tidak bisa memikirkan apa pun saat ini. Lantas, sekelebat bayangan tentang apa yang mereka lakukan semalam terbayang di pelupuk mata, dan itu membuatnya bergidik ngeri.
"Aku mau mandi," kata Azalea sambil menarik diri dengan kasar.
__ADS_1
Mau tidak mau, Reynand pun melepaskan pelukannya di tubuh Azalea. Walaupun terbesit rasa kecewa, tetapi ia harus bisa memahami apa yang diinginkan gadis kecilnya itu.