Jodoh Kencan Buta

Jodoh Kencan Buta
Berkunjung


__ADS_3

Seperti janjinya semalam, pagi-pagi sekali Reynand menganak Azalea berkunjung ke rumah orang tua istri kecilnya itu. Ia tersenyum lebar kala melihat Azalea yang antusias. Sepasang suami istri itu membeli banyak makanan untuk dibawa sebagai oleh-oleh.


Ini kali pertama keduanya berkunjung sejak tiga bulan menikah. Rasanya, rindu di dalam dada Azalea sudah menggunung dan siap ditumpahkan. Sebab banyaknya kesibukan dan persiapan menghadapi ujian semester kenaikan kelas pula, ia seakan tidak ada waktu untuk bertemu dengan keluarganya. Beruntung sekali, suaminya itu berinisiatif mengajaknya berkunjung di saat hari libur seperti ini.


Azalea berencana untuk menginap, tetapi ia belum mengatakan secara langsung kepada Reynand. Lagi pula, ujian semester akhirnya udah selesai. Mungkin, gadis itu bisa melepaskan statuanya sebagao istri seorang Reynand barang sejenak. Oh, apakah status sebagai istri bisa dilepaskan? Azalea menggeleng berulang kali. Tanpa sadar, Reynand memperhatikan tingkah konyolnya itu.


"Kamu kenapa? Apa ada yang dipikirkan?" tanya Reynand. Ia melirik Azalea sebentar, lalu kembali fokus kepada kemudi. Lampu merah telah berubah hijau, kendaraan kembali melaju.


"Enggak ada." Azalea menatap jalanan yang sudah dihafalnya di luar kepala. Betapa ia sangat merindui jalanan ini yang selama enam belas tahun dilewatinya. "Aku mau nginap ya," katanya yang membuat Reynand serta merta menginjak rem secara mendadak. Beruntung tidak ada korban jiwa akibat rasa kagetnya itu.


"Kenapa mendadak?" tanya Reynand dengan mata memicing. Mobil kembali melaju, hanya bersisa beberapa meter saja sampai mobil sampai di depan gerbang rumah Azalea.


"Ya, kamu ngajaknya ke sini juga mendadak. Gimana aku bisa ngerencanain kapan mau nginapnya." Azalea justru menyalahkan lelaki di sampingnya itu.


Reynand mengembuskan napas dengan kasar. Ya, menjalin hubungan dengan gadis di bawah umur memang cukup menguras emosinya. Ia juga harus bisa mengendalikan situasi setiap waktu. Namun, jika begini terus bukankah dirinya yang akan semakin menua lebih dulu? Oh, tidak!


"Ya udah, nginep aja," kata Reynand pada akhirnya. Dan, tentu saja respons yang diberikannya itu menciptakan senyum lebar di wajah Azalea. Gadis itu bahkan mencium pipinya dengan antusias.


"Makasih. Kamu memang baik sekali," ujar Azalea dengan binar yang tidak dapat dilukiskan.


Entah ke mana perginya sikap malu-malu yang biasa Azalea tunjukkan?


Reynand berdeham pelan, mengusir kecanggungan yang tiba-tiba membuat dirinya salah tingkah. Di dalam hati ia mengumpati kebodohannya yang mudah terperdaya oleh gadis kecil itu.


Mobil berhenti di pelataran rumah. Azalea membuka sabuk pengaman, lalu membuka pintu mobil dan segera melompat turun dari sana. Sikapnya itu sedikit membuat Reynand khawatir. Tanpa sadar, lelaki itu menjerit memberi peringatan kepada Azalea agar hati-hati. Tentu saja tidak ditanggapi oleh gadis itu.

__ADS_1


Azalea langsung berlari masuk ke rumah, meninggalkan Reynand yang mematikan mesin kendaraan dan bawaan mereka di mobil.


"Kamu di sini?" tanya Maryam. Ia menyambut sang putri dengan pelukan erat dan senyum lebar.


Selanjutnya, Maryam mengurai pelukan. Ia memperhatikan tubuh sang putri dari ujung rambut sampai ke kaki. "Kamu gemukan? Reynand mengurusmu dengan baik. Di mana suami kamu itu?" katanya kemudian.


"Dia masih di ...." Azalea menoleh ke arah pintu, "itu dia." Lantas menunjuk sosok yang dicari oleh sang mama.


"Halo, Ma!" sapa Reynand ramah. Barang bawaannya telah berpindah ke tangan asisten rumah tangga. Ia pun mendekat, menyalami mama mertuanya dengan takzim.


"Mama senang kalian berkunjung ke sini," ujar Maryam kemudian. Azalea mendekap satu lengannya. Ia juga rindu dengan sikap manja puteri bungsunya itu. "Gimana Azalea? Dia tidak membuat kamu susah bukan?" Pertanyaannya itu mendapatkan respons merajuk dari sang putri.


Reynand terkekeh pelan, kepalanya menggeleng kemudian berkata, "Tidak. Dia istri yang baik." Satu kedipan mata ia berikan kepada Azalea yang menatapnya serius. Detik itu juga istri kecilnya itu mencebikkan bibir.


"Ya. Azalea memang putri yang sangat baik. Kamu tidak akan menyesal telah memilikinya." Maryam mengelus kepala sang puteri dengan perasaan sayang yang meluap. "Ayo kita duduk di ruang keluarga! Atau kalian mau langsung ke kamarnya Azalea?" tanyanya kemudian memberikan penawaran.


Serta merta, tawa Maryam pun pecah. "Kalian kompak sekali," katanya berkomentar.


"Papa dan Kak Yasmin di mana, Ma?" tanya Azalea saat tidak mendapati papa dan kakak sulungnya. Ia mengedarkan pandangan, mencari keberadaan keduanya.


"Papa ada. Tadi lagi mandi. Kak Yasmin lagi pergi liburan." Maryam menjawab dengan senyum.


"Dih, liburan kok enggak ngajakin aku, sih? Aku, kan juga mau liburan." Azalea mengentakkan kaki. Ia kesal karena ditinggal oleh sang kakak.


"Kamu, kan, bisa liburan sendiri sama suami kamu, Lea." Itu suara Samuel yang tengah berjalan menghampiri ruang keluarga. Lantas, ia duduk di hadapan sang puteri. Namun, sebelum itu Samuel mengelus kepala Azalea.

__ADS_1


Reynand berdiri, menyalami papa mertuanya dengan penuh ketakziman. Sedangkan Samuel, membalas dengan pelukan hangat.


"Azalea tidak membuat kamu susah, kan, Nak Reynand?" Itu adalah pertanyaan yang sama seperti yang diajukan Maryam kepada puteri mereka.


"Tentu tidak, Pa. Azalea adalah istri yang baik dan penurut." Reynand menjawab sopan.


"Mama sama Papa kayak janjian gitu, deh. Kalau aku datang Mama dan Papa akan menanyakan pertanyaan yang sama. " Azalea melepeskan tangannya dari lengan sang mama, lalu beranjak mendekati Samuel. Ia memeluk sang papa dengan pelukan erat. "Kangen banget sama Papa."


"Papa juga kangen banget sama kamu, Sayang." Samuel membalas kemudian mencium kepala sang puteri.


"Kalian akan menginap, kan?" Pertanyaan Maryam membuat ketiga orang itu menoleh secara bersamaan.


Azalea duduk di samping sang papa, matanya kemudian menatap sang suami.


"Iya, Ma. Kami akan menginap. Ujian Azalea juga sudah selesai. Besok aku bisa kerja dari sini aja--"


"Tapi kamu enggak bawa baju ganti, lho. Apa enggak enak kalau berangkat dari apartemen aja?" sela Azalea cepat. Tampak sekali jika ia keberatan menginap bersama dengan lelaki itu.


"Tidak masalah. Aku bisa menyuruh orang untuk mengambilnya. Lagipula besok tidak ada pekerjaan yang mendesak." Reynand membalas dengan tenang.


"Akan lebih baik kalau kalian menginap bersama. Apa kamu tega kalau suami kamu tidur sendirian di rumah, Azalea?"


Pertanyaan Maryam ingin dibalas dengan kata, 'Iya.' Namun, Azalea cukup sadar jika jawabannya itu pasti akan memantik rasa curiga kedua orang tuanya. Pada akhirnya, ia pun menggeleng kepala.


"Kalau gitu, aku mau ke kamar dulu ya, Ma ... Pa. Aku kangen dengan kamar aku." Azalea pun berpamitan yang langsung disetujui oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Iya. Nanti Reynand akan menyusul," sahut Samuel.


Azalea pun beranjak melangkah menuju kamarnya. Belum sempat ia menaiki tangga saat telinganya mendengar pertanyaan sang mama, "Kamu belum berniat menghamili Azalea, kan, Nak Reynand? Azalea masih terlalu kecil untuk memiliki anak."


__ADS_2