
Suara alarm di atas nakas berhasil mengusik tidir lelapnya. Ia menyingkap selimut, menggeser posisi, dan tangannya bergerak meraba-raba mencari keberadaan benda yang mengganggu mimpinya. Setelah menekan tombol dengan kasar, Azalea pun kembali bergelum di dalam selimut. Gadis itu melanjutkan tidur.
Beberapa menit kemudian, ia terlonjak kaget. Kesadarannya kembali. Azalea ingat jika hari ini adalah hari Senin, itu tandanya akan ada upacara wajib di sekolah.
Azalea berdecak kesal. Ia melompat dari atas ranjang ke lantai yang dingin. Lantas, dengan langkah seribu ia pun masuk ke kamar mandi.
Azalea buang air kecil, berlanjut menggosok gigi, lalu mencuci wajah dengan facial wash. Kemarin, ia sudah membawa semua peralatan pribadinya ke tempat baru agar tidak kesusahan jika dibutuhkan seperti sekarang. Dengan gerakan cepat, Azalea membuka pakaiannya, mengelap dengan air dengan cepat pula.
Azalea mengendus tubuhnya sendiri. Setelah dirasa wangi, ia segera mengenakan handuk yang telah tersedia. Azalea keluar dari kamar mandi dengan tergesa.
Matanya melotot saat melihat jarum jam menunjuk di angka tujuh.
"Gila! Kesiangan banget." Azalea mengumpat kesal. Melangkah cepat menuju lemari pakaian, ia mengambil seragam putih abu secara asal.
Azalea mengenakan seragam secara asal, menyemprotkan minyak wangi sebanyak mungkin ke bajunya, lalu mengambil tas yang entah berisi buku mata pelajaran apa. Ia tidak memiliki waktu untuk menyusun jadwal hari ini. Bahkan, gadis itu pun keluar dari kamar tanpa bersisir, rambutnya digelung secara asal, dan ditutup dengan topi.
Azalea menuju dapur. Ia mendesah kecewa saat tidak menemukan makanan apa pun di atas meja. Dengan langkah gontai, ia menuju ke kamar pemilik tempat tinggalnya. Sayang, setelah memanggil beberapa kali, tidak juga mendapatkan sahutan dari dalam. Azalea memberanikan diri membuka pintu di hadapannya. Kosong. Penghuninya entah ke mana.
"Double sial." Lagi, Azalea mengumpat sambil mengacak rambutnya yang tertutup topi.
Tidak ingin semakin kesal, Azalea pun keluar dari apartemen. Ia mengutak-atik ponselnya, memesan ojek online sebagai satu-satunya jalan pergi ke sekolah.
Sudah diduga, Azalea sangat terlambat. Gerbang sekolah sudah ditutup. Beruntung penjaga masih mengizinkannya masuk.
"Langsung menghadap guru piket, ya!" ujar lelaki berseragan keamanan itu yang langsung dibalas dengan anggukan lemah oleh Azalea.
__ADS_1
Upacara telah selesai. Lapangan sudah mulai kosong. Hanya ada beberapa siswa saja yang masih berjalan santai keluar dari area lapangan. Beberapa murid yang lain bahkan sudah mengganti seragam mengganti seragam putih abu mereka dengan pakaian olahraga. Hari ini, jam pertama Azalea adalah pelajaran olahraga.
Azalea celingukan mencari keberadaan Mona, tetapi nihil. Panggilan dari belakangnya membuat kepalanya menoleh. Sesaat ia terkejut, tetapi cepat-cepat menguasai diri. Azalea sadar jika hari ini harus menemui sang guru karena keterlambatannya.
"Iya, Bu." Azalea mengangguk sopan. Di depannya Ibu Winda tengah berkacak pinggang. Wanita itu memang membenci orang yang tidak disiplin.
"Kamu hormat di tiang bendera sampai jam pertama selesai," kata Ibu Winda tegas. Wanita dua puluh lima tahun itu pun menunjuk tiang bendera dan melotot garang. "Cepat!"
"Ada hukuman lain enggak, Bu?" Azalea masih bergeming. Tidak ada gurat penyesalan di raut wajahnya.
"Jalan dengan lutut mengelilingi lapangan sepuluh kali." Wajah Ibu Winda sekalipun tidak berubah dari ekspresi tegasnya.
"Itu, sih, bukan hukuman, Bu. Tapi penyiksaan," gumam gadis berkulit putih itu. Wajahnya telah memerah karena tersengat sinar matahari.
Azalea hendak bergeser, mengubah posisi berdirinya untuk pindah ke bawah pohon. Namun, delikan mata guru Bahasa Indonesia-nya itu cukup menyeramkan untuk dilawan.
Azalea mengatupkan kedua bibirnya. Kedua hukuman itu tidak ada yang ringan. Ia pun menyalahkan Reynand karena membiarkannya bangun kesiangan. Ia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Dalam hati bertekad untuk memberi pelajaran untuk Reynand.
Di tengah ketegangan itu, Azalea cukup bersyukur karena kedatangan guru olehraganya.
"Ada apa ini, Bu?" Lelaki bertubuh atletis itu bertanya. "Kenapa kamu belum mengganti pakaian kamu, Azalea?" Kali ini, tatapan lelaki itu berpusat pada sang murid.
"Dia datang terlambat, Pak. Tidak mengikuti upacara bendera juga." Ibu Winda menjelaskan dengan berapi-api.
"Biarkan saya yang menghukumnya, Bu. Hari ini kami akan mengambil nilai." Lelaki itu menjelaskan. Tatapannya masih berpusat pada Azalea yang memperhatikan percakapan mereka.
__ADS_1
"Baiklah. Saya juga ada ulangan hari ini. Tapi, beri dia hukuman yang berat ya, Pak, agar tidak menyepelekan keselahan di kemudian hari." Ibu Winda menurunkan tangannya dari pinggang, lalu mengelus rambut sepunggungnya yang tergerai. Wanita itu memang selalu memperhatikan penampilannya.
"Serahkan kepada saya."
Tidak ingin berlama-lama, Azalea pun segera berpamitan setelah mendapatkan kode dari guru olehraganya. Ia bergegas menuju kelas, meletakkan tas di kursi, dan menuju loker untuk mengambil pakaian olehraganya. Beruntung ia tinggalkan baju itu di kelas yang kini sudah kosong.
Di lapangan, Azalea segera masuk barisan yang kini sedang berlari. Lagi-lagi, ia tidak menemukan Mona. Oh, ia ingat jika tas Mona pun tidak terlihat di kelas.
"Apa dia enggak sekolah?" tanya Azalea. Ia segera merogoh kantong celana, mengambil ponsel dan mengetik pesan kepada Mona sambil berlari. Belum sempat pesannya dikirim, sang guru sudah mengingatkan agar ia mematikan ponsel selama pelajaran.
Azalea menurut. Ia mematikan ponsel, lalu memasukkan benda itu ke dalam kanton celana. Lantas, kembali berlari mengitari lapangan. Sesaat, matanya menangkap sosok yang beberapa hari ini begitu dekat dengannya secara fisik. Namun, belum sempat ia memperhatikan secara khusyu, tubuh lelaki itu sudah menghilang di kantor kepala sekolah.
Azalea menggeleng pelan. Hatinya menyangkal apa yang ada di kepalanya. Tidak mungkin Reynand ada di sekolahnya.
Emangnya ada urusan apa lelaki itu di sekolah ini? Reynand bukan guru, kan?
Azalea berdecak pelan. Nahas sekali nasibnya. Bahkan, ia tidak mengenal sama sekali apa pekerjaan lelaki yang sudah berstatus suaminya itu.
Kini, pikirannya kembali pada sosok sahabat yang tidak hadir. Padahal, ia berencana menceritakan kisah anehnya pada sahabatnya itu.
"Azalea, kamu melamun? Cepat susul teman-teman kamu!" Suara teguran itu menyadarkan Azalea.
Bisa Azalea rasakan dengan jelas bahwa statusnya sebagai istri telah mengubah kebiasan berpikirnya. Ia semakin banyak memikirkan hal yang aneh dan tidak jelas.
Azalea kembali melanjutkan larinya. Namun, otaknya terus saja memikirkan tentang Reynand dan Mona. Kepalanya menoleh pada ruang kepala sekolah, kalau saja ia bisa melihat sosok tinggi itu keluar dari sana. Namun, setelah tiga kali mengitari lapangan, lelaki itu tidak juga keluar dari sana.
__ADS_1
Selanjutnya, Azalea memfokuskan diri pada pelajaran olahraga yang sedang berlangsung. Ia tidak tahu saat lelaki itu keluar dari kantor kepala sekolah. Reynand berhenti sejenak, melihat istri kecilnya dengan senyum miring.